Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamp Pengungsi
Pagi datang tanpa matahari.
Langit tertutup asap hitam dari medan perang Bern yang masih terbakar di kejauhan.
Gerald membuka matanya perlahan.
Tangannya refleks mencari pedang di samping tubuhnya.
Kebiasaan lama.
Tidur terlalu tenang di medan perang sama saja bunuh diri.
Di sekitar api kecil, anggota kelompok lain masih tertidur berantakan.
Boris tidur sambil meluk kantong roti.
Elias tidur sambil tetap memegang tombak.
Dan Varn…
Pria tua itu ternyata tidur dengan mata terbuka sedikit.
“…Veteran,” gumam Gerald kecil.
Orang yang terlalu lama hidup di perang memang susah tidur tenang.
Gerald berdiri lalu melihat sekitar.
Hutan masih sunyi.
Tidak ada jejak orc.
Namun itu justru membuatnya tidak nyaman.
Monster tidak mungkin berhenti berburu.
Yang berarti…
Mereka sedang mencari sesuatu yang lebih besar.
“Pagi…”
Elias bangun sambil mengucek mata.
Lalu langsung melompat panik.
“KITA MASIH HIDUP?!”
“…Selamat pagi juga.”
Boris ikut bangun.
“Ada sarapan?”
“KAU ITU MANUSIA APA LUBANG HITAM?!”
Gerald mengabaikan mereka.
“Kita bergerak.”
“Hah? Sekarang?” Elias mengeluh.
“Kalau mau dimakan orc, tidur lagi saja.”
Elias langsung berdiri.
“Tidak jadi.”
Kelompok kecil itu mulai berjalan keluar dari hutan.
Mereka bergerak pelan karena sebagian tentara masih terluka.
Dan semakin jauh mereka berjalan…
Semakin jelas kehancuran dunia di depan mata mereka.
Desa terbakar.
Mayat manusia di pinggir jalan.
Kereta perang hancur.
Bekas pijakan monster di mana-mana.
Invasi orc jauh lebih besar dari dugaan Gerald.
“Gerald…” gumam Varn pelan.
“Mereka bukan menyerang satu kerajaan.”
Gerald mengangguk kecil.
“Mereka menyerang manusia.”
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Kalau monster-monster itu terus bergerak seperti ini…
Maka seluruh benua akan berubah jadi kuburan.
Tak lama kemudian—
“Asap.”
Gerald berhenti berjalan.
Di kejauhan terlihat asap kecil naik dari balik bukit.
Bukan asap kebakaran.
Asap masakan.
Masih ada manusia.
“Pelan-pelan,” ujar Gerald.
Mereka mendekati area itu dengan hati-hati.
Dan tak lama kemudian…
Sebuah kamp kecil terlihat di balik bukit.
Tenda seadanya. Orang-orang terluka. Anak-anak menangis.
Pengungsi perang.
Wajah Elias sedikit lega.
“Masih ada yang selamat…”
Namun Gerald justru menyipitkan mata.
Terlalu sepi.
Tidak ada penjaga. Tidak ada patroli.
Bahaya.
“Berhenti,” katanya pelan.
“Hah?”
Namun terlambat.
“WOI!!”
Puluhan pria bersenjata tiba-tiba keluar dari balik tenda sambil mengarahkan tombak dan busur.
“Jangan bergerak!”
“Kalian siapa?!”
Elias langsung panik.
“Kita bukan musuh!”
“Semua orang bilang begitu!”
Salah satu pria maju ke depan.
Tubuhnya tinggi besar dengan bekas luka panjang di wajah.
Tatapannya kasar.
Dan pedang besar tergantung di pinggangnya.
Bandit.
Gerald langsung tahu dari cara berdirinya.
Pria itu melihat kelompok Gerald dari atas ke bawah.
Lalu tertawa kecil.
“Prajurit kalah perang ya?”
Tidak ada yang menjawab.
Bandit itu menyeringai.
“Kalau mau masuk kamp…”
Ia menunjuk kantong perlengkapan mereka.
“…taruh semua senjata.”
Wajah Elias langsung berubah.
“Hah?!”
“Kalian dengar aku.”
Beberapa bandit lain mulai tertawa.
Gerald melihat sekeliling cepat.
Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang.
Dan sebagian besar pengungsi terlihat takut pada mereka.
Jadi bukan penjaga.
Mereka menguasai kamp ini dengan kekerasan.
Bandit bertubuh besar itu kembali bicara:
“Kalau tidak mau…”
Senyumnya melebar.
“…kami ambil paksa.”
Suasana langsung tegang.
Boris perlahan maju sambil masih menggigit roti.
Lalu bertanya polos:
“Kalau aku pukul dia, kita masih boleh masuk?”
Elias memegang wajahnya putus asa.
“Kenapa tiap masalah solusi kalian cuma kekerasan…”
Gerald perlahan memegang gagang pedangnya.
Dan matanya mulai berubah dingin.