NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangun

Setelah dokter pergi, tubuh Dante dipindahkan ke ruang ICU VVIP. Di dalam ruangan bernuansa putih itu, hanya ada detak monoton dari layar monitor jantung yang memecah keheningan. Lorenzo sempat masuk sebentar, memastikan pengamanan di luar kamar diperketat berlapis-lapis oleh anak buahnya.

"Aku harus kembali ke markas utama sekarang, Nayara. Marco sudah menemukan titik terang tentang pengkhianat yang membocorkan rute kalian," ujar Lorenzo, suaranya terdengar dingin dan tajam di dekat pintu. "Kau tetap di sini. Jangan pergi ke mana-mana, tempat ini adalah area paling aman untukmu sekarang."

Nayara tidak menyahut. Pandangannya terpaku pada tubuh kekar Dante yang kini tampak begitu rapuh di atas ranjang, dipenuhi berbagai macam selang medis dan masker oksigen.

"Kau mendengarku, Nayara?" tanya Lorenzo sekali lagi, memastikan.

"hm, pergi saja, " sahut Nayara tanpa menoleh sedikit pun. "Aku tidak akan lari. Lagipula, aku mau lari ke mana dengan kondisi seperti ini?"

Lorenzo menghela napas pendek, lalu melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Kini, tersisa Nayara sendirian di samping ranjang Dante.

Gadis itu menarik kursi besi ke dekat kepala ranjang. Dengan tubuh yang masih lemas akibat mendonorkan dua kantong darahnya, Nayara duduk dan menatap wajah tampan Dante yang terpejam damai. Sangat aneh melihat pria sekaku dan sekejam Dante bisa terlihat sepasrah ini.

"Dasar bajingan..." bisik Nayara, suaranya bergetar parau.

Air mata yang sejak tadi coba ia tahan, kembali luruh membasahi pipinya yang pucat. Rasa sesak di dadanya kian meradang.

"Kenapa kau harus bangun pagi-pagi hanya untuk membuatku kesal, lalu siangnya kau sok keren menjadi pahlawan dan membiarkan punggungmu bolong, huh?!" racau Nayara, suaranya meninggi menembus keheningan kamar. "Kau pikir kau ini siapa, hah?! Dewa penyelamat?! Kau itu iblis, Dante! Kau mafia kejam yang sudah menculikku!"

Nayara mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas kasur, tepat di samping lengan kekar Dante yang terpasang jarum infus.

"Aku membencimu! Kau dengar tidak?! Aku sangat membencimu, Dante Moretti! Aku benci fakta bahwa nyawaku yang berharga ini sekarang harus diselamatkan oleh manusia berengsek sepertimu!" umpat Nayara lagi, ego dan rasa bersalahnya berbaur menjadi satu, menciptakan ledakan emosi yang tak terkontrol. "Kau sudah merenggut kebebasanku, mengancam ayahku, dan memperlakukanku seperti pelayan rendahan! Aku selalu berdoa agar kau mati membusuk di neraka! Tapi kenapa... kenapa sekarang kau malah tidur seperti ini setelah membuatku berutang nyawa padamu?!"

Tangis lirih Nayara pecah sepenuhnya. Dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya di tepi ranjang. Bahunya terguncang hebat.

" Dengar dante, aku tidak mau berutang budi pada seorang pembunuh sepertimu... Jadi kau harus bangun dan biarkan aku membalas dendam dengan caraku sendiri..."

Napas Nayara memburu, sisa-sisa tenaga di tubuhnya setelah kehilangan banyak darah benar-benar terkuras habis oleh emosinya yang meluap-luap. Di tengah isak tangisnya yang perlahan mereda menjadi sesenggukan kecil, rasa kantuk dan lelah yang luar biasa mulai menggelayuti kelopak matanya.

Tanpa sadar, dengan posisi kepala yang bersandar di tepi kasur dekat jemari kaku Dante, Nayara perlahan memejamkan matanya. Dia tertidur lelap dalam kondisi air mata yang masih basah di pipinya.

Pip... Pip... Pip...

Suara monoton dari mesin elektrokardiogram (EKG) perlahan merayap masuk ke dalam alam bawah sadar Dante. Bersamaan dengan itu, rasa sakit yang teramat sangat, seperti dihantam oleh palu gada raksasa, menjalar hebat dari punggung hingga ke seluruh saraf di tubuhnya.

Dante mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Kelopak matanya terasa sangat berat, seperti direkatkan oleh lem. Pria itu melenguh lirih di balik masker oksigennya, mencoba menggerakkan ujung jarinya yang terasa kaku.

Sreeek.

Jari tangan Dante menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat.

Dengan perlahan dan penuh perjuangan, Dante membuka sepasang mata elangnya. Pandangannya kabur selama beberapa detik, sebelum akhirnya perlahan memfokuskan diri pada langit-langit putih kamar ICU. Dia menolehkan kepalanya sedikit ke samping kiri, dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sosok Nayara yang tengah tertidur pulas dengan posisi tidak nyaman di atas kursi.

Dante menatap lekat wajah gadis itu. Di bawah temaram lampu kamar, dia bisa melihat dengan jelas sisa-sisa air mata yang mengering di pipi pucat Nayara, serta rambutnya yang sedikit acak-acakan.

Rahang Dante mengatup rapat di balik masker. Perasaannya mendadak campur aduk tidak karuan.

Sebenarnya, kesadaran Dante sudah mulai pulih secara samar sejak tim medis selesai menjahit lukanya. Dan itu berarti, seluruh ocehan, makian, kata-kata kasar, hingga tangisan histeris Nayara yang meratapi kondisinya tadi terdengar dengan sangat jelas di telinganya.

'Gadis bodoh,' batin Dante, suaranya bergema di dalam benaknya sendiri. 'Dia memakiku bajingan dan iblis, tapi dia juga yang menangis sampai kehabisan napas memohon agar aku tidak mati.'

Dante menghela napas berat, yang langsung memicu rasa nyeri luar biasa di punggungnya hingga dia harus memejamkan mata sejenak menahan sakit. Otaknya mulai berputar memikirkan garis besar situasi ini. Rencana balas dendamnya kepada Lorenzo bahkan belum benar-benar dimulai, dan sekarang dia justru harus terbaring lemah di rumah sakit karena sebuah kecerobohan besar—menjadi tameng hidup untuk seorang tawanan.

"Kau itu bidakku, Nayara. Kau adalah senjata utamaku untuk menghancurkan Lorenzo " Gumam Dante menatap tangan kanan Nayara yang tergeletak pasrah di dekat jemarinya. Ada bekas luka goresan ranting pohon yang sudah dibersihkan, dan sepotong kapas yang menempel di lipatan sikunya—bekas jarum transfusi darah.

'Kau mendonorkan darahmu untukku, Kucing Liar?' tanya Dante dalam hati, matanya menyipit menatap kapas itu.

Rasa jengkel dan kebingungan melanda benak sang Don Mafia. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu orang pun yang berani memakinya dengan kata-kata sekasar itu di depan wajahnya, apalagi dalam kondisi dia sedang sekarat. Namun di sisi lain, tidak pernah ada juga seorang wanita yang menangis tulus dan mengorbankan darahnya sendiri demi mempertahankan nyawanya.

"Ugh..." Dante melenguh pelan saat mencoba merubah sedikit posisi kepalanya agar bisa menatap Nayara lebih dekat.

Suara gesekan kain bantal dan lenguhan lirih Dante rupanya cukup sensitif untuk telinga Nayara yang memang tidur dengan perasaan tidak tenang. Gadis itu tersentak, mengerjapkan matanya yang bengkak, dan langsung menegakkan tubuhnya dengan cepat.

"Dante?!" pekik Nayara, matanya seketika melebar sempurna saat melihat sepasang mata elang di depannya kini tengah terbuka dan menatapnya dengan tajam—meski tampak sayu.

Dante tidak menyahut, dia hanya terus menatap Nayara dari balik masker oksigen, mengunci pandangan gadis itu dengan aura intimidasi khasnya yang perlahan kembali, walau tubuhnya masih dipenuhi selang.

"Kau... kau sudah bangun?! Demi Tuhan, kau benar-benar hidup?!" seru Nayara lagi, suaranya bergetar antara tidak percaya dan rasa lega yang teramat sangat yang mendadak membuncah di dadanya. Tanpa sadar, dia memajukan tubuhnya, hendak menyentuh pundak Dante untuk memastikan ini bukan mimpi.

Namun, tatapan mata Dante yang mendadak menajam dingin membuat gerakan tangan Nayara terhenti di udara. Pria itu memberikan isyarat penolakan yang mutlak, membuat suasana di dalam kamar ICU itu seketika mendingin kembali ke titik beku.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!