Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Pagi di Manhattan tidak pernah datang dengan kelembutan. Cahaya matahari yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit di griya tawang megah itu terasa silau dan menusuk, memantul keras di atas permukaan meja makan yang terbuat dari marmer Carrara putih.
Di atas meja, segala kemewahan sarapan telah tersaji sempurna: roti panggang yang masih mengepulkan uap tipis, selai buah beri impor dari Prancis, potongan buah segar, dan secangkir kopi arabika hitam pekat yang aromanya langsung mendominasi ruangan.
Aroma kopi itulah yang menjadi pematik petaka pagi ini.
Adiba Abbey duduk kaku di salah satu kursi makan berbalut beludru abu-abu. Wajahnya yang biasa dihiasi keangkuhan sempurna, pagi ini tampak sepucat kertas.
Sudut bibir kirinya yang robek akibat tamparan Raynazh semalam telah mengering, meninggalkan bekas luka keunguan yang kontras di atas kulitnya yang pias. Pipi kirinya pun masih menyisakan rona lebam yang samar, sengaja tidak dia tutupi dengan riasan tebal karena dia ingin suaminya terus melihat monumen kekerasannya sendiri.
Ugh...
Mendadak, gelombang mual yang teramat dahsyat dan tak tertahankan merayap naik dari dasar perutnya, menghantam ulu hatinya dengan kekuatan penuh.
Bau menyengat dari kopi hitam yang baru saja dituangkan oleh pelayan pribadi mereka mendadak berubah menjadi racun yang paling menjijikkan bagi indra penciumannya.
Uhuk! Huekkk!
Adiba spontan membungkuk, sebelah tangannya mencengkeram tepi meja marmer begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dia membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan yang lain, mencoba menahan cairan lambung yang mendesak keluar.
Seluruh tubuhnya berguncang hebat. Siksaan fisik akibat morning sickness di minggu-minggu awal kehamilannya ini terasa berkali-kali lipat lebih menyiksa karena bercampur dengan stres emosional yang mendera batinnya.
Huekkk! Uhuk...
Suara Adiba yang terengah-engah dan rintihan mualnya menggema di ruang makan yang sunyi. Dia meraih segelas air putih dengan tangan yang gemetar hebat, meminumnya seteguk hanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa terbakar, sebelum kembali didera rasa ingin muntah yang lebih hebat.
Tepat di seberang meja makan, hanya berjarak kurang dari dua meter, Raynazh Leon Osborn duduk dengan tenang.
Pria itu tampil rapi seperti biasanya, mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda yang disetrika sempurna dengan setelan jas hitam yang tersampir di sandaran kursinya.
Sepasang matanya fokus menatap layar tablet digital, membaca pergerakan saham Osborn Group pagi ini di bursa efek Wall Street.
Dia mendengar setiap suara guncangan tubuh Adiba. Dia melihat bagaimana istrinya tersiksa, menunduk dengan wajah yang nyaris menyentuh piring kaca kosong di depannya.
Namun, Raynazh bahkan tidak menggeser pandangannya barang satu milimeter pun dari layar tabletnya. Wajahnya datar, dingin, dan benar-benar mati rasa.
Tangan kanannya dengan santai terangkat, meraih cangkir kopi hitam yang menjadi sumber penderitaan Adiba, lalu menyesapnya perlahan seolah-olah wanita di hadapannya hanyalah embusan angin lalu yang tidak berarti.
Apatisme yang ditunjukkan Raynazh bukan lagi sekadar bentuk kemarahan, melainkan wujud dari kebencian dan rasa muak yang telah mencapai titik absolut.
Bagi Raynazh, setiap suara muntah Adiba adalah pengingat jahanam bahwa di dalam rahim wanita itu sedang tumbuh benih haram milik adiknya sendiri, Louis—sebuah bukti hidup dari pengkhianatan terbesar yang menghancurkan ego kesulungannya.
Huekkk!
Adiba akhirnya tidak tahan lagi. Dia bangkit berdiri dengan terburu-buru, menggeser kursi makannya hingga menimbulkan suara derit yang nyaring dan kasar di atas lantai marmer. Dia berlari kecil menuju wastafel dapur bersih yang terletak tak jauh dari meja makan.
Di sana, di atas wastafel stainless steel, Adiba menumpahkan seluruh rasa mualnya.
Dia memutar keran air dengan kasar, membiarkan air mengalir deras bersama dengan rintihan tersiksanya. Tubuhnya yang terbalut gaun tidur sutra putih tipis bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya.
Di dalam rasa sakit fisik yang mendera itu, tangan Adiba bergerak perlahan, protektif, mendekap erat perut ratanya. Di tengah siksaan ini, pikirannya kembali berputar gila.
Bertahanlah, anakku... batin Adiba berbisik di antara deru napasnya yang terengah-engah, matanya berkilat liar menatap air yang mengalir di wastafel.
Daddy-mu semalam telah memberikan kehangatan yang luar biasa untuk kita di Brooklyn. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemenangan yang akan kita raih saat pria tidak berguna di meja makan itu merangkak memohon ampun pada kita.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, Adiba berhasil menguasai dirinya kembali. Dia mengambil selembar tisu dapur, mengusap bibirnya yang basah dan terluka dengan perlahan, lalu mematikan keran. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya, Adiba menegakkan punggungnya, mengembalikan topeng keangkuhan dan ketenangannya yang dingin.
Dia melangkah kembali menuju meja makan, duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah kegaduhan parah yang baru saja terjadi tidak pernah ada.
Raynazh akhirnya menurunkan tablet digitalnya. Dia meletakkannya di atas meja dengan ketukan pelan, lalu menatap Adiba. Sepasang mata cokelat gelap milik Raynazh menatap lurus ke arah perut Adiba, lalu beralih ke wajah pucat istrinya dengan kilat kejian yang tidak lagi disembunyikan.
"Menjijikkan," satu kata keluar dari bibir Raynazh, diucapkan dengan nada yang sangat tenang namun sarat akan racun yang mematikan.
Adiba menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua tangannya di atas meja. "Apa yang kau maksud dengan menjijikkan, Suamiku? Sarapanmu? Atau kenyataan bahwa ahli waris sejati dari darah Osborn sedang berjuang di dalam rahimku?"
Raynazh terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat hambar. Dia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja marmer, mengikis jarak di antara mereka agar para pelayan yang berdiri di kejauhan tidak dapat mendengar konfrontasi berdarah ini.
"Jangan pernah menyebut anak haram itu sebagai ahli waris Osborn di depanku, Adiba," desis Raynazh, suaranya bergetar oleh amarah yang ditekan dalam-dalam.
"Setiap kali aku mendengar suara muntahmu, aku hanya bisa membayangkan betapa murahnya dirimu yang membiarkan berandal jalanan dari Brooklyn itu Meniduri mu berkali-kali. Kau tahu apa yang terlintas di pikiranku saat melihatmu muntah seperti itu?"
Adiba menatap Raynazh dengan pandangan menantang, sama sekali tidak gentar. "Katakan. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam otak kecilmu yang penuh ketakutan itu."
"Aku berharap... anak di dalam kandunganmu itu membusuk dan mati sebelum dia sempat melihat dunia," ucap Raynazh dengan mata yang membelalak gelap, melontarkan sumpah serapah yang teramat kejam tepat di depan wajah Adiba. "Anak itu adalah kutukan. Dan kau... kau adalah pembawa sial di dalam hidupku."
Mendengar sumpah serapah yang ditujukan untuk calon bayinya, kilat gila di mata Adiba seketika berkobar hebat. Jika semalam dia menerima tamparan Raynazh dengan senyuman, maka pagi ini, batas kesabarannya terusik ketika darah daging Louis yang suci di dalam rahimnya dihina dengan begitu rendah.
Adiba mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya mengunci pandangan Raynazh dengan intensitas yang begitu mengerikan, hingga membuat Raynazh secara tidak sadar merasakan jenggala ketakutan merayap di tengkuknya.
"Kau boleh menghinaku sepuasmu, Raynazh Leon Osborn," bisik Adiba, suaranya begitu rendah, dingin, dan dipenuhi oleh aura intimidasi yang luar biasa pekat. "Tapi berani saja kau mengucapkan sumpah serapah itu lagi untuk anakku... maka demi Tuhan, aku tidak akan menunggu sampai akhir bulan ini untuk menghancurkanmu."
Adiba membuka tas tangan miliknya yang tergeletak di kursi sebelah. Dia merogoh ke dalam, mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu meletakkannya di atas meja marmer. Jari lentiknya mengetuk layar beberapa kali sebelum memutar sebuah berkas video dengan volume yang cukup rendah, namun sangat jelas untuk didengar dan dilihat oleh Raynazh.
Di atas layar ponsel itu, berputar rekaman video berdurasi beberapa menit yang diambil di dalam kamar mandi penthouse Brooklyn pagi fajar lalu.
Di dalam video itu, terlihat jelas pantulan cermin raksasa yang menampilkan sosok Louis yang bertelanjang dada, penuh tato, sedang memeluk Adiba dari belakang dengan teramat intim.
Terlihat bagaimana Louis mengecup leher Adiba, meninggalkan tanda kemerahan yang pekat, sementara Adiba mendongak pasrah dengan senyuman penuh gairah, membiarkan tangan besar Louis mengusap perut ratanya dengan penuh rasa kepemilikan.
Suara desahan halus dan bisikan seksi Louis yang memanggil Adiba dengan sebutan 'Kakak Ipar' terdengar begitu nyata menembus keheningan meja makan.
Deg.
Wajah Raynazh seketika berubah menjadi abu-abu. Seluruh darah di tubuhnya seolah tersedot turun ke bumi. Tangannya yang memegang cangkir kopi mendadak gemetar begitu hebat hingga cairan hitam di dalamnya berguncang, nyaris tumpah ke atas meja marmer putih.
"Kau... kau..." Raynazh terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ya, ini video kami kemarin sebelum aku pulang ke rumah ini," ucap Adiba dengan nada santai, mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas dengan gerakan yang teramat tenang.
"Video ini merekam setiap jengkal dosa yang kami lakukan di Brooklyn. Sangat indah, bukan? Louis meminta rekaman ini agar dia tidak merindukanku lagi saat aku harus kembali tidur di rumah ini bersamamu."
Adiba menatap Raynazh yang kini tampak seperti mayat hidup di hadapannya. "Kira-kira... apa yang akan terjadi jika potongan video ini terkirim ke email pribadi Arthur Osborn malam ini? Atau bagaimana jika video ini mendadak bocor ke tangan para dewan direksi Osborn Group menjelang rapat umum pemegang saham minggu depan? Menurutmu, apakah ayahmu masih akan mempertahankan 'mainan utamanya' yang bahkan tidak becus menjaga kesetiaan istrinya dari adiknya sendiri?"
"Kau jalang iblis..." Raynazh menggeram, giginya gemeretak menahan murka yang teramat masif. Dia ingin merebut tas Adiba, ingin menghancurkan ponsel itu menjadi kepingan, namun dia tahu Adiba pasti telah menyimpan salinannya di tempat yang tidak akan pernah bisa dia jangkau.
"Aku adalah iblis yang kau ciptakan sendiri semenjak kau memilih untuk menjadi pengecut yang merebut hak adikmu, Raynazh," Adiba berdiri dari kursi makannya, memperbaiki letak gaun tidur sutranya yang berantakan dengan keanggunan yang mematikan.
Dia menatap suaminya dari atas dengan pandangan penuh penghinaan yang mutlak. "Simpan sumpah serapahmu di dalam mulutmu yang kotor itu. Mulai detik ini, kau akan menyetujui semua tuntutan perceraianku tanpa syarat, kau akan mengakui anak di rahimku ini sebagai anakmu di depan publik demi nama baik Osborn, dan kau akan diam seperti anjing yang patuh di sudut ruangan... sampai aku sendiri yang memutuskan kapan waktu yang tepat untuk menendangmu keluar dari dinasti ini."
Adiba berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak, meninggalkan Raynazh Leon Osborn yang terduduk kaku dengan napas tersengal-sengal di tengah kemegahan Manhattan—seorang pria yang kini menyadari bahwa sarapan paginya telah berubah menjadi jamuan pembuka menuju neraka yang dirancang oleh istrinya sendiri.