"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Deru mesin sedan hitam keluarga Valerio membelah jalanan utama Los Angeles dengan kecepatan konstan, namun di dalam kabin belakang, badai yang mengamuk di kepala Vexana sama sekali belum mereda. Sepanjang perjalanan pulang menuju Bel-Air, wanita itu hanya menatap kosong ke luar jendela.
Tatapannya melewati jajaran pertokoan mewah dan pepohonan hijau yang bergerak mundur, sementara otaknya terus memutar ulang rentetan peristiwa di parkiran tadi.
Tamparan yang ia layangkan pada Landon masih menyisakan rasa kebas samar di telapak tangan kanannya. Namun, rasa kebas itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hancur yang menggerogoti dadanya.
Dia mengira aku membunuhnya... batin Vexana, meremas ujung blus putihnya hingga kusut. Landon mengira aku menggugurkan bayi kami.
Ada kepedihan yang luar biasa saat menyadari pria yang paling dicintainya harus memikul kesalahpahaman sekejam itu. Namun, di balik rasa sakit itu, sebuah benteng pertahanan yang dingin perlahan terbangun di dalam diri Vexana. Ini lebih baik. Biarlah Landon membencinya.
Biarlah pria itu mengutuk namanya sebagai seorang wanita berdarah dingin yang melenyapkan darah daging mereka sendiri. Karena jika Landon mengetahui fakta yang sebenarnya—bahwa anak itu hidup, bahwa bocah laki-laki bernama AJ yang selama ini dianggap sebagai adiknya adalah putra kandung mereka—maka seluruh konspirasi gila keluarga Valerio akan pecah, dan AJ akan terseret ke dalam pusaran dendam masa lalu yang belum usai.
"Kita sudah sampai, Nona Vexa," suara lembut Josh, sang sopir pribadi, memecah lamunan Vexana saat mobil melambat dan melewati gerbang besi tempa yang menjulang tinggi milik kediaman Valerio.
Vexana tersentak kecil, lalu mengangguk kaku. "Terima kasih, Josh. Tolong jangan katakan apa pun pada Daddy tentang apa yang terjadi di kampus tadi."
"Baik, Nona. Saya mengerti," jawab Josh patuh, menjaga profesionalismenya sebagai orang kepercayaan keluarga.
Begitu mobil berhenti sempurna di depan selasar mansion yang megah, Vexana segera turun. Ia melangkah cepat melintasi pilar-pilar marmer putih, berniat langsung menuju kamarnya di lantai dua untuk menumpahkan seluruh air mata yang sejak tadi ia tahan di depan publik.
Namun, takdir tampaknya belum selesai menguji ketahanan mentalnya hari ini. Baru saja ia melangkah masuk ke dalam aula utama, sebuah suara cempreng yang sangat familier dan dipenuhi keceriaan khas anak-anak langsung menggema, meruntuhkan keheningan rumah besar itu.
"Kak Vexa!!!"
Seorang anak laki-laki berusia enam tahun dengan kaus raglan bermotif dinosaurus berlari kencang dari arah ruang tengah. Rambut hitamnya yang sedikit ikal bergerak mengikuti langkah kakinya yang bersemangat. Bocah itu langsung menghambur, memeluk erat kedua kaki Vexana dengan tawa riang yang begitu murni.
Vexana membeku. Jantungnya berdegup kencang, memompakan rasa hangat sekaligus ngilu yang luar biasa ke seluruh pembuluh darahnya. Ia menunduk, menatap bocah laki-laki yang sedang mendongak menatapnya dengan sepasang mata bulat legam yang berbinar indah.
Mata itu... mata legam yang tajam namun penuh rasa ingin tahu. Sepasang mata yang merupakan salinan sempurna dari milik Landon Desmon.
Bagaimana mungkin selama empat tahun ini dia begitu buta? Bagaimana mungkin dia memercayai begitu saja ucapan daddynya bahwa AJ adalah Adiknya?
Struktur rahangnya, cara bocah itu tersenyum kecil, bahkan guratan halus di keningnya saat sedang berpikir... semuanya adalah versi mini dari pria yang baru saja ia tampar di parkiran kampus.
"AJ..." bisik Vexana, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya nyaris luruh lagi, namun ia dengan cepat berlutut, menyamakan tingginya dengan sang putra—putra yang terpaksa memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'.
"Kak Vexa kenapa lama sekali? AJ sudah menunggu sejak tadi! AJ mau menunjukkan gambar robot baru yang AJ buat di sekolah!" ucap AJ dengan antusias, tangan kecilnya menarik-narik lengan blus Vexana.
Mendengar kata 'robot', dada Vexana kembali seperti dihantam godam. Darah Desmon benar-benar mengalir deras di tubuh anak ini.
Di usianya yang baru enam tahun, AJ tidak menyukai mainan balok atau mobil-mobilan biasa; bocah itu memiliki obsesi yang luar biasa pada dunia mekanik dan robotika—bidang keahlian yang membesarkan nama Landon Desmon di dunia akademis.
"Benarkah? AJ buat robot lagi?" Vexana memaksakan sebuah senyuman terbaiknya, meskipun hatinya sedang berdarah. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi gembil AJ dengan jemarinya yang masih bergetar.
"Maaf ya, Kak Vexa tadi ada kelas tambahan di kampus. AJ sudah makan siang?"
"Sudah! Tadi sama Mommy Amie," jawab AJ riang.
"Vexa? Kau baru pulang, Sayang?" Yara sang mommy melangkah mendekat, pandangan matanya yang tajam segera menyadari ada yang tidak beres dengan putri nya. "Kau sakit, sayang? Wajahmu pucat sekali."
Vexana berdiri perlahan, menggendong AJ ke dalam pelukannya—sebuah tindakan refleks yang kini terasa seribu kali lebih emosional setelah ia mengetahui kebenaran bahwa rahimnyalah yang dulu menampung kehidupan bocah ini. Ia mendekap kepala AJ erat-erat pada ceruk lehernya, menghirup aroma bedak bayi yang menenangkan dari tubuh anaknya.
"Aku tidak apa-apa, Mom. Hanya sedikit pusing karena tugas kuliah," dusta Vexana, suaranya terdengar parau. "Aku akan membawa AJ ke kamar atas untuk menemaniku istirahat sebentar."
Amieyara menatap Vexana dengan pandangan penuh selidik, namun wanita paruh baya itu memilih untuk tidak mendesak.
"Baiklah. Bersihkan dirimu dulu, nanti Mommy akan antarkan teh hangat dan camilan ke kamarmu."
Vexana mengangguk tipis, lalu membawa AJ melangkah menaiki undakan tangga marmer menuju kamarnya di sayap kanan lantai dua. Setiap tapakan kaki yang ia ambil terasa begitu berat, laksana memikul beban rahasia seluruh dunia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di dalam kamar tidurnya yang luas dan bernuansa klasik modern, Vexana mendudukkan AJ di atas ranjang king-size miliknya. Bocah itu langsung mengeluarkan selembar kertas gambar dari saku celananya dan memamerkannya dengan wajah bangga.
"Lihat, Kak! Ini Robot Rex! Dia bisa menembakkan laser dari matanya untuk melindungi Kak Vexa kalau ada orang jahat!" seru AJ, menunjuk gambar coretan krayon jalanya yang membentuk siluet robot besar berkaki empat.
Vexana duduk di samping AJ, menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang. Ia menatap gambar itu dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. "Bagus sekali... Robotnya hebat. Siapa yang mengajari AJ menggambar robot seperti ini?"
"Tidak ada! AJ lihat di buku perpustakaan sekolah. AJ suka sekali yang ada mesin-mesinnya!" jawab AJ jujur, lalu mulai merebahkan tubuh kecilnya di samping Vexana, meletakkan kepalanya di atas paha sang ibu tanpa beban.
Vexana mengusap rambut hitam AJ dengan penuh kasih sayang, membiarkan keheningan kamar menyelimuti mereka selama beberapa saat.
Di dalam keheningan itu, Vexana berjanji di dalam hatinya sendiri dengan sumpah paling sakral yang dimiliki seorang wanita: Aku akan melindungimu, AJ. Walaupun aku harus membiarkan diriku dibenci oleh ayahmu sendiri, aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku. Kau adalah hidupku yang sempat hilang.
Bzzz... Bzzz...
Getaran keras dari dalam tas selempang yang ia letakkan di atas meja rias memecah ketenangan. Vexana mengembuskan napas lelah. Ia perlahan memindahkan kepala AJ yang mulai terkantuk-kantuk ke atas bantal, lalu berdiri dan melangkah mendekati meja riasnya untuk mengambil ponselnya.
Satu notifikasi dari aplikasi pesan singkat tertera di layar.
Itu adalah gelembung obrolan dari grup proyek bisnis gila yang dibuat oleh Aurelie sore tadi.
Vexana membuka kunci layar ponselnya dengan perasaan waswas yang kembali memuncak.
Project Strategis - Dosen Landon Desmon
Aurelie:
Guys, aku sudah menyusun draf awal untuk proposal penelitian kita. Katia sudah menambahkan bagian analisis manajemen waktunya. Vexa, kau bisa cek filenya di dokumen yang kukirim di email, ya?
Katia:
Iya Vexa, tolong dibaca ya. Oh iya, sore ini kita harus mengirimkan pesan resmi ke Dosen Landon untuk meminta jadwal wawancara pertama kita minggu depan. Siapa yang mau mengirimkan pesannya? Aku takut kalau aku yang kirim, nanti bahasaku terlalu kaku.
Aurelie:
Bagaimana kalau Vexa saja yang kirim? Kan nomor mereka... maksudku, mungkin Dosen Landon akan lebih cepat merespons jika Vexa yang memulai obrolan formal ini. Bagaimana, Vexa?
Vexana mencengkeram pinggiran meja riasnya. Jantungnya kembali berdegup kencang secara abnormal.
Aurelie jelas-jelas sedang memancingnya, mencoba menguji kembali rumor masa lalu antara dirinya dan Landon yang sempat ia bantah di kelas tadi.
Vexana menatap deretan anggota grup di bagian atas layar. Di sana, di pojok kanan atas, foto profil kartun Scooby-Doo milik Landon seolah sedang menatapnya dengan penuh ironi.
Pria itu ada di dalam grup ini. Pria itu pasti membaca setiap gelembung obrolan yang dikirimkan oleh Aurelie dan Katia, meskipun dia belum memberikan respons apa pun sejak grup itu dibuat.
Bagaimana aku bisa mengirimkan pesan formal padanya setelah apa yang terjadi di parkiran tadi? batin Vexana panik.
Aku baru saja menamparnya, meneriakinya sebagai bajingan, dan membiarkannya mengira aku telah membunuh anak kami... dan sekarang aku harus mengiriminya pesan sopan bertuliskan 'Selamat sore, Dosen Desmon yang terhormat'?? Ini benar-benar gila!
Sebelum Vexana sempat mengetikkan jawaban untuk menolak usulan Aurelie, sebuah gelembung pesan baru tiba-tiba muncul di dalam grup tersebut. Pesan yang langsung membuat Vexana menahan napasnya seketika.
Nomor dengan nama kontak Landon Desmon, baru saja mengirimkan pesan.
Landon Desmon
Tidak perlu repot-repot membagi tugas untuk menghubungi saya. Saya sudah membaca draf proposal yang kalian bicarakan.
Hari Senin depan, jam 09.00 pagi. Datanglah ke Laboratorium Robotika Utama di Gedung Teknik Elektro lantai 4. Bawa seluruh dokumen fisik kalian. Saya tidak menerima keterlambatan barang satu menit pun.
Dan untuk Mahasiswi Vexana Valerio... pastikan kau hadir paling awal. Ada bagian dari analisis portofolio pribadi saya yang membutuhkan konfirmasi langsung dari pemahaman strategismu.
Deg.
Ponsel di genggaman Vexana nyaris saja tergelincir dari jemarinya yang mendadak mendingin.
Pesan dari Landon begitu singkat, padat, profesional, dan luar biasa dingin—laksana sebuah perintah mutlak dari seorang atasan kepada bawahannya. Namun, kalimat terakhir yang dikhususkan untuk namanya adalah sebuah ancaman terselip yang sangat nyata.
Landon sedang menggunakan otoritasnya sebagai dosen untuk memaksanya kembali berhadapan. Pria itu tidak akan membiarkan percakapan di parkiran tadi selesai begitu saja.
Dia menginginkan konfirmasi, dia menginginkan jawaban, dan dia sedang menjebak Vexana di dalam ruang kekuasaannya sendiri di Laboratorium Robotika.
Vexana menoleh, menatap AJ yang kini telah tertidur lelap di atas ranjangnya dengan posisi memeluk gambar Robot Rex-nya. Keberanian baru kembali merayap di dalam dada Vexana.
Jika Landon ingin bermain dengan menggunakan topeng profesionalisme kampus, maka Vexana Valerio akan melayaninya dengan permainan yang sama. Dia tidak akan lari lagi. Demi melindungi rahasia tentang putra mereka, dia akan berjalan masuk ke dalam sarang serigala itu hari Senin depan.