NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Penolakan yang Membuat Marah

Film Toy Story berakhir setelah lebih dari satu jam berlalu. Woody dan Buzz Lightyear akhirnya berhasil bekerja sama, dan Alex bertepuk tangan kegirangan saat adegan kredit mulai bergulir di layar televisi.

"Seru banget! Alex suka Toy Story!" seru Alex, masih tersenyum lebar.

Liora tersenyum, tetapi ia segera mengingat satu hal. Sudah waktunya Alex minum obat.

Sebelum ia tiba di desa ini, Emi sudah memberikan instruksi yang sangat jelas. Setiap sore, setelah makan camilan atau sebelum makan malam, Liora harus memberikan dua jenis obat kepada Alex. Obat pertama berwarna putih, untuk menjaga kesehatannya. Obat kedua berwarna kuning, untuk membantu menenangkan sarafnya—sebuah efek samping dari kecelakaan yang pernah ia alami beberapa tahun lalu.

"Alex, waktunya minum obat," kata Liora sambil berdiri. Ia berjalan ke dapur, mengambil botol-botol obat yang disimpan di lemari atas, lalu menuangkan air putih ke dalam gelas.

Alex yang masih duduk di sofa, mendengar panggilan Liora, segera berlari ke dapur. Ia duduk di kursi kecil di dekat meja makan, dengan wajah yang sedikit masam.

"Alex harus minum obat lagi?" tanyanya, nadanya sedikit merengek.

Liora tersenyum lembut. "Iya, Alex. Ini obatnya. Kalau kamu mau sehat dan kuat, kamu harus minum obat ini setiap sore."

Alex menghela napas panjang, tetapi ia tidak membantah. Ia mengambil satu pil putih dan satu pil kuning dari telapak tangan Liora, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia meneguk air putih itu hingga habis, lalu menunjukkan gelas kosongnya pada Liora dengan bangga.

"Sudah, Liora!" serunya.

Liora mengelus rambut Alex dengan lembut. "Pintar, Alex. Sekarang, kita mandi dan bersih-bersih ya. Badan kita masih ada debu dan tanah dari peternakan tadi pagi."

Alex mengangguk setuju. Mereka berdua naik ke lantai dua. Liora membiarkan Alex mandi lebih dulu, sambil menyiapkan pakaian ganti untuknya. Alex mandi dengan cepat, dan tak lama kemudian, ia keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.

Setelah Liora mandi, ia berganti pakaian dengan daster krem yang nyaman. Cuaca sore berubah menjadi dingin, dan Liora mengenakan kardigan tipis di atas daster untuk menahan udara yang mulai merembes dari jendela.

Mereka berdua duduk di ruang tamu, menonton televisi ringan. Siang perlahan berganti menjadi sore, dan sore mulai berubah menjadi malam. Langit di luar jendela berwarna oranye keemasan, lalu berubah menjadi perak, dan akhirnya menjadi gelap pekat.

Liora membuat makan malam sederhana—nasi goreng dengan sosis dan sayuran. Mereka makan bersama dengan tenang. Alex terlihat bahagia, tetapi Liora bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Alex. Tatapannya sesekali tertuju pada lemari tinggi di sudut ruangan, tempat di mana ia menyembunyikan buku biru itu tadi.

Setelah makan malam, Liora membereskan meja dan mencuci piring di dapur. Suara gemericik air mengalir dari kran, dan ia mendengar langkah kaki Alex yang berjalan pelan menuju sudut ruangan.

Liora menoleh. Alex sudah berdiri di depan lemari tinggi itu. Ia meraih buku biru yang disembunyikan Liora tadi, dan membawanya kembali ke sofa. Ia duduk, membuka buku itu, dan mulai membaca lagi. Matanya terpaku pada gambar-gambar yang ada di dalamnya.

Liora menghela napas. Ia mengeringkan tangannya, lalu berjalan ke ruang tamu.

"Alex, jangan baca buku itu lagi, ya. Lebih baik kita nonton film lain atau tidur," kata Liora dengan nada berusaha tenang.

Tapi Alex tidak mendengarkannya. Ia membalik beberapa halaman, lalu berhenti pada satu gambar. Matanya membulat, dan wajahnya berubah menjadi sangat penasaran.

"Liora," panggil Alex dengan suara rendah, yang sedikit berbeda dari biasanya.

Liora mendekat. "Ada apa, Alex?"

Alex menunjuk gambar di buku itu. Di sana, ada ilustrasi sepasang suami istri yang sedang berciuman. Tidak vulgar, tetapi cukup jelas untuk memperlihatkan dua wajah yang saling mendekat dengan mata tertutup dan ekspresi penuh kasih.

"Ini apa, Liora? Kenapa mereka berdua saling menempelkan mulutnya?" tanya Alex, dengan tatapan polos namun penuh rasa ingin tahu.

Liora tersentak. Wajahnya kembali memanas. Ia tahu bahwa bagian ini adalah hal yang paling ia takutkan dari buku-buku itu.

"Itu... itu ciuman, Alex," jawab Liora dengan suara bergetar.

"Ciuman?" Alex memiringkan kepalanya. "Kenapa mereka ciuman? Apa itu enak?"

Liora tidak tahu harus menjawab apa. Ia menarik napas panjang. "Ciuman itu adalah tanda sayang, Alex. Tapi tidak semua orang boleh melakukannya. Hanya orang yang sudah saling mencintai dan sudah menikah."

Alex menatap Liora. Kemudian, matanya berbinar. "Tapi Alex kan sudah menikah dengan Liora! Berarti Alex boleh cium Liora, dong?"

Liora membelalak. "Apa? Alex, jangan—"

Alex sudah berdiri dari sofa. Ia melangkah mendekati Liora, dengan buku itu masih dipegangnya erat. Wajahnya penuh antusiasme. "Alex mau coba! Alex mau lihat rasanya ciuman! Liora mau, kan?"

Liora mundur selangkah. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia menatap Alex yang berdiri di depannya. Di satu sisi, ia tahu Alex tidak mengerti apa yang sebenarnya ia minta. Alex hanya melihat gambar dan ingin mempraktikkannya, seperti anak kecil yang melihat gambar mobil lalu ingin bermain mobil.

Tapi di sisi lain, Alex adalah suaminya secara sah. Dan permintaan itu, dalam konteks pernikahan, sebenarnya tidak salah.

Namun, Liora belum siap. Ia masih memandang Alex sebagai anak kecil, bukan sebagai suami dewasa. Ia tidak bisa membayangkan mencium wajah yang masih polos dan lugu itu.

"Tidak, Alex," kata Liora dengan suara tegas, meskipun masih bergetar. "Aku tidak mau."

Alex mengerutkan kening. "Kenapa, Liora? Alex mau!"

"Alex, dengar aku. Ciuman itu bukan mainan. Kamu belum mengerti artinya. Jadi, kita tidak akan melakukannya. Buku itu harus kamu kembalikan ke tempatnya."

Alex menatap Liora dengan tatapan kecewa. Ia tidak menerima penolakan itu dengan mudah. "Tapi Liora istri Alex! Di buku itu, suami istri harus ciuman! Alex mau!"

"Tidak, Alex. Sudah, jangan bahas ini lagi," kata Liora, suaranya mulai keras dan sedikit marah.

Alex diam. Ia menunduk, menatap buku di tangannya. Bahunya sedikit bergetar. Liora bisa melihat kekecewaan di wajah Alex.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alex berbalik. Ia berjalan menuju tangga dengan langkah cepat, memeluk buku itu erat-erat seperti benda berharga. Ia naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Pintu kamar Alex tertutup dengan suara yang tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk memperlihatkan kemarahannya.

Liora berdiri diam di ruang tamu. Ia menatap tangga kosong, lalu menatap pintu kamar Alex yang tertutup.

"Nafas," desahnya pelan.

Ia tidak bisa menahan air matanya. Liora berjalan ke sofa dan duduk, memeluk lututnya. Ia menangis tanpa suara.

Ia tidak berniat menyakiti Alex. Ia hanya belum siap. Alex belum mengerti apa yang ia minta. Dan Liora tidak ingin mengambil kesempatan dari kepolosan Alex.

Di kamar atas, Alex terdiam di atas tempat tidurnya. Ia memeluk buku itu, matanya merah. Ia marah. Ia tidak mengerti mengapa Liora menolaknya. Bukankah mereka sudah menikah? Bukankah Liora adalah istrinya?

Ia membalikkan badan, membelakangi pintu, dan memejamkan matanya. Rasa marah masih mengiang di kepalanya, tetapi perlahan-lahan, rasa kantuk mulai mengalahkannya.

Di bawah, Liora masih duduk di sofa. Ia menatap pintu kamar Alex di lantai atas, dan menghela napas panjang.

"Besok pasti dia sudah melupakan ini," bisiknya. "Alex tidak pernah marah lama."

Liora bangkit, mematikan lampu ruang tamu, dan naik ke kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit.

Malam itu, mereka tidur berpisah kamar. Liora mendengar suara jangkrik di luar, dan ia berharap esok hari akan lebih baik dari hari ini.

Bab sepuluh berakhir. Liora masih belajar tentang arti menjadi istri.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!