Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Perjalanan Pulang ke Kumuh
Napasnya memburu, tersendat di pangkal tenggorokan.
Suara lolongan panjang itu belum sepenuhnya hilang. Resonansinya masih memantul kasar di antara deretan pilar beton yang hancur.
Wan Chen menyeret kakinya menembus kegelapan. Satu langkah. Dua langkah. Terlalu lambat. Beban tubuhnya terasa ditarik oleh gravitasi yang salah.
Pinggir jalan raya ini adalah zona mati. Bertahan dengan dua kaki yang goyah sama saja menawarkan lehernya sendiri.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah berdebu. Merangkak.
Ya, merangkak jauh lebih masuk akal.
Siku dan lututnya bergesekan dengan kerikil tajam. Rasa perih di perutnya bukan lagi sekadar sayatan tumpul, tapi terasa seperti dibor perlahan.
'Sial... Sakit sekali,' batinnya lelah.
Ia memaksakan diri masuk ke celah sempit di bawah bongkahan dinding apartemen yang runtuh. Sebongkah puing menutupi tubuhnya, menghalanginya dari cahaya bulan cacat di langit.
Suara langkah kaki mendekat. Berat. Terseret-seret di atas aspal yang retak.
Tukang sapu pemakan bangkai. Monster kelas rendah yang selalu datang terlambat untuk sisa makanan.
Wan Chen menahan napas. Rahangnya mengatup rapat.
Tangannya mencengkeram gagang pisau patahnya kuat-kuat. Lendir kental dari monster sebelumnya masih terasa licin, menempel di sela-sela jarinya yang kebas.
'Lewatlah. Terus jalan.'
Langkah berat itu berhenti tepat beberapa meter dari persembunyiannya. Terdengar dengusan panjang, mengendus udara basah.
Insting sintasannya berteriak menampar kesadarannya. Jangan bergerak. Jangan berkedip. Jangan bernapas.
Sebuah bayangan raksasa melintas pelan di luar celah reruntuhan.
Aroma darah segar dari bangkai monster di jalan utama jelas lebih menggoda daripada aroma manusia sekarat di balik batu. Bayangan itu pun berlalu, mengikuti sumber bau logam yang menggenang di sana.
Langkah bergesek itu semakin menjauh.
Wan Chen membuang napas dari mulutnya perlahan. Bau debu langsung menusuk paru-parunya, membuatnya nyaris terbatuk. Ia menelan ludahnya sendiri untuk menekan refleks itu.
Tiga jam berlalu. Atau mungkin cuma tiga puluh menit.
Otaknya sudah kehilangan fungsi untuk menghitung durasi. Fokusnya murni tersita untuk memastikan kaki kirinya tidak menyerah di tengah jalan.
Di depan sana, batas kegelapan mulai terputus. Siluet kumuh terlihat memblokir cakrawala.
Bukan barisan gedung bertingkat, melainkan tumpukan seng karatan dan terpal kotor yang dijahit serampangan.
Pemukiman pinggiran.
Bau limbah kimia seketika menyengat Hidungnya. Menyusul kemudian asap pembakaran kayu basah yang membuat mata pedih.
Aroma ini menjijikkan. Benar-benar busuk. Tapi bagi penghuni luar, bau ini adalah penanda batas keselamatan mutlak dari monster.
Ia berjalan tertatih memasuki area terluar pemukiman.
Seketika, tatapan mata dari balik celah tenda-tenda mulai tertuju padanya. Mata-mata cekung. Gelap. Menilai.
Ini memang bukan zona anomali. Tempat ini adalah kebun binatang tanpa kandang untuk predator berwujud manusia.
Seorang pria kurus beranjak dari jongkoknya di sudut jalan. Matanya mengunci ke arah saku jaket Wan Chen.
Wan Chen langsung menegakkan bahunya. Memaksa otot punggungnya menarik postur tubuh menjadi lebih tegap. Menahan ringisan mati-matian.
Ia membalas tatapan itu dengan mata datar yang redup. Tidak ada rasa takut, hanya kebosanan total.
Pria kurus itu meludah ke tanah, lalu kembali jongkok. Kehilangan minat.
Mengincar pemulung yang pulang dengan tangan kosong dan badan memar penuh darah kering bukanlah investasi yang bagus.
'Bagus. Tetaplah di sana.'
Berbelok menjauh dari jalan utama sektor, ia menyeberang ke sebuah gang sempit yang gelap gulita. Tidak ada lampu gantung. Cuma ada tumpukan drum berkarat penyimpan air kotor.
Tubuhnya meluruh di sana. Bahunya berbenturan pelan dengan dinding bata basah.
Ia butuh istirahat. Satu menit saja. Otot kakinya berkedut hebat meminta haknya.
Bersandar di kegelapan, otaknya mulai memutar kembali rentetan kejadian beberapa jam lalu. Mengingatnya membuat rahangnya menegang.
Bukan karena amarah. Ia terlalu lelah untuk marah. Ia hanya merasa sangat bodoh.
Dikhianati. Ditinggalkan secara sengaja untuk menjadi umpan penahan mutan. Oleh rekan satu timnya sendiri.
'Pelajaran yang sangat mahal,' gumamnya dalam hati.
Jarinya menyentuh permukaan jaket yang robek di area perut. Luka itu sudah mengering berkat tekanan konstan, tapi nyerinya mengakar hingga ke tulang belakang.
"Pahlawan," desisnya pelan. Suaranya serak, penuh nada ejekan.
Ia menepuk debu kotor di pahanya, membersihkan sisa tanah merah yang menempel.
"Pahlawan... itu cuma nama lain untuk mayat yang dipakai sebagai tameng mundur."
Wajah panik mantan rekan-rekannya melintas di kepalanya. Cara mereka memukul lututnya dari belakang agar ia jatuh, cara mereka berlari tanpa menoleh lagi ke belakang.
Tidak ada lagi omong kosong soal kepercayaan. Tidak ada lagi aksi punggung saling bersandar demi keamanan tim.
Mulai detik ini, porsi bertahan hidupnya adalah miliknya seratus persen.
Layar biru manipulasi gila yang tadi ia gunakan. Fungsi duplikasi mutlak.
Itu bukan alat keselamatan umat manusia. Itu bukan senjata rahasia untuk mengangkat faksi pusat dari kehancuran ekonomi.
Itu adalah mesin cetak uang pribadinya.
Tidak akan ada yang tahu. Tidak ada yang boleh tahu.
Ia meraba perutnya lagi. Merapikan sisa-sisa kain bajunya yang koyak, melipatnya paksa untuk menutupi balutan asal-asalan di balik jaket kumalnya.
Menampilkan kelemahan fisik secara terbuka adalah undangan mati di pemukiman ini. Ia harus terlihat sekadar babak belur biasa.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang benar-benar kempis.
Harta aslinya sangat aman. Dua kristal keruh penyambung nyawa itu kini membeku statis di dalam ruang penyimpanan dimensionalnya.
Tidak bisa dicopet di tengah jalan. Tidak bisa ditodong dan dirampas oleh preman blok.
Langkah Wan Chen kembali bergerak. Ritmenya kini jauh lebih stabil, didorong oleh sisa adrenalin murni.
Tujuannya sekarang berubah. Bukan mengarah ke tenda terpalnya yang bocor dan dingin.
Tidur dengan luka terbuka tanpa antiseptik sama saja mengundang infeksi mematikan sebelum pagi datang.
Ia mengambil rute melingkar. Menembus sisi pinggir blok yang lebih sepi, menghindari area pos pemeriksaan geng lokal yang kerap meminta jatah lewat.
Lalu, di ujung percabangan jalan berlumpur, sebuah pendar neon kuning berkedip sekarat.
Sebuah papan kayu reyot menggantung miring di atas pintu besi. Setengah cat hurufnya sudah pudar dan mengelupas dimakan hujan asam.
Toko Serba Ada Paman Zhao.
Atau lebih akuratnya, lintah darat paling tamak di seluruh Sektor D. Pria tua yang akan membeli apa saja asal barang itu tidak bisa bicara.
Wan Chen berhenti tepat dua langkah di depan pintu besi yang setengah tertutup itu. Ia mengatur napasnya yang masih sedikit pendek.
"Satu untuk makan," gumamnya pelan. Ia menatap celah pintu yang memancarkan cahaya kekuningan ke jalanan basah. "Satu untuk hidup."