Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Gerbang Menuju Dunia Baru
Malam itu terasa begitu panjang dan berat bagi Raka. Sejak meninggalkan warung kopi dan menerima tawaran Adrian, rasanya seluruh dunianya terbalik seratus delapan puluh derajat. Semua prinsip yang selama ini ia pegang teguh, semua kehormatan yang dulu ia banggakan, kini seolah runtuh dan tertinggal di sana, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa ia harus memilih antara harga diri yang kosong atau keselamatan orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Langkah kakinya melangkah cepat menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat, tangannya mencengkeram erat amplop tebal berisi uang tunai itu seolah takut benda itu akan lenyap seketika. Saat sampai di meja administrasi, ia menyerahkan sejumlah uang yang jumlahnya cukup besar untuk melunasi seluruh tagihan yang menumpuk selama berbulan-bulan. Wajah petugas yang tadinya dingin dan penuh tuntutan seketika berubah menjadi ramah dan hormat, seolah uang itu memiliki kekuatan ajaib untuk mengubah sikap manusia. Raka hanya diam, tidak merasa bangga sedikitpun, hanya ada rasa lega yang bercampur dengan rasa bersalah yang dalam.
Ia kemudian berjalan menuju ruangan perawatan, membuka pintu pelan-pelan. Di sana, di atas ranjang besi yang keras, terbaring sosok wanita tua yang rapuh, satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah, namun saat mendengar langkah kaki anaknya, ia berusaha membuka matanya perlahan.
“Nak… kamu datang lagi?” suara lemah itu terdengar begitu menyentuh hati Raka. Ia segera mendekat, duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan keriput yang dingin itu dengan lembut.
“Iya, Bu. Saya datang membawa kabar baik,” jawab Raka, berusaha menahan getaran suaranya agar ibunya tidak curiga.
Ibu menatap mata anaknya lekat-lekat, matanya yang sudah mulai kabur namun masih tajam melihat ketulusan dan kegelisahan yang tersembunyi di balik tatapan itu. “Kabar baik apa, Raka? Jangan bohong pada Ibu. Ibu tahu betul keadaan kita. Dari mana kamu dapat uang untuk membayar semua biaya ini? Jangan bilang kamu meminjam lagi pada orang-orang jahat itu…”
Raka menelan ludah dengan susah payah. Rasanya sangat sulit untuk berkata jujur, sulit menceritakan bahwa ia baru saja menjual nyawanya dan masa depannya demi sejumlah uang. Ia tidak sanggup melihat ibunya sedih atau merasa bersalah, apalagi wanita ini sudah menderita cukup lama.
“Jangan dipikirkan asalnya, Bu. Yang terpenting sekarang adalah Ibu bisa berobat dengan tenang, dokter bisa menangani penyakit Ibu dengan sebaik-baiknya, dan Ibu bisa segera pulih seperti sedia kala,” jawab Raka lembut sambil mengusap keringat di dahi ibunya. “Saya sudah mendapatkan pekerjaan baru, Bu. Pekerjaan yang besar, di tempat yang jauh, dan bayarannya sangat tinggi. Itu sebabnya saya bisa membayar semuanya.”
Wanita tua itu menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis meski raut kekhawatiran masih jelas terlihat. “Pekerjaan baru… di mana? Apakah aman, Nak? Ibu tidak mau kamu bekerja keras sampai membahayakan dirimu sendiri. Ibu sudah tua, sakit-sakitan begini, tapi Ibu lebih baik mati daripada melihat anak satu-satunya terlibat hal yang buruk atau berbahaya.”
“Tempatnya aman, Bu. Tenang saja. Ini pekerjaan yang cocok dengan keahlian saya, jadi saya yakin bisa melakukannya dengan baik,” bohong Raka lagi, berharap kalimat itu bisa meyakinkan hati ibunya. “Saya harus berangkat besok pagi buta, mungkin akan lama sekali tidak pulang. Mungkin berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tapi saya sudah berpesan pada tetangga sebelah, Bu Siti, untuk sering menjenguk dan membantu keperluan Ibu di sini. Jangan khawatir, setiap bulan saya akan mengirimkan cukup uang agar Ibu bisa berobat dan makan enak.”
Ibu memejamkan mata sejenak, air mata bening menetes keluar dari sudut matanya. “Pergilah, Nak. Lakukan apa yang menurutmu benar dan bisa menyelamatkan hidup kita. Tapi ingatlah pesan Ibu ini sampai kapanpun kamu berada: di mana pun kamu bekerja, sekeras apa pun hidup memperlakukanmu, jangan pernah lupa menjadi manusia yang baik. Harta, kekayaan, dan kemenangan itu bisa hilang sewaktu-waktu, tapi harga diri dan jiwa yang bersih itu harta yang paling mahal dan tidak ternilai. Jangan sampai kamu menukar jiwamu demi uang, Raka.”
“Ya, Bu. Saya ingat dan akan selalu mengingatnya,” jawab Raka pelan, menahan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Kata-kata ibunya terasa seperti pedang tajam yang menusuk tepat di ulu hatinya, mengingatkan kembali pada apa yang baru saja ia putuskan untuk lakukan: menukar harga dirinya, menukar prinsipnya, demi uang.
Malam itu ia menghabiskan waktu hingga larut malam di samping ranjang ibunya, mendoakan kesembuhan wanita itu, sekaligus mengucapkan selamat tinggal dalam hati. Ketika jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, ia pun pamit pulang.
Sesampainya di rumah kecilnya yang sederhana, Raka langsung mengemasi barang-barang miliknya. Ia tidak membawa banyak hal. Beberapa potong pakaian biasa, perlengkapan mandi, dan sebuah benda yang paling berharga baginya: sebilah pisau tempur bermata dua yang gagangnya terbuat dari tanduk rusa asli. Pisau ini adalah hadiah dan kenang-kenangan dari Komandan Besar saat ia lulus dengan nilai terbaik dari pendidikan militer dulu. Pisau ini satu-satunya bukti nyata bahwa ia pernah menjadi prajurit yang dibanggakan negaranya.
Ia menyelipkan pisau itu dengan aman di balik bajunya, dekat dengan pinggang, tempat yang selalu ia gunakan selama bertahun-tahun. Barang ini akan menjadi teman setianya, satu-satunya pengingat masa lalu yang tidak akan pernah ia tinggalkan.
Ketika langit di luar masih gelap gulita, kabut tebal menyelimuti jalanan dan udara pagi terasa sangat dingin menusuk tulang, Raka sudah berdiri tegak di depan pintu rumahnya. Ia menatap sekeliling rumah kecil yang menjadi saksi seluruh hidupnya, tempat ia tumbuh besar, tempat ia tertawa dan menangis, tempat ia memulai segalanya. Dengan napas panjang yang berat, ia menutup pintu itu perlahan, seolah menutup dan mengubur seluruh masa lalunya yang penuh suka duka, harapan, dan kepahitan.
Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, ia melangkah pergi, meninggalkan segalanya yang pernah ia kenal, menuju takdir yang gelap dan penuh misteri.
Tepat di ujung jalan yang sepi, sebuah mobil sedan hitam besar dan mewah sudah menunggunya. Mesinnya menyala pelan, siap berangkat. Pintu belakang terbuka otomatis begitu Raka mendekat, seolah pemiliknya sudah mengetahui kedatangannya. Di dalam kabin yang dingin namun mewah itu, Adrian sudah duduk dengan tenang, mengenakan setelan jas yang sama rapinya seperti kemarin sore, wajahnya datar namun matanya memancarkan rasa puas melihat Raka datang tepat waktu tanpa penundaan sedikitpun.
“Tepat waktu. Aku sangat menghargai orang yang disiplin, Raka. Di dunia tempat kau akan masuk nanti, keterlambatan sedetik saja bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati,” ucap Adrian singkat namun tegas, memberi isyarat agar Raka duduk di hadapannya.
Mobil melaju perlahan membelah jalanan kota yang masih sepi dan sunyi, meninggalkan perumahan warga, lalu semakin cepat menuju jalan raya yang lebar. Perjalanan ini membawa mereka menjauh dari segala hal yang Raka kenal, menjauh dari rumah, teman, dan tanah kelahirannya. Dalam keheningan perjalanan itu, Raka hanya diam menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, digantikan oleh hamparan sawah, kebun, dan pepohonan yang semakin lebat.
Setelah perjalanan sekitar satu jam lebih, mobil itu akhirnya membelok masuk ke sebuah jalan kecil yang tertutup rapat oleh pohon-pohon besar, lalu berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang kokoh dan tertutup rapat. Di sana, dua orang pria berbadan tegap dan berwajah dingin berdiri menjaga, mengenakan seragam gelap tanpa lambang negara atau tanda pengenal apapun, namun senjata laras panjang yang mereka pegang digenggam dengan sangat siap dan profesional.
Adrian menurunkan sedikit kaca jendela, hanya untuk memperlihatkan wajahnya sejenak. Tanpa bertanya atau memeriksa apapun, gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan dengan suara berdecit berat, memberi jalan masuk bagi mobil itu.
Raka memperhatikan sekeliling dengan mata terlatihnya sebagai mantan pasukan khusus. Instingnya langsung bekerja, menilai setiap sudut, setiap orang, dan setiap kemungkinan bahaya yang ada di sekitarnya. Ia tahu betul, orang-orang yang berdiri menjaga di sini bukanlah penjaga keamanan biasa yang hanya bisa meniup peluit. Dari cara mereka berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun, pandangan mata mereka yang tajam dan waspada, hingga cara mereka memegang senjata dengan posisi siap tempur, Raka yakin seratus persen bahwa orang-orang ini adalah prajurit-prajurit elit yang sudah melewati pelatihan keras dan memiliki pengalaman tempur yang banyak.
“Kau menilai mereka, bukan?” tanya Adrian tiba-tiba, memecah keheningan. Ia tersenyum tipis melihat ekspresi Raka yang waspada. “Tidak salah. Di sini tidak ada yang main-main, Raka. Setiap orang yang bekerja untuk Garuda Security, mulai dari penjaga gerbang paling bawah hingga komandan tertinggi sekalipun, semuanya dipilih dari yang terbaik di antara yang terbaik. Kami tidak mempekerjakan orang lemah, penakut, atau ragu-ragu. Hanya kekuatan, kemampuan, dan nyali yang menentukan posisi dan nasib seseorang di sini.”
Mobil berhenti tepat di sisi landasan pacu kecil, di samping sebuah pesawat jet pribadi berbadan besar yang tampak kokoh, modern, dan dirancang khusus untuk keperluan militer. Pesawat itu tidak terlihat mewah seperti pesawat pejabat atau pengusaha, melainkan terlihat garang, tangguh, dan siap terbang kapan saja. Di bagian ekor dan badan pesawat, terlukis jelas lambang elang emas yang sama persis dengan yang ada di kartu nama yang diberikan Adrian kemarin—lambang yang kini menjadi tanda identitas baru bagi hidup Raka, lambang yang akan mengikutinya ke mana pun ia pergi mulai saat ini.
“Turunlah. Kita akan segera berangkat,” kata Adrian sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Raka turun perlahan, merasakan angin pagi yang lebih dingin dan kencang berhembus di tempat terbuka ini. Ia menatap sekali lagi ke arah langit timur yang mulai berwarna merah jambu, mengucapkan selamat tinggal dalam hati pada tanah airnya yang ia cintai namun juga yang membuatnya sangat menderita. Mulai detik ini, Raka Pratama, prajurit negara yang setia namun dikhianati nasib, sudah mati. Yang tersisa hanyalah seorang prajurit bayaran, alat tempur yang tajam dan mahal yang siap disewa oleh siapa saja yang mampu membayarnya.
Mereka naik ke dalam pesawat, dan tak lama kemudian mesin menderu keras, membawa pesawat melaju kencang lalu mengangkat ke angkasa, terbang meninggalkan tanah air, menuju tempat yang belum pernah Raka bayangkan sebelumnya.
Perjalanan udara memakan waktu berjam-jam lamanya. Raka duduk diam di kursi yang empuk namun terasa sangat dingin dan kaku. Adrian juga tidak banyak bicara selama perjalanan, ia lebih sibuk membaca dan memeriksa berkas-berkas dokumen tebal yang berisi nama, data, dan riwayat hidup orang-orang yang tampaknya akan menjadi rekan atau bawahan mereka kelak. Raka membiarkan pikirannya melayang, memikirkan apa yang akan ia temui di tujuan nanti, memikirkan seberapa berat dan kejam dunia baru yang akan ia masuki ini.
Hingga akhirnya, suara pemberitahuan terdengar memberitahu bahwa pesawat akan segera mendarat.
Saat pintu pesawat terbuka dan Raka melangkah turun menuju landasan, napasnya seakan tertahan sejenak. Ia sudah membayangkan segala kemungkinan, ia sudah bersiap mental untuk melihat pangkalan militer biasa atau tempat pelatihan yang keras dan sepi. Namun apa yang terbentang di hadapan matanya saat ini sungguh melampaui segala imajinasi dan perkiraannya.
Di hadapannya terbentang sebuah kawasan yang sangat luas, dikelilingi oleh pegunungan tinggi yang menjulang gagah dan hutan lebat yang rimbun, membuat tempat ini benar-benar terisolasi, tersembunyi rapat dari pandangan mata dunia luar. Di tengah-tengah kawasan luas itu, berdiri bangunan-bangunan kokoh berwarna abu-abu gelap yang disusun rapi dan teratur, lengkap dengan landasan pacu yang panjang, lapangan tembak yang sangat luas, jalur rintangan yang rumit dan berbahaya, hingga bangunan tempat tinggal, kantor, dan gudang persenjataan yang besar dan megah. Ini bukan sekadar markas militer biasa, melainkan sebuah kota militer yang utuh, mandiri, dan lengkap dengan segala fasilitasnya.
Udara di sini terasa sangat sejuk, segar, dan bersih, namun suasana yang tercipta di tempat ini terasa begitu tegang, kaku, dan menekan. Di mana pun mata memandang, terlihat puluhan bahkan ratusan orang bergerak sigap dan teratur, ada yang berlari mengelilingi kawasan, ada yang berlatih bertarung kosong atau menggunakan senjata, ada yang sedang menguji ketahanan fisik, dan ada pula yang sibuk merawat serta memeriksa perlengkapan perang. Semua orang berwajah serius, dingin, tanpa senyum, tanpa canda, seolah mereka sudah kehilangan seluruh perasaan manusiawi mereka. Aura kekerasan, kedisiplinan tinggi, dan bahaya yang mengintai terasa begitu pekat menekan seluruh udara di sekitar sana.
“Selamat datang di Markas Pusat Garuda Security International,” suara berat, lantang, dan menggelegar tiba-tiba terdengar dari samping, seolah suara itu datang dari dasar bumi.
Raka menoleh cepat dan melihat seorang pria berbadan raksasa berjalan mendekat dengan langkah yang berat namun pasti. Tingginya melampaui dua meter, bahunya sangat lebar dan kekar, tubuhnya besar namun tidak gemuk, melainkan penuh dengan otot-otot baja yang menonjol jelas di balik seragam tempur yang ia kenakan. Wajahnya keras, kasar, dan penuh dengan bekas luka di sana-sini, bukti nyata dan saksi bisu bahwa pria ini sudah melewati ribuan pertempuran, sudah menatap maut berkali-kali, dan selalu keluar sebagai pemenang. Di bahu kirinya, terpasang lambang pangkat tertinggi yang menyilaukan.
“Ini adalah Komandan Hendra,” ujar Adrian memperkenalkan pria raksasa itu dengan nada hormat yang sangat mendalam, sebuah sikap yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain. “Ia adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas seluruh sistem pelatihan, kedisiplinan, serta kehidupan semua anggota di tempat ini. Segala aturan, segala hukuman, dan segala keputusan ada di tangannya.”
Komandan Hendra berhenti tepat di depan Raka, jarak mereka hanya tinggal satu langkah. Ia menatap Raka dari atas hingga ke bawah dengan pandangan mata yang tajam, dingin, dan mengerikan, seolah sedang menilai sepotong daging di pasar, atau sedang menilai seberapa kuat dan berharga alat yang baru saja ia dapatkan. Tatapan itu membuat siapa saja yang dilihatnya akan merasa kecil, takut, dan tertekan, namun Raka berdiri tegak, menahan dirinya agar tidak mundur selangkah pun, menatap balik mata tajam itu dengan tenang dan tanpa rasa gentar sedikitpun. Rasa takutnya sudah lama mati sejak ia merasakan betapa pahit dan kejamnya kehidupan selama setahun terakhir ini.
“Jadi kau calon baru yang dibawa Adrian pagi ini?” tanya Komandan Hendra dengan suara berat yang menggema, matanya menyipit menatap tajam ke arah Raka. “Dengar baik-baik, anak muda, dan ingat setiap kata yang akan aku ucapkan ini sampai kapanpun kau bernapas di dunia ini. Di tempat ini, tidak ada gelar mantan tentara, tidak ada riwayat kehebatan masa lalu, tidak ada pahlawan, dan tidak ada belas kasihan. Semua orang yang menginjakkan kaki di sini, dari yang paling hebat hingga yang paling lemah, semuanya dimulai dari titik nol yang sama. Tidak ada yang diistimewakan, tidak ada yang dimaafkan jika salah.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin keras dan mengancam:
“Jika kau lemah, penakut, atau tidak mampu mengikuti aturan dan pelatihan kami, kau akan mati, atau lebih buruk lagi: kau akan dibuang seperti sampah yang tidak berguna di tengah hutan belantara sana. Tapi jika kau kuat, berani, cerdas, dan mampu bertahan melewati segala neraka yang akan kami berikan padamu, maka kau akan berubah menjadi dewa perang yang ditakuti, dihormati, dan dicari bayarannya oleh seluruh dunia. Sekarang jawab aku dengan jujur dan lantang: apakah kau punya nyali dan kekuatan untuk bertahan hidup di neraka ini? Atau kau lebih baik pulang sekarang selagi masih punya kesempatan?”
Raka menegakkan tubuhnya setinggi mungkin, dadanya membusung, menatap mata sang komandan raksasa itu dengan pandangan yang sama tajamnya, tanpa ragu dan tanpa gentar sedikitpun. Ia menjawab dengan suara tegas, keras, dan dingin yang bergema di udara:
“Saya tidak datang ke sini untuk menjadi lemah, Komandan. Saya tidak datang untuk dihina atau dibuang seperti sampah. Saya datang ke sini untuk menjadi lebih kuat dari siapapun, untuk belajar menjadi yang terbaik, dan untuk membuktikan bahwa saya layak berdiri di tempat ini.”
Senyum miring yang penuh ancaman namun juga rasa kagum samar terukir jelas di bibir Komandan Hendra. “Bagus! Aku suka jawabanmu, aku suka nyalimu. Tapi ingatlah satu hal penting: kata-kata yang berani dan muluk-muluk tidak akan mampu menyelamatkan nyawamu saat peluru berterbangan atau saat maut datang menjemputmu. Hanya kekuatan nyata yang akan membawamu selamat.”
Ia menunjuk ke arah barak dan lapangan luas di kejauhan. “Mulai detik ini juga, kau resmi menjadi bagian dari Skuadron 3, Kelompok Pelatihan A. Segera ambil barang bawaanmu, serahkan identitas lamamu, ganti seragammu, dan segera lapor ke lapangan utama dalam waktu lima menit tepat. Keterlambatan sedetik saja, hukuman yang sangat berat dan menyiksa sudah menantimu. Sekarang bergeraklah! Cepat!”
“Siap, Komandan!” jawab Raka lantang dan tegas. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera mengambil tas kecil miliknya, lalu melangkah tegap dan cepat melewati Komandan Hendra dan Adrian, berjalan menuju gerbang besar yang akan membawanya masuk ke dalam markas raksasa ini.
Saat kakinya melangkah melewati gerbang itu, Raka menyadari sepenuhnya bahwa ujian sesungguhnya dalam hidupnya, pertarungan terberat dan paling kejam yang pernah ia hadapi, baru saja benar-benar dimulai. Di tempat ini, hanya yang terkuat, yang paling cerdas, dan yang paling kejamlah yang akan mampu bertahan hidup. Dan Raka berjanji dalam hatinya, apa pun yang terjadi, seberat apa pun rintangan yang menghadang, ia akan menjadi salah satu dari mereka yang bertahan dan menjadi pemenang.