NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Duniaku serasa berhenti berputar tepat saat jemari Charles bersentuhan dengan kulit tanganku. Pulpen mewah itu terasa berat, seberat rahasia yang kini menghimpit dadaku di tengah ratusan pasang mata yang menatap penuh selidik. Aku bisa merasakan panas menjalar ke pipiku, dan untuk sesaat, aku lupa cara bernapas dengan benar.

Begitu Charles berbalik dan melangkah pergi dengan wibawa yang tak tergoyahkan, aula yang tadinya senyap mendadak pecah seperti sarang lebah yang diganggu.

"Din! Demi apa?! CEO Utama Group ngomong sama lo?!" Siska mengguncang bahuku dengan histeris, wajahnya memerah karena antusias. "Dia beneran nyamperin lo cuma buat balikin pulpen? Lo sadar nggak sih tadi dia ngeliatin lo kayak gimana?"

"Gue... gue nggak tahu, Sis. Mungkin dia cuma nggak suka liat barang berantakan di lantai," jawabku terbata-bata, berusaha keras menormalkan nada suaraku yang bergetar.

Aku segera memasukkan pulpen itu ke dalam saku seragam, menyembunyikannya seolah itu adalah barang bukti kejahatan. Di dalam sana, jemariku meraba ukiran halus pada badan pulpen tersebut. Charles berbohong. Dia berbohong di depan semua orang demi sebuah interaksi yang hanya berlangsung lima detik. Pria yang selalu menuntutku untuk "profesional" dan "rahasia" itu baru saja melakukan hal paling nekat yang bisa menghancurkan sandiwara kami.

"Tapi Din, pulpen itu... kayaknya mahal banget. Dan kok bisa pas banget sama gantungan gelang lo?" Maya ikut menimpung, matanya menyipit penuh kecurigaan.

Jantungku mencelos. "Cuma kebetulan, May. Banyak kok model kayak gini di toko buku."

Aku bergegas keluar dari aula dengan alasan ingin ke toilet, mengabaikan serentetan pertanyaan Siska yang belum usai. Aku butuh udara. Aku butuh ruang di mana tidak ada orang yang mengenalku sebagai "Andini si siswi beruntung" atau "Andini istri rahasia".

Aku bersandar di dinding koridor belakang sekolah yang sepi. Napas duniaku terasa sesak. Aku teringat tatapan Charles tadi. Di balik wajah datarnya yang sedingin es, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ada rasa protektif yang begitu kuat, namun juga ada kesepian yang mendalam.

*Kenapa kau melakukan ini, Charles?* batinku. *Kau bilang pernikahan ini hanya kontrak. Kau bilang jangan pernah mempermalukanmu. Tapi barusan... kau sendiri yang melompati garis itu.*

Aku mengeluarkan ponsel dari saku. Tanganku masih sedikit gemetar saat mengetik pesan.

> **To: Charles**

> *Kenapa kamu ke sini? Kamu hampir membuat semua orang curiga. Itu berbahaya, Charles.*

>

Aku menunggu. Satu menit, dua menit. Biasanya dia butuh waktu berjam-jam untuk membalas jika sedang sibuk dengan urusan kantor. Namun, hanya dalam hitungan detik, ponselku bergetar.

> **From: Charles**

> *Aku hanya memastikan investasiku dalam keadaan baik. Fokuslah pada pelajaranmu. Jangan banyak pikiran.*

>

"Investasi," bisikku pelan, bibirku melengkung membentuk senyum pahit. Dia selalu punya istilah bisnis untuk menutupi perasaannya. Tapi pulpen di sakuku bicara lain. Itu bukan barang investasi; itu adalah pesan bahwa dia memperhatikanku, bahkan di tempat yang paling tidak mungkin sekalipun.

Sepanjang sisa jam pelajaran, aku tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali guru bicara, yang kudengar hanyalah suara berat Charles di podium tadi. Setiap kali aku melihat ke arah jendela, aku membayangkan mobil hitamnya masih terparkir di sana, menungguku.

Saat bel pulang berbunyi, aku tidak menunggu Siska. Aku langsung berlari menuju gerbang belakang. Aku tidak peduli lagi jika harus berbohong—aku harus bertemu dengannya. Aku harus bertanya apa maksud dari semua ini.

Namun, di gerbang belakang, bukan sedan hitam Charles yang menungguku. Melainkan Pak Gunawan dengan mobil operasional kantor yang lebih sederhana.

"Pak Charles ada rapat mendadak setelah dari sini, Non Andini," ucap Pak Gunawan sambil membukakan pintu. "Beliau meminta saya mengantar Anda pulang dan memastikan Anda makan siang sebelum mengerjakan PR."

Aku masuk ke dalam mobil dengan perasaan kecewa yang aneh. Aku seharusnya lega dia tidak menjemputku dengan mobil mewahnya lagi, tapi ada bagian dari hatiku yang merasa kosong.

Aku menatap gelang perak di pergelangan tanganku. Charles Utama, pria dengan masa lalu kelam yang baru saja ia ceritakan padaku di mobil semalam, kini mulai terasa nyata. Dia bukan lagi sekadar nama besar di berita bisnis atau pria kaku yang menungguku di apartemen. Dia adalah seseorang yang mencoba menunjukkan kepedulian dengan cara yang paling kikuk dan dingin yang pernah ada.

Aku merogoh saku, mengeluarkan pulpen pemberiannya. Aku membukanya dan mulai menulis di halaman belakang buku catatanku.

Hari ini, sang Gunung Es datang ke sekolahku. Dia membawa dinginnya, tapi entah kenapa, aku merasa sedikit lebih hangat.

Aku menutup buku itu rapat-rapat. Rahasia di balik seragam ini semakin berat untuk dipikul, bukan karena aku takut ketahuan, tapi karena aku mulai takut jika suatu saat nanti, aku tidak ingin rahasia ini berakhir. Aku takut jika aku mulai menikmati peran sebagai bagian dari dunianya yang gelap dan sepi itu.

Apakah Charles merasakan hal yang sama? Ataukah aku benar-benar hanya sebuah 'investasi' baginya?

Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta. Di luar, langit mulai berubah mendung, sama seperti perasaanku yang tak menentu. Satu hal yang pasti, mulai besok, SMA Nusantara tidak akan pernah terasa sama lagi bagiku. Karena sekarang, di setiap sudut koridor, aku akan selalu melihat bayangan pria itu—pria yang secara perlahan mulai mencuri ruang di hatiku tanpa permisi.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!