Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Catur Kinan
Kembali di ibu kota, ruang kerja pribadi Kinan di mansion Kusuma kini terasa seperti sebuah ruang interogasi yang dingin. Tidak ada lagi cangkir kopi fajar di atas mejanya. Sudah tiga hari berlalu sejak Kinan memutuskan untuk menghentikan total konsumsi zat penstimulasi yang selama ini meracuni tubuhnya.
Efek detoksifikasi yang diperingatkan oleh Dokter Taufik menghantamnya tanpa ampun. Kepala Kinan terasa seperti dihantam godam besar, denyut di pelipisnya konstan memicu rasa sakit yang membakar, dan tubuhnya didera rasa jenuh serta gelisah yang luar biasa. Namun, Kinan menolak menyentuh obat pereda nyeri apa pun. Ia membiarkan rasa sakit fisik itu membakar habis sisa-sisa kabut hormonal di otaknya, menggunakannya sebagai pengingat abadi akan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang di dalam rumahnya sendiri.
Seiring berlalunya hari, fungsi logikanya kembali pulih seratus persen. Rasa bersalah, amarah, dan kerinduan mendalam yang selama berbulan-bulan ini diredam paksa kini bangkit kembali dengan intensitas yang jauh lebih masif. Wajah Neya, tangisan gadis itu di malam pengusiran, dan keputusasaannya di jembatan penyeberangan kini berputar jelas di kepala Kinan bagai film yang berputar tanpa henti.
"Maafkan aku, Ney..." bisik Kinan lirih, jemarinya mencengkeram tepi meja kerja hingga memutih.
Namun, Kinan bukanlah pria yang akan tenggelam dalam penyesalan tanpa tindakan. Ia adalah seorang Kusuma. Darah dingin dan kalkulasi taktik yang diwariskan oleh kedua orang tuanya kini ia gunakan untuk membalikkan keadaan. Jika Mama Casandra dan Sherly mengira mereka telah memenangkan permainan dengan memanfaatkan kehamilan Sherly, maka mereka salah besar.
Kinan mengambil ponsel khususnya yang tidak bisa disadap. Ia menghubungi kepala tim investigasi rahasia yang bekerja langsung di bawah perintah pribadinya, terpisah dari jaringan korporasi Kusuma Group.
"Bagaimana?" tanya Kinan langsung, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.
"Kami sudah menelusuri rekaman CCTV lalu lintas di sekitar jembatan pada malam kejadian, Pak," jawab agen di seberang telepon. "Gadis itu, Neya, memang tidak melompat. Dia ditarik oleh seorang pria tegap tak dikenal dan langsung dibawa pergi menggunakan mobil sewaan ke arah luar kota. Kami sedang melacak manifes kendaraan tersebut."
Mendengar kabar bahwa Neya masih hidup, ada secercah kehangatan yang mendadak mengalir di dada Kinan yang mati rasa. Namun, ia langsung menekannya kembali. Ia tahu, jika Mama Casandra tau aktivitasnya, maka aksesnya akan di blokir kembali ,,ia tidak ingin kepercayaan yang berusaha ia bangun runtuh kembali .
"Terus lacak tanpa menimbulkan kecurigaan," perintah Kinan tegas. "Jangan lakukan pergerakan apa pun sampai aku memberikan aba-aba. Dan satu lagi, mulai hari ini, potong semua akses informasi mengenai aktivitas pribadiku dari jaringan Mama."
"Baik, Pak. Segera dilaksanakan."
Kinan menutup telepon, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela prancis yang menghadap ke halaman mansion. Di bawah sana, ia bisa melihat Sherly yang sedang berjalan anggun di taman, ditemani oleh dua orang perawat pribadi yang disewa oleh mamanya untuk menjaga kandungan tersebut.
Kinan menatap istrinya dengan pandangan yang benar-benar kosong, bebas dari segala gairah maupun keterikatan emosional. Baginya, kehamilan Sherly kini bukan lagi sebuah berkah, melainkan sebuah bidak catur yang sengaja diletakkan di atas papan untuk menjebaknya.
Suasana di ruang makan utama mansion Kusuma mendadak terasa jauh lebih berat dan menekan daripada hari-hari biasanya. Pagi ini, meja makan panjang dari kayu jati itu tidak hanya diisi oleh Mama Casandra, Sherly, dan Kinan. Kursi kebesaran di ujung meja yang selama beberapa bulan ini kosong akhirnya kembali ditempati oleh pemilik mutlak dinasti ini: Tuan Kusuma.
Pria paruh baya dengan rambut yang memutih di pelipisnya itu duduk dengan ketegangan yang intimidatif. Sorot matanya sedingin es, mencerminkan karakter bertangan besi yang telah pulih dari urusan bisnisnya di luar negeri. Di sebelah kiri Tuan Kusuma, duduk Verian, kakak perempuan Kinan yang berwajah angkuh, didampingi oleh suaminya yang selalu memasang senyum oportunis di balik setelan jas mahalnya. Kehadiran mereka berdua di mansion ini tidak pernah berarti baik; Verian dan suaminya selalu mengincar celah sekecil apa pun untuk merebut posisi pangeran mahkota dari tangan Kinan.
"Jadi, rumor itu benar, Casandra?" suara berat dan berwibawa Tuan Kusuma memecah keheningan, matanya beralih dari sang istri lalu tertuju pada perut Sherly. "Kalian akhirnya memberikan apa yang pantas untuk dinasti ini. Seorang pewaris."
Mama Casandra mengangguk dengan senyum formal yang anggun. "Tentu saja, suamiku . Segalanya di rumah ini berjalan sesuai dengan garis yang telah kita tetapkan. Sherly menjaga kandungannya dengan
sangat baik."
Verian, yang sejak tadi memotong daging steak-nya dengan gerakan anggun namun penuh penekanan, mendengus pelan dengan nada menyindir. "Baguslah kalau begitu. Setidaknya, adikku tercinta ini tidak lagi membuat malu nama keluarga dengan mempertahankan cintanya pada gadis lajang miskin itu .Aku sempat berpikir Kusuma Group akan hancur kalau Kinan tetap keras kepala."
Suami Verian menyenggol lengan istrinya sembari tersenyum palsu ke arah Kinan. "Ah, Verian, jangan bicara begitu. Yang penting sekarang Kinan sudah sadar dan memilih wanita yang tepat, bukan? Selamat, Kinan. Semoga anakmu nanti bisa sehebat ayahnya... atau mungkin, pamannya ini bisa sedikit membantu mengarahkan posisinya di dewan komisaris nanti."
Kinan yang duduk di hadapan mereka hanya menatap piringnya dengan ekspresi yang sangat datar. Jika ini terjadi beberapa minggu yang lalu, saat racun herbal itu masih mengaburkan otaknya, ia mungkin akan merasa tertekan atau justru bersikap defensif demi menyenangkan keluarganya. Namun sekarang, setelah fungsi logikanya pulih seratus persen, ia melihat meja makan ini tak lebih dari sarang predator yang saling mengintai.
Kinan mendongak, menatap langsung ke arah mata tajam ayahnya, Tuan Kusuma.
"Terima kasih atas perhatiannya, Papa, Kak Verian," ucap Kinan dengan suara baritonnya yang tenang, mantap, dan sangat berwibawa. Tidak ada sedikit pun nada gentar di dalamnya. "Tapi Papa tidak perlu khawatir. Kusuma Group tetap berada di bawah kendaliku sepenuhnya, dan tidak akan ada satu pun pihak luar—atau bahkan orang dalam—yang bisa mengusik posisiku maupun masa depan calon anak ini."
Kata-kata Kinan yang sarat akan peringatan tersembunyi itu membuat senyum di wajah suami Verian mendadak membeku. Verian sendiri langsung menghentikan gerakan pisau dan garpunya, menatap adiknya dengan tatapan tidak suka yang tajam. Mereka menyadari, Kinan yang ada di depan mereka hari ini bukanlah Kinan yang bisa disetir atau ditekan seperti beberapa bulan lalu.
Tuan Kusuma memperhatikan dinamika tersebut dengan tatapan spekulatif. Alih-alih marah, sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di wajah tegasnya. Pria tua itu menyukai kekejaman dan ketegasan. "Bagus. Pertahankan taringmu, Kinan. Di keluarga ini, siapa yang lemah, dia yang akan didepak keluar."
Sherly yang duduk di samping Kinan diam-diam meremas gaun satinnya di bawah meja. Ia bisa merasakan perubahan energi yang luar biasa besar dari tubuh suaminya. Kinan tampak begitu dingin, begitu berjarak, seolah ada dinding kaca tebal yang kini membatasi dirinya dengan semua orang di rumah ini.
Setelah sarapan yang menegangkan itu selesai, Kinan segera berdiri dan berpamitan tanpa menunggu interaksi lebih lanjut. Langkah kakinya yang tegap membawanya keluar menuju mobil limosin yang sudah bersiap di lobi mansion.
Kinan membuka ponsel khususnya, menatap pesan terbaru dari tim investigasinya yang melaporkan bahwa pencarian titik koordinat rumah tempat Neya tinggal sudah mencapai delapan puluh persen.
lalu Kinan ?