Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Zeffrano melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan langkah berat. Dia melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi, lalu duduk bersandar dengan mata terpejam. Belum sempat dia menenangkan diri sepenuhnya, pintu ruangan terbuka pelan. Alvin masuk dengan langkah tenang sambil membawa map di tangannya. Wajah pria itu terlihat serius, matanya sesekali melirik ke arah bosnya.
"Maaf mengganggu, Tuan," ucap Alvin sopan, berhenti tepat di depan meja besar itu. "Ini data yang Tuan minta kemarin. Seluruh informasi mengenai Nona Aruna, sejak masa kecil hingga kondisi terkini."
Zeffrano membuka matanya perlahan, menatap berkas di tangan Alvin dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa takut, ada rasa ragu, namun rasa ingin tahu yang jauh lebih besar. Dia mengulurkan tangannya.
"Letakkan disini," perintahnya pelan dan berat.
Alvin meletakkan map itu di atas meja kerja, lalu berdiri tegap di tempatnya, seolah menunggu perintah selanjutnya. Zeffrano menatap map itu lama sekali, sebelum akhirnya dia membukanya perlahan, jemarinya menyusuri setiap halaman yang berisi catatan kehidupan wanita yang begitu dia cintai sekaligus dia ragukan.
"Apakah ada hal penting yang perlu aku ketahui secara khusus?" tanya Zeffrano tanpa mengalihkan pandangannya dari barisan tulisan di hadapannya, suaranya terdengar datar namun penuh tekanan.
Alvin mengangguk sedikit.
"Ada, Tuan. Ada beberapa poin yang cukup penting," jawab Alvin hati-hati. "Setelah kecelakaan tragis yang menewaskan kedua orang tua Nona Aruna tujuh bulan lalu, kondisi Nona Aruna saat itu sangat terpuruk."
Alvin berhenti sejenak, menunggu reaksi Zeffrano, namun pria itu hanya diam, menatapnya tajam seolah memerintahkannya untuk melanjutkan.
"Di masa-masa sulit itu... pria bernama Rafael yang merupakan kekasih dari nona Aruna selalu ada di sisinya, Tuan. Rafael menjadi tempat bersandar, satu-satunya sandaran yang nona Aruna miliki."
"Dan kemudian?" tanya Zeffrano parau, genggamannya pada pinggiran meja semakin kuat, buku-buku jarinya memutih.
Alvin menelan ludah, melanjutkan laporannya dengan nada yang semakin rendah.
"Mereka sebenarnya sudah berpacaran sejak satu tahun yang lalu. Meskipun mendiang tuan Dirgantara tidak menyukai hubungan mereka, tapi nona Aruna tetap kekeuh mempertahankan hubungan itu sampai sekarang. Dan setelah kematian kedua orang tua nona Aruna, Rafael mulai terlihat sangat berperan besar dalam kehidupan nona Aruna. Banyak pihak yang mengira keduanya akan segera melangkah ke jenjang pernikahan."
Kalimat itu tergantung berat di udara ruangan yang luas itu. Saat kabar duka itu datang, Zeffrano sedang pergi keluar negeri untuk urusan pekerjaan selama hampir tiga bulan lamanya. Hingga dua bulan lalu dia berpikir untuk melamar Aruna supaya dia bisa melindungi wanita itu, tapi sayangnya Aruna menolak lamarannya.
"Tuan, itu belum semuanya," sambung Alvin pelan namun tegas, membuat Zeffrano kembali menoleh padanya dengan tatapan bertanya. "Ada hal lain lagi."
Zeffrano mengerutkan kening, tangannya meremas kertas di atas meja sedikit lebih kuat. "Hal lain apa? Katakan saja."
"Rafael bekerja sebagai salah satu manajer di perusahaan milik Tuan Hendrawan. Dan Tuan Hendrawan memiliki putri yang bernama Tania. Besar kemungkinan, Rafael memiliki hubungan istimewa dengan putri Tuan Hendrawan itu." jelas Alvin.
Zeffrano menyipitkan matanya tajam, menatap sebuah foto mesra seorang pria dan wanita yang terselip diantara kertas-kertas itu, "Maksudmu... Aruna dikhianati?"
"Benar, Tuan," angguk Alvin.
Zeffrano terdiam kaku, tubuhnya menegang. Kata-kata Alvin berputar di kepalanya, bergema keras hingga menenggelamkan segala keraguan yang sempat ada di hatinya. Dikhianati...
"Jadi begitu..." gumam Zeffrano pelan, suaranya terdengar parau dan berat. Dia menjatuhkan foto itu kasar, lalu menatap kosong ke arah jendela kaca besar di hadapannya, matanya memerah menahan emosi yang bergemuruh hebat. "Dia datang kepadaku sebagai wanita yang terluka, yang baru saja sadar bahwa dunia yang dia bangun ternyata hanyalah kebohongan belaka. Dan di tengah semua kepahitan itu... Dia berpikir aku-lah satu-satunya kebenaran yang tersisa di hatinya."
-
-
-
Suasana di dalam restoran mewah itu begitu hangat dan elegan, dihiasi cahaya temaram dan alunan musik klasik yang lembut. Rafael duduk di seberang Aruna, wajahnya tampak berseri-seri, berusaha sekuat tenaga menampilkan sosok kekasih yang paling romantis dan perhatian. Sesekali dia menuangkan minuman ke gelas Aruna atau memuji penampilan wanita itu, seolah tak ada kejadian buruk apapun yang terjadi di antara mereka kemarin.
Aruna membalas semua itu dengan senyum yang terukir indah. Dia memainkan perannya dengan sempurna, sesekali tersenyum atau tertawa kecil mendengar celotehan Rafael, padahal hatinya terasa mual melihat kepura-puraan pria itu.
"Kamu tahu, Sayang... aku sangat bahagia bisa makan malam bersamamu lagi seperti ini," ucap Rafael sambil menatap Aruna dengan pandangan yang dibuat-dibuat penuh kasih sayang. "Semua kerja keras ini aku lakukan demi kita. Nanti kalau proyekku sukses besar, kita akan makan di tempat yang jauh lebih mewah lagi, bahkan mungkin ke luar negeri. Aku akan memberikan dunia padamu."
"Dasar pendusta. Kamu pikir aku tidak tahu kalau semua ini hanya kata-kata kosong agar aku lupa soal uang yang kamu inginkan kemarin," batin Aruna mengejek, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum manis.
"Kamu memang yang terbaik, Rafael. Aku sangat beruntung memilikimu," jawabnya lembut, kalimat yang dulu dia ucapkan dengan tulus, namun kini keluar hanya sebagai naskah sandiwara.
Tiba-tiba, gerak tangannya yang ingin menyuapkan makanan ke mulutnya terhenti saat pandangannya tak sengaja menangkap sosok yang baru saja melangkah masuk lewat pintu utama. Sosok tinggi besar dengan aura yang begitu kuat hingga seolah seluruh ruangan berubah suhunya saat dia hadir.
Zeffrano.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan, terlihat begitu gagah dan berwibawa. Di sampingnya berjalan seorang pria paruh baya yang tampak hormat, kemungkinan besar klien atau rekan bisnis penting. Zeffrano berjalan tegak, kepala terangkat tinggi, matanya menatap lurus ke depan dengan sorot dingin dan tajam, seolah tidak ada satupun hal di ruangan ini yang layak mendapat perhatiannya.
Jantung Aruna berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena momen ini persis seperti yang dia ingat. Di kehidupan lalu, saat kejadian ini pertama kali terjadi, Aruna langsung membuang muka saat melihat kehadiran pria itu.
Namun malam ini berbeda.
Aruna tetap duduk tenang, jemarinya menggenggam gagang gelas anggur dengan santai, namun sudut matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Zeffrano. Dia melihat langkah pria itu melambat sepersekian detik saat pandangan mereka tanpa sengaja bertemu.
Zeffrano menarik napas panjang, menegakkan punggungnya lebih tegap lagi, membangun tembok pertahanan yang tebal di balik wajah dinginnya. Dia sengaja mengalihkan pandangannya sepenuhnya, seolah-olah Aruna dan Rafael hanyalah udara yang tak berarti baginya. Dia mengabaikan keberadaan mereka berdua, berbalik badan, dan kembali melanjutkan langkahnya mengikuti rekan bisnisnya menuju ruang makan privat.
"Zeffrano, berhenti kamu disitu!"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍