Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kanisha menahan tangisnya kuat-kuat.
“Kita akan pergi ke rumah kakek sama nenek, sayang.”
“Apa papa akan ikut dengan kita?”
Langkah Kanisha langsung terhenti sesaat.
Pertanyaan polos itu lagi-lagi menghancurkan hatinya. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya pada anak sekecil Naira. Jadi Kanisha hanya mencium kepala putrinya pelan.
“Nanti aja ya sayang…”
Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Kanisha mulai berjalan keluar dari ruang kerja itu. Namun begitu wanita itu menghilang dari balik pintu— Selena langsung panik.
“Mas!” Arven menatap Selena dengan cepat. “Kita nggak bisa biarin dia bawa Naira pergi!”
“Aku tahu!”
“Kalau sampai Kanisha pergi dan—” Selena menghentikan ucapannya mendadak, Wajahnya terlihat pucat, Jantungnya berdegup cepat. Karena ada satu hal yang paling ia takutkan malam ini. Rahasia mereka terbongkar.
Arven langsung mengusap wajahnya dengan kasar karena situasi mulai di luar kendali nya. Ia tidak pernah menyangka Kanisha akan langsung memilih pergi. Selama ini pria itu terlalu yakin bahwa Kanisha akan bertahan apa pun yang terjadi. Karena Kanisha terlalu mencintainya. Tapi malam ini semuanya berubah.
“Mas…” suara Selena mulai gemetar. “Naira nggak boleh pergi.”
Arven langsung menatap Selena dengan tajam.
“Aku tahu Selena, aku tahu.”
Wanita itu tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi mereka sama-sama tahu maksudnya. Semakin jauh Naira dari mereka, Semakin sulit semuanya dikendalikan. Dan jika suatu hari Kanisha menemukan kebenarannya maka semuanya akan selesai. Arven mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sial, Situasi ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Arven langsung menatap ke arah pintu dan tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu segera melangkah cepat keluar dari ruang kerja dan membuat Selena langsung mengikuti di belakangnya dengan panik.
Langkah mereka terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong rumah Mahendra yang besar dan sunyi. Sementara di lantai atas, Kanisha baru saja masuk ke kamar Naira sambil menurunkan putrinya perlahan ke atas tempat tidur. Tangannya tampak gemetar saat mulai membuka lemari pakaian kecil milik anak itu. Ia harus pergi malam ini sebelum dirinya benar-benar hancur lebih dalam lagi.
Dan di saat yang sama, Langkah kaki tergesa-gesa Arven dan Selena mulai mendekati kamar Naira.
Kamar Naira yang biasanya terasa hangat malam itu berubah begitu menyesakkan. Kanisha berdiri di depan lemari kecil berwarna putih sambil memasukkan pakaian-pakaian putrinya ke dalam koper mungil bermotif kelinci. Tangannya gemetar hebat sampai beberapa kali baju yang ia pegang jatuh ke lantai. Dadanya masih terasa sakit. Setiap kali mengingat apa yang terjadi di ruang kerja tadi, air matanya seperti ingin jatuh lagi. Tapi Kanisha terus memaksakan dirinya untuk tetap kuat. Ia tidak bisa hancur sekarang, tidak di depan Naira.
“Naira mau bawa boneka ini juga, ma…”
Suara kecil itu membuat Kanisha buru-buru menoleh.
Naira berdiri di atas tempat tidur sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya dengan wajah polos. Gadis kecil itu masih terlihat bingung dengan semua yang terjadi malam ini dan membuat Kanisha langsung tersenyum tipis walaupun matanya masih merah.
“Iya sayang…” jawab Kanisha pelan. “Bonekanya dibawa juga ya.”
Naira mengangguk kecil lalu berjalan pelan menghampiri koper. Kanisha menatap putrinya lama. Hatinya kembali terasa nyeri, anak kecil ini tidak tahu apa-apa. Tidak tahu kalau malam ini keluarganya sedang hancur.
Tidak tahu kalau papanya baru saja mengkhianati mamanya dan yang paling menyakitkan, Naira bahkan tidak tahu kalau dirinya adalah alasan terbesar Kanisha bertahan selama ini. Kanisha mengusap kepala putrinya dengan lembut sebelum kembali memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.
Ia harus pergi malam ini sebelum dirinya berubah semakin lemah. Sebelum Arven kembali mematahkan hatinya lebih dalam lagi. Baru saja Kanisha hendak menutup koper itu—
BRAK!
Suara keras mendadak membuat Kanisha tersentak. Seseorang tiba-tiba menekan koper itu hingga tertutup paksa dan membuat Kanisha langsung mengangkat wajahnya. Arven berdiri di depannya dengan napas sedikit memburu. Tatapan pria itu terlihat tajam, rahangnya mengeras, sedangkan Selena berdiri tak jauh di belakangnya dengan wajah penuh kecemasan. Suasana kamar langsung berubah tegang.
“Apa yang kamu lakuin mas?” tanya Kanisha pelan namun dingin.
Arven tidak langsung menjawab. Tangannya masih berada di atas koper kecil milik Naira.
“Naira nggak boleh pergi.”
"Mas tidak berhak mencegat kepergian ku dan Naira setelah apa yang mas lakukan."
“Aku serius, Kanisha.”
“Aku juga serius, mas.”
Kanisha lalu berdiri walaupun matanya sembab karena menangis, namun tatapannya tidak lagi selemah tadi.
“Aku nggak akan ninggalin Naira di rumah ini.”
Arven langsung mengatupkan rahangnya kuat-kuat.
“Kamu nggak bisa seenaknya bawa dia pergi.”
“Kenapa nggak bisa?” balas Kanisha cepat. “Dia anak aku.”
“Aku ayahnya.”
“Dan aku ibunya!” suara Kanisha mulai meninggi. “Aku yang ngerawat dia selama ini!”
Napas Arven terdengar berat sedangkan Selena tampak semakin gelisah melihat pertengkaran mereka.
“Kanisha…” ujar Arven mencoba menahan emosinya. “Sekarang bukan waktu yang tepat buat pergi.”
Kanisha langsung menatap pria itu dengan tak percaya.
“Lalu kapan waktu yang tepat menurut kamu mas?” tawanya terdengar pahit. “Besok pagi setelah kamu tidur sama selingkuhan kamu lagi?”
“Jaga ucapan kamu.”
“Kenapa?” bentak Kanisha dengan matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu malu?”
Arven mengepalkan tangannya.
“Naira masih di sini.”
Mendengar namanya disebut, Naira langsung menatap kedua orang tuanya bergantian dengan wajah takut.
“Mama…” panggil Naira yang membuat Kanisha buru-buru mengusap air matanya lalu menoleh pada putrinya.
“Nggak apa-apa sayang…”
Namun suasana kamar itu sudah terlalu menegangkan bahkan untuk anak kecil seusia Naira. Gadis kecil itu mulai terlihat ketakutan apalagi saat Arven kembali berkata tegas,
“Naira akan tetap tinggal di rumah ini.”
“Aku bilang nggak!”
Bentakan Kanisha membuat Naira langsung tersentak kecil. Tangis gadis kecil itu akhirnya pecah.
“Hiks… mama…”
Kanisha langsung panik.
“Sayang…” Ia buru-buru menghampiri putrinya. “Jangan nangis ya, sayang.”
Namun sebelum Kanisha sempat memeluk Naira— Selena lebih dulu bergerak cepat. Wanita itu langsung mengangkat tubuh kecil Naira ke dalam pelukannya dengan wajah panik.
“Nggak apa-apa sayang… jangan takut ya…”
Kanisha langsung membeku untuk sesaat.
Entah kenapa, cara Selena memeluk Naira terasa terlalu alami seperti seorang ibu. Belum sempat Kanisha berpikir lebih jauh, Arven langsung berkata cepat,
“Selena, cepat bawa Naira keluar dulu.”
Deg, Kanisha langsung menoleh cepat.
“Apa?”
“Naira ketakutan.”
“Aku bisa nenangin anak aku sendiri.”
Namun Arven mengabaikannya.
“Cepat bawa Naira pergi dulu, Selena.”
Selena mengangguk cepat sambil menggendong Naira erat.
“Naira ikut tante dulu ya sayang…”
Melihat Selena mulai berjalan menuju pintu membawa putrinya, Kanisha langsung panik.
“Selena!” teriak Kanisha namun wanita itu tidak berhenti. “Naira!”
Kanisha buru-buru mengejar. Namun baru beberapa langkah—
Bruk!
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️