Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTAHAN HIDUP DI GUDANG DAN SISTEM PEMULIHAN AURA.
"Semuanya, cepat masuk ke gudang belakang yang sudah dibuka!"
Rian berteriak sambil menatap tubuh Nian yang tergeletak tak bergerak.
Murid-murid yang masih diliputi ketakutan segera bergerak menuju pintu gudang. Tidak ada yang berani membantah.
Satu per satu mereka masuk ke dalam.
Tak lama kemudian, hanya Rian yang masih berdiri di luar.
Tiba-tiba—
"Aku tak ingin mati...!"
Suara serak Nian kembali terdengar.
Teriakan itu mungkin terdengar pelan bagi manusia biasa.
Namun bagi zombie yang memiliki pendengaran jauh lebih sensitif, suara itu bagaikan sirene yang memanggil mereka.
Mata Nian yang semula tertutup mendadak terbuka.
Tubuhnya bangkit dengan gerakan kaku sebelum berlari ke arah Rian.
Rian tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan.
Begitu Nian mendekat, ia mengangkat kakinya dan menendang perut zombie itu sekuat tenaga.
Buk!
Tubuh Nian terpental beberapa meter ke belakang.
Tanpa membuang waktu, Rian mengambil sebuah kursi dan melemparkannya ke arah Nian.
Kursi itu menghantam tubuhnya dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
Rian langsung berlari maju.
Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, ia menendang kursi tersebut.
Brak!
Salah satu kaki kursi menembus mulut Nian dan menancap kuat di dinding.
Tubuh zombie itu langsung terdiam.
Pada saat yang sama, suara langkah kaki mulai terdengar dari koridor.
Semakin banyak.
Semakin dekat.
Mereka sedang menuju sumber suara.
Rian tidak berani membuang waktu lagi.
Ia segera berbalik dan berlari menuju gudang.
Begitu masuk ke dalam, Xuan Long langsung mengunci pintu dari dalam.
Klik.
Pintu besi itu akhirnya tertutup rapat.
Rian menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Perlahan ia duduk hingga akhirnya ambruk ke lantai.
Napasnya terasa berat.
Tangan dan kakinya masih sedikit gemetar.
"Di kehidupan sebelumnya, membunuh zombie seperti itu semudah memotong tahu..."
Rian tersenyum pahit.
"Tapi saat pertama kali menghadapi kiamat, aku juga tidak berbeda dengan mereka."
Tubuhnya memang kembali muda.
Namun ingatan dan pengalaman tiga puluh tahun masih tetap berada di dalam dirinya.
Saat itu sebuah botol minuman tiba-tiba muncul di hadapannya.
Rian mendongak.
Indah berdiri di sana sambil mengulurkan botol air mineral.
"Minumlah."
Rian menggeleng pelan.
"Tidak perlu. Air seperti ini sangat berharga."
Di dunia kiamat, air bersih merupakan salah satu sumber daya paling berharga.
Namun Indah tetap mengulurkan botol itu.
"Kamu sudah menyelamatkan kami."
Mendengar itu, Rian akhirnya menerimanya.
"Tidak perlu berterima kasih sejauh itu."
Ia membuka tutup botol dan meminum air tersebut.
Sensasi dingin yang menyegarkan mengalir melewati tenggorokannya.
Sudah lama sekali sejak ia merasakan ketenangan seperti ini.
Tiba-tiba—
Brak!
Suara pintu kelas didobrak terdengar dari luar.
Semua orang langsung menahan napas.
"Apakah itu manusia?"
Long Zheng bertanya dengan suara pelan.
Budi menggeleng.
"Bukan."
"Sudah pasti bukan manusia."
GRRRRR...
Suara geraman rendah terdengar dari luar.
Beberapa zombie telah memasuki kelas.
Tak lama kemudian terdengar suara yang membuat bulu kuduk semua orang merinding.
Krak!
Krauk!
Suara tulang yang dihancurkan.
Suara daging yang dikunyah.
Zombie-zombie itu sedang memakan tubuh Nian.
Tidak ada konsep teman atau musuh bagi mereka.
Selama masih ada darah dan daging, semuanya adalah mangsa.
...
Waktu berlalu.
Matahari perlahan mulai tenggelam.
Seluruh murid kini berkumpul di bagian terdalam gudang.
Udara di dalam terasa lembap dan pengap.
Hanya ada sebuah celah kecil yang menghadap ke koridor sekolah.
Andreas yang sejak tadi mengintip dari celah tersebut akhirnya mundur.
"Bagaimana keadaan di luar?"
tanya Long Zheng.
Andreas menghela napas panjang.
"Koridornya penuh darah."
"Dan zombie berkeliaran ke mana-mana."
Suasana kembali sunyi.
Lalu Budi menoleh ke arah Xuan Long.
"Ada kabar dari pemerintah?"
Xuan Long menggeleng.
"Jangankan berita."
"Jaringan internet saja sudah hilang."
Mendengar itu, beberapa murid semakin putus asa.
Bencana ini datang terlalu cepat.
Terlalu mendadak.
Tiba-tiba salah seorang murid berdiri.
"Aku benar-benar berterima kasih padamu, Rian."
"Kalau bukan karena kamu, mungkin kita semua sudah mati."
Beberapa murid lainnya ikut mengangguk.
Namun Rian hanya tersenyum tipis.
"Kalian seharusnya berterima kasih kepada Pak Kim."
"Kalau beliau tidak mempercayaiku dan menutup kelas lebih awal, aku tidak mungkin bisa melakukan semua ini."
Pak Kim hanya tersenyum canggung.
Sebelum ia sempat menjawab—
Sebuah cahaya biru muncul di depan semua orang.
"Hah?!"
Semua murid terkejut.
Layar transparan berwarna biru perlahan terbentuk di udara.
Tidak peduli ke mana mereka memandang, layar itu tetap terlihat.
Seolah-olah muncul langsung di dalam pikiran mereka.
Tulisan demi tulisan mulai bermunculan.
[Sistem Pemulihan Aura Sedang Diaktifkan...]
Seluruh gudang langsung menjadi sunyi.
Beberapa menit kemudian.
Tulisan itu berubah.
[Selamat kepada seluruh makhluk yang berhasil bertahan hidup.]
[Perkenalkan. Aku adalah Sistem Pemulihan Aura.]
[Aku tidak datang untuk membantu kalian.]
[Aku hanya memastikan bahwa kalian memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.]
[Dalam 30 menit, seluruh penyintas akan dipindahkan ke dungeon acak.]
[Di dalam dungeon terdapat bahaya dan peluang yang tak terhitung jumlahnya.]
[Jika kalian berhasil bertahan hidup, aku akan memberikan lebih banyak informasi.]
Setelah kalimat terakhir muncul, layar biru itu perlahan menghilang.
Keheningan berlangsung selama beberapa detik.
Lalu—
"Aku mau pulang..."
Seorang siswi mulai menangis.
"Mama..."
Yang lain mulai panik.
Beberapa memegangi kepala mereka.
Beberapa lainnya hanya menatap kosong ke depan.
Andreas menghela napas panjang.
"Untung tembok gudang ini cukup tebal."
"Kalau tidak, suara kalian pasti sudah mengundang seluruh zombie di sekolah."