NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Bayangan Yang Belum Tersingkir

NB : ini masih seputar Adiwinata Corporation dengan Ravian sebagai CEO baru ya guuyysss?... Saya belum bisa menampilkan Kaelric dan Veliora.

selamat membaca.....

___________>>>>>>>>>>>>

Kekuasaan memang sudah berpindah tangan, tapi tidak semua orang bisa menerima perubahan itu. Di tempat yang jauh dari gedung Adiwinata Corporation, seseorang masih duduk dalam diam.

Bismantaka, tidak terlihat marah dan juga tidak panik. Ia sedang berpikir.

“Semua belum selesai, masih ada celah yang masih bisa kulewati.” gumamnya pelan.

Karena baginya kekalahan hari itu adalah awal dari sebuah permainan yang lain yang lebih kejam menurut Bismantaka.

Dan Bismantaka tidak menyadari, bahwa Kaelric sudah menyiapkan segalanya sebelum pertempuran dimulai.

Sore itu, matahari mengeluarkan semburat warna jingga. Tampak Bismantaka duduk dengan mengenakan baju santainya. Di sebuah cafe yang agak terbuka di bilangan Jakarta.

Dia tengah mengadakan perjanjian dengan Eryndor Hale, seorang aristokrat keturunan bangsawan Inggris. Dengan dialek Anglo-Saxon nya, dia datang menemui Bismantaka.

"Selamat datang, Tuan Eryndor Hale. Terima kasih, sudah menyempatkan diri untuk menemui saya."

"Sama-sama, Tuan Bismantaka. Saya juga merasa senang dan ingin segera bertemu dengan anda. Semoga kita bisa menjadi partner yang baik."

Kemudian mereka berdua duduk berhadapan, menikmati semilir angin yang berhembus sepoi di sekitar cafe tersebut.

Sengaja Bismantaka membooking cafe itu. Karena untuk kepentingan bisnis bersama Eryndor Hale.

Bismantaka tidak menyadari, cafe tersebut ada CCTV dan beberapa orang disana ada anak buah Kaelric. Kaelric memang diam-diam memata-matai kehidupan Bismantaka.

Dia sengaja belum menjatuhkan bom padanya. Dia biarkan Bismantaka bebas berkeliaran.

Setelah selesai makan malam, baru Bismantaka mengutarakan niatnya pada Eryndor Hale. Dia menyandarkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Maksud saya mengundang anda, karena saya melihat peluang kerjasama yang bagus dengan anda.Tentunya, dengan kerjasama yang menguntungkan dua belah pihak. Bagaimana menurut anda, Tuan Eryndor?"

Tatapannya tajam, penuh perhitungan.

“Dan saya yakin, Anda juga melihat hal yang sama, Tuan Eryndor.”

Eryndor Hale tidak langsung menjawab.

Ia hanya memutar gelas di tangannya, perlahan.

"Menarik" Ucap Eryndor Hale singkat sambil memegang dagunya.

"Baiklah, menurut anda kerjasama seperti apa yang layak untuk saya pertimbangkan, Tuan Bismantaka?"

Bismantaka tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

"Adiwinata Corporation, sedang mengalami perubahan besar. Dan, anda tahu, tidak semua perubahan akan membawa stabilitas yang baik."

Ia menghela napas sebentar, memberi ruang sedikit agar Eryndor Hale dapat menangkap maksudnya.

"Dan satu hal, seharusnya yang menjadi CEO itu adalah orang yang terlebih dahulu duduk disana."

Tatapan Eryndor Hale sedikit terangkat.

"Begitu? "

Nada suaranya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seorang yang ambisius seperti Bismantaka.

"Hmm menarik sekali, Tuan Bismantaka?. Oh, iya. Bagaimana dengan Tuan Adiwinata?. Sehingga digantikan oleh orang lain?. Bukankah beliau masih tampak sehat?. Bahkan, masih sanggup untuk memimpin Adiwinata Corporation. Dan menurut saya, kepemimpinan beliau sungguh membuat saya menjadi kagum. "

Hening sejenak. Bukan karena tidak ada jawaban, tapi karena pertanyaan itu terlalu tepat untuk diungkapkan.

Eryndor tidak benar-benar menunggu jawaban.

Karena baginya yang penting bukan apa yang dikatakan Bismantaka, tapi apa yang ia sembunyikan darinya di balik kata "kerjasama".

" Bagaimana Tuan Eryndor Hale?. Apakah anda akan menerima kerjasama kita ini?"

Eryndor Hale tidak langsung menjawab tawaran kerjasama dari Bismantaka.

Ia hanya menatap Bismantaka dengan tenang

seolah sedang menilai sesuatu bukan sekadar mendengarkan.

Eryndor Hale terdiam beberapa saat.

“Saya bisa membantu Anda,” ucapnya akhirnya.

“Tapi saya tidak bisa bekerja tanpa arah yang jelas.”

Bismantaka tersenyum tipis. Ia merasa sudah menemukan sekutu yang tepat. Bahkan untuk menghancurkan tahta Kaelric Vorn pun dia sanggup melakukannya jika punya sekutu seperti Eryndor Hale.

Tanpa sadar, pria di hadapannya kini, sudah terlebih dahulu berada di sisi lain sebuah permainan yang dia ciptakan sendiri.

Bismantaka sudah salah dalam mengambil pion. Dia tidak mengetahui, Eryndor Hale bukan termasuk pria yang mudah dikendalikan oleh siapa pun.

Tapi Eryndor Hale mengetahui bahwa dalam permainan tertentu ada satu nama yang tidak bisa ia abaikan. Yaitu Kaelric Vorn.

Dia sangat mengenal Kaelric Vorn. Bukan karena kekayaan semata, bukan juga karena kekuasaan. Tapi karena cara Kaelric Vorn

mengendalikan semuanya tanpa terlihat oleh satu orang pun.

Untuk meyakinkan pemikiran Eryndor Hale, Bismantaka membujuk dan memberikan janji yang manis agar tertarik mengikuti rencananya.

"Saya saat ini tidak berbicara tentang perebutan yang kasar, Tuan Eryndor." lanjut Bismantaka pelan.

“Saya berbicara tentang pengambilalihan yang rapi.”

Tatapannya tidak goyah.

“Dengan dukungan Anda tentunya, saham dapat bergerak ke arah yang lebih tepat.”

“Dan tekanan kecil di beberapa titik, akan cukup untuk menggoyahkan kepemimpinan saat ini.”

Eryndor Hale menyandarkan tubuhnya, memperhatikan tanpa menyela.

“Lalu,” ujarnya tenang,

apa yang Anda harapkan dari saya selain dana?”

Bismantaka tersenyum tipis.

“Pengaruh Anda dan juga koneksi Anda.”

“Serta kemampuan Anda, untuk memastikan bahwa langkah ini dapat berjalan tanpa hambatan.”

Hening sejenak. Eryndor mengetuk ringan gelasnya.

“Dan setelah itu?”

“Setelah semuanya selesai,” jawab Bismantaka,

“Anda tidak akan menjadi pihak luar lagi di Adiwinata Corporation.”

Tatapan Eryndor sedikit berubah, bukan karena tertarik. Tapi karena sudah mendapatkan jawaban yang ia butuhkan. Dan itu sudah cukup baginya.

Eryndor Hale terdiam sejenak. Dan tanpa disadari Bismantaka, Eryndor Hale mengirimkan pesan singkat pada Kaelric Vorn.

Eryndor Hale : Bro, target sudah masuk perangkap. Tinggal kita siapkan permainan yang sudah kamu rencanakan.

Kaelric Vorn : Oke. Kita nanti bicarakan ini. Aku sekarang masih sibuk.

Eryndor Hale : Baiklah!. Aku tunggu saja konfirmasi selanjutnya.

Kaelric Vorn : Oke!! (Emoticon jempol)

Pada menit berikutnya, Eryndor Hale memperbaiki sikap duduknya. Dia bersikap seolah-olah menyerah rencana kerjasama.

"Baiklah, Tuan Bismantaka. Saya setuju dengan kerjasama ini. Dan saya harap, kerjasama ini akan terus berlanjut hingga batas waktu yang telah kita sepakati. "

Bismantaka mengangguk pelan.

Lalu mereka berdua berdiri. Sambil berjabatan tangan. Tanda kesepakatan antara mereka berdua telah disetujui.

Kemudian, Bismantaka meminta ijin keluar terlebih dahulu.

Eryndor Hale kembali duduk di kursi. Dia berpikir. Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Tuan Adiwinata?. Terakhir, aku melihat beliau di London Bridge, beberapa waktu yang lalu.

"Tapi, kenapa sekarang jadi begini? "

"Aku sebenarnya, tidak yakin pada Bismantaka. Aku tahu, orang-orang seperti dia pasti haus akan kekuasaan."

Jauh sebelum pertemuan dengan Eryndor Hale, Ravian sudah menceritakan perihal Bismantaka kepada Kaelric. Dan seperti dugaannya semula, Bismantaka akan bergerak mencari pendukung bahkan dana untuk mewujudkan harapannya.

Bak pepatah, seseorang yang menggali lubang untuk orang lain, namun dia sendiri yang terjatuh ke lubang yang dibuatnya.

Hidup ini memang serba kemungkinan. Tiba-tiba, suara dering handphone berbunyi dari sakunya.

"Oh, sesuai rencana bro. Seperti pesanku tadi. Iya, besok kita bertemu di tempat kita biasanya."

Kemudian, dia menutup handphone. Dan meninggalkan cafe tempat dia dan Bismantaka bertemu.

Malam pun turun. Menandakan waktu telah berganti. Jam istirahat telah berlaku, bagi tubuh yang lelah seharian dalam aktivitasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!