Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Penaklukan Swalayan dan Kumbang Pengangkut
Pengintai Kulit Besi itu melengking keras, memamerkan deretan gigi tajamnya yang meneteskan racun. Dengan dorongan kuat dari kaki belakangnya, makhluk bersisik tebal itu melompat melewati tumpukan kulkas dan rak piring yang menjadi barikade terakhir para penyintas.
Wanita dan anak-anak di sudut ruangan menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat. Pria yang terluka parah di garis depan memejamkan mata, menodongkan ujung gagang sapu pel yang telah patah, bersiap menyambut ajal.
Namun, kematian yang mereka tunggu tidak pernah tiba.
Sebuah bayangan hitam melesat dari arah eskalator dengan kecepatan yang tak mampu diikuti oleh mata telanjang. Angin panas menyapu ruangan, membawa bau logam yang terbakar.
Tepat sebelum cakar Pengintai Kulit Besi itu menyentuh leher sang pria terluka, sebuah tangan baja berwarna hitam pekat mencengkeram leher makhluk tersebut di udara.
TSSSS!
Cahaya merah menyala meledak dari punggung tangan baja itu. Suhu delapan ratus derajat Celcius langsung dialirkan ke leher sang monster. Sisik besi yang sekeras aspal itu meleleh dalam sekejap layaknya mentega di atas wajan panas.
Makhluk itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara jeritan. Lehernya putus terbakar, dan tubuhnya terhempas ke lantai keramik hingga hangus sebagian.
Keempat Anjing Neraka Mutan yang berada di luar barikade mendadak berhenti menggeram. Insting binatang mereka merasakan bahaya mematikan dari sosok pemuda berjubah yang kini berdiri membelakangi para penyintas.
Yudha tidak memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri.
Ia memutar tubuhnya, kaki kanannya menolak lantai keramik hingga retak, dan melesat maju layaknya peluru meriam. Tangan kirinya mencabut pedang pendek dari balik punggung, sementara lengan kanan mekanisnya masih memancarkan hawa panas yang membakar udara.
Dalam waktu kurang dari tiga kali tarikan napas, pembantaian sepihak terjadi.
Pedang di tangan kiri Yudha menebas tenggorokan dua Anjing Neraka dengan presisi mematikan, sementara lengan bajanya menghancurkan tengkorak dua monster lainnya hingga menjadi abu dan serpihan tulang hangus. Pengintai Kulit Besi terakhir mencoba melarikan diri, namun Yudha melemparkan pedangnya tepat menembus tulang belakang makhluk itu, memakukannya ke dinding swalayan.
[Entitas Tingkat Rendah (Tingkat 2 dan 3) x6 berhasil dimusnahkan.]
[+450 Poin Pengalaman.]
Keheningan mutlak kembali menguasai lantai dua pusat perbelanjaan itu. Para penyintas menahan napas, mata mereka terbelalak menatap punggung Yudha. Pria dengan lengan mekanis menyala itu tampak jauh lebih menakutkan daripada monster-monster yang baru saja ia bantai.
Yudha berjalan santai, mencabut pedangnya dari dinding, lalu mematikan aliran energi pada lengan kanannya. Garis-garis merah pada baja itu memudar, kembali menjadi hitam pekat yang dingin. Ia memungut enam kristal energi kotor dari bangkai monster-monster itu, menyimpannya ke dalam kantong sabuknya, lalu berbalik menatap dua puluh penyintas yang meringkuk ketakutan.
"S-siapa kau?" suara pria yang terluka tadi memecah keheningan. Tubuhnya gemetar hebat karena kehilangan banyak darah dan menahan rasa takut.
Yudha menatap pria itu dengan pandangan datar. "Namaku Yudha. Dan tempat ini, mulai sekarang, adalah wilayah kekuasaanku."
Pria itu menelan ludah. "T-terima kasih telah menyelamatkan kami... K-kami hanya bersembunyi di sini sejak malam kiamat itu. Jika kau menginginkan makanan di sini, ambillah. Kami tidak akan menghalangimu."
"Kau salah paham," potong Yudha dingin. Suaranya menggema di ruangan luas itu, menuntut kepatuhan mutlak. "Aku tidak sedang meminta izin untuk mengambil barang-barang ini. Aku mengambil semuanya, termasuk kalian."
Wajah para penyintas memucat. Beberapa pria dewasa saling berpandangan, mencoba mencari keberanian, namun sisa-sisa daging hangus monster di lantai seketika membunuh niat perlawanan mereka.
"Dunia lama telah hancur. Hukum tidak lagi berlaku," lanjut Yudha seraya melangkah maju. "Aku mendirikan sebuah faksi bernama Tatanan Besi Hitam. Kalian punya dua pilihan hari ini: Menjadi pekerjaku, mengumpulkan sumber daya di bawah perlindunganku, dan mendapat jatah makanan... atau tetap di sini tanpa perlindungan apa pun dan menunggu monster yang lebih besar datang mencabik-cabik kalian."
Pria yang terluka itu menjatuhkan senjatanya. Ia tahu ini bukan sekadar tawaran, melainkan paksaan mutlak. Namun, di dunia yang gila ini, mengabdi pada sosok yang kuat adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.
Ia segera menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. "Namaku Arya. Aku dan kelompok ini bersedia tunduk padamu, Ketua."
Melihat satu-satunya orang yang berani melawan monster tadi berlutut, belasan orang lainnya buru-buru mengikuti, bersujud di hadapan Yudha.
Yudha mengangguk pelan. "Arya, ikat lukamu dengan kain bersih. Kau akan menjadi pengawas mereka. Tugas pertama kalian sangat sederhana."
Yudha menunjuk ke arah rak-rak besi tempat barang dagangan dipajang. "Bongkar semua rak besi itu. Singkirkan barang dagangannya ke satu sisi, kumpulkan rangkanya di tengah ruangan ini. Aku butuh lima ratus kilogram baja dalam waktu lima belas menit. Bergerak sekarang, atau kalian tidak akan mendapat jatah makan hari ini."
Meski kebingungan dengan perintah aneh tersebut, ancaman kelaparan dan tatapan mematikan Yudha membuat mereka segera bergerak. Pria, wanita, dan bahkan anak-anak yang sudah cukup besar mulai memunguti dan membongkar rak-rak besi swalayan.
Sambil menunggu, Yudha duduk di atas sebuah mesin kasir yang rusak. Ia menutup matanya, memfokuskan pikirannya pada cetak biru yang baru saja ia pelajari.
Dua puluh menit kemudian, tumpukan besi dan baja dari rak-rak swalayan telah menggunung di tengah ruangan.
Yudha berdiri, berjalan mendekati tumpukan tersebut. Ia mengeluarkan dua buah kristal energi dari sisa monster Tingkat 4 semalam. Para penyintas mundur perlahan, menatap ketua baru mereka dengan penuh tanda tanya.
Yudha mengulurkan kedua tangannya ke arah tumpukan besi tersebut.
"Mulai perakitan."
WUUUNGGG!
Cahaya biru yang sangat terang meledak dari telapak tangan Yudha, menyapu seluruh tumpukan baja di depannya. Orang-orang terpaksa menutup mata karena silau. Di dalam cahaya tersebut, suara logam yang melengkung, mematah, dan menyatu terdengar nyaring. Potongan rak besi dilebur dan dirangkai kembali oleh kekuatan sistematis dari kelas Mekanik Anomali.
Kabel-kabel listrik dari langit-langit swalayan ditarik secara otomatis, melilit menjadi sistem saraf mekanis. Dua kristal energi tertanam di bagian tengah struktur tersebut sebagai jantung penggerak ganda.
Ketika cahaya biru meredup, suara tarikan napas terkejut terdengar serempak dari mulut belasan penyintas.
Di tengah ruangan, kini berdiri sebuah mesin otonom raksasa berbentuk kumbang tanduk. Panjangnya mencapai tiga meter, dengan enam kaki berengsel tebal yang menopang cangkang baja cembung. Mesin itu mendengung halus, memancarkan aura teknologi yang melampaui zaman.
[Perakitan Selesai!]
[Benda Dibuat: Kumbang Baja Pengangkut (Peringkat Menengah)]
[Kapasitas Penyimpanan Internal: 10 Ton Ruang Kosong Terkompresi.]
Yudha menyentuh cangkang baja kumbang tersebut, dan sebuah pintu palka terbuka secara otomatis di bagian punggungnya. Ruang di dalamnya tampak berputar, menggunakan prinsip kompresi ruang dari Sistem.
Yudha menoleh ke arah pengikut barunya yang masih mematung layaknya melihat mukjizat dewa pencipta.
"Apa yang kalian tunggu?" bentak Yudha, suaranya menyadarkan mereka. "Kumpulkan semua makanan kaleng, air bersih, beras, pakaian tebal, dan obat-obatan dari swalayan ini. Masukkan semuanya ke dalam palka kumbang ini. Kita akan kembali ke markas Tatanan Besi Hitam sebelum matahari tepat di atas kepala."
Kepatuhan mereka kini bukan lagi sekadar karena rasa takut, melainkan karena rasa hormat yang fanatik.