Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mode Hibernasi dan Tamu Tak Diundang
Bagi seorang Arini, akhir pekan kali ini adalah harga mati untuk menghilang dari peradaban. Gosip panas yang beredar di kantor sejak insiden "terjebak semalaman" kemarin benar-benar menguras energinya sampai ke batas nol. Dari yang dituduh terlibat cinta lokasi, hingga gosip miring kalau mereka sengaja merusak sistem smart lock—semuanya sukses membuat telinga Arini panas.
Oleh karena itu, begitu hari Sabtu tiba, Arini resmi mengaktifkan mode hibernasi total di apartemennya.
Ponselnya sengaja diatur ke mode hening. Sejak pagi, layar ponsel itu bolak-balik menyala menampilkan nama Dian. Sahabatnya itu mengirimkan puluhan pesan, mulai dari mengajak nongkrong di kafe baru, berburu diskon di mal, sampai memintanya mengklarifikasi gosip kantor. Arini tidak menggubris satu pun. Jangankan membalas, menyentuh ponselnya saja ia malas. Fokusnya hari ini cuma tiga: kasur, baju piyama kedodoran, dan nonton maraton serial tanpa harus memikirkan pandangan orang lain. Ia butuh mengisi ulang energi kewarasannya.
Namun, ketenangan itu hancur berantakan saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu apartemennya terdengar cukup keras dan tidak sabaran. Arini yang sedang bergulung di dalam selimut langsung mendecak frustrasi. Ia mengacak rambutnya yang awut-awutan dengan kesal.
“Pasti Dian. Gak ada lagi orang yang se-nekat ini nyamperin gue,” batin Arini dongkol.
Dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke lantai, Arini berjalan menuju pintu. Gengsi milenial dan mode defensifnya langsung aktif. Ia sudah menyiapkan rentetan omelan di dalam kepala untuk menyemprot sahabatnya itu agar tidak mengganggu waktu istirahatnya.
Arini memutar kunci dengan kasar, lalu menarik pintu terbuka lebar.
"Dian, gue udah bilang kan kalau gue lagi males kelu—"
Kalimat Arini terputus di udara. Tenggorokannya mendadak kering, dan matanya mengerjap tidak percaya.
Orang yang berdiri di depan pintunya bukanlah Dian dengan kacamata hitam dan tas bermereknya. Melainkan seorang cowok jangkung yang mengenakan kaus santai, celana jin, dan memegang sebuah kantong plastik putih besar.
Rian.
Rian juga tampak sama terkejutnya melihat penampilan Arini yang sangat berbeda 180 derajat dari versi kantor—tanpa riasan, rambut dicepol asal-asalan, dan memakai piyama bergambar kartun longgar.
"R-Rian? Ngapain kamu di sini?!" tanya Arini gagap, setengah panik sambil refleks merapikan rambutnya yang berantakan.
Rian tersenyum canggung, lalu mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "S-selamat siang, Bu Arini. Maaf mengganggu waktunya. Saya ke sini karena disuruh Bu Dian."
"Dian?" Arini mengernyitkan dahi.
"Iya, Bu. Tadi Bu Dian nelpon saya sambil panik banget. Katanya Ibu gak bisa dihubungi dari kemarin malam, pesannya gak ada yang dibalas, teleponnya gak diangkat. Bu Dian takut Ibu kenapa-kenapa di apartemen, atau pingsan karena stres gara-gara gosip kemarin," jelas Rian jujur tanpa disaring, membuat Arini langsung merutuki kedunguan sahabatnya itu dalam hati.
Rian melanjutkan, "Kebetulan Bu Dian lagi ada acara keluarga yang gak bisa ditinggal, makanya dia minta tolong banget ke saya buat ngecek kondisi Ibu. Ini... saya sekalian bawakan makanan hangat, obat-obatan, sama vitamin."
Arini terpaku. Ia menatap kantong plastik di tangan Rian, lalu beralih menatap wajah bawahannya yang tampak tulus dan sedikit cemas itu. Rasa kesal karena tidurnya diganggu mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat yang aneh, sekaligus rasa malu yang luar biasa karena ia tertangkap basah sedang dalam mode "rumahan" yang berantakan.
"Bu Dian bilang Ibu mungkin drop. Jadi... Ibu beneran gak apa-apa kan?" tanya Rian lagi, memastikan dengan tatapan mata yang sangat fokus ke arah Arini.
Ditanya begitu dengan jarak yang cukup dekat, benteng pertahanan Arini kembali goyah. Jantungnya yang tadi berdegup karena emosi, kini berubah ritme menjadi detukan yang membuat pipinya perlahan merona merah. Mode hibernasinya resmi gagal total gara-gara kedatangan sang pencuri perhatian.