"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa bersalah yang tak menentu
Demi menyelamatkan nama baiknya sendiri, demi mempertahankan topeng "anak baik-baik" yang selama ini ia pakai, Arman merenggangkan pelukannya. Ia menangkup kedua bahu Kanaya, menatap lurus ke dalam mata perempuan yang tampak begitu rapuh itu.
"Nay, dengerin aku," suara Arman mendadak berubah menjadi bisikan yang dingin dan penuh penekanan. "Kita nggak bisa membesarkan anak ini sekarang."
Kanaya menghentikan tangisnya sebentar, menatap Arman dengan bingung. "Maksud kamu apa, Man?"
"Kita gugurin aja kandungan ini, Nay," ucap Arman tanpa berkedip. "Ini satu-satunya jalan. Kuliah kita belum selesai, dan Papa... Papa nggak akan pernah terima ini. Kita singkirkan dulu sekarang, nanti setelah kita lulus dan aku sudah kerja, kita bisa mulai lagi dengan benar. Aku akan menikahi mu Tolong, Nay... demi kebaikan kita berdua."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut laki-laki yang sangat dicintainya, dunia Kanaya seolah benar-benar runtuh. Laki-laki yang ia pikir akan menjadi pelindungnya, justru menjadi orang pertama yang tega memintanya membunuh darah daging mereka sendiri.
Kata-kata Arman barusan terasa lebih dingin dari hawa musim hujan mana pun yang pernah Kanaya rasakan. Air mata yang tadinya mengalir deras, mendadak berhenti. Ada rasa kebas yang luar biasa menjalar dari ulu hati hingga ke ujung jari-jarinya.
Kanaya menatap Arman, laki-laki yang beberapa menit lalu ia peluk sebagai tempat berlindung, namun kini terasa seperti orang asing yang amat menakutkan. Topeng anak baik-baik yang selama ini diagungkan Arman ternyata menyembunyikan sebuah ego yang sangat besar.
Perlahan, Kanaya melepaskan cengkeraman tangan Arman dari bahunya. Ia bangkit berdiri, melangkah mundur hingga memberi jarak yang cukup jauh di antara mereka.
"Pulang, Man," suara Kanaya terdengar sangat datar, kehilangan seluruh emosinya.
Arman mendongak, terkejut melihat perubahan drastis pada rona wajah Kanaya. "Nay, dengerin aku dulu—"
"Aku bilang pulang, Arman!" potong Kanaya, kali ini dengan penekanan yang bergetar namun tajam. Ia menunjuk ke arah pintu kamar kosnya yang masih sedikit terbuka. "Aku tidak ingin diganggu. Tolong pergi sekarang."
"Nay, aku cuma mikirin masa depan kita, mikirin jalan keluar yang paling aman—"
"Aman buat siapa? Buat kamu? Buat nama baik kamu di depan ayah kamu?!" Kanaya tersenyum getir, sebuah senyuman penuh luka dan kekecewaan yang teramat dalam. "Pergi, Man. Sebelum aku bener-bener benci sama kamu. Keluar."
Melihat tatapan mata Kanaya yang begitu kosong dan dingin, Arman tahu tidak ada gunanya berdebat sekarang. Dengan rasa bersalah yang bercampur ketakutan akan posisinya sendiri, Arman perlahan bangkit, mengambil tasnya, dan melangkah gontai keluar dari kamar.
Begitu punggung Arman hilang di balik pintu, Kanaya langsung mengunci selot pintu rapat-rapat. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, lalu perlahan merosot jatuh ke lantai. Di dalam kamar yang berantakan itu, Kanaya mendekap perutnya sendiri, menangis tanpa suara meratapi nasibnya yang kini benar-benar sendirian.
Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota, Arman berkendara tanpa arah dengan tatapan yang sepenuhnya kosong dan lesu. Fokusnya hilang, berulang kali ia hampir mengabaikan lampu merah jika saja suara klakson kendaraan lain tidak mengejutkannya. Pikiran Arman terpenuhi oleh kilasan wajah dingin Kanaya dan penolakannya yang teramat tajam tadi.
Arman tidak mengarahkan motornya menuju rumah megah bernuansa klasik milik Pak Baskoro. Ia tahu, dalam kondisi sekacau ini, rumah itu hanya akan terasa seperti penjara yang siap menghakimi dan mencekiknya.
Sebaliknya, Arman membelokkan kemudinya menuju sebuah perumahan sederhana di pinggiran kota. Ia pulang ke rumah ibunya.
Ya, Arman adalah seorang anak broken home.
Sejak usianya masih belasan tahun, kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Perpisahan yang tidak berjalan baik itu menyisakan luka mendalam sekaligus beban berat di pundak Arman. Sebagai anak laki-laki, ia sempat diperebutkan, hingga akhirnya Pak Baskoro—dengan segala kekuasaan dan uangnya—berhasil memenangkan hak asuh Arman, sementara ibunya harus rela hidup terpisah dan memulai segalanya dari nol di rumah sederhana ini.
Sejak saat itulah Arman dituntut untuk selalu tampil sempurna tanpa cela oleh sang ayah. Pak Baskoro selalu mendikte hidupnya, menjadikannya piala yang dipamerkan di depan kolega, dan mengancam akan menarik semua fasilitas serta masa depannya jika Arman berani membuat satu saja kesalahan. Ketakutan ekstrem kehilangan validasi dari ayahnya itulah yang tadi siang merasuki akal sehat Arman hingga tega menyuruh Kanaya menggugurkan kandungan.
Arman menghentikan motornya di depan pagar rumah ibunya yang bercat putih kusam. Begitu mesin mati, keheningan sore langsung menyergapnya.
Ia melangkah gontai, mengetuk pintu kayu yang sudah agak lapuk itu. "Ibu... ini Arman," panggilnya lirih, suaranya terdengar sangat rapuh.
Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan gurat wajah lelah namun memancarkan keteduhan yang luar biasa. Ibu Arman tersenyum hangat, namun senyum itu langsung memudar saat melihat mata putranya yang merah dan bahunya yang merosot lesu.
"Arman? Kamu kenapa, Nak?" tanya sang ibu penuh kekhawatiran.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arman langsung maju dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan sang ibu. Di teras rumah yang sepi itu, di pelukan satu-satunya orang yang tidak pernah menuntutnya menjadi sempurna, runtuhlah sudah pertahanan topeng "anak baik-baik" milik Arman. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi ketakutan, rasa bersalah pada Kanaya, dan keputusasaan atas hidupnya yang kini terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama-sama hancur.