Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Sisah Asap Rokok Di Terminal
Aroma solar, aspal basah, dan bau pesing berbaur menjadi satu di bawah langit Terminal Baranangsiang, Bogor, yang mulai meredup. Farrel menyandarkan kepalanya di setir mobil angkotnya yang sudah kusam warnanya. Tangannya yang kasar dan hitam karena oli meraba kantong celana jinnya yang bolong.
Hanya ada dua benda di sana: selembar uang sepuluh ribu rupiah yang kumal dan sebatang rokok kretek murahan.
"Setoran kurang lima belas ribu, Rel. Lu mau cari mati?" Suara serak dan berat mendadak menggedor kaca pintu angkot.
Itu Bang Jay, mandor pangkalan yang bertubuh gempal dengan tato dekoratif yang sudah pudar di lengannya.
Di belakang Jay, berdiri dua orang pemuda berseragam ormas loreng oranye-hitam yang sedang memutar-mutar kunci motor dengan angkuh.
"Tolonglah, Bang. Hari ini sepi banget. Penumpang pada naik ojek online."
"Ini aja cuma sisa buat makan nasi bungkus saya nanti malam," kata Farrel, suaranya parau.
Matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam. Sejak jam lima pagi ia narik, perutnya baru diganjal sepotong gorengan dingin.
"Gak peduli gua! Lu denger ya, anak haram," sahut salah satu anggota ormas bernama Dika, melangkah maju sambil meludah ke tanah.
"Anak-anak pangkalan bilang lu tadi siang dapet carteran ke Sentul tapi gak lapor. Lu korupsi uang pangkalan, kan?!"
"Fitnah itu, Bang! Demi Allah, saya gak ada carteran!" Farrel panik.
Ini fitnah ketiga minggu ini yang dilemparkan padanya karena ia menolak memberikan "uang jago" tambahan pada ormas tersebut.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Farrel, membuatnya terhuyung keluar dari pintu angkot. Belum sempat ia berdiri, sebuah tendangan bersepatu laras mendarat tepat di rusuknya.
Farrel tersungkur di atas aspal yang tergenang air hujan bercampur oli.
"Lu berani bohong, hah?!" Dika menginjak punggung Farrel, menekannya ke aspal dingin.
"Supir miskin kayak lu tuh pantesnya mati aja!"
Di sela-sela rasa sakit yang menjalar di dadanya, pandangan Farrel mengabur. Orang-orang di sekitar terminal hanya menonton. Beberapa pedagang asongan memalingkan wajah, ketakutan pada seragam loreng itu.
Di kota ini, jika kau miskin, suaramu tak lebih berharga dari dengung lalat di tempat sampah.
Bugh! Bugh!
Dua tendangan terakhir di kepala membuat kesadaran Farrel benar-benar berada di ambang batas. Mulutnya mengeluarkan darah segar, membasahi uang sepuluh ribu yang tadi ia pegang erat.
Saat pandangannya mulai menggelap dan dadanya terasa sesak seolah akan mati, sebuah suara asing, dingin, dan bernada mekanis tiba-tiba bergema langsung di dalam batok kepalanya.
【 Ding! Mendeteksi gelombang otak target berada di titik kritis keputusasaan. 】
【 Kriteria kelayakan terpenuhi: Miskin, tertindas, memiliki dendam mendalam, dan memiliki gen fisik yang murni. 】
【 Sistem Afeksi Kekayaan (Rich Goddess System) berhasil dipasang! 】
【 Mengikat Jiwa Pengguna: Farrel Aditama. 】
【 Memulihkan cedera fisik pengguna... Proses selesai dalam 3 detik. 】
Wuss!
Sebuah aliran hangat yang sangat kuat tiba-tiba menjalar dari tulang belakang Farrel ke seluruh ujung sarafnya.
Rasa sakit di rusuknya hilang seketika. Kepalanya yang tadinya pening mendadak menjadi sangat jernih. Bahkan, otot-otot di tubuhnya yang semula kurus kering, perlahan menegang dan memadat secara instan di balik baju kausnya yang robek.
【 Ding! Hadiah Paket Pemula berhasil dikirim. 】
• 1. Saldo Sistem Tunai Khusus Wanita: Rp 10.000.000.000 (Sepuluh Miliar Rupiah)
[Catatan: Hanya dapat dibelanjakan untuk target wanita dengan tingkat afeksi di bawah 90%].
• 2. Ramuan Penguat Tubuh Tingkat Rendah (Telah otomatis diintegrasikan).
• 3. Poin Atribut Awal: 10 Poin (Silakan distribusikan). Default: Dialokasikan ke Kekuatan dan Stamina.
Farrel membuka matanya. Pandangannya yang tadi kabur kini menjadi sangat tajam, bahkan ia bisa melihat helai rambut di lengan Dika yang masih menginjak punggungnya.
"Sistem...?"
bisik Farrel dalam hati, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Eh, ini anak malah bisik-bisik. Pingsan lu, nyet?!"
Dika mengangkat kakinya, bersiap memberikan injakan terakhir ke wajah Farrel.
Namun, sebelum kaki itu turun, tangan kanan Farrel bergerak secepat kilat.
Ia mencengkeram pergelangan kaki Dika dengan kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Cengkeraman itu begitu kuat hingga terdengar bunyi gemertak dari tulang muda di pergelangan kaki sang anggota ormas.
"Arghhh!! Kaki gua! Lepas, bajingan!"
Dika berteriak histeris, wajahnya mendadak pucat pasi.
Farrel bangkit berdiri perlahan. Tubuhnya yang biasanya membungkuk kini tegak lurus, memancarkan aura intimidasi yang pekat. Tatapan matanya yang semula layu kini sedingin es di puncak Gunung Salak.
"Siapa yang lu sebut supir miskin gak berguna?"
tanya Farrel dengan nada rendah, namun sanggup membuat Bang Jay dan satu anggota ormas lainnya merinding ketakutan.
Hari itu, di bawah gerimis kota Bogor, roda nasib Farrel tidak lagi berputar di atas aspal jalanan, melainkan mulai melindas siapa saja yang pernah menginjaknya.