NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Awan hitam seolah turun rendah, menyelimuti setiap sudut dengan nuansa kelabu yang pekat. Kabar duka itu menyebar lebih cepat daripada angin. Anak kecil yang baru beberapa hari melihat dunia, kini telah kembali ke pangkuan Pencipta. Rumah Weni dan Vena yang letaknya hanya selempar batu dari rumah orang tua Celsi, kini dipenuhi orang-orang. Suara isak tangis melengking memecah keheningan, bercampur dengan bacaan ayat suci yang mengalun pelan namun menyayat hati.

Celsi berdiri di halaman rumahnya bersama ibunya. Mereka tidak bisa tinggal diam. Meski ada luka, meski ada dendam, sopan santun dan kemanusiaan tetap harus dijaga. Mereka berjalan menyeberangi halaman yang memisahkan kedua rumah itu. Langkah Celsi terasa berat, seolah ada beban ribuan kilogram yang menahan kakinya. Di dalam rumah, suasana berkabung terasa begitu nyata. Vena terbaring lemas di pelukan para kerabat, tangisnya sudah tak bersuara, hanya getaran tubuh yang menunjukkan betapa hancurnya perasaan wanita itu. Rangga duduk di sudut ruangan, menunduk dalam, wajahnya pucat pasi dan matanya merah sembab. Ia tampak seperti orang yang kehilangan separuh nyawanya.

Celsi dan Dewi ikut masuk, menjadi bagian dari barisan orang-orang yang menyambut pelayat. Mereka diam, membiarkan kesedihan itu mengalir apa adanya. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Weni, yang dikuasai oleh kesedihan yang berubah menjadi amarah, matanya menangkap keberadaan Dewi. Rasa sakit kehilangan cucu membuat akal sehatnya hilang. Ia berdiri dengan terseok-seok, lalu berjalan mendekat dengan tatapan membunuh.

"KAMU!!" teriak Weni dengan suara parau. "KAMU YANG BUNUH CUCUKU!!"

Semua mata tertuju ke arah mereka. Suasana menjadi hening seketika.

"Bu, ini bukan waktunya..." coba salah satu tetangga menenangkan.

"ENGGAK! DIA PELAKUNYA!" Weni mendorong bahu Dewi dengan kasar. "KAMU MAIN DUKUN! KAMU GUNA-GUNA ANAK SAYA KARENA DENGKI! KAMU PENGEN HANCURIN KELUARGA SAYA!"

"Weni! Jangan gila!" tegur Dewi dengan suara bergetar, berusaha tetap tenang meski hatinya hancur. "Ini kehendak Tuhan. Jangan menyalahkan orang lain atas takdir."

"BOHONG! KAMU YANG SALAH! KAMU KELUARGA PENGHANCUR!" Weni semakin menjadi-jadi. Dalam amarahnya, ia menarik jilbab yang dikenakan Dewi hingga bergeser dan hampir lepas.

"IBU!" seru Celsi tak terima.

Celsi langsung maju, berdiri di depan ibunya melindungi tubuh wanita paruh baya itu dari serangan Weni. Matanya memancarkan kemarahan yang dingin namun mematikan.

"Cukup, Bulik! Sudah cukup!" suara Celsi tegas, memecah keributan. "Anak itu pergi karena memang waktunya sudah tiba. Jangan menjadikan ibuku kambing hitam atas segala ketidakberdayaan kalian. Kalian tidak bisa memperlakukan ibuku seperti ini!"

"KALIAN BERDUA SAMA SAJA! PEMBAWA SIAL!" Weni masih berusaha menerjang namun ditahan oleh para tetangga dan kerabat yang merasa malu melihat tingkahnya.

"Sudah Bu, sudah. Malu dilihat orang. Ini tempat orang meninggal," bisik para tetangga sambil menyeret Weni menjauh.

Weni masih meronta, suaranya terus melengking menuduh, seolah dialah manusia paling terzalimi di muka bumi ini. Celsi tidak mempedulikannya lagi. Ia segera membetulkan jilbab ibunya, memastikan wanita itu baik-baik saja.

"Kita pulang, Buk. Di sini tidak ada tempat buat kita berbuat baik," ucap Celsi pelan namun tegas. Ia menggenggam tangan ibunya erat-erat, lalu membawa wanita itu keluar dari kerumunan orang yang mulai berbisik-bisik.

Di antara desas-desus itu, terdengar bisik-bisik yang tak sengaja sampai ke telinga Celsi. "Kasihan juga ya, tapi... bener kata orang, karma itu ada. Dulu Vena yang rebut suami orang, hamil duluan, sekarang dapat balasannya." Celsi hanya diam, tidak menanggapi. Ia tahu, ucapan itu benar adanya, namun di saat seperti ini, rasa iba tetap ada pada bayi yang tak berdosa itu.

Sesampainya di rumah, suasana menjadi hening dan suram. Dewi duduk di sofa, matanya kosong. Rasa sedih bercampur rasa sakit hati karena difitnah membuatnya lelah secara batin.

"Ibu jangan pikirin omongan Bulik Weni ya," ucap Celsi sambil menuangkan air putih untuk ibunya. "Itu semua cuma omongan kosong karena dia lagi sakit hati. Kita tahu sendiri kebenarannya bagaimana."

Dewi menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di sudut matanya. "Iya, Nak. Ibu cuma... kecewa aja. Kok bisa ya manusia sejahat itu sama sesama."

"Sudah lah, Buk. Mulai sekarang, ibu jangan ke sana lagi. Jangan melayat lagi. Sudah cukup tadi kita tunjukkan rasa hormat. Jangan sampai hati ibu makin sakit disakiti orang yang nggak tahu diri," pesan Celsi lembut namun tegas. "Di sini saja sama Ayah dan Celsi."

Dewi mengangguk pelan, menerima perlindungan dan ketenangan dari anak perempuannya.

 

waktu berlalu dengan lambat. Prosesi pemakaman telah usai, meninggalkan kesunyian yang mendalam di rumah sebelah. Celsi memilih untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya beberapa hari ini, demi menemani ibunya agar tidak terlalu banyak berpikir negatif. Ia hanya sesekali pergi sebentar untuk memantau usahanya.

Sore itu, Celsi datang ke kedai utama Ayam Geprek Cinta. Suasana warung ramai seperti biasa, namun pikirannya masih melayang entah ke mana.

"Teteh!" seru Wati, karyawannya, sambil menyodorkan pesanan.

"Iya, Wat. Ada apa?"

"Tadi Koh Aska datang loh. Nyariin Teteh," kata Wati dengan senyum menggoda. "Tanya Teteh mana, kok nggak kelihatan. Kelihatan banget tuh orang khawatir."

Celsi hanya tersenyum kecil, ujung hatinya terasa hangat tersentuh. "Oh iya ya? Makasih infonya ya. Teteh kan lagi sibuk nemenin Ibu di rumah, jadi jarang pegang HP."

"Wati paham kok, Teh. Lagian kan lagi ada musibah juga. Semoga almarhum tenang ya di sana," ucap Wati penuh pengertian.

Celsi mengangguk, lalu pamit untuk mengecek cabang baru yang lokasinya di ruko milik Aska. Sesampainya di sana, Joko langsung menyambutnya dengan wajah ceria.

"Assalamualaikum, Teteh!"

"Waalaikumsalam, Jok. Gimana di sini?" tanya Celsi sambil memeriksa stok bahan makanan.

"Lancar banget, Teh! Ramai terus. Eh iya, Teteh..." Joko mendekat sedikit. "Tadi Koh Aska juga ke sini loh. Nyariin Teteh juga. Tanya Teteh ada di sini apa nggak. Kayaknya ada perlu penting deh."

Celsi mengernyitkan dahi. "Oh? Dia nyariin gitu ya?"

"Iya banget, Teh. Wajahnya kelihatan cemas gitu."

Celsi menghela napas. Ia baru sadar sudah beberapa hari ini ia mengabaikan ponselnya karena terlalu sibuk dan banyak pikiran. "Yaudah makasih ya Jok. Teteh coba telpon dulu."

Celsi segera merogoh tasnya, mengambil ponsel yang sempat ia tinggalkan beralih perhatian. Layar menyala, deretan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari nama 'Koh Aska' berjejer rapi. Belum sempat ia membaca satu per satu, jarinya langsung menekan tombol panggil.

Sambungan tersambung dengan sangat cepat.

"Halo?" suara Aska terdengar dari seberang.

"Koh?"

"Celsi! Kamu di mana? Aku cariin kemana-mana! Kamu kenapa nggak angkat telepon?!" nada suara Aska terdengar panik dan lega bercampur jadi satu.

"Aku lagi di cabang baru nih, Ko. Di depan ruko."

"Jangan beranjak dari situ! Aku lagi di depan kamu sekarang!"

Celsi mengangkat wajah. Di sana, tepat di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir. Jendela diturunkan, memperlihatkan wajah Aska yang tampak sangat lega melihat keberadaan wanita itu di sana, seolah baru saja menemukan harta yang hilang.

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!