Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka di Malam Itu
Suara denting piring pecah memecah kesunyian malam di ruang tengah yang sempit itu. Aulia Permata menunduk dalam, tangannya gemetar memegang sapu lidi, sementara serpihan piring keramik berserakan di lantai keramik yang dingin. Napasnya tertahan, berusaha menahan segala rasa sakit yang mulai merayap di hatinya. Sudah dua tahun berlalu sejak ibunya meninggal dunia, dan selama itu pula, hidup Aulia berubah menjadi neraka yang tak berujung.
Ayahnya, Pak Herman, memilih menikah lagi hanya enam bulan setelah kepergian ibunya. Wanita itu bernama Ratna, wanita berwajah cantik namun memiliki hati yang busuk. Bersama Ratna, datang pula dua anak kandungnya, Lala dan Johan. Sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di rumah itu, posisi Aulia berubah drastis. Bukan lagi menjadi putri kesayangan, melainkan budak tak berbayar yang harus menuruti segala kemauan mereka.
“Dasar anak bodoh! Kamu memang sengaja memecahkan piring kesayangan Ibu, kan?” Suara melengking Ratna terdengar menusuk telinga, disusul tamparan keras yang mendarat tepat di pipi kiri Aulia. Tubuh gadis itu terhuyung ke belakang, rasa perih seketika menjalar, namun ia tak berani membalas atau sekadar menatap mata ibu tirinya itu.
“Ma… maaf, Bu. Aulia tidak sengaja,” bisiknya lirih, menahan air mata agar tak jatuh.
“Maaf katamu? Maaf tidak bisa mengembalikan piring ini! Kamu itu cuma beban di rumah ini, tahu tidak? Makan, tidur, tapi kerja saja tidak becus!” Ratna mendengus kasar, lalu melirik ke arah suaminya yang hanya diam berdiri di sudut ruangan, tak berani melindungi putri kandungnya sendiri. Pengecut. Itulah satu kata yang selalu terlintas di benak Aulia setiap kali melihat ayahnya. Pria itu lebih memilih diam demi ketenangan hidupnya sendiri bersama istri barunya yang kaya raya.
Lala, saudara tirinya yang seumuran dengan Aulia, tertawa kecil sambil bersandar di kusen pintu. “Lihatlah dia, Bu. Muka memelas sekali. Mending dia saja yang pergi dari rumah ini, daripada kita yang pusing.”
“Benar,” sahut Johan, kakak Lala yang pemalas dan kasar. “Dia cuma sampah. Seharusnya dia bersyukur masih diberi makan dan tempat tinggal, padahal ayahnya saja sudah tidak punya uang sepeser pun semenjak bangkrut.”
Kata-kata tajam itu menusuk tepat ke dalam ulu hati Aulia. Mereka benar. Sejak ayahnya bangkrut usai menikahi Ratna, semua harta peninggalan ibu perlahan habis tergerus gaya hidup mewah keluarga baru itu. Aulia yang saat itu sedang menempuh kuliah Desain Grafis pun hampir putus sekolah jika saja ia tidak rajin mencari uang tambahan dari hasil membuat desain pesanan teman-temannya.
Namun malam itu, neraka bagi Aulia baru saja benar-benar dimulai.
Ratna tiba-tiba duduk di sofa, menatap Aulia dengan tatapan licik yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Ada rencana jahat di balik sorot mata wanita itu. “Kamu kan sudah besar, Aulia. Sudah waktunya kamu bantu ekonomi keluarga. Kita sedang kesulitan uang, dan aku tahu satu tempat yang bisa memberimu bayaran mahal dalam satu malam saja.”
Dahi Aulia berkerut bingung sekaligus was-was. “Tempat apa, Bu? Kalau Aulia harus kerja paruh waktu di kafe atau toko baju, Aulia bersedia. Tapi Aulia masih kuliah”
“Kuliah? Ah, jangan banyak alasan!” potong Ratna ketus. “Tempat itu jauh lebih menguntungkan. Klub Malam The Phoenix. Kamu akan bekerja di sana malam ini juga.”
Darah Aulia seketika mendidih, wajahnya memucat pasi. Ia tahu persis tempat apa itu. Klub malam paling besar, paling gelap, dan paling berbahaya di tengah kota. Tempat berkumpulnya para laki-laki hidung belang, pengusaha kotor, hingga para penjahat kelas kakap.
“Ti… tidak, Bu! Itu tempat yang salah! Aulia tidak mau bekerja di sana! Aulia bisa cari kerja lain, apa saja, asal jangan di tempat itu!” Aulia mundur selangkah, suaranya terdengar panik. Ia rela menjadi kuli bangunan daripada harus menginjakkan kaki di dunia malam yang kotor itu.
Ratna bangkit berdiri perlahan, berjalan mendekati Aulia hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Senyum mengerikan terukir di bibir wanita itu saat ia berbisik dingin, “Kamu pikir kamu punya pilihan, Nak? Kalau kamu menolak… aku tidak bisa menjamin keselamatan ayahmu. Ingat, siapa yang pegang kendali uang dan kekuasaan di rumah ini sekarang? Sekali aku berniat buruk, tubuh ayahmu bisa ditemukan di selokan besok paginya. Kamu mau itu terjadi?”
Ancaman itu menusuk jantung Aulia. Ia menatap ayahnya dengan pandangan memohon pertolongan, namun pria itu hanya menundukkan wajah, seolah memberi izin secara diam-diam. Hancurlah hati Aulia malam itu. Ia sendirian. Tak ada yang melindunginya.
Dengan sisa tenaga dan kepedihan yang luar biasa, Aulia mengangguk lemah. Air mata jatuh membasahi pipinya. “Ba… baik. Aulia akan pergi. Tapi tolong… jangan sakiti Ayah.”
“Bagus anak pintar,” ujar Ratna puas, lalu melempar sebuah gaun pendek berwarna merah darah ke wajah Aulia. “Ganti baju kamu yang norak itu. Jangan malu-malu, kamu harus bisa menarik perhatian tamu-tamu penting di sana. Ingat, bayarannya mahal.”
Aulia merasa dirinya seperti sedang berjalan menuju pintu neraka saat taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan bangunan megah dengan lampu neon merah menyala bertuliskan THE PHOENIX. Suara dentuman musik bergema hingga ke luar gedung, bau alkohol dan asap rokok pun sudah tercium meski ia belum masuk. Dengan tangan gemetar, ia turun dari kendaraan, memeluk tubuhnya sendiri yang terbalut gaun terbuka yang membuatnya merasa sangat telanjang dan kotor.
Langkah kakinya berat sekali melangkah masuk. Suasana di dalam sungguh membuatnya mual. Penuh orang-orang mabuk, wanita-wanita cantik yang menari menggoda, dan laki-laki yang memandang segala sesuatu seolah barang dagangan. Aulia diserahkan kepada manajer wanita bernama Rina yang langsung menyuruhnya berdiri di bar paling depan, menyajikan minuman.
“Diam saja, tersenyum, dan kalau ada tamu ajak ngobrol, mengerti? Jangan sok suci di sini, sayang. Semua orang punya harga diri yang bisa dibeli,” bisik Rina sebelum pergi meninggalkannya.
Setiap kali ada mata pria yang menatapnya dengan tatapan kotor, Aulia ingin sekali lari keluar, pulang, dan bersembunyi di bawah selimutnya. Tapi bayangan ancaman Ratna terhadap ayahnya terus menghantui pikirannya. Ia harus bertahan. Demi satu-satunya keluarga yang ia miliki, meski keluarga itu sendiri yang melemparnya ke jurang ini.
Malam semakin larut, dan keramaian semakin memuncak. Tiba-tiba, seluruh suasana ruangan berubah. Musik tidak berhenti, tapi suara obrolan dan tawa perlahan meredup, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menekan semua orang untuk diam. Para pengunjung, yang tadinya tampak angkuh dan bebas, kini mulai menundukkan kepala, memberi jalan di tengah ruangan seolah sedang menyambut seorang raja.
Aulia yang penasaran ikut menoleh ke arah pintu utama.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sepersekian detik saat melihat sosok itu berjalan masuk.
Seorang pria dengan postur tubuh tegap, tinggi, dan berwibawa melangkah tenang di tengah kerumunan. Wajahnya tampan luar biasa, seolah dipahat oleh tangan Tuhan yang paling teliti, namun tatapan matanya… dingin. Sangat dingin. Mata hitam pekat itu memancarkan aura bahaya, kekejaman, dan dominasi mutlak. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas hitam mahal yang pas di badan, memancarkan pesona seorang penguasa. Di belakangnya, berjalan empat orang bertubuh kekar dengan wajah tanpa ekspresi, pengawal pribadinya.
Alexandra Surya.
Nama itu bergema samar-samar di telinga Aulia dari bisikan-bisikan orang di sekitarnya.
Itulah Alexandra Surya. Pria yang dikabarkan menguasai seluruh bisnis gelap di kota ini, pemimpin mafia paling ditakuti, pengusaha miliarder yang tangannya penuh darah, namun tak pernah tersentuh hukum sedikit pun. Ia adalah definisi nyata dari bahaya yang mematikan namun sangat menggoda.
Alexandra berjalan melewati bar tempat Aulia berdiri. Aulia, yang terhipnotis oleh sosok pria itu, tak sadar jika gelas kaca di tangannya terlepas dari genggaman.
PRANG!!
Suara pecahan kaca kembali terdengar keras, kali ini di tengah keheningan yang dibuat-buat itu. Semua mata seketika tertuju pada Aulia. Wajah gadis itu pucat pasi, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tak sengaja menatap lurus ke manik mata hitam Alexandra yang kini berhenti tepat di hadapannya.
Pandangan mereka bertemu.
Dunia Aulia seakan berhenti berputar. Di dalam kedalaman mata pria itu, Aulia melihat segalanya kekuasaan, amarah, kesepian, dan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Tatapan itu menelanjangi jiwanya, membuatnya merasa telanjang meski berpakaian. Alex menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, menilai gadis polos yang jelas sekali bukan bagian dari dunia kotor ini. Bibir Alex sedikit menyunggingkan senyum tipis, senyum yang sama sekali tak menyentuh matanya.
“Bersihkan,” ucap Alex pelan namun tegas, suaranya berat dan serak, menusuk langsung ke tulang belakang Aulia.
Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Alexandra Surya melangkah melewatinya menuju ruang VIP di lantai atas, seolah gadis tadi hanyalah debu kecil di sepatunya. Namun, satu hal yang Aulia sadari: Satu detik pertemuan mata itu, telah mengikat takdirnya dengan pria iblis itu selamanya.
Malam itu Aulia pulang dengan perasaan campur aduk. Ia pikir pertemuan itu hanya sekilas, kejadian tak sengaja yang akan lenyap bersama waktu. Ia tidak tahu, bahwa takdir sedang menulis skenario paling mengerikan sekaligus paling indah dalam hidupnya.