"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembar Yang Terpisah
Saat matanya bergerak liar menatap sekeliling, perhatian bocah itu mendadak teralih ke arah dinding pembatas di sebelah kanannya. Kamar mandi mewah ini mengusung desain semi-terbuka dengan dinding pembatas antar bilik yang ternyata hanya dibangun setinggi dada orang dewasa, menyisakan celah yang cukup luas di bagian atas dan bawahnya. Dengan tingkat penasaran dan kecerdikan yang tinggi, Enzo menjatuhkan lututnya ke lantai toilet yang bersih, lalu merangkak pelan untuk mengintip ke arah bilik di sebelahnya melalui celah bawah pintu.
"Kocong," lirih Enzo dengan mata berbinar cerah saat melihat bilik di sebelahnya tidak berpenghuni.
Sebuah ide gila untuk melarikan diri seketika muncul di dalam kepala kecilnya yang cerdas. Tanpa membuang waktu, dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara bising, Enzo merangkak melewati celah bawah pembatas, berpindah dari satu bilik kosong ke bilik kosong lainnya yang letaknya kian mendekati pintu keluar toilet. Setelah berhasil mencapai bilik paling ujung yang letaknya sudah berada di belakang posisi berdiri kedua pengawal ayahnya, Enzo mengintip sejenak untuk memastikan situasi.
Tepat saat kedua pria dewasa itu lengah karena fokus menatap ke arah pintu bilik pertama, Enzo dengan gerakan secepat kilat membuka pintu bilik ujung, lalu berlari kencang keluar dari dalam toilet restoran tanpa menimbulkan suara hentakan kaki yang berarti, meninggalkan kedua anak buah Leon yang masih setia berdiri mematung menjaga bilik kosong yang dikira masih berisi sang tuan muda.
"Akhilnyaaaa!"
Enzo terus berlari dengan sekencang mungkin keluar dari area restoran mewah tersebut menembus pintu belakang. Ia terus memacu kaki-kaki kecilnya membelah trotoar jalanan kota yang ramai tanpa arah dan tanpa tujuan yang jelas; yang ada di dalam benaknya hanyalah keinginan untuk menjauh sejauh mungkin dari jangkauan sang ayah. Tangan mungilnya bergerak masuk ke dalam kerah bajunya, menggenggam sebuah kalung perak berbandul permata biru milik sang mommy dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh binar harapan yang teramat cerah.
"Mommy, Enzo datang, Enzo datang. Mommy cabal, Enzo lali ini," gumam bocah kecil itu dengan nada riang bercampur napas yang terengah-engah akibat kelelahan.
Saking bersemangat dan senangnya ia berlari merayakan kebebasan sementaranya, Enzo sampai sama sekali tidak memperhatikan situasi jalanan di sekitarnya. Tepat di tikungan jalan dekat area taman kota, dari arah sebelah kanan, seorang anak kecil lainnya yang mengenakan pakaian santai tampak sedang berjalan perlahan dengan menggunakan bantuan sebuah tongkat penuntun jalan khusus.
Langkah kaki Enzo yang terlalu cepat dan tidak siap seketika menabrak tubuh anak tersebut. Kaki Enzo tersandung oleh tongkat kayu itu, menyebabkan keseimbangan tubuhnya hilang sepenuhnya, sementara anak berbaju santai itu juga ikut terjerembab jatuh ke atas permukaan trotoar akibat hantaman mendadak dari tubuh Enzo.
BRAK!
DUGH!
"Aduuuuh! Tolooong, kaki dili ini cakiiiit!" pekik Enzo spontan sembari memegangi lutut kirinya yang terasa sedikit perih akibat bergesekan dengan semen trotoar yang kasar.
Ia mendengus kesal, lalu menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap ke arah anak kecil yang baru saja ditabraknya. Anak itu tampak sedang duduk membelakanginya sembari kedua tangannya bergerak meraba-raba udara di atas permukaan semen, berusaha mencari keberadaan suatu benda. Enzo yang melihat tongkat penuntun jalan tergeletak tepat di hadapan kakinya lekas mengambil benda tersebut dan menyodorkannya dengan kasar ke arah anak itu.
"Heh olang nyacal! Cembalangan kamu kalau jalan! Untung Enzo nda kecebul combelan tahu nda! Kalau Enzo kecebul gimana, hah?!" pekik Enzo meluapkan seluruh kekesalannya dengan berapi-api karena rencana pelariannya menjadi sedikit terhambat.
Anak kecil yang ditabrak itu berhasil menangkap ujung tongkatnya yang disodorkan oleh Enzo, lalu perlahan bangkit berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap tepat ke arah sumber suara Enzo dengan kening yang mengkerut dalam karena merasa tidak terima disalahkan.
"Kok malah Elen yang dibilang calah? Kan citu cendili yang jalannya lali-lali telus nablaaaak Elen!" seru bocah itu dengan nada suara yang tidak kalah lantang dan kesal, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Eren yang rupanya sedang terpisah beberapa meter dari pengawasan Amoera di taman.
Mendengar balasan ketus dari anak di hadapannya, Enzo yang semula hendak kembali mengomel seketika menghentikan seluruh kata-katanya di tenggorokan. Seluruh tubuh kecilnya mendadak membeku kaku di tempat seolah tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Sepasang matanya membulat sempurna dengan rasa syok yang jauh lebih luar biasa daripada saat ia tertangkap oleh Leon di dalam bagasi mobil semalam.
Bagaimana tidak? Tepat di hadapannya saat ini, berdiri seorang anak laki-laki yang memiliki struktur wajah, bentuk hidung, belahan bibir, bahkan potongan rambut yang teramat sangat identik dengan dirinya. Mereka berdua bagaikan satu jiwa yang sengaja dicerminkan ke dalam dua raga yang berbeda.
"KOK ... KOK KITA BICAAAAA MILIIIIIIP!?" teriak Enzo histeris dengan telunjuk mungilnya yang bergetar hebat menunjuk tepat ke arah wajah Eren, meruntuhkan seluruh sekat rahasia dunia yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh kedua orang tua mereka.
"Milip?"