Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menulis Tentang Rindu
Sudah berlalu dua minggu sejak hari pertama aku melangkahkan kaki masuk ke lingkungan kampus Universitas Melbourne.
Dua minggu yang terasa berjalan jauh lebih lambat, seolah‑olah telah berlalu selama dua bulan penuh. Waktu yang dipenuhi dengan usaha beradaptasi dengan segala hal yang baru, waktu untuk belajar hal‑hal yang belum kuketahui, dan tentu saja—di setiap detiknya—selalu ada rasa rindu yang tak pernah benar‑benar hilang dari hati.
Perlahan namun pasti, aku mulai terbiasa dengan segala suasana di sini. Tubuhku sudah mulai menyesuaikan diri dengan hawa dingin yang selalu menyelimuti kota ini, dari pagi hingga menjelang malam. Telingaku pun mulai terbiasa mendengar aliran bahasa Inggris yang terdengar di mana‑mana—mulai dari percakapan ringan di jalanan, di dalam kelas, hingga saat berbelanja kebutuhan sehari‑hari. Lidahku pun sudah mulai tak lagi asing dengan menu makanan yang tersaji di kantin kampus: roti lapis isi ayam, pasta karbonara yang kental, serta secangkir kopi panas yang sering kuminum bukan semata karena suka rasanya, melainkan lebih untuk menghangatkan tangan dan tubuh saat udara sedang sangat dingin.
Namun yang paling penting dari semuanya adalah: aku mulai terbiasa dengan pola hidup yang baru. Bangun pagi‑pagi sekali, berjalan kaki menuju kampus, mengikuti serangkaian kuliah, mengerjakan tugas‑tugas yang menumpuk, lalu pulang kembali ke apartemen kecilku. Dan ada satu hal yang menjadi penutup hari yang paling kunantikan: berbicara dengan Aldo lewat sambungan telepon.
Bagi banyak orang, rutinitas seperti ini mungkin terasa membosankan dan datar. Namun bagiku, setiap urutan kegiatan itu memiliki makna tersendiri. Rutinitas menjadi pengingat bahwa aku masih terus berjalan, masih berjuang mengejar cita‑cita, dan masih terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
***
Pagi itu, tepat pukul enam pagi, suara alarm di ponselku kembali berbunyi memecah keheningan.
Aku membuka mata dengan rasa berat, seolah kelopak mataku terisi beban yang berat. Di luar jendela, langit masih tampak gelap gulita—karena di musim dingin seperti ini, matahari baru mulai terbit sekitar pukul setengah delapan pagi. Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh, lalu berguling ke sisi lain kasur, berusaha keras untuk kembali terlelap sejenak.
Namun alarm itu berbunyi lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tak mau berhenti sampai aku bangun.
“Bangunlah, Tari. Hari ini ada kuliah pukul sembilan pagi. Kamu harus sarapan dulu. Harus mandi bersih. Harus bersiap…” ucapku dalam hati, menyusun daftar kewajiban sendiri.
Aku menghela napas panjang, perlahan melepas selimut yang hangat itu, lalu duduk di tepi kasur. Saat telapak kakiku menyentuh permukaan lantai kayu yang sedingin es, aku langsung menggigil hebat.
“Rupanya aku belum sepenuhnya terbiasa dengan dinginnya udara di sini,” gumamku pelan.
Aku berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin—meski kini aku sudah tahu persis cara mengatur keran agar air hangat mengalir, namun kadang aku malah memilih air dingin saja, karena air hangat butuh waktu beberapa menit baru bisa keluar dengan stabil.
Di depan cermin, bayanganku tampak sedikit lebih segar dibandingkan dua minggu yang lalu. Lingkaran hitam di bawah mata masih ada, namun warnanya tak lagi setebal saat pertama kali tiba.
“Mungkin… aku perlahan mulai bisa menyesuaikan diri dengan semua ini,” pikirku sambil tersenyum tipis pada pantulanku sendiri.
***
Pukul tujuh pagi, aku sudah berdiri siap berpakaian.
Di tubuhku terpasang jaket tebal berwarna biru tua—hadiah dari Aldo, yang kini rasanya sudah menjadi bagian dari diriku sendiri karena hampir tak pernah lepas dari badanku. Di leher, terikat syal berwarna kelabu pemberian Mama, menghangatkan sekaligus mengingatkan pada kasih sayang rumah. Dan di dada, terselip kalung dengan liontin berbentuk buku kecil—hadiah istimewa dari Aldo yang selalu menjadi kekuatan hatiku.
Aku menatap diriku di cermin kecil yang menempel di dinding.
“Kamu pasti sanggup melewati hari ini, Tari. Kamu perempuan yang kuat,” ucapku tegas, menyemangati diri sendiri.
Aku mengambil tas ransel, memeriksa isinya satu per satu: laptop, buku catatan, pulpen, botol minum, serta camilan kecil untuk mengganjal perut jika lapar datang di tengah kegiatan. Setelah merasa lengkap, aku pun melangkah keluar dari apartemen.
***
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi, aku tiba di kafe langgananku.
Kafe kecil yang berada tepat di seberang jalan tempatku tinggal—bernama “Brew & Bites”. Tempat yang sama yang pertama kali kudatangi saat baru sampai, dan kini sudah menjadi tempat favoritku untuk duduk menulis. Di sini, para pelayan sudah hafal betul pesanan apa yang biasa kuminta setiap pagi.
“Morning, Tari! The usual?” sapa seorang gadis muda berambut pendek bernama Mia, yang selalu melayaniku dengan senyum ramah.
“Yes, please. Tea chamomile and a croissant,” jawabku santai.
“Coming right up.”
Aku berjalan menuju kursi dekat jendela—tempat duduk yang sama, meja yang sama, pemandangan jalanan yang sama persis seperti hari‑hari sebelumnya. Di luar kaca, kawasan Carlton mulai hidup dan ramai: mahasiswa berjalan tergesa dengan ransel di punggung, para pekerja kantoran berpakaian rapi bergegas menuju tempat kerja, serta beberapa ibu yang berjalan santai sambil mendorong kereta bayi.
Aku segera membuka laptop, lalu menampilkan dokumen tugas kuliahku—cerita pendek bertema cinta terlarang yang harus dikumpulkan minggu depan. Tulisan itu sudah mencapai sekitar seribu lima ratus kata; berarti masih kurang lima ratus kata lagi untuk menyelesaikannya.
Aku membaca ulang paragraf terakhir yang sudah tertulis di layar.
“Ia memegang kedua pipiku dengan lembut, lalu perlahan menghapus jejak air mata yang menetes di sana. Aku terpaku diam menatap wajahnya—wajah yang kira‑kira tujuh persepuluh mirip dengan wajah mantan kekasihku, yang baru saja bertengkar denganku tempo hari. ‘Lalu apa artinya semua itu kalau aku ini adik kandungnya?’ tanyanya tenang. ‘Lupakan saja dia. Mulai detik ini, bisakah kau hanya melihatku? Hanya aku?’”
Senyum tipis mengembang di bibirku. Tulisan ini sepenuhnya bercerita tentang Aldo. Tokoh laki‑laki utamanya adalah dia, dan tokoh perempuannya adalah aku sendiri. Kisah cinta yang dianggap terlarang. Kisah nyata kami berdua.
“Here's your tea and croissant, Tari,” kata Mia sambil meletakkan hidangan itu di atas meja dengan hati‑hati.
“Thanks, Mia,” jawabku.
Aku menyeruput teh chamomile itu perlahan. Rasanya hangat, tidak terlalu manis, pas sekali di lidah dan di hati. Lalu kucicipi kue susnya: renyah di bagian luar, namun lembut dan lumer isinya di dalam mulut.
“Enak sekali,” gumamku puas.
Setelah menikmati sarapan sejenak, aku kembali menekan tuts papan ketik, melanjutkan cerita yang belum selesai itu.
***
Pukul tepat sembilan pagi, aku sudah duduk di dalam Ruang Kuliah 301.
Profesor Williams berdiri tegak di depan kelas, tangannya memegang setumpuk kertas tugas yang sudah disiapkan.
“Good morning, everyone,” sapanya ramah. “Today, we will do a peer review session. You will exchange your short stories with a partner, read each other's work, and give constructive feedback.”
Jantungku seketika berdegup lebih kencang karena rasa gugup.
Peer review. Menilai tulisan orang lain rasanya cukup menantang, namun rasanya jauh lebih menakutkan saat harus memperlihatkan kisah pribadiku kepada orang lain—meski hanya pada teman sekelas.
Sarah, yang duduk tepat di sebelahku, menoleh dan menatapku lekat.
“Are you nervous?” tanyanya lembut.
“Very,” jawabku jujur.
“Don't be. Your story is good,” hiburnya.
“Kamu kan belum pernah membacanya,” bantahku ragu.
“But I can tell. You write from the heart,” ucapnya meyakinkan.
Profesor Williams mulai membagikan lembaran tugas ke setiap meja. “Pair up with the person next to you.”
Aku menatap Sarah, Sarah pun menatapku.
“We're partners,” kataku.
“We're partners,” jawab Sarah mantap.
Kami pun saling menukar lembaran tulisan. Sarah menerima ceritaku berjudul “Cinta Terlarang” karya Tari Winata. Sementara aku menerima karya Sarah yang berjudul “Surat Terakhir” karya Sarah Thompson.
Aku membaca tulisan Sarah dengan penuh perhatian. Ceritanya mengisahkan seorang gadis yang harus kehilangan ibunda tercinta karena sakit kanker, serta bagaimana gadis itu menulis surat perpisahan terakhir sebagai ungkapan kasih sayang yang tak sempat terucap. Cerita itu terasa begitu menyentuh hati, penuh kesedihan namun tulus dan jujur. Bahkan di tengah membacanya, aku tak kuasa menahan air mata hingga menetes di pipiku.
“Tari? Are you okay?” tanya Sarah dengan nada khawatir.
“Aku baik‑baik saja. Ceritamu… sungguh indah dan sangat menyentuh hati,” jawabku sambil mengusap sisa air mata.
Sarah tersenyum haru. “Thank you. Yours too.”
“Kamu sudah selesai membacanya?” tanyaku ingin tahu.
“Yes. And I have to say... it's beautiful,” puji Sarah tulus.
“Beautiful?” ulangku ragu.
“The way you write about love. The way you describe the characters. The way you make the readers feel the longing, the pain, the hope.” jelas Sarah sambil menatap mataku. “It's real, isn't it?”
"Real?"
"Your story. It's based on your real life."
Aku terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk menjawab.
“Yes,” jawabku akhirnya. “It's about me and my boyfriend.”
"Tari, that's..." Sarah terdiam sesaat, seolah mencari kata‑kata yang tepat. “That's brave.”
“Brave?”
“Writing about your own life. Your own struggles. Your own love.,” kata Sarah sambil menggenggam tanganku dengan lembut. “Not many people can do that.”
“Thank you, Sarah,” ucapku lega mendengar pendapatnya.
“Now, my feedback: you need to add more details. More dialogue. More... tension,” sarannya.
“Tension?”
“Yes. Between the two characters. The push and pull. The 'I want you but I shouldn't want you' feeling,” jelas Sarah.
Aku mengangguk tanda paham. “Baiklah, aku akan berusaha memperbaikinya seperti yang kau sarankan.”
***
Pukul sebelas siang, jam kuliah pun berakhir.
Sarah mengajakku makan siang di kantin kampus—seperti kebiasaan kami belakangan ini. Kami berjalan beriringan melewati lorong‑lorong panjang kampus, menyatu dengan kerumunan mahasiswa lain yang juga bergegas mencari makan.
“Tari… bolehkah aku bertanya satu hal?” tanya Sarah di sela perjalanan.
“Tentu saja, silakan saja.”
“Kenapa dari sekian banyak kota di dunia, kamu memilih Melbourne sebagai tempat untuk menuntut ilmu?”
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. “Karena kota ini sudah lama menjadi impianku.”
“Impianmu?” ulangnya.
“Iya. Sejak aku masih kecil, aku sudah berniat ingin kuliah ke luar negeri. Aku ingin belajar menulis di tempat yang berbeda dari lingkungan asalku. Aku ingin…” suaraku tertahan sebentar.
“Kamu ingin apa, Tari?” desaknya lembut.
Aku menghela napas panjang, lalu melanjutkan. “Aku ingin membuktikan kepada semua orang, dan juga kepada diriku sendiri, bahwa aku sanggup melewati semuanya.”
“Sanggup melakukan apa?”
“Sanggup menjadi penulis yang mandiri. Bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Bisa hidup jauh dari rumah dan keluarga, namun tetap berjalan baik dan bahagia,” jawabku tegas.
Sarah tersenyum bangga kepadaku. “Kamu itu perempuan yang sangat berani, Tari.”
Aku menggeleng pelan. “Sebenarnya aku tidak merasa berani. Aku hanya… merasa tidak punya pilihan lain selain maju.”
Sarah menepuk bahuku pelan. “Terkadang, keadaan yang membuat kita merasa tak punya pilihan justru menjadi pendorong semangat yang paling hebat.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. “Bijak sekali bicaramu, Sarah.”
“Bukan karena bijak, tapi karena aku sudah cukup banyak mengalami hal‑hal serupa dalam hidupku,” jawabnya sambil tersenyum.
***
Pukul dua siang, aku kembali tiba di apartemenku.
Aku melepas jaket tebal dan syalku, menggantungnya rapi di belakang pintu, lalu langsung merebahkan diri di atas kasur empuk.
“Aku merasa sangat lelah…” gumamku pelan.
Namun rasa lelah ini bukan sekadar kelelahan fisik akibat berjalan atau belajar. Ini adalah kelelahan batin—karena harus terus berpikir keras mengerjakan tugas, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan yang paling berat: menahan rindu yang terus tumbuh pada Aldo.
Aku meraih ponselku yang tergeletak di meja. Ada satu pesan masuk yang dikirimkan Aldo sekitar pukul sepuluh pagi waktu Melbourne—berarti pukul enam pagi di Jakarta.
“Selamat pagi, Tari. Semoga harimu berjalan indah dan menyenangkan. Aku sangat menyayangimu.”
Senyumku langsung mengembang. Aku segera mengetik balasan.
“Selamat pagi juga, Aldo. Hariku berjalan dengan baik. Aku punya teman akrab baru bernama Sarah, dia sangat baik dan ramah. Aku pun sangat menyayangimu.”
Hanya beberapa menit berlalu, pesan balasan darinya sudah muncul kembali.
“Syukurlah kalau begitu, senang sekali mendengarnya kalau kamu tidak kesepian di sana. Jangan lupa makan yang teratur ya.”
“Sudah makan kok, Aldo. Kamu jangan terlalu cemas,” tulisku.
“Akan selalu ada rasa cemas padamu, Tari. Itu hak istimewaku sebagai orang yang menyayangimu,” jawabnya cepat.
Aku tersenyum geli. “Dasar kamu, suka berlebihan bicaramu.”
“Memang begitu, tapi aku tahu kamu tetap suka kan?”
“Iya… aku suka,” akuku jujur.
Aku meletakkan kembali ponsel di sampingku, lalu menatap langit‑langit kamar yang putih bersih itu.
“Aku sungguh merindukanmu, Aldo…” batinku berbisik.
***
Pukul tujuh malam, langit luar sudah sepenuhnya gelap.
Aku berdiri di balkon sempit apartemenku—tempat favoritku saat ingin melepas penat seharian. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, namun aku enggan masuk ke dalam ruangan. Aku ingin menikmati suasana malam kota Melbourne sepuas hati.
Di kejauhan, lampu‑lampu kota mulai menyala satu per satu. Gedung‑gedung tinggi berkelap‑kelip indah di tengah kegelapan, persis seperti bintang‑bintang yang turun menghiasi permukaan bumi.
“Sungguh pemandangan yang luar biasa indah,” gumamku kagum.
Aku segera meraih ponselku, membuka fitur kamera, lalu memotret keindahan malam itu. Tak lama kemudian, foto itu sudah kukirimkan ke nomor Aldo dengan pesan singkat:
“Lihatlah, Aldo… beginilah rupa kota Melbourne saat malam tiba.”
Balasan darinya datang dengan sangat cepat.
“Sangat cantik sekali pemandangannya. Tapi percayalah, tak ada yang bisa menandingi kecantikanmu di mataku.”
Aku tertawa sendiri membaca kalimat itu.
“Dasar kamu, pandai sekali merayu,” tulisku.
“Aku tidak sedang merayu. Aku hanya mengatakan apa yang sesungguhnya ada di hatiku."
“Baiklah, baiklah… aku percaya padamu,” jawabku santai.
Tak lama kemudian pesan lain masuk darinya: “Tari… aku sangat merindukanmu.”
Aku menggigit bibir bawahku pelan, menahan rasa haru yang meluap.
“Aku pun merindukanmu juga, Aldo. Sangat dalam,” balasku.
“Masih ada waktu dua tahun lagi… nanti kita pasti bisa bertemu kembali.”
“Dua tahun itu waktu yang terasa sangat lama, Aldo,” keluhku.
“Tidak akan terasa lama kalau kita hitung satu per satu. Dua tahun itu hanya sama dengan tujuh ratus tiga puluh hari. Atau tujuh belas ribu lima ratus dua puluh jam. Atau lebih dari satu juta lima puluh satu ribu dua ratus menit. Dan di setiap detik yang berlalu itu, aku akan selalu mengingat dan memikirkanmu,” tulisnya panjang lebar namun penuh makna.
Air mataku jatuh membasahi pipiku tanpa sadar.
“Aldo… jangan buat aku menangis begini,” tulisku sambil menahan isak.
“Kamu tetap terlihat cantik meski sedang menangis sekalipun."
“Dasar Aldo, tidak ada habisnya menggodaku” balasku sambil tertawa di sela tangis.
“Tari, aku harus segera tidur. Besok pagi‑pagi sekali aku sudah ada jadwal kuliah lagi.”
“Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Aldo.”
“Selamat malam, Tari. Aku sangat menyayangimu.”
“Aku pun sangat menyayangimu,” jawabku menutup percakapan itu.
Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaketku, menatap langit malam Melbourne sekali lagi dalam diam, lalu perlahan berbalik masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu balkon rapat‑rapat.
Di luar sana, angin malam kota Melbourne terus berhembus berbisik di sela‑sela gedung dan pepohonan.
Namun di dalam hatiku, hanya ada satu nama yang terus berulang kali disebut…
Aldo.