Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Sapi Afkir
Bau kotoran sapi dan riuh teriakan makelar hewan menyambutnya di bawah terik matahari Dampit.
Saskia berdiri di gerbang masuk pasar hewan terbesar di Malang Selatan itu, merasakan debu yang beterbangan menempel di kulitnya yang berkeringat. Truk-truk pengangkut ternak hilir mudik di jalan tanah. Laki-laki dengan kemeja lusuh dan peci hitam berteriak-teriak menawarkan sapi dengan janji-janji berlebihan. Suara lenguhan sapi bercampur dengan ringkikan kuda dan embikan kambing, menciptakan simfoni kacau yang justru membuat jantung Saskia berdetak lebih tenang.
Ini tempatnya.
Ini dunianya.
Dulu, sebelum mati, ia sering mengunjungi pasar hewan seperti ini. Bukan sebagai pembeli, tapi sebagai dokter hewan yang bertugas memeriksa kesehatan ternak sebelum dikirim ke berbagai daerah. Ia tahu cara membaca sapi dari jarak dua puluh meter. Ia tahu ciri-ciri sapi yang sakit, sapi yang stres, sapi yang punya potensi genetik bagus meskipun kondisinya mengenaskan.
Dan hari ini, ia tidak datang sebagai dokter hewan.
Ia datang sebagai pembeli.
"Masuk, Mbak! Sapi-sapi Limosin, PO, Madura! Lengkap!"
"Bibit unggul! Indukan produktif! Lihat dulu, gratis!"
Saskia mengabaikan teriakan para makelar. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong pasar yang dipenuhi kandang-kandang bambu sementara. Matanya bergerak cepat, memindai setiap sapi yang dilewatkan. Bukan yang sehat-sehat. Bukan yang gemuk-gemuk.
Ia mencari yang sakit.
Makelar-makelar itu tidak mengerti. Bagi mereka, sapi yang sakit adalah barang rongsokan. Sapi yang kulitnya penuh koreng dan borok adalah sampah yang tidak laku dijual. Sapi yang terlalu kurus untuk disembelih, terlalu lemah untuk menarik bajak, adalah beban yang harus segera dibuang dengan harga berapa pun.
Tapi Saskia melihat hal yang berbeda.
Ia melihat struktur tulang. Ia melihat postur kaki. Ia melihat sudut pinggul dan panjang ekor. Hal-hal yang tidak bisa disembunyikan oleh penyakit kulit atau malnutrisi. Hal-hal yang ditentukan oleh genetik, bukan oleh lingkungan.
Di sudut pasar yang paling sepi, jauh dari keramaian pembeli, ia menemukan apa yang dicarinya.
Tiga ekor sapi.
Sapi pertama adalah Peranakan Ongole betina, sekitar empat tahun. Posturnya tinggi dengan punuk khas yang menandakan keturunan Ongole yang kuat. Tapi bulunya rontok di beberapa bagian, meninggalkan bercak-bercak kulit keabu-abuan yang mengelupas. Dermatofilosis. Infeksi jamur kulit. Tidak mematikan, tapi sangat menular dan membuat sapi terlihat menjijikkan.
Sapi kedua adalah Limosin betina, sekitar enam tahun. Lebih tua dari Ndut yang di kandangnya. Tapi struktur pinggulnya bagus, lebar, ideal untuk melahirkan anak-anak dengan bobot besar. Masalahnya: ia sangat kurus. Semua tulang rusuknya mencuat. Matanya sayu. Gejala klasik infestasi cacing hati kronis.
Sapi ketiga...
Saskia berjongkok di depan sapi ketiga. Sapi Madura jantan, masih muda, sekitar satu setengah tahun. Warna bulunya merah bata dengan putih di bagian moncong dan keempat kakinya. Tapi yang menarik perhatian Saskia bukan warnanya.
Tulang-tulangnya.
Sapi Madura ini punya struktur kaki yang kokoh, pinggul yang padat, dan dada yang lebar. Otot-otot di paha belakangnya mulai terlihat, meskipun tertutup oleh kulit yang kusam. Potensi marbling yang bagus. Sangat bagus.
Tapi kondisinya sekarang menyedihkan. Luka terbuka di bagian bahu, mungkin akibat gesekan tali atau kawat. Sudah bernanah. Dikerubuti lalat. Matanya setengah tertutup oleh kotoran yang mengering.
"Mbak suka yang mana?"
Sebuah suara menyapanya dari samping. Laki-laki tua dengan kemeja batik lusuh, peci hitam yang sudah pudar warnanya. Makelar. Matanya menyipit, menilai penampilan Saskia yang juga lusuh, jarit kusam, sandal jepit putus sebelah.
"Tiga-tiganya," jawab Saskia datar.
Makelar itu tertawa. "Bercanda, Mbak? Tiga-tiganya? Ini sapi afkir semua. Yang punya cuma mau cepat jual. Tapi tetap saja, tiga ekor lumayan harganya."
"Siapa yang punya?"
"Saya yang kuasakan. Mbak serius?"
Saskia berdiri. Ia menatap mata makelar itu. "Serius. Berapa?"
Laki-laki itu menatapnya dengan ragu. "PO betina itu, sama yang Limosin, sudah tidak produktif kata yang punya. Yang Madura jantan, itu malah sudah dua minggu tidak laku-laku. Orang lihat lukanya pada mundur."
"Harga."
Makelar itu menggaruk pipinya. "Kalau ambil tiga-tiganya... saya bisa kasih sepuluh juta."
"Tujuh setengah."
"Hah? Mbak jangan bercanda. Sembilan."
Saskia tidak menjawab. Ia hanya menatap laki-laki itu tanpa berkedip.
"Delapan," turun lagi.
"Tujuh setengah. Ambil atau saya pergi." Suara Saskia tetap datar. "Anda sendiri yang bilang, sudah dua minggu tidak laku. Seminggu lagi sapi Madura itu mungkin mati. Limosinnya juga. Terus anda tidak dapat apa-apa kecuali biaya buang bangkai."
Makelar itu menghela nafas panjang. Matanya menatap tiga sapi di sudut kandang, lalu kembali ke Saskia.
"Bayar sekarang?"
"Sekarang."
Transaksi selesai dalam sepuluh menit.
Saskia menghitung tujuh setengah juta dari dalam plastik kresek hitam, menyerahkannya pada makelar yang masih memandanginya dengan ekspresi setengah heran setengah kasihan. Uang itu langsung masuk ke kantong sang makelar tanpa tanda terima, tanpa kwitansi, tanpa surat resmi. Pasar Dampit tidak mengenal birokrasi.
"Tali pengikatnya sekalian, Pak."
"Ambil saja."
Saskia mengikat tali tambang ke leher masing-masing sapi. PO betina. Limosin betina. Madura jantan. Tiga ekor sapi yang di mata semua orang adalah sampah. Tiga ekor sapi yang orang-orang anggap sebagai beban tidak berguna.
Ia mulai berjalan keluar pasar, menarik tiga sapi itu di belakangnya.
Dan di situlah cemoohan dimulai.
"Liat! Itu kan anaknya Pak Hadi Almarhum! Beli sapi apa itu?"
"Sapi afkir, Kang! Yang pada sekarat itu lho!"
"Wah, otaknya makin rusak sejak orang tuanya mati!"
Suara-suara itu datang dari pedagang-pedagang yang duduk di lapak mereka. Bukan berbisik. Mereka memang sengaja berbicara cukup keras agar Saskia mendengar. Beberapa bahkan menunjuk ke arahnya dengan jari yang kotor oleh lumpur kandang.
Saskia terus berjalan.
"Buat apa beli sapi sakit? Mau dibikin apa? Dijadikan teman tidur?"
"Kasihan anaknya Pak Hadi. Dulu waktu orang tuanya masih hidup, pintar. Sekarang..."
"Stress kali. Utang menumpuk, terus bibi sendiri mau ambil tanahnya."
Nama Bibi Laras disebut. Itu membuat langkah Saskia sedikit melambat. Tapi cuma sesaat. Ia kembali mempercepat langkahnya.
Sapi Madura jantan di belakangnya melenguh pelan. Lukanya masih bernanah, dikerubuti lalat yang sama bandelnya dengan lalat di kandang Saskia. Tapi ia masih bisa berjalan. Masih bisa mengikuti langkah gadis kurus yang menarik talinya.
"Lihat saja nanti," gumam Saskia pada dirinya sendiri. "Aku tahu apa yang kalian tidak tahu."
Ia tahu.
Ia tahu bahwa dermatofilosis pada PO betina itu bisa disembuhkan dengan obat antifungal dan kebersihan kandang yang baik. Penyakit kulit, bukan penyakit degeneratif. Tulangnya masih bagus. Gen Ongole-nya masih ada.
Ia tahu bahwa Limosin betina itu cacingan kronis, tapi dengan obat cacing yang tepat dan pakan bergizi, ia bisa kembali ke berat badan normal dalam tiga bulan. Mungkin lebih cepat dengan bantuan Air Suci.
Ia tahu bahwa Madura jantan itu punya potensi marbling yang langka. Struktur ototnya menunjukkan distribusi lemak intramuskular yang bagus. Kalau ia bisa menyembuhkan lukanya, membersihkan infestasi lalat, dan memberinya pakan yang tepat, sapi ini bisa jadi fondasi program Wagyu persilangannya.
Tapi Air Suci.
Itu kuncinya.
Ia harus menghitung dosisnya dengan tepat. Tiga tetes untuk satu sapi sudah cukup membuatnya mimisan dan pingsan enam jam. Bagaimana kalau tiga ekor? Sembilan tetes? Atau masing-masing cukup satu tetes untuk memulihkan sistem imun mereka?
Ia belum tahu.
"Eksperimen," bisiknya. "Ini eksperimen."
Jalan tanah menuju rumahnya terasa lebih panjang dari biasanya. Mungkin karena ia menarik tiga ekor sapi. Mungkin karena tubuhnya masih lemah. Mungkin karena beban ekspektasi yang ia letakkan di pundaknya sendiri.
Tapi setiap kali ia mendengar langkah kaki sapi-sapi itu di belakangnya, ia tahu ia tidak sendiri.
Ia punya enam sapi sekarang. Enam.
Dan itu baru permulaan.