Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dampak kepergian Diana
Bugh! Bugh!
Samuel tersungkur ke lantai setelah menerima bogeman keras dari ayahnya.
Tubuhnya menghantam lantai dengan keras hingga membuat napasnya tercekat sesaat.
Bayu melangkah mendekat dengan wajah penuh amarah. Tanpa memberi kesempatan Samuel untuk bangkit, ia mencengkeram kerah baju putranya dengan kasar.
“Kamu ingin menghancurkan reputasi Papa, hah?!” bentaknya dengan suara menggelegar.
Samuel yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa menatap ayahnya dengan kebingungan.
“Maksud Papa apa?”
Tatapan Bayu semakin tajam dipenuhi emosi.
Lalu—
Bugh!
Sebuah bogeman keras kembali mendarat di wajah Samuel hingga sudut bibirnya terluka.
“Apa maksud kamu, hah?! Mencari wanita kampung itu, Samuel!” ucap Bayu penuh tekanan.
Deg!
Tubuh Samuel langsung menegang.
Wajahnya berubah pucat.
Dari mana papanya tahu bahwa ia sedang mencari Diana?
Pikiran Samuel langsung tertuju pada satu orang.
Dika.
Sial...
“Jawab, Samuel!” bentak Bayu lagi.
“Kenapa kamu ingin mempermalukan Papa di depan Pak Cakra dengan perbuatanmu itu, hah?!”
Napas Bayu memburu karena amarah yang terus memuncak.
Dengan kasar, ia kembali menghempaskan tubuh Samuel ke lantai.
“Apa kamu nggak ingat?! Daddy Citra yang membantu kita saat perusahaan sedang dihantam masalah!”
Bayu menunjuk wajah Samuel dengan penuh kemarahan.
“Kalau keluarga Citra tahu kamu masih mencari wanita itu, semuanya bisa hancur!”
Samuel menyeka darah di sudut bibirnya sambil menatap ayahnya dengan rahang mengeras.
“Aku tidak berniat mempermalukan Papa,” ucapnya dengan suara berat.
“Lalu untuk apa kamu mencari wanita itu?” bentak Bayu lagi.
Samuel terdiam sesaat.
Jujur saja, ia sendiri tidak tahu pasti alasan kenapa dirinya terus mencari Diana.
Awalnya ia hanya ingin memastikan wanita itu baik-baik saja.
Namun semakin lama Diana menghilang tanpa jejak, perasaannya justru semakin kacau.
“Aku hanya ingin memastikan dia hidup dengan baik,” jawab Samuel akhirnya.
Bayu tertawa sinis miring penuh ejekan.
“Memastikan dia baik-baik saja?” ulangnya penuh ejekan. “Atau kamu masih mencintainya?”
Samuel menggeleng.
“Tidak, Pa. Aku sudah mengakhiri semuanya.”
“Kalau begitu berhenti mencarinya!” bentak Bayu. “Fokus pada pernikahanmu dengan Citra.”
Samuel menunduk, napasnya terasa berat.
Setelah beberapa detik, ia akhirnya mengangguk pelan.
“Baik, Pa...” lirihnya.
Iren menatap datar putranya dengan sorot mata dingin.
“Kalau sampai kamu masih mencari wanita kampungan itu, Mama sendiri yang akan menghancurkannya,” ujarnya dengan nada penuh ancaman.
Deg!
Samuel langsung mendongak menatap mamanya dengan wajah menegang.
“Ma, jangan libatkan Diana lagi,” ucapnya dengan suara rendah.
Iren tertawa sinis.
“Kalau kamu benar-benar sudah melupakannya, maka pastikan wanita itu tidak pernah muncul lagi dalam hidupmu.”
Samuel mengepalkan tangannya kuat-kuat, tetapi ia memilih diam.
Bayu merapikan jasnya sambil menatap putranya penuh tekanan.
“Besok kita makan malam bersama keluarga Citra. Bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa.”
Samuel menutup matanya sejenak.
Tubuhnya terasa sakit akibat pukulan sang ayah, tetapi dadanya terasa jauh lebih sesak.
“Baik, Pa,” jawabnya lirih.
Bayu dan Iren akhirnya meninggalkan kamar Samuel.
Brak!
Pintu tertutup keras.
Samuel masih terduduk di lantai dengan wajah lebam.
Tangannya perlahan meremas lantai.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyerah mencari Diana.
Jika dia terus memaksa, justru Diana yang akan berada dalam bahaya.
“Maaf...” lirihnya dengan mata memerah.
Tanpa Samuel sadari, di kota lain Diana sedang tersenyum bahagia sambil membangun hidup baru bersama anak yang ia kandung.
°°••°°
“Pa, apa Papa yakin Samuel tidak akan mencari wanita kampung itu lagi?”
Iren menatap suaminya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Ia masih takut Samuel diam-diam kembali mencari Diana dan justru menimbulkan masalah baru menjelang pernikahannya dengan Citra.
Bayu terdiam sejenak.
Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia mengembuskan napas kasar.
“Papa nggak bisa janji.”
Nada suaranya terdengar dingin.
“Tapi anak buah Papa akan memantau Samuel.”
Iren masih terlihat gelisah.
Tatapannya menunjukkan bahwa ia belum benar-benar tenang.
“Bagaimana kalau dia diam-diam tetap mencari wanita itu?” tanyanya lagi dengan nada khawatir.
Bayu menatap istrinya tajam.
“Kalau Samuel berani melanggar…”
Ia menjeda ucapannya dengan tatapan penuh peringatan.
“Papa sendiri yang akan bertindak lebih jauh.”
Iren langsung terdiam mendengar jawaban suaminya.
Meski hatinya masih dipenuhi kecemasan, setidaknya Bayu terlihat sangat serius menangani masalah putra mereka.
Bayu kemudian menepuk bahu istrinya pelan.
“Mama nggak perlu khawatir.”
Nada suaranya sedikit melunak.
“Nanti keluarga Citra bisa curiga.”
Ia menatap istrinya dalam.
“Serahkan semua ini pada Papa.”
Iren akhirnya mengangguk pelan.
“Baik, Pa. Mama percaya sama Papa.”
Bayu mengangguk.
“Mama jadi ke toko?”
Iren membalas anggukan suaminya.
“Iya, Pa.”
“Papa antar?” tawar Bayu.
Iren menatap suaminya heran.
“Bukannya Papa ada rapat?”
Bayu melirik jam tangan di pergelangan tangannya sesaat.
“Masih ada waktu untuk mengantar Mama.”
Akhirnya, Bayu mengantar istrinya ke toko kue milik Iren.
Selama perjalanan, keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka akhirnya tiba di depan toko.
Bayu menatap ke arah bangunan toko dari dalam mobil.
Keningnya berkerut.
“Tumben sepi begini.”
Iren ikut menatap ke arah tokonya.
“Iya ya, Pa…”
Nada suaranya dipenuhi kebingungan.
Tidak biasanya toko kuenya sesepi ini.
“Mama duluan ya, Pa.”
Iren membuka pintu mobil.
“Papa hati-hati di jalan.”
Bayu mengangguk pelan.
Sebelum istrinya turun, ia lebih dulu mencium kening Iren singkat.
Iren tersenyum tipis lalu keluar dari mobil.
Ia melangkah masuk ke dalam tokonya.
Begitu masuk, keningnya langsung semakin berkerut.
Suasana toko benar-benar sepi.
Sangat berbeda dari biasanya.
“Nyonya Iren.”
Suara seseorang membuat Iren menoleh.
Ternyata Nina, salah satu karyawannya, sedang berdiri tidak jauh darinya.
Iren menatap karyawannya itu.
“Nina, kenapa toko kita sepi seperti ini?”
Nina menundukkan kepalanya sejenak sebelum menjawab.
“Beberapa hari ini memang sepi, Nyonya,” ucapnya hati-hati.
Kening Iren langsung berkerut.
“Sepi bagaimana maksudmu?”
Nina menelan ludah gugup.
“Pengunjung yang datang paling banyak hanya sekitar sepuluh orang per hari saja, Nyonya. Bahkan kadang kurang dari itu.”
Wajah Iren langsung berubah.
“Apa?”
Iren menatap satu per satu etalase kuenya.
Masih banyak stok kue yang tersusun rapi dan belum terjual.
Biasanya, di jam seperti ini beberapa etalase sudah mulai kosong karena diserbu pelanggan.
Namun hari ini justru berbeda.
Toko miliknya terlihat jauh lebih sepi dari biasanya.
Raut wajah Iren mulai berubah tidak nyaman.
“Sejak kapan, Nina?”
Nada suaranya terdengar dingin.
Nina tampak gugup.
Ia tidak langsung menjawab pertanyaan atasannya.
“Sejak Diana keluar dari sini, Nyonya.”
Deg.
Iren langsung tertegun mendengar jawaban itu.
Wajahnya perlahan mengeras.
“Apa maksudnya, hah?”
Nada suaranya mulai meninggi.
“Dia nggak ada hubungannya dengan semua ini,” ucap Iren kesal.
Nina menelan ludah gugup sebelum akhirnya memberanikan diri menjelaskan.
“Ada, Nyonya.”
Ia menunduk sopan.
“Kue buatan koki pastry kita sekarang rasanya tidak sama seperti buatan Diana, Nyonya.”
Iren menatap Nina dengan tajam.
Nina kembali melanjutkan dengan hati-hati.
“Banyak pelanggan setia kita komplain karena rasanya berubah.”
Suara Nina semakin mengecil karena takut melihat wajah Iren yang semakin gelap.
“Maaf, Nyonya... saya hanya menyampaikan keluhan pelanggan.”
Iren mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Rahangnya mengeras menahan emosi.
Ia tidak menyangka kepergian Diana justru memberi dampak sebesar ini pada bisnisnya.
“Ini tidak bisa dibiarkan.”
Tatapannya berubah tajam saat menatap Nina.
"Panggil semua koki pastry ke ruang rapat sekarang juga,” perintah Iren dengan nada dingin.
Nina langsung mengangguk gugup. “Baik, Nyonya.”
Tak butuh waktu lama, seluruh koki pastry dan beberapa karyawan inti sudah berkumpul di ruang rapat kecil.
Iren berdiri di depan mereka dengan wajah tegang.
“Saya tidak peduli apa alasan kalian,” ucapnya tajam. “Saya ingin toko ini kembali ramai seperti dulu.”
Semua orang hanya bisa diam menunduk.
“Saya sudah berusaha mengikuti resep yang biasa dibuat Diana, Nyonya, tapi hasilnya tetap berbeda,” ujar salah satu koki pastry dengan hati-hati.
Wajah Iren semakin mengeras.
“Kalau begitu buat resep baru.”
Semua orang terkejut.
“Nyonya?” ujar salah satu karyawan bingung.
Iren menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Buat promo besar-besaran. Keluarkan menu baru. Apa pun itu, saya tidak mau nama toko ini hancur hanya karena satu wanita.”
Ruangan langsung hening.
“Dan satu hal lagi...” suara Iren berubah dingin.
“Jangan pernah menyebut nama Diana lagi di hadapan saya.”
Semua karyawan saling pandang dengan tegang.
“Mulai hari ini, kalian harus bekerja lebih keras kalau masih ingin tetap bekerja di sini.”
Setelah mengatakan itu, Iren melangkah keluar dengan wajah penuh amarah.
Dalam hatinya, ia bersumpah akan membuat tokonya kembali berjaya tanpa campur tangan Diana.
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...