Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIPERMALUKAN
"M-makanan apa? Aku tidak tahu apa-apa!" kilah Diana, mencoba menutupi kegugupannya.
"Oh, tidak tahu ya? Baiklah," ucap Rania berdiri dan berjalan mendekati Diana.
"Bagaimana kalau kita bicara soal pria simpanan di pinggiran kota itu? Atau soal penggelapan dana renovasi wilayah yang kamu gunakan untuk membayar hutang judi saudaramu?" tanya Rania, tersenyum dingin.
Deg
Wajah Diana seketika langsung berubah menjadi pucat pasi, dan keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
"D-dari mana kamu..." ucap Diana, dengan suara bergetar.
"Aku tahu segalanya, Diana, jadi jangan main-main denganku," bisik Rania tepat di telinga Diana.
"Sekarang, aku ingin semua pelayanmu berkumpul di sini, dan aku ingin kamu mengatakan pada mereka, siapa sebenarnya penguasa di rumah ini," perintah Rania, kembali ke posisi tegaknya.
"T-tidak... aku tidak mau!" tolak Diana, keras.
Rania hanya tersenyum miring, lalu dia mengambil sebuah vas bunga antik dari meja dan melempar nya begitu saja hingga hancur berkeping-keping.
Pyar
"Satu penolakan lagi, dan aku akan memastikan Duke menerima surat lengkap dengan bukti-bukti perselingkuhanmu malam ini juga," ancam Rania, menatap tajam pada Diana.
Diana mengepalkan tangannya kuat, sambil menatap Rania penuh kebencian, dia tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan Rania.
"Panggil semua pelayan kemari!" perintah Diana, dengan suara yang hampir habis.
Setelah puluhan pelayan berkumpul dengan bingung, Rania berdiri di depan mereka semua, sementara Diana dan Viola berdiri di sampingnya dengan wajah tertunduk malu.
"Dengar semuanya!" suara Rania menggema kuat.
"Mulai hari ini, jika kalian melihatku atau pelayanku, Lina, kalian harus memberi hormat lebih dari kalian menghormati wanita ini, jika ada yang berani memberikan makanan sisa atau kain bekas padaku lagi, aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak akan pernah bisa bekerja di manapun di kekaisaran ini. Paham?!" tanya Rania, tegas.
"P-paham, Nona Rania..." jawab para pelayan serempak, ketakutan melihat Nyonya mereka sendiri hanya diam tidak berkutik.
Rania menoleh ke arah Diana menunduk kan kepala nya, menahan tangis malu.
"Katakan pada mereka, Diana. Siapa aku?" perintah Rania dingin.
"D-dia... dia adalah Nona Rania Belmont, putri kandung Duke Belmont, kalian harus mematuhinya..." ucap Diana dengan suara tercekik.
"Bagus," Rania tersenyum puas.
Ding
"Misi Selesai!"
"Hadiah, 100 Poin Energi & Kunci Gudang Rahasia Duchess Eleanor telah masuk ke penyimpanan sistem."
Rania merasa dadanya sedikit lebih ringan, emosi Rania asli yang tadi meluap-luap kini terasa lebih tenang, seolah sang pemilik tubuh merasa dendamnya mulai terbalaskan sedikit demi sedikit.
"Ayo Lina, kita pergi, hawanya terlalu sesak karena banyak aroma pelacur di sini," ucap Rania sambil melangkah pergi dengan anggun.
"RANIA! AYAH TIDAK AKAN PERNAH MENYAYANGIMU! KAMU TETAP SAMPAH!"
Teriak Viola yang tidak tahan lagi akhirnya, berteriak penuh kebencian.
Rania menghentikan langkahnya di ambang pintu, namun dia tidak berbalik.
"Kasih sayang Duke? Aku sudah membuangnya ke tempat sampah semalam, Viola, simpan saja itu untuk dirimu sendiri, karena sebentar lagi, kamu akan membutuhkannya saat aku menendang mu keluar dari kediaman ini," jawab Rania dingin, lalu benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
Bruk
Diana jatuh terduduk di lantai sambil menangis histeris karena harga dirinya hancur berkeping-keping di depan para bawahan nya sendiri.
"Aku akan membunuh mu Rania!" teriak Diana, membanting semua barang di paviliun nya.
BRAK
PYAR
Sementara itu, di lorong menuju kamarnya, Rania tersenyum tipis, penuh kemenangan, walapun ini belum seberapa kalau di banding kan dengan penderitaan Rania asli selama ini, tapi setidaknya saat ini dirinya cukup puas.
"Satu langkah lagi menuju kunci rahasia itu. Sistem, siapkan rute menuju gudang ibuku malam ini," batin Rania, matanya berkilat penuh tekad.
"Dunia mungkin akan berakhir setahun lagi, tapi sebelum itu, aku akan memastikan rahasia kematian ibuku terungkap dan orang-orang yang terlibat akan memohon untuk mati di tanganku," batin Rania, mengepalkan tangannya kuat.
"Lina, ayo pergi ke pasar, aku ingin membeli beberapa pakaian, semua pakaian ku sudah tidak layak pakai," ucap Rania, menoleh ke arah Lina.
"Tapi Nona, kita tidak punya koin," jawab Lina, terduduk.
Rania menghentikan langkahnya, di menatap pelayan pribadi nya itu dengan kening berkerut.
"Sama sekali?" tanya Rania.
"Iya, Nona," jawab Lina, menunduk kan kepala nya.
"Sial! Mereka semua benar-benar keterlaluan," batin Rania kesal, bisa-bisa nya Rania tidak di beri uang.
Hah....
Rania menghela nafas nya panjang, dia hampir lupa, bahwa di rumah ini tidak ada satupun orang yang benar-benar melihat nya dan menganggap nya ada di dunia ini, bahkan orang yang seharusnya menjadi pelindung nya, justru dia lah orang pertama yang melukai nya.
Ding
"Anda bisa menukar koin yang Adan miliki menjadi koin emas, Letnan."
"Begitu? Baiklah tukarkan sekarang," ucap Lina.
"Koin sudah tersimpan di saku pakaian Anda."
"Terimakasih," ucap Rania, tersenyum kecil.
"Kamu tidak perlu memikirkan uang Lina, aku memiliki nya, ayo kita pergi ke pasar," ucap Rania, kembali melanjutkan langkahnya.
Tanpa banyak tanya, Lina mengikuti langkah Rania.
Rania melangkah keluar dari gerbang kediaman Belmont dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Udara segar di luar mansion terasa berkali-kali lipat lebih baik daripada aroma kemunafikan di dalam sana.
"Nona, apa benar kita tidak apa-apa keluar tanpa izin?" bisik Lina pelan, tangannya meremas ujung kain bajunya yang sudah pudar.
"Lina, dengar ya," ucap Rania menghentikan langkahnya sebentar, menatap Lina dengan sorot mata yang teduh namun kuat.
"Aku tidak butuh izin dari orang-orang yang bahkan tidak peduli apakah aku masih bernapas atau tidak. Mulai sekarang, angkat dagumu, kamu adalah pelayan dari Nona Rania Belmont, putri sah keluarga Belmont!" lanjut Rania, penuh penekanan.
Glek
Lina menelan ludah, lalu perlahan mengangkat kepalanya.
"Baik, Nona," jawab Lina, mengangguk kan kepala nya.
Mereka berdua benar-benar pergi ke pasar dengan menyewa kereta kuda.
Begitu sampai di pasar pusat yang ramai, mata Rania langsung berbinar, melihat deretan para pedagang pasar yang sedang menawari jualan mereka.
Suara tawar-menawar, aroma roti yang baru matang, dan warna-warni kain yang dipajang membuat jiwa Letnan Elena yang biasanya tegang menjadi sedikit hangat.
"Ayo kita cari pakaian untukmu juga, Lina, aku bosan melihatmu memakai kain kusam itu," ucap Rania sambil berjalan membelah kerumunan.
"Eh? Untuk saya juga, Nona? Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi, ini perintah," potong Rania cepat.
Baru saja mereka hendak melangkah menuju sebuah toko kain, suara keributan di sudut pasar menarik perhatian Rania.
Di sana terlihat kerumunan orang sedang melingkar, menyaksikan seorang pria tua berpakaian mewah, sedang mengamuk di depan sebuah gerobak roti sederhana.
suwun thor crazy upnya, matrehat thor