King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Kepergian Olivier Martinez meninggalkan keheningan yang kembali memberat di dalam kamar VIP nomor satu.
Kendrick Stone berdehem, berpura-pura sibuk merapikan jaket jins putrinya, Kyara, demi menghindari tatapan membunuh yang dilayangkan oleh King dari atas ranjang.
Di sudut ruangan, Kaelix Hayes Stone tetap berdiri tegak bak patung es, sementara putranya, Xander, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan sepasang matanya yang unik.
"Kau benar-benar tidak pernah berubah, Kendrick," suara King memecah kesunyian, begitu rendah dan sarat akan ancaman yang tertahan di tenggorokan. "Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu di depan staf medis, keluar dari kamarku sekarang."
Kendrick mengangkat kedua tangannya, terkekeh pelan tanpa rasa bersalah. "Tenang, Kak. Aku hanya mencoba mencairkan suasana. Lagi pula, siapa yang menyangka gadis yang kau putuskan sepuluh tahun lalu kini menjelma menjadi dokter bedah yang bisa membuat pewaris klan Stone tak berkutik? Dia bahkan tidak berkedip saat melihat tato di lehermu."
King tidak membalas. Matanya beralih pada lengan kanannya yang tergeletak di atas selimut. Di bawah lapisan tinta hitam yang pekat itu, nama Olivier tertidur dengan sunyi. Rasa perih di perutnya akibat operasi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sesak yang menghantam dadanya setiap kali menyadari betapa dalam wanita itu membencinya sekarang.
Kaelix akhirnya bergerak. Ia melangkah mendekati ranjang, menepuk pundak Xander agar putrinya mendekat. "Kami harus pergi. Grandmaman memanggilku ke kediaman utama untuk membahas laporan pengiriman dari pelabuhan timur. Kau, pastikan dirimu cepat sembuh, King. Chicago membutuhkan pemimpinnya, bukan pria yang meratapi masa lalu."
Kata-kata Kaelix yang dingin dan tanpa tedeng aling-aling itu telak mengenai sasaran. Tanpa menunggu jawaban King, Kaelix menuntun Xander keluar dari kamar, diikuti oleh Kendrick yang menggandeng Kyara sembari melambaikan tangan jahilnya pada King.
Begitu pintu menutup rapat dan menyisakan dirinya sendiri, King Stone memejamkan mata. Kamar mewah itu mendadak terasa seperti penjara berlapis emas yang mencekik.
Sementara itu, di koridor lantai bawah, Olivier Martinez melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruang istirahat dokter.
Detak jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena pesona murahan King Stone yang telah dianggapnya seperti sampah, melainkan karena rasa geram atas kelakuan Kendrick. Pria-pria Stone selalu mengira mereka bisa memutarbalikkan dunia dan mengendalikan hidup orang lain dengan uang dan kekuasaan mereka.
Olivier mengempaskan tubuhnya di atas kursi kerja, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Shift kerjanya baru saja selesai, dan satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini adalah pulang ke apartemennya di Lincoln Park, memeluk putri kecilnya, Nora Amelie, dan melupakan semua kegilaan yang terjadi di Stone Hospital.
Dua puluh menit kemudian, setelah berganti pakaian dengan jins kasual dan sweater rajut longgar, Olivier telah membelah jalanan kota Chicago yang mulai padat dengan taksi.
Pikirannya melayang pada Nora. Anak perempuan berusia hampir sepuluh tahun itu adalah dunianya, satu-satunya alasan mengapa ia masih bisa berdiri tegak dan bertahan menghadapi kerasnya kehidupan setelah dicampakkan dengan kejam oleh King di masa lalu.
Begitu sampai di depan pintu apartemennya, Olivier menarik napas dalam-dalam, mengusir sisa-sisa ketegangan rumah sakit dari wajahnya. Ia menempelkan kartu akses pada kunci elektronik, mendengarkan bunyi klik yang familier, dan mendorong pintu terbuka.
Aroma harum masakan oleh Dr. Richard dan Martha kemarin masih tersisa samar di udara, bercampur dengan kehangatan rumah yang menenangkan.
Di ruang tengah, di atas karpet bulu yang tebal, Nora Amelie sedang duduk bersila. Di hadapannya, berserakan beberapa buku tebal tentang anatomi manusia dan biologi sel—bacaan yang terlampau berat untuk anak seusianya, namun menjadi kegemaran Nora yang memiliki kecerdasan luar biasa.
Nora mendongak saat mendengar suara pintu. Senyuman cerah yang sangat matang dan penuh pengertian langsung terbit di wajah mungilnya. Ia menutup bukunya dengan rapi, lalu bangkit berdiri tanpa menimbulkan suara yang berisik.
"Mommy sudah pulang," sapa Nora dengan nada suara yang ceria namun tetap tenang. Ia berjalan mendekat, mengambil tas kerja Olivier dengan cekatan, lalu menuntun ibunya untuk duduk di sofa. "Mommy kelihatan sangat lelah hari ini. Apa pasien yang semalam membuat Mommy repot?"
Olivier menatap putrinya dengan pandangan takjub sekaligus haru. Kedewasaan Nora selalu berhasil membuatnya merasa bersyukur sekaligus sedikit bersedih; ia tahu Nora tumbuh menjadi anak yang sangat peka dan mandiri karena sejak kecil mereka hanya hidup berdua tanpa sosok seorang ayah.
"Hanya pasien keras kepala yang merasa dirinya menguasai seluruh kota ini, Sayang," jawab Olivier lembut, mengusap helai rambut cokelat gelap Nora yang sedikit bergelombang. Ia menarik Nora ke dalam pelukannya, menghirup aroma menenangkan dari tubuh anaknya. "Bagaimana harimu? Apa Nenek Martha menemanimu dengan baik hari ini?"
"Nenek Martha baru saja pergi ke supermarket di bawah untuk membeli beberapa buah segar," jawab Nora sembari menyandarkan kepalanya di bahu Olivier, melingkarkan lengan kecilnya yang hangat.
"Aku memberi tahu Nenek bahwa aku bisa menjaga diri sendiri di rumah. Aku sudah menyelesaikan semua tugas matematikaku, dan aku juga membaca bab tentang sistem sirkulasi darah di buku Mommy."
Olivier terkekeh pelan, mengecup dahi Nora. "Kau baru sepuluh tahun, Nora. Jangan terlalu cepat ingin menjadi dokter seperti Mommy. Nikmati masa kecil mu."
Nora mendongak, menatap Olivier dengan sepasang mata bulatnya yang jernih. Ada kilat ketegasan dan kecerdasan yang sangat pekat di dalam manik mata itu—binar yang jika dilihat oleh siapa pun yang mengenal klan Stone, akan langsung mengingatkan mereka pada sosok King Stone saat berada di puncak fokusnya.
"Aku hanya ingin cepat besar agar bisa menjaga Mommy," ucap Nora dengan nada bicara yang teramat serius, melampaui usianya. "Jadi, jika ada orang jahat atau pasien berengsek yang berani membuat Mommy lelah atau menangis, aku bisa mengusir mereka dari hidup kita."
Kata-kata Nora membuat dada Olivier terasa berdenyut aneh. Ia memeluk putrinya lebih erat, menyembunyikan setitik air mata yang hampir menetes di sudut matanya. Nora tidak pernah tahu siapa ayahnya, dan Olivier telah bersumpah untuk menjaga rahasia itu rapat-rapat sampai mati.
Sifat Nora yang ceria namun sangat dewasa dan protektif terhadapnya adalah benteng perlindungan terbaik yang ia miliki saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke Stone Hospital, malam telah kembali menjemput kota Chicago. Di dalam kamar VIP nomor satu, ketenangan King Stone kembali terusik ketika pintu kamarnya terbuka dan sosok sang patriark, Kyle Stone, melangkah masuk dengan setelan jas formalnya yang rapi. Aura kekuasaan yang mengintimidasi memancar kuat dari tubuh pria paruh baya tersebut.
Kyle berjalan mendekati ranjang putra sulungnya, menatap luka di perut King dengan pandangan menilai sebelum duduk di kursi kulit di samping tempat tidur.
"Bagaimana perkembangan jahitannmu?" tanya Kyle, suaranya berat dan berwibawa.
"Stabil, Dad. Dokter Martinez menangani semuanya dengan sangat profesional," jawab King datar, sengaja menekankan nama Olivier untuk melihat reaksi ayahnya.
Kyle Stone hanya menaikkan satu alisnya, ekspresinya tidak terbaca. "Bagus kalau begitu. Aku ke sini bukan untuk membahas urusan medis. Grandmaman baru saja menghubungiku setelah bertemu dengan Kaelix sore tadi. Dia mengingatkan kembali tentang posisimu di klan ini, King."
King mengepalkan tangannya di balik selimut, merasakan rahangnya mengeras. "Aku sudah mengurus semua bisnis di dermaga selatan, Dad. Tidak ada alasan bagi Grandmaman untuk mempertanyakan kapabilitas atau posisiku."
"Ini bukan tentang bisnis, Son. Ini tentang suksesi dan pernikahan," potong Kyle dingin. "Kau sudah dua puluh tujuh tahun. Dua tahun lalu kau berhasil menggagalkan rencana perjodohan dengan klan Eropa dengan alasan stabilitas pasar di Chicago. Tapi Grandmaman tidak akan menunggu selamanya. Dia mengizinkanmu bermain-main dengan puluhan wanita selama ini untuk menghabiskan masa mudamu, tapi sekarang waktu bermainmu sudah habis."
King menyeringai sinis, menatap ayahnya dengan pandangan menantang yang sama persis dengan yang ia miliki sepuluh tahun lalu. "Aku tidak akan menikahi wanita yang tidak kupilih sendiri, Dad. Kalian bisa mengatur hukum di kota ini, tapi tidak dengan ranjangku."
"Jangan menantang otoritas Grandmaman, King," suara Kyle merendah, sarat akan peringatan yang nyata. "Aku membiarkanmu menato seluruh tubuhmu untuk melampiaskan kemarahanmu saat kuliah, Tapi jika kau tidak segera memilih satu wanita dari kalangan kita dalam waktu dekat, Grandmaman sendiri yang akan turun tangan menentukan istrimu, dan kau tahu betul dia tidak akan selembut aku."
Setiap kata yang keluar dari mulut Kyle Stone laksana menyiramkan bensin ke dalam api ingatan King.
Bayangan tentang bagaimana ia harus menjadi berengsek dan bagaimana ia harus menyembunyikan nama wanita itu di bawah lapisan tinta hitam tebal di lengan kanannya, kembali berputar dengan menyakitkan.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan, Dad," jawab King, suaranya beralih menjadi sedingin es, memancarkan aura kegelapan yang tak kalah mengerikan dari ayahnya. "Keluar dari kamarku. Aku butuh istirahat."
Kyle Stone menatap putranya dalam-dalam selama beberapa saat, menilai kesungguhan di mata elang King, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣