NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menguji Kekuatan Di Tebing Tujuh Roh

Di dalam paviliunnya yang sunyi, Xiao Ba masih duduk tegak dalam posisi meditasi.

Lima hari berlalu sejak ia kembali dari aula. Lima hari yang ia habiskan hampir sepenuhnya dalam keheningan, duduk bersila dengan mata terpejam sementara dunia di dalam tubuhnya terus bergerak tanpa henti. Suara ombak dari Teluk Beira yang terdengar samar-samar dari kejauhan menjadi irama yang menemani setiap sesi kultivasinya, seperti melodi alam yang tidak pernah berhenti bahkan di tengah malam yang paling sunyi sekalipun.

Dan pada hari kelima itu, ia merasakannya.

Sebuah tekanan yang terbangun perlahan di dalam pusat energinya, seperti gelembung yang terus membesar, mendorong dari dalam ke segala arah, menuntut untuk dilepaskan.

Di atas Pagoda Sembilan Tingkat yang berdiri kokoh di dantian-nya, sebuah gumpalan energi berwarna emas sebesar benih bulat bersinar semakin terang. Bagi kultivator mana pun di dunia bawah ini, pemandangan itu akan membuat mereka terbelalak. Gumpalan energi di pusat energi seorang kultivator biasanya berwarna putih; warna emas tidak pernah terdengar, bahkan dalam catatan paling kuno yang tersimpan di perpustakaan keluarga mana pun.

Xiao Ba tidak banyak berpikir.

"Terobos!" gumamnya pelan.

BOOM!

Ledakan kecil bergema dari dalam tubuhnya. Gumpalan emas sebesar benih itu pecah, menyebar ke seluruh sudut pusat energinya seperti kilatan cahaya yang tiba-tiba memenuhi ruangan gelap. Lalu dalam hitungan detik, semuanya menyatu kembali, membentuk gumpalan yang dimensinya sedikit lebih besar, sedikit lebih padat, dan sedikit lebih bercahaya dari sebelumnya.

"Akhirnya," lirihnya, sudut bibirnya melengkung tipis. "Alam Pengumpulan Qi Tingkat 5 Awal."

Ia tidak bergerak dari posisi duduknya. Masih bersila, masih tenang, ia membiarkan alam barunya yang baru ditembus itu menstabilkan dirinya secara alami, seperti tanah yang baru digemburkan perlu waktu untuk menjadi kokoh kembali sebelum siap ditanami.

Dua jam berlalu.

Ketika ia membuka matanya, ada kemantapan yang berbeda dalam tatapannya—tatapan seorang yang sudah tahu di mana ia berdiri dan ke mana ia akan pergi.

Ia berdiri, meregangkan tubuhnya sebentar.

"Sepertinya aku harus mencoba kekuatan ini." Ia menatap telapak tangannya sejenak, merasakan aliran energi keemasan yang kini mengalir lebih deras dari sebelumnya di bawah kulitnya. "Tapi siapa yang bisa menjadi sasaran latihan yang layak?"

Jawabannya tidak sulit ditemukan: Tebing Tujuh Roh.

Kawasan yang sebulan lagi akan menjadi arena resmi pertarungan antar keluarga itu kini masih sepi dari aktivitas manusia. Hanya binatang buas dan binatang spiritual yang berkeliaran bebas di antara tujuh formasi tebingnya. Namun, sepi dari manusia tidak berarti sepi dari bahaya. Justru sebaliknya.

Xiao Ba melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah santai.

Lu Ming yang berjaga di depan langsung berdiri tegak. "Tuan Muda hendak ke mana?"

"Jalan-jalan sebentar, Paman Lu. Tidak perlu mengikuti."

Sebelum Lu Ming sempat memprotes, Xiao Ba sudah berlalu dengan langkah yang ringan meninggalkan halaman kediaman Keluarga Xiao, berjalan ke arah timur kota menuju kawasan tebing yang terlihat dari kejauhan sebagai deretan batu raksasa yang menjulang di tepi Laut Selatan.

Tebing Tujuh Roh dari kejauhan terlihat seperti tujuh raksasa batu yang sedang berdiri berdampingan menghadap ke laut, masing-masing dengan ketinggian dan bentuk yang berbeda. Tebing pertama dan paling rendah menghadap langsung ke kota, sementara tebing ketujuh yang paling tinggi berdiri di ujung terluar, hampir menyentuh batas di mana langit dan laut bertemu di cakrawala.

Di antara tujuh tebing itu, terdapat lembah-lembah sempit, gua-gua tersembunyi, dan lorong-lorong angin yang menjadi ciri khas kawasan ini. Energi Qi yang mengalir di kawasan ini terasa berbeda dari bagian kota lainnya—lebih pekat, lebih kaya, seolah ribuan tahun hembusan angin laut telah memurnikan setiap partikel udara di sini menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar udara biasa.

Xiao Ba melangkah masuk ke wilayah paling luar dengan langkah santai, seolah sedang berjalan-jalan sore di tepi pantai.

Di lembah pertama antara tebing satu dan tebing dua, matanya langsung menangkap sesuatu.

Seekor Serigala Laut Abu-Abu, binatang buas tingkat tiga yang hidupnya bergantung pada dua dunia: daratan tebing dan perairan di bawahnya. Tubuhnya lebih besar dari serigala darat biasa, bulunya berwarna abu-abu kebiruan yang bisa berubah warna mengikuti lingkungan sekitarnya sebagai kamuflase alami, dan cakarnya cukup tajam untuk mencengkeram permukaan tebing yang basah sekalipun.

Serigala Laut itu sedang duduk di tepi tebing, menatap ke laut di bawahnya dengan tatapan fokus, menunggu ikan besar yang sesekali melompat ke permukaan air. Ia tidak menyadari kehadiran Xiao Ba yang berdiri beberapa puluh meter di belakangnya. Atau mungkin ia menyadarinya, namun menganggap mangsa yang tidak mengeluarkan aura kultivasi apa pun tidak cukup berbahaya untuk dikhawatirkan.

Kesalahan yang akan ia sesali.

Xiao Ba tidak berteriak. Tidak memberi peringatan. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya, mengalirkan sedikit energi Qi ke kepalan itu, lalu melancarkan pukulan ke arah Serigala Laut dari jarak puluhan meter.

Bukan pukulan penuh. Hanya sekitar dua puluh persen kekuatannya.

BUGH!

Serigala Laut itu terlempar dari tepinya, melayang jauh ke udara sebelum jatuh ke laut di bawah sana dengan percikan air yang cukup besar.

Xiao Ba menatap ke bawah sejenak.

"Terlalu lemah," gumamnya. "Binatang buas tingkat tiga ternyata begitu lemah."

Ia berbalik, berjalan lebih dalam ke kawasan tebing.

Di lembah antara tebing dua dan tebing tiga, ia menemukan lawan yang sedikit lebih menarik: seekor Kepiting Karang Merah, binatang buas tingkat lima yang cangkangnya sekeras batu karang itu sendiri. Ukurannya sebesar gerobak, dengan sepasang capit yang masing-masing bisa menghancurkan batu karang biasa menjadi pasir dalam satu gerakan.

Kepiting itu sedang bergerak perlahan di antara celah-celah tebing mencari mangsa, tubuh merahnya kontras dengan warna abu-abu batu di sekitarnya.

Xiao Ba menatapnya dengan minat yang lebih besar dari sebelumnya.

"Ini lebih menarik."

Kepiting itu menyadari kehadiran Xiao Ba ketika jarak di antara mereka sudah tidak sampai dua puluh meter. Sepasang matanya yang menonjol di atas kepala berputar ke arah pemuda itu, lalu capitnya yang besar terangkat secara defensif.

Xiao Ba mengalirkan energi Qi ke tangan kanannya, kali ini menaikkan hingga lima puluh persen kekuatannya. Energi emas mengalir dari dantian-nya, melewati meridian-meridian yang kini dua kali lebih lebar dari ukuran normal, memenuhi kepalan tangannya dengan cahaya keemasan yang samar namun terasa membakar dari dalam.

Ia berlari maju.

Kepiting Karang Merah menyambut dengan mengangkat capit kanannya, menghantam ke arah Xiao Ba dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya.

Tinju dan capit beradu!

DUAAR!

Ledakan kecil tercipta dari benturan itu. Kepiting Karang Merah terpelanting ke sisi, salah satu capitnya terasa baal dari dalam, namun ia tidak menyerah. Ia memutar tubuhnya, mengangkat capit kiri untuk serangan kedua.

"Bagus sekali. Kamu bisa menahan lima puluh persen kekuatan tinjuku," kata Xiao Ba dengan nada yang terdengar seperti pujian tulus.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia memasuki kawasan tebing ini, Xiao Ba benar-benar tersenyum puas. Bukan senyum sombong. Bukan senyum meremehkan. Melainkan senyum seorang yang baru saja menemukan lawan yang cukup layak untuk membuatnya sedikit serius.

Pertarungan berlanjut dengan beberapa benturan lagi. Kepiting Karang Merah terus mencoba menjangkau tubuh Xiao Ba dengan capitnya yang besar, sementara Xiao Ba terus menguji berbagai tingkatan kekuatan tinjunya, dari lima puluh persen hingga tujuh puluh persen, mencatat setiap reaksi binatang itu dengan seksama.

Setelah pertarungan yang cukup memuaskan, Kepiting Karang Merah akhirnya terpelanting ke sisi tebing dan tidak bisa bangkit lagi.

Xiao Ba menarik tinjunya kembali, mengembuskan napas panjang.

"Huft," Ia menatap telapak tangannya sejenak, merasakan sedikit keletihan yang mulai menggerogoti bagian terdalam energinya. "Sepertinya aku memang harus mulai memperkuat fisik tubuhku. Kalau terus mengandalkan energi Qi saja, saat harus bertarung melawan lebih dari dua lawan sekaligus, energiku pasti akan terkuras habis jauh lebih cepat."

Ia mencatat hal itu dalam benaknya, lalu berbalik melanjutkan perjalanannya masuk lebih dalam ke kawasan tebing.

Langit di atas Tebing Tujuh Roh perlahan berubah dari biru ke jingga, lalu ke ungu gelap. Di antara celah-celah tebing yang sempit, angin laut berhembus dengan kencang membawa aroma garam dan kelembaban yang khas dari kawasan pesisir. Cahaya senja yang tersisa menciptakan bayangan-bayangan panjang di permukaan batu karang, membuat keseluruhan kawasan ini tampak seperti dunia yang berbeda dari kota yang baru saja ia tinggalkan.

Selama sisa sore itu, Xiao Ba menemukan beberapa binatang buas lagi dari berbagai tingkatan. Seekor Elang Tebing Hitam tingkat empat yang menguasai celah angin di antara tebing empat dan tebing lima; sepasang Buaya Karang tingkat empat yang bersarang di gua bawah tebing tiga; dan seekor Cumi-Cumi Raksasa tingkat empat yang sesekali mengangkat tentakelnya ke permukaan dari laut di bawah tebing dua.

Kesemuanya dikalahkan tanpa terlalu banyak menguras energinya, namun tidak ada satu pun yang mampu memberikan tekanan yang setara dengan Kepiting Karang Merah tadi.

"Kawasan ini harus kukenal lebih dalam sebelum arena resmi dibuka," gumam Xiao Ba sambil berjalan di atas permukaan tebing yang sempit, matanya memindai setiap sudut dengan indra spiritualnya. "Satu bulan lagi arena ini dibuka secara resmi. Lebih baik aku sudah mengenal setiap formasi tebingnya sebelum waktu itu tiba."

Ketika malam benar-benar tiba, Xiao Ba menemukan sebuah gua di sisi tebing kelima yang kosong dari penghuni. Ia memasuki gua itu, duduk bersandar pada dindingnya yang dingin dan lembab, lalu mengeluarkan beberapa potong daging binatang buas yang sengaja ia bawa dari rumah.

Dari dalam gua itu, celah kecil di dindingnya menghadap langsung ke laut. Xiao Ba bisa melihat cahaya-cahaya kecil dari kapal-kapal nelayan yang berlayar di kejauhan, bergerak perlahan seperti bintang-bintang yang jatuh ke permukaan air—pemandangan yang tidak akan bisa ia lihat dari mana pun di kota.

Setelah selesai makan, ia mengambil posisi duduk lotus.

Dan sesuatu yang tidak ia sadari segera terjadi di sekitar tubuhnya.

Energi dari luar mulai mengalir masuk. Bukan hanya dari udara biasa, melainkan juga dari laut di bawahnya, dari batu karang di sekelilingnya, dan dari angin yang berhembus masuk melalui celah gua itu. Berbagai warna energi memasuki meridiannya bersamaan tanpa ia minta, seolah kawasan Tebing Tujuh Roh ini memiliki cara tersendiri untuk menyalurkan kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya kepada mereka yang cukup peka untuk menerimanya.

Cokelat tua dari elemen tanah batu karang, biru kehijauan dari elemen air laut, dan abu-abu dari elemen logam yang terkandung dalam batuan tebing—semua mengalir bersamaan, padat dan murni, memasuki tubuhnya tanpa hambatan.

Jika ada kultivator lain yang melihat ini, mereka pasti tidak akan percaya dengan matanya sendiri. Namun Xiao Ba sendiri tidak menyadarinya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju ke dalam, mengikuti aliran Teknik Kaisar Langit yang mengalir seperti sungai besar yang menemukan lautannya.

Semalaman ia berkultivasi tanpa berhenti.

Ketika cahaya fajar pertama mulai menerangi cakrawala di sebelah timur, memantul indah di permukaan Laut Selatan yang berkilau keemasan, Xiao Ba membuka matanya.

"Lumayan," gumamnya sambil memeriksa kondisi dalamnya. "Semalaman naik dari Pengumpulan Qi Tingkat Lima Menengah ke Tingkat Lima Puncak."

Ia berdiri, berjalan ke celah gua yang menghadap ke laut, membiarkan angin pagi menghempas wajahnya.

Di kejauhan, Kota Beira mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Asap tipis mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah yang menyalakan tungku pagi. Kapal-kapal nelayan mulai bergerak keluar dari pelabuhan, layarnya berkembang perlahan diterpa angin yang sama dengan yang kini berhembus ke wajah Xiao Ba.

Kondisinya saat ini: Pengumpulan Qi Tingkat Lima Puncak untuk alam kultivasi, Pengumpulan Qi Tingkat Delapan untuk kekuatan jiwa, dan Tubuh Fana Puncak yang hampir memasuki Tubuh Raja untuk kekuatan fisik. Tiga aspek yang terus meningkat, masing-masing dengan kecepatannya sendiri, namun semua bergerak ke atas.

"Saatnya berburu binatang buas tingkat enam," gumamnya sambil melangkah keluar dari gua, jubah putihnya berkibar diterpa angin pagi yang membawa aroma laut dan fajar.

Di kedalaman Tebing Tujuh Roh yang menunggu di depannya, sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat dari semua yang ia hadapi kemarin sedang bergerak di antara celah-celah batu raksasa itu, tidak mengetahui bahwa hari ini, pemangsa dan mangsa mungkin akan bertukar posisi.

Sementara itu di kediman Keluarga Xiao di atas Bukit Karang, Xiao Sun berdiri di teras yang menghadap ke arah Tebing Tujuh Roh, menatap deretan tebing yang terlihat siluetnya di kejauhan dengan cahaya fajar di belakangnya.

"Cucuku ada di sana," gumamnya pelan.

Di sebelahnya, Lu Ming berdiri dengan ekspresi yang campur aduk.

"Patriark, Tuan Muda sudah pergi sejak kemarin sore dan belum kembali."

"Biarkan dia." Xiao Sun menggeleng pelan, sudut bibirnya melengkung sedikit. "Anak itu tidak membutuhkan perlindungan kita lagi, Lu Ming. Yang ia butuhkan hanyalah waktu."

Lu Ming menatap Patriark dengan ekspresi tidak mengerti. "T-tapi patriak..?," Nada pelan sedikit cemas.

Xiao Sun hanya terdiam dan masih menatap ke arah tebing yang kini semakin jelas terlihat seiring matahari yang terus naik di cakrawala timur.

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!