Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilat di Balik Cadar
Albiru akhirnya menyelesaikan coretan terakhir di kertas buramnya. Dengan gerakan tegas, ia mengangkat tangan, menyusul sepuluh menit setelah kehebohan yang diciptakan Ellea. Bu Sarah memeriksa pekerjaannya dan memberikan anggukan puas, walau sisa takjub dari cara pengerjaan Ellea masih membekas di wajah sang guru.
"Bagus sekali, Albiru. Jawabanmu juga tepat dan rapi. Hari ini kelas kita kedatangan dua talenta matematika yang luar biasa," puji Bu Sarah bangga.
"Wow, sepertinya Albiru dan si gadis Ninja itu saingan berat nih," celetuk Gerry asal dari bangku tengah, memicu tawa tertahan dari beberapa murid pria di sekitarnya.
Mendengar kalimat Gerry yang menyandingkan dirinya dengan perempuan bercadar itu, ego Albiru langsung tersengat. Ia merasa martabatnya sebagai pangeran sekolah seolah diturunkan paksa. Dengan senyum sinis yang sengaja dipasang, Albiru membalas dengan nada meremehkan yang cukup keras.
"Paling cewek aneh itu hanya beruntung saja bisa ngerjain, gue yakin otaknya kayak udang."
Kalimat sarkas itu meluncur bebas, memancing senyum puas di wajah Sandra dan antek-anteknya. Namun di sudut belakang, Ellea mendengarnya dengan sangat jelas. Dadanya bergemuruh, bukan lagi karena cemburu, melainkan karena harga dirinya sebagai seorang wanita dan pelajar diusik.
Ellea menoleh tajam ke arah barisan depan. “Apa? Dia bilang aku cewek aneh? Dia lebih aneh,” batin Ellea bergolak. Bagaimana bisa seorang suami mengatai istrinya sendiri dengan sebutan sekejam itu di depan publik?
Merasakan ada kilatan protes dari sepasang manik abu-abu di belakang, Albiru memutar tubuhnya. Ia memberanikan diri menatap istrinya, menantang balik dengan sorot mata merendahkan. "Cewek aneh," cibir Albiru.
Ellea menarik napas dalam-dalam. Keberanian mudanya bangkit. Ia tidak bisa terus-menerus menjadi sasaran rundungan emosi suaminya yang kekanak-kanakan. Dengan volume suara yang pas cukup untuk didengar oleh barisan di sekitar mereka namun tidak sampai menginterupsi jalannya kelas Ellea menyahut.
"Kak?" ucap Ellea, sengaja menekankan panggilan yang seharusnya diucapkan di rumah, membuat Albiru seketika melotot tajam. Ada kilat kepanikan dan ancaman di mata cowok itu, takut rahasia besar mereka terbongkar di hari pertama.
Melihat reaksi panik Albiru, Ellea melanjutkan dengan nada yang sangat tenang. "Albiru, sebaiknya kamu buang jauh-jauh pikiran burukmu itu tentang saya."
Ucapan Ellea yang terdengar begitu dewasa dan penuh penekanan membuat Albiru semakin kesal. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di bawah meja. Belum sempat ia membalas kalimat telak itu, bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi nyaring.
Bu Sarah merapikan buku-bukunya di meja guru. "Baik, anak-anak, materi hari ini kita cukupkan sampai di sini. Jangan lupa pelajari lagi bab selanjutnya di rumah. Selamat siang." Bu Sarah pun pamit untuk kembali ke ruangan guru, meninggalkan para siswanya yang mulai gaduh seketika setelah pintu kelas tertutup.
Begitu guru keluar, kelas langsung berubah. Sandra, yang sejak tadi menahan dongkol karena perhatian Albiru dan Bu Sarah tersedot oleh anak baru, mulai melancarkan aksinya. Ia sengaja mengibaskan rambut panjangnya dengan dramatis, lalu menoleh ke arah gengnya.
"Hei, tahu nggak? Sejak ada ustadzah di kelas kita, kok kelas kita panas ya? Hawanya jadi gerah banget, bikin haus," ucap Sandra dengan nada menyindir yang sangat kentara. Matanya melirik sinis ke arah bangku paling belakang.
Sandra kemudian berdiri, berkacak pinggang, dan melayangkan pandangan penuh perintah ke arah Dania dan Ellea. Ia menganggap Dania yang kuper dan Ellea yang anak baru sebagai sasaran empuk untuk menunjukkan dominasinya.
"Eh, Dania! Sama kamu ... siapa namanya? Si Tanpa Muka!" panggil Sandra dengan nada angkuh. "Kalian berdua ke kantin sekarang. Belikan es jeruk buat gue dan anak-anak yang lain. Cepat, mumpung belum terlalu ramai."
Dania langsung menciut. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan gugup, bersiap untuk berdiri karena takut berurusan dengan kelompok Sandra. Namun, belum sempat Dania melangkah, sebuah suara lembut namun tegas menginterupsi gerakan mereka.
"Maaf, saya bukan pelayan Anda," ujar Ellea tenang. Ia bahkan tidak bergeser satu senti pun dari kursinya, tangannya masih sibuk merapikan alat tulis ke dalam tempat pensil.
Seketika, seisi kelas yang sedang riuh mendadak hening. Mereka tidak percaya ada murid pindahan yang berani menolak perintah Sandra, sang ratu sekolah.
Sandra langsung meradang. Wajah cantiknya berkerut menahan amarah. Ia melangkah besar-besar menghampiri meja Ellea, lalu menggebrak meja kayu itu dengan telapak tangannya.
"Heh, anak baru! Berani melawan ya? Kamu tahu nggak, gue ini ratu di kelas ini!" gertak Sandra dengan suara meninggi, mencoba mengintimidasi.
Ellea mendongak. Di balik sekat kain hitamnya, sudut bibirnya sebenarnya terangkat. Ia hampir tertawa mendengar klaim sepihak yang terdengar sangat kekanak-kanakan di telinganya. Sifat manja Sandra benar-benar tipe penindas sekolah yang klise.
"Ratu?" Ellea mengulang kata itu dengan nada santai, seolah tanpa beban. "Kalau Anda seorang malaikat, saya akan patuh meski saya harus membawakan air zam-zam dari Makkah."
Pft.
Sebuah tawa spontan lolos dari barisan tengah. Albiru, yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dengan niat ingin melihat istrinya tertindas, justru tidak bisa menahan tawa ringannya. Ia bersedekap, bersandar pada sandaran kursi, dan menyaksikan bagaimana Ellea membalas skakmat ucapan Sandra dengan ketenangan yang luar biasa. Albiru yang melihat istrinya ternyata tak selemah itu hanya bisa tertawa sinis, sekaligus merasa takjub di dalam hati bahwa gadis rumahan pilihan bundanya ini punya keberanian yang cukup nekat.
"Maksud kamu apa, hah?!" bentak Sandra yang wajahnya kini memerah padam, merasa dipermalukan di depan teman-temannya, terutama di hadapan Albiru. "Kamu menyindir aku bukan perempuan baik-baik?!"
"Saya tidak mengatakan hal demikian," jawab Ellea, berdiri dari kursinya sehingga tinggi badannya kini sejajar dengan Sandra. Sorot mata abu-abunya menatap lurus, memancarkan wibawa yang membuat Sandra tanpa sadar mundur satu langkah. "Saya hanya menegaskan bahwa di sekolah ini kita semua memiliki hak yang sama sebagai pelajar. Tidak ada pelayan, dan tidak ada ratu. Jika Anda haus, kantin terbuka lebar untuk siapa saja yang memiliki kaki untuk berjalan."
"Kau—!" Sandra mengangkat tangan kanannya, emosinya sudah mencapai ubun-ubun dan bersiap untuk melayangkan sebuah tamparan.
Namun, sebelum tangan Sandra sempat bergerak turun, sebuah seruan dari arah pintu kelas menghentikan segalanya.
"Woi! Pak target, eh, Pak Kepsek mau lewat koridor! Bubar, bubar!" teriak Gerry yang baru saja kembali dari toilet.
Mendengar nama Kepala Sekolah disebut, Sandra terpaksa menurunkan tangannya dengan hentakan kesal. Ia menunjuk wajah Ellea dengan jari telunjuknya, berbisik dengan penuh ancaman. "Urusan kita belum selesai, anak baru. Lihat saja nanti."
Sandra kembali ke bangkunya dengan hentakan kaki yang kasar. Sementara itu, Dania memegang dada dengan napas memburu, menatap Ellea seolah-olah sahabat barunya itu baru saja selamat dari terkaman singa.
"Ellea ... kamu nekat banget. Sandra itu bisa lapor ke komite sekolah lewat orang tuanya," bisik Dania cemas.
"Tenang saja, Dania. Selama kita benar, tidak ada yang perlu ditakutkan," jawab Ellea lembut, mencoba menenangkan teman sebangkunya.
Di barisan tengah, Albiru kembali memutar tubuhnya ke depan, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Coretan rumus trigonometri di bukunya mendadak mengabur, digantikan oleh bayangan sepasang mata abu-abu jernih yang menatapnya tajam penuh tantangan tadi.
“Kak?” Kata itu kembali terngiang di telinga Albiru, membuat dadanya berdesir aneh. Ada rasa kesal yang tertinggal, namun ada juga rasa penasaran yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.
“Aku pikir, dia akan lemah dan menangis dipojokan karena tertindas. Ternyata, dia hebat juga," batin Albiru.