Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Setelah sarapan pagi yang penuh kehangatan itu selesai, Siham membantu Ayahnya membereskan meja makan. Tidak ada piring pecah, tidak ada suara bentakan hanya ada obrolan ringan tentang tanaman cabai yang sedang diserang hama.
"Yah, Siham izin boleh istirahat di kamar lama? Siham bawa kerjaan kantor yang butuh konsentrasi tinggi. Di sini rasanya lebih tenang daripada di kantor atau di rumah sana," ucap Siham dengan nada memohon yang halus.
Ayah tersenyum lebar, menepuk bahu putrinya. "Tentu saja boleh, Ham. Itu kan kamarmu. Ayah juga sebentar lagi mau ke ladang belakang, mau melihat pohon mangga yang kemarin dipupuk. Pakai saja kamarnya, nanti kalau haus, ada sirup di kulkas."
Siham mengangguk haru. Ia melihat Ayahnya menyambar caping dan berjalan keluar dengan langkah yang meski sudah mulai lambat, namun tetap terlihat bahagia. Begitu pintu depan tertutup, Siham segera melangkah menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah.
Pintu kamar itu berderit pelan saat dibuka. Siham tertegun. Semuanya masih sama. Sprei motif bunga kesukaannya, meja belajar kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas di bagian sudut, dan aroma buku lama yang bercampur dengan wangi bedak bayi aroma khas masa remajanya. Di kamar inilah, sepuluh tahun yang lalu, ia mulai menuliskan mimpi-mimpinya di buku harian sebelum ia dipaksa mengedit hidupnya untuk Dewangga.
Siham duduk di kursi meja belajarnya. Ia membuka laptop dan tabletnya, namun ia tidak langsung bekerja. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan kedamaian yang tidak pernah ia dapatkan di rumah marmer Dewangga.
Tangannya bergerak membuka akun media sosial Aksara Renjana. Ia melihat notifikasi yang meledak akibat postingan semalam. Tanpa ragu, ia mulai mengetik sebuah status singkat namun penuh makna:
"Aku pulang ke rumah di mana cinta tidak pernah diukur dengan angka saham. Di sini, aku bukan seseorang yang disuruh ke psikiater, tapi seorang anak yang cukup hanya dengan menjadi dirinya sendiri. Bab terakhir dari surat pamitku sedang kutulis di atas meja kayu yang sudah kusam, namun penuh dengan kejujuran."
Hanya dalam hitungan menit, angka like melonjak dari ratusan menjadi puluhan ribu. Komentar membanjir. Untuk pertama kalinya, Siham meluangkan waktu untuk membalas beberapa komentar.
"Semangat Kak Aksara! Kami semua di belakangmu!" tulis salah satu akun.
Siham membalas: "Terima kasih sudah menjadi telinga saat rumahku sendiri menjadi tuli."
Siham tersenyum getir. Ia merasa lebih memiliki keluarga di dunia maya daripada di kehidupan nyata. Lalu, ia membuka sebuah folder rahasia di tabletnya. Di sana ada sebuah draf desain cover yang ia buat secara mandiri semalam sebuah gambar yang masih didominasi warna abu-abu, menampilkan siluet seorang wanita yang berdiri di depan pintu yang terbuka luas, namun di balik pintu itu hanya ada cahaya putih yang menyilaukan. Tanpa judul, hanya ada nama pena Aksara Renjana.
Ia mengunggah foto tersebut dengan caption pendek: "Segera. Naskah ini adalah ending yang kalian tunggu."
Postingan itu seperti bensin yang menyambar api. Para pembaca setianya menjerit di kolom komentar. Mereka tidak sabar. Tim kreatif di kantor pasti akan terkejut melihat ini, tapi Siham tidak peduli. Sebagai editor senior sekaligus pemilik penulis paling menguntungkan bagi perusahaan, ia tahu betul bahwa apa pun yang ia sodorkan, Pak Hendra akan langsung memberikan ACC tanpa banyak tanya.
"Maaf ya, Mas Dewangga," bisik Siham sembari menatap layar tabletnya yang bersinar di tengah temaram kamar lamanya. "Kamu bilang tulisanku sampah. Tapi dari sampah inilah, aku akan membangun tangga untuk keluar dari penjaramu."
Siham mulai membuka draf naskahnya. Ia menuliskan kejadian tadi malam di tangga rumah mereka. Ia menggambarkan bagaimana rasanya melihat punggung suami yang lebih memilih perpustakaan dan masa lalu daripada istrinya yang sedang terluka. Setiap kata yang ia tulis terasa seperti mencabut duri dari dagingnya.
Selama berjam-jam, Siham tenggelam dalam dunia tulisannya. Di kamar kecil ini, ia merasa menjadi raksasa. Ia bukan lagi menantu yang harus tahu diri karena orang tuanya miskin. Ia adalah kreator, dia adalah penguasa dari naskah penderitaannya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel pribadinya. Dari Dewangga.
"Kamu di mana? Maya bilang kamu tidak ada di kantor. Jangan lupa, sore ini ada pertemuan dengan pengacara keluarga untuk urusan dokumen rumah baru. Jangan telat."
Siham menatap pesan itu dengan dingin. Tidak ada kata "tadi pagi kamu kenapa", tidak ada tanya "kamu sudah makan atau belum". Hanya perintah.
Siham tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia kembali menatap draf cover abu-abu itu. Di kepalanya, ia sudah tahu judul apa yang akan ia berikan pada buku ini. Judul yang akan membuat Dewangga menyadari bahwa selama ini dia sedang tidur dengan seorang musuh yang paling berbakat.
Siham kembali mengetik. Jauh di belakang rumah, ia bisa mendengar suara tawa Ayahnya yang sedang mengobrol dengan tetangga di ladang. Suara itu menjadi musik latar yang indah bagi rencana besarnya.
Pagi ini, di kamar lamanya, Siham tidak hanya mengerjakan pekerjaan kantor. Ia sedang merancang sebuah revolusi. Ia sedang menyiapkan sebuah ledakan yang akan membuat nama besar keluarga Dewangga terguncang, tepat di saat buku "sampah" itu naik cetak dan menjadi best-seller di seluruh negeri.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor