Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Gerbang Nol dan Informasi Cahaya
...HALO SAHABAT SEMUA KALAU BACA NOVEL AKU INI JANGAN LUPA LIKE YA GUYS, COMENT JUGA GUYS,BANTU AKU YA GUYS SUPAYA NOVEL INI BISA TERPILIH DALAM 80 BAB TERBAIK,CARANYA DENGAN LIKE DAN JANGAN LUPA VOTE. TERIMAKASIH...
...SELAMAT MEMBACA♥️♥️♥️...
Langkah kaki Askara akhirnya terhenti di batas terluar peradaban. Di hadapannya, menjulang dinding kabut hitam pekat yang seolah memisahkan dunia terang dengan kegelapan abadi. Pepohonan raksasa dengan batang-batang hitam meliuk layaknya jemari monster yang menggapai langit berdiri berjejal rapat, menciptakan kanopi alami yang menolak setitik pun cahaya matahari untuk menembus masuk.
Inilah gerbang masuk menuju tempat paling terkutuk di benua ini: Hutan Sihir Kegelapan.
Namun, keheningan mencekam tempat itu mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan napas yang memburu panik.
"Tolong! Siapa pun, tolong kami!"
Seorang kesatria berzirah perak yang sudah koyak dan berlumuran darah segar berlari kencang keluar dari balik kabut hitam gerbang hutan. Wajahnya dipenuhi teror yang teramat sangat. Di belakangnya, beberapa rekannya tampaknya sudah gugur. Ia menjulurkan tangannya ke arah luar, menatap Askara yang berdiri tenang beberapa puluh meter di depannya sebagai satu-satunya harapan keselamatan.
Askara terkejut melihat kondisi pria itu. Sesuai dengan instingnya, ia segera menggeser kakinya maju untuk memberikan pertolongan. Namun, sebelum Askara sempat melangkah lebih jauh, sebuah fenomena mengerikan terjadi di depan matanya.
Syuuutt—!
Dari dalam kegelapan kabut hitam yang pekat, sebuah tangan raksasa dengan jemari yang sangat panjang, kurus, dan berkulit abu-abu pucat melesat keluar dengan kecepatan kilat. Tangan abnormal itu mencengkeram erat pundak sang kesatria malang tersebut.
"A-ampuuun! Tidaakk—!" jerit kesatria itu histeris, kuku-kukunya mencoba mencakar tanah gersang perbatasan saat tubuh fisiknya ditarik kembali secara paksa masuk ke dalam kegelapan hutan.
SRAAAK!
Dalam sekejap mata, sosok kesatria itu lenyap tertelan kabut hitam, menyisakan suara jeritan ngeri yang perlahan meredup dan hilang sepenuhnya, digantikan oleh kesunyian hutan yang kembali mencekam.
Askara berdiri mematung sejenak, menatap area tempat hilangnya kesatria tadi. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun tidak ada setitik pun rasa takut yang merayap di wajahnya. Sebaliknya, cengkeramannya pada gagang
Sunya justru semakin mengencang. Tekad di dalam dadanya untuk menaklukkan tempat ini dan melatih wadah kosongnya jauh lebih kuat daripada kengerian visual yang baru saja ia saksikan.
"Tempat ini... memang tidak main-main," gumam Askara dingin, menarik tudung jubah hitamnya lebih dalam sebelum melangkah maju mendekati garis batas kabut.
Tepat saat kaki Askara hampir menyentuh rumput hitam di mulut gerbang hutan, sebuah riak energi magis yang murni mendadak meledak di udara di depannya. Askara secara refleks mundur setengah langkah sembari meletakkan tangannya pada pedang, waspada terhadap serangan mendadak.
Namun, riak tersebut tidak meluncurkan serangan. Alih-alih kegelapan, seberkas sihir cahaya murni berwarna kuning keemasan bersinar terang, membentuk sebuah panel proyeksi holografis kuno yang mengambang di udara—sebuah mekanisme informasi otomatis yang tampaknya ditinggalkan oleh para penyihir agung terdahulu untuk memandu mereka yang berniat menantang hutan ini.
Teks bercahaya dan denah magis mulai terbentuk secara dinamis di depan mata Askara.
[INFORMASI EKSPEDISI HUTAN SIHIR KEGELAPAN]
Untuk mencapai Inti Kegelapan, penantang harus menembus rangkaian gerbang penjaga teritorial secara berurutan.
GERBANG NOL (Pintu Masuk Awal):
Penjaga: The Long-Armed Stone Lurker (Monster Tangan Panjang).
Atribut Sihir: Sihir Elemen Batu dan Manipulasi Tanah Sekitar.
Deskripsi: Menyerang penyusup dalam jarak dekat menggunakan lengan abnormal yang mampu memanjang dan berkamuflase di antara dinding batu.
GERBANG SATU (Lapis Kedua):
Penjaga: Double-Headed Vanguard (Monster Berkepala Dua).
Atribut Sihir: Sihir Pembela Diri (Barrier murni) & Regenerasi Cepat.
Deskripsi: Memiliki ketahanan fisik tingkat tinggi dan mampu menangkis sebagian besar serangan fisik maupun magis jarak jauh.
Askara membaca setiap baris informasi cahaya tersebut dengan sangat teliti. Denah holografis itu memperlihatkan jalur berliku yang membagi tingkatan hutan menjadi beberapa sektor pertahanan yang sangat rapi dan sistematis. Ini bukan sekadar hutan liar biasa; tempat ini dirancang layaknya sebuah dungeon raksasa bertingkat yang sengaja dikunci oleh entitas kuat.
"Menarik," ucap Askara, seulas senyuman tipis yang penuh wibawa terukir di bibirnya saat panel cahaya tersebut perlahan memudar dan menghilang menjadi partikel kecil yang kembali sunyi. "Gerbang Nol... rupanya tangan panjang yang menarik kesatria tadi adalah penjaga pertamanya."
Askara menghela napas panjang, menstabilkan sirkulasi energinya. Di pinggangnya, Sunya bergetar halus, seolah-olah bilah meteorit itu ikut merasakan antusiasme dan haus akan energi sihir dari monster-monster penjaga gerbang yang legendaris ini.
"Mari kita lihat seberapa kuat pertahanan sihir batu milikmu, Penjaga Gerbang Nol," bisik Askara dengan nada suara yang teramat dingin.
Dengan langkah yang sangat tenang namun dipenuhi kewaspadaan tingkat tinggi, Askara melangkah menembus kabut hitam tebal, membiarkan tubuhnya tertelan sepenuhnya oleh kegelapan mistis Hutan Sihir Kegelapan untuk memulai babak pertempuran pertamanya.