NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Sang Penyelamat

Derap kaki kuda memecah keheningan hutan perbatasan ketika rombongan tentara bayaran bergerak secepat mungkin mengikuti jalur yang ditunjukkan Hana. Tidak seorang pun di antara mereka berbicara sejak meninggalkan tempat pertemuan beberapa saat sebelumnya. Wajah setiap anggota rombongan dipenuhi keseriusan karena mereka memahami bahwa waktu menjadi penentu hidup dan mati seseorang yang belum pernah mereka kenal. Di barisan paling depan, Alfaro Perez memegang kendali kudanya dengan tenang sambil terus mengamati setiap jejak yang tertinggal di sepanjang jalan. Bekas pijakan puluhan sepatu besi, ranting-ranting yang patah, serta bercak darah yang mulai mengering menjadi petunjuk bahwa pertempuran memang terjadi tidak jauh dari tempat mereka berada.

Hana yang menunggangi seekor kuda di belakang Alfaro menggenggam erat pelana hingga jemarinya memutih. Tatapannya terus menyapu ke segala arah, berharap dapat menemukan sosok kakaknya sebelum semuanya terlambat. Sejak berpisah dengan Ryosuke, pikirannya dipenuhi bayangan terburuk. Ia terus mengingat wajah kakaknya ketika memaksanya pergi sambil menghadang seluruh pasukan Krusador seorang diri. Setiap detik yang berlalu membuat kecemasan itu semakin besar.

"Tuan Alfaro..." ucap Hana lirih sambil berusaha menahan getaran suaranya. "Apa... kita masih sempat?"

Alfaro tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap lurus ke depan.

"Selama kita belum melihat kenyataannya sendiri," katanya tenang, "jangan menyerah pada harapan."

Jawaban singkat itu tidak memberikan kepastian, tetapi cukup membuat Hana kembali memusatkan pikirannya pada perjalanan di depan.

Beberapa saat kemudian, salah seorang pengintai yang bergerak di sisi kanan rombongan mengangkat tangan sebagai isyarat agar seluruh pasukan memperlambat laju kuda mereka. Alfaro segera menarik tali kekang hingga kudanya berhenti di balik rimbunnya pepohonan.

"Ada sesuatu?" tanyanya.

Pengintai itu mengangguk pelan lalu menunjuk ke arah depan.

"Dari sana."

Alfaro segera turun dari kudanya dan berjalan perlahan menuju semak yang menutupi pandangan. Begitu dedaunan itu disibakkan, sebuah pemandangan yang tidak pernah ia duga langsung terbentang di hadapannya.

Sekitar seratus meter di depan, sebuah tanah lapang dipenuhi puluhan tubuh prajurit Krusador yang telah bergelimpangan di atas tanah. Di tengah kepungan pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak, seorang pemuda berpakaian lusuh masih berdiri sambil menggenggam dua bilah katana.

Satu pedang memancarkan cahaya lembut.

Sementara pedang lainnya diselimuti aura hitam pekat yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.

Pemuda itu terus bergerak tanpa memberi kesempatan sedikit pun kepada lawannya untuk mengatur formasi. Kedua pedangnya menari mengikuti pola Hyoho Niten Ichi-ryū yang begitu cepat hingga beberapa prajurit Krusador bahkan tidak sempat mengangkat senjata sebelum tubuh mereka roboh diterjang tebasan.

Namun Alfaro juga dapat melihat sesuatu yang lain.

Gerakan pemuda itu mulai melambat.

Lengan kirinya dipenuhi darah.

Pernapasannya semakin berat.

Setiap ayunan pedang kini jelas dilakukan dengan sisa tenaga yang dipaksakan.

Meski demikian, tidak sedikit pun terlihat rasa takut di wajahnya.

"Dia..." gumam salah seorang tentara bayaran di belakang Alfaro.

"Sendirian?"

"Melawan sebanyak itu?"

Tidak ada seorang pun yang mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Di tengah kepungan ratusan prajurit Krusador, pemuda itu masih terus bertahan.

Hana yang akhirnya berhasil melihat ke arah yang sama langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Kak Ryosuke..."

Air mata kembali memenuhi matanya.

Ia mengenali sosok itu hanya dari cara berdirinya.

Meskipun pakaian Ryosuke telah robek di banyak bagian dan tubuhnya dipenuhi luka, ia masih berdiri menghadapi setiap musuh yang datang tanpa sekali pun mundur.

Di medan pertempuran, Ryosuke mengatur napas sekuat mungkin sambil kembali menangkis tombak yang mengarah ke dadanya. Nichirin-gatana menepis serangan dari sisi kanan, sementara Tenkū Matō menyapu dari arah berlawanan hingga tiga prajurit terlempar bersamaan. Akan tetapi, sebelum ia sempat mengambil posisi, empat orang lainnya sudah lebih dulu menyerbu dari depan.

Dentang baja kembali menggema.

Ryosuke memutar tubuhnya, memanfaatkan putaran kedua pedang untuk memaksa lawan menjaga jarak. Meski berhasil membuka ruang, lututnya hampir menyentuh tanah akibat kehabisan tenaga.

Komandan Krusador yang berdiri di belakang barisan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Habisi dia!"

Puluhan prajurit kembali bergerak maju.

Mereka tidak lagi memedulikan berapa banyak korban yang telah jatuh. Yang mereka inginkan hanyalah kepala pemuda yang sejak semalam mempermalukan pasukan Krusador.

Melihat keadaan itu, Alfaro menarik napas panjang.

Tatapannya tidak lagi meninggalkan Ryosuke.

Kemudian, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melompat naik ke atas kudanya dan mencabut pedang panjang dari pinggangnya.

"Ikuti aku!"

Suara Alfaro menggema di antara pepohonan.

Dalam sekejap ia memacu kudanya keluar dari balik hutan, melesat lurus menuju kerumunan pasukan Krusador dengan kecepatan penuh, sementara para tentara bayaran di belakangnya segera mengikuti sang pemimpin tanpa sedikit pun ragu.

Suara derap kuda yang mengguncang tanah membuat beberapa prajurit Krusador spontan menoleh ke arah belakang. Mereka belum sempat memahami apa yang sedang terjadi ketika Alfaro Perez telah menerjang masuk ke dalam barisan mereka seperti ujung tombak yang membelah formasi musuh. Pedang panjang di tangannya bergerak lurus tanpa keraguan, menangkis tombak yang menghalangi jalan, lalu berbalik menebas dua prajurit yang mencoba meraih tali kekang kudanya. Benturan baja dan ringkikan kuda memenuhi medan pertempuran, memaksa pasukan Krusador kehilangan keteraturan yang sejak tadi mereka bangun untuk mengepung Ryosuke.

"Musuh baru!"

"Tahan mereka!"

"Tutup jalannya!"

Teriakan demi teriakan saling bersahutan, tetapi semuanya terlambat. Alfaro sudah berada terlalu dalam di tengah kepungan. Kudanya terus melaju tanpa kehilangan kecepatan, sementara setiap ayunan pedangnya membuka jalan menuju pemuda yang masih bertarung seorang diri di tengah lautan baju zirah Krusador.

Ryosuke yang baru saja menangkis serangan dari arah kiri mendengar suara gaduh yang berbeda dari sebelumnya. Di sela-sela napasnya yang berat, ia sempat mengangkat kepala dan melihat seorang penunggang kuda menerobos kepungan dengan keberanian yang bahkan tidak dimiliki sebagian besar prajurit. Beberapa sosok lain mengikuti dari belakang, memaksa pasukan Krusador membagi perhatian mereka.

"Apa..."

Ryosuke belum sempat menyelesaikan pikirannya ketika sebuah tombak kembali meluncur ke arahnya. Dengan sisa tenaga yang masih dimiliki, ia memutar Nichirin-gatana untuk membelokkan ujung tombak itu, lalu Tenkū Matō bergerak mengikuti lintasan yang sama hingga lawannya terjatuh. Namun gerakan itu menguras tenaga terakhir yang masih tersisa di tubuhnya.

Saat itulah Alfaro akhirnya berhasil mencapai jarak beberapa langkah dari Ryosuke.

"Naik!"

Suara tegas itu terdengar jelas di tengah hiruk-pikuk pertempuran.

Ryosuke menoleh. Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Ia tidak mengenal pria itu.

Namun dari lambang yang terpasang pada perlengkapannya, Ryosuke mengetahui bahwa pria tersebut bukan bagian dari pasukan Krusador.

Tanpa sempat bertanya lebih jauh, tiga prajurit kembali menyerang dari sisi kanan.

Alfaro memutar kudanya, mengayunkan pedang panjangnya untuk menahan serangan pertama, lalu menghantam prajurit kedua dengan gagang pedang hingga terpental. Celah yang tercipta hanya berlangsung sesaat, tetapi sudah cukup baginya untuk mendekat kepada Ryosuke.

"Kalau ingin tetap hidup, ikut aku!"

Sebelum Ryosuke sempat menjawab, suara desir yang tajam tiba-tiba memenuhi udara.

Sreet!

Sreet!

Sreet!

Puluhan anak panah meluncur dari puncak bukit di sisi kiri medan pertempuran. Hujan panah itu jatuh tepat ke arah barisan Krusador yang sedang berusaha menutup jalan keluar, memaksa mereka mengangkat perisai dan mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan yang datang dari tempat lebih tinggi.

"Para pemanah!"

"Cari asal serangannya!"

"Perisai! Cepat!"

Formasi pasukan Krusador yang semula rapat langsung kacau. Sebagian besar prajurit berusaha melindungi diri dari hujan anak panah, sementara yang lain berlari mencari arah serangan tanpa menyadari bahwa celah yang mereka tinggalkan semakin lebar.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!