Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Bayangan Emas di Puncak Jiannan
Tiga Tetua Penegak Hukum yang tadinya arogan kini merangkak mundur layaknya anjing yang dipukuli. Wajah mereka pucat pasi, jubah merah darah mereka hangus, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka melarikan diri menggunakan sisa Qi yang ada, meninggalkan Paviliun Pedang Bayangan dalam ketakutan yang mencekam.
Saat punggung mereka menghilang di balik rimbunnya hutan bambu ungu, Zeng Niu akhirnya menarik kembali Niat Membunuhnya.
BZZZZT!
Pedang Petir Dewa di tangannya berkedip-kedip sebelum akhirnya berubah menjadi seberkas cahaya ungu dan menyusup kembali ke dalam pusaran Dantiannya.
Begitu pedang itu menghilang, tubuh tegap Zeng Niu tiba-tiba berguncang. Wajah perunggunya mendadak seputih kertas. Ia terhuyung setengah langkah ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan jika ia tidak segera menancapkan kakinya kuat-kuat ke tanah giok. Napasnya terengah-engah, memuntahkan uap putih ke udara dingin.
"Sudah kubilang, jangan pamer terlalu lama!" omel Lei Ling di dalam Lautan Kesadarannya. Suara roh petir itu terdengar panik bercampur kesal. "Kapasitas Qi-mu saat ini hanya seukuran mangkuk teh fana, sedangkan Pedang Petir Dewa tahap tiga menyedot energi seperti naga kehausan! Jika kau memegangnya lima napas lebih lama, fondasi Foundation Establishment-mu yang baru akan retak kembali!"
Zeng Niu menggertakkan giginya, merasakan Dantiannya yang terasa kosong melompong. Kekuatan pusaka surgawi itu memang mutlak, namun harga penggunaannya terlalu berat bagi ranah kultivasinya saat ini. Ia benar-benar kelelahan.
Sebuah keharuman teratai es yang lembut tiba-tiba mendekat. Tangan Zhao Ying dengan sigap memegang lengan Zeng Niu, menopang sebagian berat tubuh pemuda itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aliran Qi yang sejuk dan menenangkan mengalir dari telapak tangan sang gadis, mencoba menstabilkan napas Zeng Niu.
Bao Tu dan Xiaoyu yang melihat sahabat mereka kelelahan langsung melangkah maju, siap menjaga formasi pelindung.
Namun, sebelum Tetua Mo Yin sempat menyuruh mereka masuk ke dalam paviliun untuk memulihkan diri, langit di atas Puncak Bayangan mendadak berubah warna. Awan kelabu tersapu bersih, digantikan oleh hamparan cahaya keemasan yang luar biasa menyilaukan.
Sebuah tekanan spiritual yang jauh lebih mengerikan dari ketiga Tetua Penegak Hukum tadi turun dari langit layaknya gunung tak kasatmata.
BUM!
Sebuah sosok melesat dari langit seperti meteor emas dan mendarat tepat di tengah halaman Paviliun Pedang Bayangan. Hantaman kakinya membuat lantai giok retak hingga puluhan tombak.
Debu emas perlahan menipis, memperlihatkan seorang pria tua berjubah kuning keemasan dengan rambut putih yang berkibar liar. Matanya setajam pedang, dan dari tubuhnya, memancar fluktuasi Golden Core Tahap Puncak yang sangat mendominasi!
Ia adalah Tetua Jian Kuang (Pedang Gila), salah satu sosok terkuat di Akademi Jiannan.
Mata tua Jian Kuang langsung mengunci sosok Zeng Niu. Wajah keriputnya berkedut hebat menahan amarah yang telah berkarat selama bertahun-tahun.
"Bocah licik... Akhirnya aku menemukanmu!" suara Jian Kuang menggelegar, mengandung Niat Pedang yang membuat gendang telinga Bao Tu dan Fugui nyaris pecah.
Zeng Niu mengangkat wajahnya yang pucat. Ia menatap pria tua itu, mencoba mengingat, namun di benaknya, wajah kultivator tua fana semuanya terlihat sama. "Siapa kau, Orang Tua? Apakah kau anjing lain kiriman Gui Huan?"
"Jangan pura-pura bodoh, Pencuri Tengik!" raung Jian Kuang, menunjuk Zeng Niu dengan jari gemetar. "Bertahun-tahun lalu di lembah perbatasan! Saat aku, Leluhur Sekte Pedang Langit, dan Penguasa Sekte Iblis Darah bertarung mempertaruhkan nyawa untuk merebut Pusaka Petir dari langit... kau menyelinap di bawah hidung kami seperti tikus dan mencurinya!"
Mendengar itu, Lin Xiaoyu dan Bao Tu tersentak.
Zeng Niu mendengus pelan, seulas senyum sinis yang kelelahan muncul di bibirnya. Ia akhirnya ingat kakek tua yang terus-terusan meludah darah saat ia mencabut Lei Ling dari kawah meteor waktu itu.
"Barang yang jatuh dari langit tidak memiliki nama pemilik," jawab Zeng Niu datar. "Kalian saja yang terlalu lambat."
"LANCANG!"
Amarah Jian Kuang meledak tak tertahankan lagi. "Serahkan Pedang Petir itu sekarang, dan aku mungkin akan menyisakan satu mayat utuh untukmu! [Tebasan Emas Pemusnah Jiwa]!"
Jian Kuang mengayunkan tangannya. Qi Golden Core Puncak-nya memadat di udara, membentuk sebilah pedang emas raksasa sepanjang sepuluh tombak yang membelah ruang fana, meluncur lurus untuk menghancurkan Zeng Niu menjadi debu.
Zeng Niu memaksakan diri berdiri tegak, bersiap membakar esensi darahnya untuk memanggil Lei Ling kembali.
Namun, sebelum Zeng Niu sempat bertindak, sekelebat bayangan biru melesat ke depannya.
"Jian Kuang! Berani-beraninya kau menyentuh muridku di pelataranku sendiri!"
Itu adalah Tetua Mo Yin!
Mo Yin menghunus pedangnya, dan tiba-tiba saja, fluktuasi Qi-nya yang selama ini dikenal berada di tahap menengah, meledak dengan kekuatan yang setara dengan langit itu sendiri!
Batas kultivasinya jebol, memancarkan aura Golden Core Tahap Puncak yang sempurna! Selama bertahun-tahun, Mo Yin menyembunyikan kekuatan aslinya demi menghindari perselisihan dengan faksi Gui Huan, namun demi melindungi muridnya, Sang Naga Bayangan akhirnya terbangun!
[Seni Pedang Bayangan: Gerhana Menelan Matahari]!
Mo Yin mengayunkan pedangnya ke atas. Lautan bayangan hitam pekat melesat dari bilah pedangnya, membentuk pusaran raksasa yang menyambut pedang emas Jian Kuang.
KRAAAAAAABOOOOOM!
Benturan dua penguasa Golden Core Puncak menciptakan gelombang kejut yang meratakan separuh hutan bambu di sekitar paviliun. Langit terbelah menjadi dua warna: emas yang menyilaukan dan hitam yang menelan cahaya.
Angin kencang mementalkan Bao Tu, Xiaoyu, dan Fugui hingga terguling ke belakang. Zhao Ying segera melangkah ke depan Zeng Niu, memancarkan perisai es tipis dari Qi Golden Core nya untuk melindungi pemuda yang sedang kelelahan itu dari badai energi.
Saat debu mereda, Tetua Mo Yin berdiri tegak tanpa bergeser satu inci pun, pedang bayangannya masih terhunus. Di seberangnya, Tetua Jian Kuang terdorong mundur sejauh tiga langkah, lengan jubahnya robek oleh Niat Pedang Bayangan.
Mata Jian Kuang membelalak tak percaya. "Mo Yin... kau... kau telah menembus Puncak Inti Emas?! Sejak kapan?!"
"Cukup lama untuk memenggal kepalamu jika kau berani melangkah satu inci lagi ke paviliunku," jawab Mo Yin dengan suara sedingin baja, ujung pedangnya menunjuk lurus ke tenggorokan Jian Kuang.
Jian Kuang menggertakkan giginya. Ia menatap Mo Yin yang ternyata setara dengannya, lalu melirik ke arah Zhao Ying yang memancarkan aura es misterius yang tidak kalah mengerikannya. Belum lagi Zeng Niu yang meski kelelahan, matanya masih menatapnya seperti algojo yang siap mencabut nyawa.
Jika ia memaksakan pertarungan di sini, ia tidak akan bisa menang dengan cepat, dan ledakan Qi mereka pasti akan membangunkan Kepala Akademi yang sedang melakukan mediasi tertutup!
Jian Kuang menarik kembali Qi emasnya dengan sangat enggan. Ia menatap Zeng Niu dengan tatapan berbisa.
"Bagus... Kalian menang hari ini. Tapi kau tidak bisa bersembunyi di balik punggung gurumu selamanya, Zeng Niu!" desis Jian Kuang. "Dua hari lagi adalah Seleksi Garda Depan. Tetua Agung Gui Huan pasti akan memaksamu masuk ke dalam arena. Saat itu terjadi, murid utamaku, Kuang Ren, akan mencabik-cabikmu secara sah di depan seluruh akademi!"
"Kuang Ren?" Zeng Niu, yang masih bersandar sedikit pada perisai es Zhao Ying, tertawa pelan. "Suruh dia makan yang banyak malam ini. Jangan sampai pedangku patah karena tulangnya terlalu rapuh."
"Kesombonganmu akan menjadi batu nisanmu!" raung Jian Kuang. Dengan satu hentakan kaki, pria tua itu berubah kembali menjadi pilar cahaya emas dan melesat pergi menembus awan, meninggalkan jejak kekacauan di Puncak Bayangan.
Keheningan akhirnya kembali turun.
Tetua Mo Yin menyarungkan pedangnya, memuntahkan sedikit darah kotor dari sudut bibirnya akibat benturan energi tadi. Ia menoleh ke arah Zeng Niu yang wajahnya masih pucat pasi.
"Kau berhutang padaku penjelasan panjang soal pedang petir itu, Bocah," gerutu Mo Yin, namun matanya memancarkan kelegaan melihat muridnya masih bernapas.
Zeng Niu menelan ludah, dadanya naik turun menahan rasa lelah yang luar biasa. Ia menoleh pada Zhao Ying yang masih berdiri melindunginya.
"Terima kasih," bisik Zeng Niu pelan, hanya bisa didengar oleh gadis itu.
Zhao Ying tersenyum lembut dari balik hembusan angin. "Istirahatlah. Dua hari lagi, seluruh Benua Utara akan melihat siapa algojo yang sebenarnya."