Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Evolusi Terlarang dan Fondasi Ranah Senopati
Lantai marmer pelataran istana dalam Blambangan kini sepenuhnya sunyi dari jerit kematian. Jasad Adipati Bhre Wirabhumi tergeletak kaku di tanah, menyusul takdir tragis yang menimpa utusan Faksi Laut Selatan.
Kabut ghaib yang sebelumnya menyesakkan dada perlahan mulai tersapu oleh embusan angin siang, menyisakan keheningan yang begitu pekat di tengah-tengah keruntuhan sebuah dinasti kadipaten yang pernah berjaya.
Satria Pamungkas berdiri tegak di tengah pelataran, membiarkan ujung jubah hitamnya sesekali berkibar ditiup angin. Sepasang matanya tidak tertuju pada jasad di bawah kakinya, melainkan mengunci pandangan pada hamparan layar hologram semi-transparan yang berkedip cepat di dalam ruang kesadarannya.
[Bip! Anda telah menumpas target utama: Adipati Bhre Wirabhumi (Ranah Senopati Tahap 3).]
[Mendapatkan: 30.000 Poin Sistem.]
[Saldo Poin Keseluruhan: 159.000 Poin!]
[Pemberitahuan: Batas akumulasi poin untuk pembukaan Toko Kategori 3 telah terlampaui sepenuhnya. Menyinkronkan item-item tingkat tinggi...]
Melihat angka 159.000 poin yang tertera dengan jelas, kilatan kepuasan yang kejam muncul di mata Satria. Jumlah poin yang melimpah ini adalah hasil dari kalkulasi pragmatisnya yang sengaja membiarkan Blambangan mengerahkan seluruh kekuatan terbaiknya sebelum dihancurkan dalam satu sapuan bersih.
"Sistem, buka Toko Kategori 3 secara penuh. Tampilkan semua item atau kitab ghaib yang dapat membantuku mendobrak batasan Ranah Wira menuju Ranah Senopati secara instan tanpa efek samping pada meridianku," perintah Satria di dalam benaknya.
[Bip! Membuka Toko Kategori 3 (Ranah Senopati & Teknik Langit):]
Pil Pemurnian Sukma Cakra Langit – Harga: 50.000 Poin. (Mengubah seluruh Prana fana di dalam dantian menjadi Prana murni tingkat langit, memicu terobosan instan ke Ranah Senopati).
Kitab Ajian Bayang Jagat (Bagian Kedua) – Harga: 40.000 Poin. (Memungkinkan Inang memanipulasi ruang bayangan skala menengah untuk menyembunyikan keberadaan atau melakukan serangan kejutan dari dimensi bayangan).
Esensi Darah Naga Segoro Kidul – Harga: 60.000 Poin. (Bahan ghaib pemurnian tubuh fisik tingkat ekstrem. Menggandakan kekuatan pertahanan Ajian Kebal Jolo Sutro hingga mampu menahan serangan Ranah Senopati puncak).
Satria menganalisis tiga opsi tersebut dengan cepat. Ia yang penuh perhitungan tahu betul bahwa ancaman dari Faksi Laut Selatan yang disebutkan oleh Surokolo bukanlah sekadar gertakan kosong.
Untuk menghadapi para Tetua Ranah Senopati puncak atau bahkan sang Pemimpin Besar di Ranah Raja, kekuatannya saat ini di Ranah Wira Tahap 7 masih terlalu riskan. Ia membutuhkan lompatan kekuatan yang masif dan fondasi fisik yang tak tergoyahkan.
"Sistem, beli Pil Pemurnian Sukma Cakra Langit dan Esensi Darah Naga Segoro Kidul. Sisa poin biarkan tersimpan untuk keperluan darurat," instruksi Satria tanpa ragu.
[Bip! Memotong 110.000 Poin Sistem. Saldo Anda saat ini: 49.000 Poin.]
[Proses manifestasi barang selesai! Silakan ambil dari Ruang Penyimpanan Sistem.]
Wush!
Kilatan cahaya keunguan yang sangat pekat muncul di atas telapak tangan kanan Satria yang bebas. Sebuah botol giok putih yang memancarkan hawa hangat dan sebuah wadah perunggu kuno bersegel ghaib yang bergetar hebat—berisikan setetes darah merah keemasan yang kental—mewujud dari ketiadaan. Aura yang dipancarkan oleh dua objek tersebut begitu padat hingga membuat ubin marmer di bawah kaki Satria mulai memancarkan retakan halus baru.
Dyah Sekar Ayu yang berdiri beberapa langkah di sampingnya langsung merasakan tekanan ghaib yang luar biasa dari benda-benda tersebut. Esensi Darah Suci Dewi Sri di dalam tubuhnya bergolak samar, mengenali densitas energi tingkat tinggi yang dibawa oleh barang-barang mistis milik Satria. Namun, alih-alih bertanya atau menunjukkan kecurigaan, sepasang mata esnya hanya memancarkan kepatuhan mutlak.
"Sekar Ayu," Satria menoleh sedikit, suaranya berat dan penuh wibawa. "Jaga seluruh akses masuk pelataran istana dalam ini. Gunakan Mantra Cundamani untuk membantai siapa pun yang berani melangkah mendekat dalam jarak seratus langkah. Aku akan melakukan meditasi terobos ranah di atas altar ini."
"Hamba mengerti, Satria. Selama napas hamba belum putus, tidak akan ada satu lalat pun yang bisa mengganggu meditasimu," jawab Sekar Ayu sembari membungkuk hormat, sebelum akhirnya melesat mundur dan berdiri tegak di atas puing-puing gerbang istana yang hancur, selendang sutra hijaunya mulai menegang menahan aliran Prana yang mematikan.
Satria melangkah mantap menaiki undakan Altar Batu Hitam yang kini telah bersih dari sisa ritual terlarang Bhre Wirabhumi. Ia duduk bersila di pusat altar, meletakkan Pedang Bintang Tujuh Kedewaan di pangkuannya. Tanpa membuang waktu, ia membuka wadah perunggu kuno dan menelan Esensi Darah Naga Segoro Kidul terlebih dahulu.
BOOOM!
Begitu esensi darah naga ghaib itu menyentuh lidahnya, Satria merasa seolah-olah ia baru saja menelan aliran lava gunung berapi yang mengamuk. Energi panas yang luar biasa pekat meledak di dalam perutnya, menyusup ke dalam seluruh pembuluh darah dan langsung menyerang kerangka tulangnya yang sebelumnya telah dipadatkan oleh pil Segoro Wedi.
Kulit Satria yang terbungkus jubah hitam mulai memancarkan cahaya merah membara. Keringat yang keluar dari pori-porinya langsung menguap menjadi asap putih sebelum sempat membasahi pakaiannya.
Efek dari darah naga ghaib ini mulai merombak struktur sel tubuhnya, mengintegrasikan ketahanan makhluk mitologi laut dalam ke dalam lapisan otot dan kulitnya.
Ajian Kebal Jolo Sutro miliknya yang semula berwarna perunggu kuno kini mulai bermutasi, memancarkan guratan-guratan sisik ghaib transparan yang sangat samar di bawah permukaan kulitnya.
Di tengah rasa sakit yang membakar seluruh tubuhnya, Satria tetap mempertahankan fokus batinnya yang sekeras baja. Tangan kanannya bergerak meraih botol giok putih, membuka penutupnya, dan langsung menelan Pil Pemurnian Sukma Cakra Langit.
WUUUSH!
Jika esensi darah naga adalah api yang membakar, maka pil pemurnian sukma ini adalah badai es spiritual yang luar biasa dingin.
Dua energi ekstrem yang saling bertolak belakang kini bertemu di dalam dantian Satria, menciptakan medan pertempuran energi yang luar biasa dahsyat.
Pusaran Prana Ranah Wira miliknya yang berwarna biru keperakan mulai terkoyak, dipaksa menyusut hingga ke titik sekecil biji sawi oleh tekanan energi cakra langit.
Krak... Krak...
Meridian di dalam tubuh Satria bergetar hebat, berada di ambang kehancuran akibat ekspansi energi yang tidak masuk akal. Namun, di sinilah keunggulan struktur tulang yang telah diperkuat bekerja; kerangka tubuhnya mampu menahan tekanan ghaib tersebut tanpa mengalami keretakan spiritual sedikit pun.
Di dalam ruang kesadarannya, pusaran Prana yang menyusut itu tiba-tiba meledak kembali, namun kali ini warnanya telah berubah sepenuhnya menjadi emas murni yang berkilauan—simbol dari transformasi total dari energi fana menuju Prana Langit milik Ranah Senopati.
[Bip! Proses integrasi selesai sepenuhnya!]
Kekuatan Fisik: Tubuh Fisik Sisik Naga (Mencapai tingkat kekebalan mutlak terhadap senjata tingkat biasa dan pertahanan 80% terhadap serangan berbasis elemen).
Kenaikan Ranah: Selamat! Anda telah berhasil mendobrak batasan fana dan menembus ke Ranah Senopati Tahap 2!
Kapasitas Prana: Meningkat sebesar 300%.
BOOOM!
Gelombang kejut berupa lingkaran cahaya emas meledak keluar dari tubuh Satria yang duduk di atas altar. Gelombang energi itu menyapu seluruh pelataran istana, meruntuhkan sisa-sisa dinding batu yang masih berdiri dan menciptakan gempa lokal yang mengguncang seluruh kota Blambangan.
Satria perlahan-lahan membuka sepasang matanya. Sepasang pupil hitamnya kini memiliki kilatan emas tipis di bagian tengahnya, memancarkan tekanan aura yang begitu berat hingga mampu membuat pendekar Ranah Wira biasa berlutut ketakutan hanya dengan menerima tatapannya.
Ia berdiri dari atas altar, merasakan aliran kekuatan baru yang begitu melimpah dan padat di dalam setiap jengkal tubuhnya. Dengan kekuatannya saat ini di Ranah Senopati Tahap 2 ditambah pertahanan fisik tubuh naga, ia yakin bahkan jika tiga Tetua Faksi Laut Selatan datang bersamaan, mereka hanya akan menjadi mangsa baru bagi pedangnya.
Dyah Sekar Ayu melompat mendekat dari arah gerbang, wajah esnya tampak dipenuhi rasa takjub yang tak terbendung saat merasakan tekanan aura baru dari tubuh Satria. "Selamat atas terobosanmu, Satria. Kekuatanmu saat ini... bahkan jauh melampaui mendiang ayahandaku di masa jayanya."
Satria tersenyum tipis, menyarungkan kembali Pedang Bintang Tujuh Kedewaan ke punggungnya. "Ini baru awal, Sekar Ayu. Blambangan telah jatuh, namun pusaka rahasia dan fondasi utama tempat ini belum kita ambil sepenuhnya. Bersiaplah, kita akan menguras habis isi perbendaharaan istana ini sebelum faksi lain menyadari apa yang terjadi di sini."