NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuduhan Baru

Pagi berikutnya datang dengan membawa sisa-sisa ketegangan dari malam sebelumnya.

Sinar matahari yang menembus tiras tipis kamar utama apartemen terasa sangat silau, memaksa Nayla untuk membuka matanya dengan enggan. Dia mengerjap-erjap beberapa kali, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, lalu menoleh ke arah lantai di samping ranjangnya.

Tempat Gibran menggelar selimut semalam sudah kosong melompong. Selimut dan bantal cadangannya telah terlipat dengan sangat rapi di atas kursi santai di sudut kamar, seolah-olah pria itu tidak pernah menghabiskan malamnya meringkuk di atas lantai marmer yang dingin.

"Cepat banget dia bangun," gumam Nayla sambil mengikat rambut panjangnya asal-asalan menjadi cepol tinggi.

Dia beranjak dari ranjang, mengganti kaus oblong tidurnya dengan kemeja denim kasual dan celana kulot hitam yang nyaman, lalu melangkah keluar kamar. Saat melewati ruang tengah, dia mendengar suara tawa renyah Renata yang bersahut-sahutan dari arah area makan, bercampur dengan denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

Nayla mempercepat langkahnya menuju meja bar dapur. Di sana, Renata Mahardika sudah tampil modis dengan gaun terusan berwarna pastel, sementara Gibran duduk di hadapannya dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Namun, yang membuat langkah Nayla terhenti adalah sosok pria ketiga yang duduk di ujung meja dengan setelan jas abu-abu formal yang sangat licin.

Pak Januar. Manajer kreatif sekaligus bos langsung Nayla di agensi periklanan.

"Eh, Nayla! Sini, Sayang, sarapan dulu!" seru Renata begitu menyadari kehadiran menantunya. "Lihat siapa yang datang pagi-pagi. Bos kamu di kantor sengaja Mama undang ke sini karena ada beberapa hal penting yang mau Mama tanyakan."

Nayla merasakan jantungnya mendadak melompat ke tenggorokan. Dia menatap Januar yang kini melemparkan senyum kaku yang penuh dengan rasa hormat bercampur ketakutan yang sangat kentara.

Seorang Januar yang biasanya hobi menggebrak meja kerja dan berteriak menuntut revisi desain dengan sumbu pendek, kini duduk manis seperti anak kucing yang penurut di hadapan Renata dan Gibran.

"P-pagi, Nayla ... maksud saya, Ibu Nayla," sapa Januar, suaranya sedikit bergetar saat menyebut panggilan barunya. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda di apartemen Den Gibran."

Nayla melirik Gibran dengan tatapan mata yang penuh tuntutan penjelasan. Gibran hanya bisa mengembuskan napas pendek, memberikan isyarat lewat kedipan mata yang seolah berkata: ("Ikuti saja dulu alurnya, gue juga tidak tahu Mama bakal nekat mengundang bos lu ke sini.")

"Pagi, Pak Januar. Panggil Nayla saja seperti biasa di kantor, Pak. Saya jadi tidak enak," kata Nayla dengan canggung sambil mengambil posisi duduk di kursi kosong di samping Gibran.

Gibran dengan sigap menggeser piring berisi roti panggang dengan selai stroberi ke depan Nayla, lalu menuangkan secangkir teh hangat untuk istrinya.

"Diminum dulu tehnya, Sayang. Kamu pasti masih lelah setelah acara malam tadi," ucap Gibran dengan nada suara yang sengaja dibuat super lembut, membuat bulu kuduk Nayla kembali meremang.

"Terima kasih, Mas Gibran yang baik hati," jawab Nayla, memaksakan senyum manis yang penuh dengan tekanan emosi tersembunyi.

Renata meletakkan cangkir tehnya, lalu kembali menatap Januar dengan ekspresi serius yang elegan. "Nah, Pak Januar, kita lanjutkan pembicaraan yang tadi. Sebagai manajer kreatif yang mengawasi Nayla selama dua tahun ini, saya mau tahu bagaimana kinerja menantu saya di kantor? Apa dia tipe perempuan yang rajin, atau ... ada hal lain yang perlu saya ketahui?"

Januar langsung menegakkan posisi duduknya, berdeham pelan untuk membersihkan tenggorokannya. "Oh, kalau soal kinerja, Ibu Renata tidak perlu meragukannya sama sekali. Nayla ini adalah salah satu desainer grafis terbaik dan paling andal di tim saya. Dia sangat berdedikasi, rela lembur sampai subuh demi menyelesaikan draf portofolio klien, dan ... dia tipe orang yang sangat jujur serta tidak pernah memanfaatkan situasi apa pun untuk keuntungan pribadi."

Mendengar pujian tulus dari bosnya yang biasanya pelit apresiasi itu, Nayla sempat tertegun. Ada sedikit rasa bangga yang menyelinap di hatinya.

"Tapi ..." Januar menggantung kalimatnya sejenak, melirik Gibran dengan pandangan ragu sebelum melanjutkan dengan hati-hati. "... jika boleh jujur, saya dan seluruh tim di kantor sebenarnya sangat terkejut saat mendengar berita pernikahan siri Den Gibran dan Nayla dua hari lalu. Karena selama ini, di kantor, Nayla sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalau dia sedang menjalin hubungan dengan putra mahkota Mahardika Group. Bahkan, ada satu hal yang membuat saya agak bingung ..."

Atmosfer di meja makan mendadak menegang. Gibran menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuap potongan telur. "Bingung soal apa, Pak Januar?" tanya Gibran, suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan berwibawa khas seorang direktur operasional.

Januar menelan ludah dengan susah payah, merasakan intimidasi langsung dari bos besarnya. "Itu ... sebulan yang lalu, saya ingat betul Nayla sempat mengajukan cuti beberapa hari untuk pulang ke kampung halamannya karena urusan keluarga. Dan setahu saya, di lingkungan kantor, beredar rumor dari teman dekat dekat kubikelnya kalau Nayla itu ... sebenarnya sudah dijodohkan oleh ibunya dengan seorang guru sekolah dasar di kampungnya. Jadi, saat berita pernikahan siri dengan Den Gibran ini mencuat, beberapa karyawan di divisi kreatif mengira ... maaf ... mengira kalau Nayla melakukan ini demi menghindari perjodohan tersebut, atau ada motif lain."

Deg.

Tuduhan baru yang keluar dari mulut Januar bagaikan sebuah granat yang dilemparkan tepat di tengah meja makan mereka.

Nayla membelalakkan matanya, wajahnya mendadak memucat. Rumor tentang perjodohannya di kampung memang benar adanya ibunya di kampung memang sempat menjodohkannya dengan seorang anak tetangga yang berprofesi sebagai guru namun Nayla sudah menolak perjodohan itu mentah-mentah sebelum insiden penggerebekan malam itu terjadi.

Dia tidak pernah menyangka kalau gosip internal kantor itu akan dibawa oleh Januar langsung ke hadapan ibu mertuanya.

Renata mengernyitkan dahi, tatapan matanya yang tadi riang mendadak berubah menjadi tajam dan menyelidik. Dia menoleh ke arah Nayla. "Dijodohkan dengan guru di kampung? Nayla, apa itu benar, Sayang?"

Sebelum Nayla sempat membuka mulutnya untuk membantah tuduhan miring tersebut, sebuah bantangan keras terdengar dari arah pintu masuk lift pribadi mereka yang mendadak terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.

"Jadi benar dugaan saya selama ini! Perempuan ini hanya memanfaatkan kamu, Gibran!"

Suara berat dan menggelegar itu membuat semua orang di meja makan menoleh serempak. Baskoro Mahardika melangkah masuk ke dalam apartemen dengan langkah lebar yang dipenuhi oleh aura kemarahan yang meluap-luap. Di belakangnya, Pak Gunawan mengekor dengan wajah datar yang menyimpan kepuasan tersembunyi karena telah berhasil membuktikan kecurigaan sang atasan.

Pak Baskoro yang harusnya sudah terbang ke Singapura subuh tadi, membatalkan perjalanannya demi mengonfirmasi laporan investigasi terbaru dari Gunawan mengenai latar belakang keluarga Nayla di kampung.

"Papa? Bukannya Papa harusnya di Singapura?" Renata berdiri dari duduknya dengan wajah terkejut.

rekening endi

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!