"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telfonan dengan Azel
“Kamu kenapa, Sayang?” Abidzar bertanya lembut begitu duduk di samping istrinya di ruang keluarga. Malam itu Azzura tampak sibuk memperhatikan layar ponselnya sambil sesekali mengernyit kecil membaca berita di media sosial.
“Ini loh, Mas...” Azzura memperlihatkan layar ponselnya. “Aku lagi lihat berita anak zaman sekarang yang pacaran.”
“Lalu kenapa?” tanya Abidzar santai.
“Ya gak kenapa-kenapa sih...” Azzura menghela napas pelan. “Aku cuma kangen sama Aryan dan Arshaf. Kita jauh dari mereka, Mas. Jadi suka kepikiran sendiri.”
Abidzar menoleh penuh perhatian.
“Aku takut mereka pacaran diem-diem,” lanjut Azzura lirih. "Takut kebawa pergaulan bebas atau perkembangan zaman yang makin jauh dari Islam.”
Mendengar itu, Abidzar tersenyum lembut. Ia menarik tubuh istrinya agar duduk lebih dekat lalu memeluknya hangat. Sesekali laki-laki itu mengecup pucuk kepala Azzura penuh kasih.
“Insya Allah enggak, Sayang,” ucapnya tenang.
Azzura mendongak pelan menatap suaminya.
"Kalau anak sudah dibekali ilmu agama dari kecil, ketika dewasa, dia pasti akan bertikir berulang kali saat ada kesempatan buat bermaksiat. Mungkin sempat terpengaruh, tapi gak akan sampai menikmati karena kesadarannya akan dosa jauh lebih besar daripada keinginannya untuk melakukan hal yang dilarang agama. Itulah pentingnya kita sebagai orang tua harus cerewet perihal agama untuk anak-anak kita. Karena apa? Karena kalau anak sudah dibekali ilmu agama yang benar dari rumah, Insya Allah saat dia lagi di luar, dia bisa kasih rem buat nafsunya. Paham maksud mas kan, sayang?"
Azzura tersenyum dan mengangguk. Sungguh tenang ketika mendengar suaminya berucap, "Selain kita yang harus cerewet soal didikan agama untuk anak-anak, kita sebagai orang tua juga harus menjadi contoh, kan, Mas?"
"Iya dong, kalau mau anak kita baik, kitanya harus baik dulu. Kalau mau anaknya soleh atau solehah, ya kitanya dulu yang soleh biar sejalan dan gampang buat ngelurusinnya."
"Iya, Mas. Eh, tapi ada loh, Mas. Aku lihat di sosial media, anak ustad pacaran itu gimana?"
"Rasulullah SAW bersabda, Allah telah menakdirkan anak Adam sebagian dari zina yang akan dialaminya, Bukan mustahil. zina kedua mata adalah melihat, zina mulut adalah berkata, zina hati adalah berharap dan berkeinginan. Sedangkan alat kelamin itu membuktikannya atau mendustakannya. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud. Kamu paham kan maksudnya apa?"
"Hmm, semua manusia pasti bakal terjerumus ke dalam perbuatan zina?"
"Jadi gini, zina itu terbagi dua. Ada zina hakiki dan zina majazi. Zina hakiki adalah zina yang berkaitan dengan alat kelamin. Sedangkan zina majazi adalah jalan menuju zina hakiki. Contohnya zina mata, hati, tangan, mulut. Intinya zina yang enggak sampai ke tahap berhubungan badan, tapi hampir mendekati. Nah, maksud dari hadis yang Mas sebutin adalah, semua orang memiliki potensi untuk melakukan zina, entah itu zina hakiki ataupun zina majazi, kecuali orang-orang yang memang Allah jaga dari kedua hal tersebut. Seperti para nabi dan rasul dan orang-orang soleh seperti Maryam binti Imran dan yang serupa dengan itu."
Abidzar melanjutkan. "Terus kenapa alat kelamin jadi penentunya? Karena dari situlah permulaan dan tempat terjadinya zina yang sesungguhnya. Pembuktian maksudnya eksekusi, dan mendustakan itu artinya mampu menahan diri perbuatan zina hakiki. Makanya jangan heran kalau kamu temui orang-orang yang paham agama tapi pacaran, walaupun mereka gak sampai melakukan zina hakiki, karena setan gak akan berhenti buat menjerumuskan manusia sampai akhir kiamat nanti. Apalagi kalau masih muda-muda, ABG di mana rasa penasaran akan sesuatu itu besar banget. Itulah kenapa pentingnya para Orang tua untuk menanamkan iman di hati anak-anak mereka dari sedini mungkin, seperti yang Mas bilang tadi, supaya kalau datang kesempatan untuk berbuat maksiat, mereka bisa ngerem."
Seperti biasa, Azzura kembali terpukau mendengar penjelasan suaminya yang tenang dan mudah dipahami.
“Pintar banget sih, Mas,” pujinya tulus.
Abidzar tertawa kecil. “Ya jadi pemimpin harus pintar dong, Sayang.”
“Hahaha, iya...” Azzura tersenyum manis. “Makin sayang deh.”
Dengan gemas, Azzura berniat mengecup pipi suaminya. Namun tepat saat bibirnya hampir menyentuh kulit pipi Abidzar, laki-laki itu tiba-tiba menoleh.
Cup!
Ciuman itu malah mendarat tepat di bibir.
Mata Azzura langsung membulat kaget. Sementara Abidzar justru tersenyum penuh arti sambil menahan wajah istrinya beberapa detik lebih lama.
“Mas...” protes Azzura malu-malu.
Abidzar hanya tertawa pelan sebelum menarik istrinya ikut rebah di sofa panjang.
Namun belum sempat suasana berubah lebih jauh—
“Uma! Abi!” Suara nyaring anak perempuan mereka tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Azzura langsung refleks menjauh, sementara Abidzar buru-buru duduk tegak dengan wajah setenang mungkin.
Di sana sudah berdiri seorang gadis remaja berusia lima belas tahun dengan kedua tangan bertolak pinggang dan tatapan penuh curiga.
“Uma sama Abi ngapain?” tanyanya menyipitkan mata.
Abidzar berdeham kecil lalu langsung memasang wajah polos. “Abi gak ngapa-ngapain.” Ia merapikan bajunya cepat. “Abi cuma pijetin Uma aja kok.”
Azel menatap ayahnya lama, jelas tidak langsung percaya. “Beneran, Uma?”
Azzura yang sedari tadi menahan malu langsung mengangguk cepat. “Iya, Sayang.”
“Oh...” Azel tampak berpikir beberapa detik sebelum akhirnya santai lagi. “Oke deh.”
Abidzar mengembuskan napas lega diam-diam.
Anaknya ini memang datang selalu di waktu yang tidak tepat.
“Uma...” Azel langsung duduk di samping ibunya sambil menyender manja. “Pinjem HP dong. Mau telepon Kak Arshaf.”
Azzura mengangkat alisnya geli. “Untuk apa?”
“Kangen aja.”
“Beneran kangen?”
“Iya dong!”
Azzura terkekeh kecil. “Kok sama Kak Arshaf doang? Kak Aryan enggak?”
Azel langsung memonyongkan bibir. "Issshh... kalau Kak Aryan mah jahil.” Gadis itu menggeleng cepat. “Kak Arshaf mah enggak.”
Abidzar langsung tertawa mendengar itu. “Kasian amat abang kamu.”
“Lagian Kak Aryan suka ngeledekin Azel terus,” gerutu Azel kesal. “Kemarin aja dia bilang Azel pendek.”
“Emang pendek,” sahut Abidzar santai.
“ABIII!”
Azzura langsung tertawa melihat wajah putrinya yang manyun.
“Yaudah nih.” Azzura menyerahkan ponselnya. “Telepon sana.”
“Makasih Uma!”
Azel langsung mengambil ponsel itu dengan wajah berbinar lalu berlari kecil menuju kamar sambil bersenandung kecil.
Baru saja gadis itu menghilang dari pandangan, Abidzar kembali bersandar santai sambil melirik istrinya.
“Untung anak kita polos.”
Azzura langsung cubit pelan lengan suaminya. “Mas ih! Malu tau kalau ketahuan anak.”
Abidzar malah terkekeh santai. “Kan suami istri halal.”
***
Di dalam kamar bernuansa putih dan biru muda miliknya, Azel langsung menjatuhkan tubuh ke atas kasur sambil memeluk bantal. Ponsel milik Azzura sudah berada di tangannya sejak tadi.
Tanpa menunggu lama, ia segera mencari kontak Arshaf lalu menekan tombol panggil.
Tut...
Tut...
Baru dua kali dering, panggilan itu langsung diangkat.
“Assalamu’alaikum.” Suara berat dan tenang milik Arshaf terdengar dari seberang sana.
Azel langsung nyengir lebar. “Wa’alaikumussalam, Kak Arshafku tercintaaaa!”
Di seberang sana, Arshaf spontan tertawa kecil. “Ya Allah... ada apa ini tumben banget manis?”
“Kangen.”
“Bohong.”
“Ih beneran tau!” Azel berguling tengkurap di atas kasur. “Kakak lagi ngapain?”
“Baru pulang ngajar.”
“Ngajar terus...” gerutu Azel. “Kakak kapan pulangnya ke Bandung?”
“Belum tau.” Arshaf terdengar santai. “Kenapa? Kangen banget?”
“Iya lah.” Azel mendengus kecil. “Di rumah gak ada yang baik selain Kak Arshaf.”
“Lah emang Abi sama Uma jahat?”
“Enggak sih... tapi Kak Aryan suka ngeledekin Azel terus.”
Terdengar suara tawa Arshaf lagi.
“Emang dia ngomong apa?”
“Dia bilang Azel pendek.”
“Ya gak salah juga.”
“KAK ARSHAF!”
Arshaf malah makin tertawa puas mendengar adiknya mulai sewot.
“Azel tuh udah tinggi tau sekarang!”
“Tinggi dari mana?”
“Dari hati orang-orang yang sayang Azel.”
“Halah...” Arshaf geleng-geleng sambil ketawa kecil. “Belajar gombal dari siapa?”
“Dari TikTok.”
“Pantes.”
Azel terkekeh sendiri lalu kembali memeluk bantal. “Oh iya, Kak.”
“Hm?”
“Kalau Azel nikah nanti...” suara gadis itu tiba-tiba serius. “Kak Arshaf jangan nangis ya.”
Arshaf langsung terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa.
“Lah? Tiba-tiba banget.”
“Iya kan nanti Azel dibawa orang.”
“Siapa juga yang mau sama bocah random kayak kamu?”
“BANYAK!”
“Contohnya?”
Azel langsung berpikir keras. “Eee... belum ada sih.”
“Nah.”
“Tapi nanti pasti ada!” Azel ngotot. “Soalnya Uma bilang Azel cantik.”
“Iya cantik.” Arshaf mengangguk membenarkan. “Cantik tapi berisik.”
“Ah Kakak mah!”
Tawa Arshaf kembali terdengar. Laki-laki itu memang selalu sulit menahan tawa kalau sudah mendengar tingkah adiknya yang random dan manja.
Berbeda dengan Aryan yang sering meledek Azel sampai kesal, Arshaf justru paling sabar menghadapi ocehan adiknya itu.
Makanya Azel paling suka menelepon Arshaf saat sedang bosan.
“Kak...” panggil Azel lagi.
“Iya?”
“Azel tadi mergokin Abi sama Uma mesra.”
“...Hah?”
“Iya.” Azel menahan tawa. “Kayaknya tadi mau cipokan.”
“ASTAGHFIRULLAH!” Arshaf langsung ngakak di sana. “Ngapain sih kamu ganggu orang?”
“Kan Azel gak tau!”
“Terus?”
“Abi langsung duduk tegak kayak murid ketahuan nyontek.”
Arshaf tertawa makin keras sampai suaranya sedikit menjauh dari ponsel.
“Kasian Abi.”
“Abi malah bilang lagi mijetin Uma.” Azel ikut ngakak. “Padahal tadi mukanya merah.”
“Udah jangan bongkar aib orang tua sendiri.”
“Tapi lucu banget tau!”
“Iya iya.” Arshaf masih tertawa kecil. “Terus sekarang ngapain?”
“Lagi rebahan.” Azel menghela napas dramatis. “Mikirin masa depan.”
“Waduh berat banget.”
“Iya.” Azel mengangguk serius sendiri. “Kalau Kak Arshaf nikah nanti... jangan lupain Azel juga.”
Kali ini suara Arshaf melunak. “Insya Allah enggak.”
“Janji?”
“Janji.”
Azel langsung tersenyum puas. “Nah gitu dong.” Ia kembali berguling di kasur. “Pokoknya Kak Arshaf paling baik sedunia.”
“Terus Kak Aryan?”
“Hm...” Azel berpikir lama. “Masih mending sih daripada Abi.”
“Heh!” suara Abidzar tiba-tiba terdengar dari luar kamar. “Abi denger ya!”
Azel langsung melotot panik lalu buru-buru mengecilkan suara. “Udah dulu kak bye assalamu’alaikum!”
Telepon langsung dimatikan sepihak.
Sementara Arshaf di apartemen hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa geli membayangkan tingkah absurd adik bungsunya itu.
Arshaf masih tertawa kecil bahkan setelah sambungan telepon terputus. Ia menggeleng-geleng kepala sambil memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Tu anak makin gede makin random,” gumamnya sendiri.
Langkahnya kemudian berlanjut menyusuri koridor apartemen menuju unit tempat ia tinggal bersama Aryan dan Kafa. Malam sudah cukup larut. Beberapa penghuni apartemen tampak berlalu-lalang membawa kantong belanja atau sekadar berjalan santai.
Tak lama, Arshaf tiba di depan pintu unit.
Ceklek.
Begitu pintu dibuka, aroma minyak kayu putih langsung menyeruak.
Arshaf mengernyit bingung.
Di ruang tamu, Aryan duduk sambil menggosok pipinya berkali-kali menggunakan handuk kecil dengan wajah jijik setengah mati. Sementara dari arah kamar mandi terdengar suara Kafa menyanyi keras tanpa dosa.
“Aku bukan jodohnyaaa~”
Arshaf langsung menatap heran. “...Gue masuk di waktu yang salah apa gimana?”
Aryan menoleh cepat.
“Shaf.” Wajahnya terlihat penuh penderitaan. “Gue habis dilecehin.”
“Hah?”
Brak!
Pintu kamar mandi terbuka mendadak.
Kafa keluar sambil ngakak puas dengan rambut masih setengah basah. “Lebay banget anjir!”
Aryan langsung menunjuk Kafa dramatis.. “Dia nyium pipi gue!”
Arshaf terdiam dua detik.
Lalu—
BUK!
Ia malah memukul pelan pundak Kafa sambil tertawa ngakak.
“Ya Allah, Kaf!” Arshaf sampai membungkuk menahan tawa. “Ngapain lo cium dia?!”
“Refleks!” bela Kafa sambil masih ketawa. “Dia tadi so sweet banget maafin gue.”
“Najis banget sumpah,” gerutu Aryan sambil kembali mengusap pipinya kasar. “Gue udah lima kali cuci muka masih kerasa.”
“Dasar drama.” Kafa duduk santai di sofa. “Padahal muka lo ganteng, Yan.”
“DIEM LO!”