NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Membaca Aksara Kuno.

Malam telah jatuh sepenuhnya di kawasan pinggiran Hutan Roban. Hujan gerimis yang mulai turun membuat udara malam itu terasa luar biasa dingin. Setelah selesai memakamkan jasad kakek tua misterius itu, Erlang berhasil menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik rambatan akar gantung sebuah pohon loa tua untuk berlindung.

Di dalam gua yang pengap itu, Erlang menyalakan seonggok api unggun kecil menggunakan ranting-ranting kering yang sempat ia kumpulkan sebelum hujan deras turun. Setelah tubuhnya merasa agak hangat, ia merogoh lipatan baju terdalamnya. Ia mengeluarkan kitab tipis tanpa nama berbahan kulit satwa yang diberikan oleh kakek tua itu tepat sebelum ajalnya tiba.

Erlang duduk bersila di dekat perapian. Dengan sangat hati-hati, ia membuka lembaran pertama kitab tersebut. Cahaya lidah api yang meliuk-liuk menerangi permukaan kulit satwa yang dekil itu, menyingkap barisan tulisan tangan berbentuk aksara Jawa Kuno yang digurat dengan tinta hitam yang sudah agak memudar.

Erlang mendekatkan kitab itu ke wajahnya, dahinya berkerut dalam. "Gusti... ini aksara Jawa Kuno model sepuh. Untung dulu Paman Suro sempat memaksaku belajar membaca rontal-rontal tua di pondok. Kalau tidak, benda ini cuma jadi bungkus singkong buatku."

Erlang mulai mengeja kata demi kata dengan suara lirih, mencoba menyelaraskan arti dari kalimat-kalimat yang tertulis di sana. "Napas... adalah jembatan antara jiwa dan raga. Jangan ditahan, jangan dipaksa. Biarkan ia mengalir seperti air bening yang mencari celah di sela bebatuan sungai..."

Erlang berhenti sejenak, membalik lembaran berikutnya yang berisi gambar siluet tubuh manusia dengan garis-garis petunjuk arah aliran yang rumit. "Lho, kok tidak ada gambar orang memukul atau menendang? Katanya ini kitab pusaka yang diperebutkan puluhan penyamun sakti? Kok isinya cuma gambar orang duduk diam sambil menarik napas?"

Erlang berbicara sendiri di dalam kegelapan gua, suaranya menggema pelan memantul di dinding-dinding batu. Ia merasa agak kecewa karena mengira akan menemukan jurus-jurus hebat yang instan untuk membalaskan dendam orang tuanya.

"Ah, sudahlah. Kakek tua itu bilang kitab ini adalah guru. Mungkin aku saja yang belum paham," gumam Erlang menenangkan hatinya sendiri.

Ia kembali memfokuskan matanya pada baris teks di bawah gambar siluet tersebut. "Kunci pertama, Kosongkan pikiran dari segala ambisi duniawi. Tarik napas melalui hidung dalam empat hitungan jantung, salurkan ke pusar, tahan sejenak hingga terasa hangat, lalu embuskan lewat mulut secara perlahan tanpa suara."

Erlang menutup kitab itu perlahan, menaruhnya di atas lutut. Ia memejamkan matanya, mencoba mengikuti instruksi dasar yang baru saja dibacanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Satu... Dua... Tiga... Empat...

Uhuk! Uhuk!

Erlang langsung terbatuk-batuk, dadanya terasa nyeri dan sesak. Ia membuka matanya dengan kesal. "Aduh, malah sakit semua dadaku. Apanya yang salah ya? Mengalir seperti air... mengalir seperti air..."

Erlang merenungkan kata-kata itu. Ia menyadari sesuatu. "Oh, mungkin tadi aku menarik napasnya terlalu bertenaga, seperti orang mau menyelam. Air kan tidak bergerak kasar begitu. Air itu tenang."

Erlang kembali membetulkan posisi duduk bersilanya. Ia menegakkan punggungnya, melemaskan otot-otot bahunya yang tegang setelah berjalan seharian. Kali ini, ia membiarkan udara malam yang dingin masuk ke dalam hidungnya secara sangat halus, hampir tidak terdengar. Ia membayangkan udara itu adalah aliran air jernih yang hangat.

Ia mengarahkan konsentrasinya ke titik tiga jari di bawah pusar, sesuai dengan garis petunjuk di dalam kitab. Pada percobaan ketiga belas, Erlang mulai merasakan sesuatu yang aneh. Titik di bawah pusarnya yang semula biasa saja, tiba-tiba terasa agak hangat, seperti ditempeli koin tembaga yang baru saja dijemur di bawah terik matahari.

"Eh? Kok mulai hangat?" bisik Erlang pelan tanpa membuka mata, takut sensasi asing itu akan hilang jika konsentrasinya buyar.

Ia terus mengulangi pola pernapasan tersebut. Setiap kali ia mengembuskan napas, rasa hangat di pusarnya perlahan-lahan mulai memanjang, menyebar membentuk aliran tipis seperti benang sutra yang bergerak naik menyusuri tulang belakangnya, lalu turun kembali menuju dada. Itu adalah aliran inti tenaga dalam murni yang selama ini tertidur di dalam tubuhnya karena hanya dilatih menggunakan silat fisik biasa oleh Ki Suro.

"Rasa hangat ini... nyaman sekali. Rasa lelah di kakiku setelah berjalan berminggu-minggu seolah-olah menguap begitu saja," ucap Erlang dalam hati dengan perasaan takjub yang luar biasa.

Tanpa disadari oleh Erlang, di luar gua, hujan gerimis telah berubah menjadi hujan lebat disertai badai angin yang mengguncang pepohonan hutan Roban. Namun, di dalam gua kecil itu, hawa di sekitar tubuh Erlang justru terasa sangat hangat dan tenang. Bahkan, beberapa tetes air yang bocor dari langit-langit gua dan jatuh tepat di atas kepala Erlang, langsung menguap menjadi asap tipis sebelum sempat membasahi rambutnya.

Erlang terus tenggelam dalam meditasinya selama berjam-jam, menjelajahi setiap bait aksara kuno yang kini telah terpatri di dalam ingatan batinnya. Kitab tipis tanpa nama itu ternyata tidak mengajarkannya cara menghancurkan batu atau memotong pohon dengan tangan kosong, melainkan mengajarkannya cara menjadi satu dengan napas alam semesta itu sendiri.

Ketika fajar mulai menyingsing dan sisa-sisa api unggunnya telah berubah menjadi abu dingin, Erlang perlahan membuka kedua matanya. Sepasang mata pemuda lima belas tahun itu kini tampak jauh lebih jernih, tajam, dan berkilau, berbeda dengan penampilannya yang kusam kemarin siang.

Erlang bangkit berdiri, merenggangkan kedua tangannya ke atas. Kretak... kretak... terdengar suara sendi-sendinya yang berbunyi kompak. Tubuhnya terasa sangat ringan, seolah-olah ia bisa melompat setinggi pohon bambu jika ia mau.

Erlang mengambil kembali kitab tipis itu dari atas lututnya, mengusap sampul kulitnya yang polos dengan rasa hormat yang baru. "Kakek tua benar... Kitab ini memang luar biasa. Hanya dengan mengikuti cara bernapasnya semalam, seluruh tubuhku rasanya seperti dilahirkan kembali."

Erlang memasukkan kembali kitab suci itu ke dalam balik bajunya dengan sangat rapat. Ia melangkah keluar dari mulut gua, menyambut matahari pagi yang mulai menyembul di balik rimbunnya Hutan Roban. Meskipun perutnya masih kosong karena singkong terakhirnya sudah ia tinggalkan di makam sang kakek, langkah kaki Erlang kini terasa jauh lebih mantap dan penuh percaya diri untuk melanjutkan perjalanan panjangnya menuju selatan demi menuntaskan amanah mendiang paman gurunya.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!