Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf...
Damian langsung merasa waspada, melihat sosok lelaki yang mendekati Mommynya. Jelas ia tahu siapa pria itu.
Tanpa aba-aba, Damian langsung turun dari panggung untuk segera melindungi Mommynya.
"Jangan sakiti Mommy ku Paman Dominic" Suara yang begitu jelas tegas tapi mempunyai ciri khas anak-anak.
Dominic dan Isabella tentu saja terkejut mendengar ucapan nama yang keluar dari mulut Damian.
"Damian!" Isabella merasa terkejut bertambah 2 kali lipat. Dominic yang mengetahui keberadaannya dan putranya yang mengetahui nama pria yang memberikan nya sakit hati yang tak lain adalah Ayah kandung dari anak nya tentu saja merasa syok.
"Kita harus bicara" ucap Dominic tegas tapi tetap lembut.
"Pergi Damian, lari" Seru Isabella.
Dominic tidak suka, ia langsung mengkode Jeremy untuk membawa Damian. Putra kandung nya.
"Kita butuh bicara sayang. Aku merindukanmu" lirih Dominic. Mata nya menatap Isabella dengan penuh kerinduan, dengan cinta yang semakin dalam tentu nya juga.
Tapi Isabella tidak peka, yang ada di pikiran nya hanya takut sekarang dan segera menjauh dari Dominic.
Damian langsung memberontak dari gendongan Jeremy. Isabella semakin ketakutan. Pria yang ada di hadapan nya bukan orang biasa. Negara ini bisa di katakan di bawah naungan nya. Terlalu berkuasa.
"Lepaskan aku Paman jahat!!"
Bug.. Bug ...Bug..
"Jangan kalian berani-berani menyakiti Mommy ku!!"
Jeremy tidak menghiraukan nya, lagi pula pukulan Damian juga tidak terasa baginya.
"Damian!! lepas kan anak ku Dominic" Yang tadi nya Isabella merasa ketakutan, kini tiba-tiba bisa mengeluarkan suara nya dengan lantang. bahkan terkesan membentak Dominic.
Semua orang langsung menahan nafas, perempuan itu terlalu berani. Prasangka mereka mengatakan bahwa wanita itu tidak akan lama hidup lagi dunia ini.
Melihat Damian di bawah yang jelas Isabella kenal pria itu membuat nya emosi. Damian adalah hidup nya, kekuatan nya agar bisa menghadapi dunia yang kejam ini.
"Dia akan baik-baik saja, ikut aku untuk menemui nya. Semoga kamu berpikir dewasa sayang." Dominic sangat berharap. Dirinya ingin memaksa, tapi tidak berani karena ini orang nya adalah wanita yang ia cintai.
Jelas Isabella merasa bingung. Demi tuhan, Isabella tidak ingin berhadapan bertatap muka dengan Dominic. Tapi disisi lain ada anak nya.
Jika sekali berhadapan dengan pria ini, sudah tidak di ragukan lagi bakal tidak akan lepas lagi.
"Pikirkan Bella, anak kita sudah di bawah Jeremy."
Isabella emosi, rasanya saat ini dirinya ingin membunuh Dominic. Ia menatap tajam Dominic.
"Baik" Cuma satu kata, tapi setelah ini, Isabella tahu hidup nya kedepan tidak akan sesederhana yang ia rasakan 6 tahun yang lalu.
Dominic tersenyum tipis tapi masih bisa di lihat oleh Isabella. Rasanya Isabella semakin emosi melihat senyuman itu. Menurutnya, senyuman itu adalah senyuman kemenangan dan ia benci dengan hal itu.
Dominic membiarkan Isabella berjalan dulu. perasaanya terlalu senang. Ini adalah penantian nya selama 6 tahun terakhir ini. Dominic menuntun Isabella ke mobil nya.
Isabella sedikit kaget, karena mobil itu adalah pemberian Dominic kepada nya. Banyak kenangan di mobil itu dan Dominic menggunakan nya.
Isabella masuk yang di ikuti oleh Dominic.
Di dalam mobil.
"Bella" Panggil Dominic pelan. Suaranya parau. Matanya telalu intens menatap Isabella. Hal itu membuat Isabella langsung membuang muka.
"Aku harap setelah menjemput putraku, kamu tidak mempersulit ku" Dominic tahu ucapan ini. Ada makna nya.
Dominic langsung membuang nafas nya dengan kasar.
"Sayang Maaf..." Mata Dominic berkaca-kaca yang tak pernah dirinya nampak kan kepada siapapun. Saat ini pria itu sangat rapuh.
Isabella langsung membuang wajah nya ke samping, menatap ke arah luar agar tidak melihat wajah yang mirip dengan putranya itu.
Hingga mereka sampai ke mansion Dominic.
Isabella menatap bangunan yang begitu megah, tidak ada perubahan apapun masih tetap sama. Setelah sekian tahun nya, akhirnya ia kembali ke rumah ini. Rumah yang penuh dengan kenangan antara dirinya dan Dominic.
"Aku sudah sampai disini, sekarang berikan putra ku kepada ku" Ucap Isabella dengan dingin.
"Kita bicara di dalam dulu" jawab Dominic menatap lekat wajah Isabella. Rasanya masih seperti mimpi bisa melihat Isabella tepat berada di depan nya. Tidak yang berubah dari wanita nya, masih tetap sama dengan wanita enam tahun dulu.
Hanya saja, pembawaannya sekarang lebih anggun dan terlihat dewasa.
Isabella menahan emosi nya, kalau tidak ingat ada Damian berada di tangan nya, mungkin Isabella sudah menampar wajah tampan Dominic.
Tanpa berkata lagi, Isabella langsung masuk.
Sesaat hening, karena ada Elena datang membawa minum untuk Isabella. Pelayan yang sudah lama bekerja di rumah ini. Tentu saja Isabella mengenal nya.
"Minum dulu Nona" Elena berucap dan langsung pergi. Karena itu bukan urusannya lagi.
"Bella, aku minta maaf...maafkan aku sayang" Mata Dominic berkaca-kaca memandang Isabella yang duduk di seberang nya. Nada suara nya juga terdengar rapuh dan penuh kerinduan.
Isabella tidak tahan mendengarnya, ia langsung membuang muka. Bagaimana pun, Dominic pernah mengisi hati nya.
"Aku salah Bella, tapi aku tidak berselingkuh di belakang kamu. Percayalah" Jelas Dominic.
"Tidak selingkuh bagaimana Dominic, jangan membuat ku mengingat kisah pahit itu lagi. Kau b3rtelanjang dengan Clara, kau menj1lat Vaginanya. Apa aku tidak cukup untuk mu sialan" nafas Isabella menggebu-gebu.
Walau tidak di sengaja atau pun di sengaja, tetap aja rasanya sakit sekali. Apalagi pria itu juga memakai nya.
"Sayang, aku salah dan aku minta maaf. Tapi sungguh, aku kira itu kamu. Aku dalam obat perangsang di tambah sedang mabuk. Clara yang menjebak ku"
"Terlepas kau benar atau tidak, tidak akan mengurangi rasa sakit hati ku Dom. Tolong mengerti. Gara-gara ke kacauan yang kau buat, Damian jadi terhenti ikut lomba." Dominic baru teringat dengan anak itu.
"Damian anak ku kan Sayang? kamu kenapa menyembunyikan nya dari ku?"
Deg...
"Dia bukan anak mu!" Jawab Isabella dengan tegas, tanpa ada keraguan di dalam nada intonasi nya.
"Aku bukan orang bodoh sayang, semua orang juga tahu bagaimana kemiripan kami" Bella terdiam seketika.
Itu memang benar. Damian adalah coppy an dari Dominic.
"Dia anakku Dominic! Anakku! yang aku lahirkan sendiri"
"Aku tahu Bella, tapi tanpa benih dari ku. Damian tidak akan ada di dunia ini. Kamu harus ingat bagaimana aku bekerja keras setiap ada kesempatan waktu untuk menghadirkan Damian"
Terlalu fulgar.
Sebenarnya, kesabaran Dominic itu setipis tissue. Tapi disini ia matian-matian untuk tidak tersulut emosi karena Dominic tahu kalau dirinya salah.
Tapi kalau Isabella masih keras kepala, terpaksa ia melakukan tindakan tegas walaupun membuat Isabella sakit hati. Tapi itu lebih baik daripada wanita nya pergi lagi.
"Maaf.."