Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: UJI COBA KUE PERTAMA YANG 'TERLALU PANAS'
Setelah kepergian Pak Doni yang lari tunggang-langgang membawa trauma psikologis baru, keheningan kembali menguasai ruangan kerja Bima. Di luar dinding kaca, Anaya tampak sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Wanita itu sedang menata beberapa berkas, sesekali merapikan posisi duduknya yang membuat rok span hitamnya mengetat—sebuah pemandangan yang langsung membuat tenggorokan Bima kembali kering kerontang.
Namun, perhatian Bima mendadak teralih ketika melihat sebuah kotak mika transparan berikat pita merah muda diletakkan Anaya di pojok meja kubikelnya. Di dalamnya berjejer rapi kue-kue bundar kecil berwarna-warni dengan pinggiran renyah yang sangat estetik.
Macaron.
Bima menyipitkan mata. Jiwa pengusaha kuliner di dalam dirinya mendadak bangkit, berselingkuh dengan rasa penasaran yang membuncah. Apakah itu kue hasil eksperimen Anaya untuk mimpi besarnya? Sialan, kenapa melihat kue itu saja membuat Bima mendadak cemburu pada oven di rumah sekretarisnya?
Bima menekan tombol intercom di mejanya dengan gerakan tegas. "Anaya, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa kotak merah muda di atas mejamu."
Di luar sana, Anaya tampak menghela napas panjang—terlihat jelas dari bahunya yang naik turun—sebelum akhirnya menyambar kotak mika tersebut dan melangkah masuk ke ruangan CEO.
Cklek.
"Ada apa lagi, Pak Bima?" tanya Anaya, nadanya santai, benar-benar sudah kehilangan mode hormat formalnya sejak drama pengunduran diri kemarin. "Kalau Bapak mau bahas soal kriteria sekretaris baru yang mirip Shrek, Pak Doni tadi udah curhat ke saya sambil nangis di pantry, lho."
Bima berdeham keras, menyembunyikan rasa salah tingkahnya di balik tatapan mata elang yang dibuat seangkuh mungkin. "Jangan dengerin Doni, dia cuma dramatis. Sekarang letakkan kotak itu di meja saya."
Anaya melangkah mendekat, meletakkan kotak mika berisi macaron tersebut tepat di hadapan Bima. "Ini macaron buatan saya tadi subuh. Eksperimen resep baru dengan ganache rasa vanilla banyuwangi dan salted caramel. Kenapa? Bapak mau menyita ini juga atas nama aset perusahaan?"
"Saya perlu melakukan quality control," kilah Bima, nadanya terdengar seperti seorang hakim agung yang sedang mengadili kasus kelas berat. "Kamu masih berstatus karyawan PT Bimantara Food Internasional, Anaya. Segala bentuk produk kuliner yang beredar di area kantor ini harus melewati uji kelayakan dari CEO-nya langsung. Siapa tahu kamu mau meracuni saya karena dendam perkara air radiator kemarin."
Anaya memutar bola matanya malas. "Terserah Bapak deh. Nih, silakan dicoba," kata Anaya sambil membuka tutup kotak mika tersebut, memamerkan aroma manis vanilla yang langsung menjajah indra penciuman Bima, meruntuhkan resolusinya semalam tentang "sekretaris bau minyak angin".
Bima melirik kue-kue cantik itu, lalu melirik kedua tangannya sendiri. Sebuah ide picik, licik, dan sarat akan modus operandi mendadak melintas di otak geniusnya. Pria itu baru saja menekan botol hand sanitizer di mejanya, menggosok tangannya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat dramatis.
"Tangan saya basah dan lagi steril habis pakai cairan ini," ujar Bima, suaranya mendadak turun beberapa oktav, menjadi lebih rendah dan serak. Dia bersandar pada kursi kulitnya, menatap Anaya dengan pandangan mata yang mengunci sasarannya. "Saya gak mau aroma alkoholnya merusak palet rasa vanilla di lidah saya. Suapi saya, Anaya."
"Hah?" Anaya melongo. "Pak, Bapak punya tangan, punya sendok, punya—"
"Ini perintah atasan, Anaya. Ambil satu yang warna merah muda, lalu suapi saya," potong Bima dengan nada absolut yang tidak menerima bantahan, meski di dalam dadanya, jantungnya sudah mulai berdegup kencang seperti genderang perang.
Anaya mengembuskan napas frustrasi. "Bapak benar-benar manja tingkat dewa ya," gerutu Anaya kesal.
Namun, wanita itu tetap melangkah maju hingga tubuhnya kini hanya berjarak setengah meter dari kursi Bima. Jemari ramping Anaya bergerak mengambil satu buah macaron berwarna merah muda pucat. Kulit jarinya yang mulus tampak kontras dengan warna kue tersebut.
"Buka mulut Anda, Pak Bos yang terhormat," kata Anaya, nadanya ketus namun matanya tidak bisa berbohong kalau dia juga mulai merasa gugup dengan kedekatan ini.
Bima menegakkan tubuhnya sedikit, memajukan wajahnya ke arah tangan Anaya. Matanya sama sekali tidak melirik ke arah kue, melainkan terkunci lurus pada manik mata hazel milik Anaya. Perlahan, Bima membuka mulutnya, menggigit setengah bagian dari macaron tersebut langsung dari jepitan jari Anaya.
Crunch.
Tekstur renyah dan manisnya ganache langsung meledak di mulut Bima. Namun, fokus Bima sama sekali bukan pada rasa kue buatan Anaya yang sialnya luar biasa enak itu. Saat Bima menarik kunyahannya, ujung bibirnya sengaja menyentuh permukaan kulit di ujung jari telunjuk dan jempol Anaya.
Tidak berhenti di situ. Bima sengaja menahan gerakan mundurnya. Dengan pandangan mata yang semakin menggelap oleh gairah, lidah Bima perlahan bergerak keluar, menjilat sisa remah kue dan lelehan ganache vanilla yang menempel di ujung jari manis Anaya dengan satu sapuan lembut yang sangat sengaja.
Sreeet.
Sengatan listrik instan berkekuatan jutaan volt seolah langsung melesat dari ujung jari Anaya, merambat naik melewati lengannya, dan meledak tepat di ulu hatinya. Anaya tersentak, seluruh bulu kuduk di tubuhnya meremang hebat hingga dia merinding dari kepala sampai kaki. Jantungnya mendadak melakukan gerakan disko ekstrem yang membuatnya hampir lupa bagaimana cara bernapas.
"Pak... Pak Bima!" Anaya menarik tangannya dengan sentakan panik, wajahnya dalam sekejap berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Napasnya memburu, matanya melebar menatap Bima dengan pandangan syok yang luar biasa.
Sementara itu, Bima perlahan mengunyah macaron tersebut dengan gerakan sensual, menelan kue itu sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman predator yang sangat tampan dan mematikan bagi kewarasan Anaya. Pria itu mengulum bibir bawahnya sendiri, seolah sedang meresapi sisa rasa vanilla dari kulit Anaya yang tertinggal di lidahnya.
"Manis," bisik Bima, suaranya terdengar sangat serak dan posesif, bergema di antara keheningan ruangan yang mendadak terasa begitu panas. "Kue kamu manis, Anaya. Tapi... rasa di jari kamu jauh lebih membuat saya kecanduan."
Anaya mengepalkan tangannya yang masih terasa kesemutan akibat jilatan lidah Bima tadi. Otaknya yang biasanya encer kini mendadak mogok kerja, menyisakan kepanikan luar biasa di bawah sadarnya. Getaran samaryang selama lima tahun ini mereka simpan di bawah tumpukan dokumen, hari ini resmi berubah menjadi kobaran api yang siap membakar habis pertahanan profesionalisme mereka berdua.
Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...