NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...

Udara di dalam pusat perbelanjaan ini terasa sangat artifisial. Bau pembersih lantai yang tajam beradu dengan aroma roti yang baru dipanggang dan parfum murahan yang disemprotkan secara acak dari konter-konter kosmetik. Aku benci keramaian. Bagi ku, setiap orang yang lewat membawa aura yang berbeda-beda, seperti warna-warna yang saling bertabrakan dan itu membuat kepala ku pening.

Namun, demi Dimas, aku bersedia menahannya.

Kami sedang berada di sebuah mal besar di pusat kota. Dimas bilang dia butuh kemeja baru karena aku sudah merobek dua kemejanya dalam seminggu terakhir (aku tidak merasa bersalah soal itu; dia sendiri yang memicu insting ku). Aku berjalan di sampingnya, mengenakan bucket hat untuk menyembunyikan telinga ku dan sweter longgar untuk memastikan ekor ku tetap terlipat tenang di balik sihir ilusi.

“Fokus, Linda. Jadilah istri manusia yang normal. Jangan mengendus setiap orang yang lewat,” batin ku sambil menggandeng lengan Dimas erat-erat.

"Linda, kau baik-baik saja? Pegangan mu sangat kencang," Dimas bertanya sambil mengusap punggung tangan ku.

"Aku hanya... merasa banyak gangguan di sini, Sayang," jawab ku pelan. Mata ku terus bergerak, memindai setiap wajah wanita yang melintas di sekitar kami. Aku merasa seperti radar yang sedang aktif sepenuhnya.

Kami berhenti di depan sebuah toko pakaian pria ternama. Dimas mulai melihat-lihat deretan kemeja, sementara aku berdiri sedikit di belakangnya, menjaga jarak namun tetap dalam jangkauan indra penciuman ku. Saat itulah, aku merasakannya. Sebuah frekuensi yang sangat mengganggu. Sebuah aura yang berwarna merah jambu norak, penuh dengan kepalsuan dan niat yang... lapar.

Seorang wanita, mungkin berusia beberapa tahun di bawah ku, mendekati Dimas. Dia mengenakan rok pendek yang aku rasa terlalu berlebihan untuk sekadar pergi ke mal, dan rambutnya yang dicat pirang pucat tergerai dengan sengaja.

"Permisi, Mas?" suaranya dibuat-buat, nada bicara yang tinggi dan manja yang langsung membuat telinga rubah ku di balik topi berkedut karena rasa jijik.

Dimas menoleh dengan sopan. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Aduh, maaf banget ya mengganggu. Aku lagi cari kado buat kakak ku, tapi aku bingung banget soal ukuran. Mas sepertinya punya postur tubuh yang mirip sama kakak ku. Boleh minta tolong cobain kemeja ini sebentar? Biar aku bisa lihat jatuhnya di badan gimana?"

Aku membeku di tempat. “Taktik kuno,” desis ku dalam hati. “Menggunakan alasan kado untuk menyentuh milik orang lain. Benar-benar manusia yang tidak tahu diri.”

Dimas, dengan sifatnya yang terlalu baik dan naif, tampak ragu. "Oh, itu... saya sedang buru-buru sebenarnya."

"Sebentar saja, Mas. Tolong ya? Aku sendirian soalnya, bingung mau minta tolong siapa lagi," wanita itu melangkah lebih dekat, tangannya yang berkuku panjang dengan warna cat menyolok mulai menyentuh lengan kemeja Dimas. "Tolong ya, Mas yang ganteng?"

Cukup.

Aku melangkah maju. Aku tidak meneriakinya. Aku tidak menjambak rambut pirangnya. Sebagai siluman yang elegan, aku punya cara yang jauh lebih halus namun memberikan dampak traumatis yang lebih lama.

Aku berdiri tepat di samping Dimas, melingkarkan tangan ku di pinggangnya dan menyandarkan kepala ku di bahunya. Aku membiarkan sedikit energi spiritual ku, yang biasanya aku sembunyikan, merembes keluar secara terarah. Aku tidak menggunakan sihir untuk melukai fisiknya, aku hanya memberikan "tekanan" mental. Tekanan yang biasa digunakan predator untuk membuat mangsanya merasa seolah-olah kematian sedang berdiri tepat di belakang punggung mereka.

"Ada masalah, Sayang?" tanyanya lembut, tapi mata ku terkunci pada wanita itu.

Aku menyipitkan mata. Pupil hijau ku menajam menjadi celah vertikal tipis yang berkilat di bawah lampu mal. Aku mengirimkan sebuah gelombang rasa takut yang murni melalui kontak mata. Dalam penglihatan ku, aku melihat aura wanita itu yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu pucat. Dia mulai berkeringat dingin.

"Oh... ini... ini istrinya?" suara wanita itu bergetar. Dia mundur satu langkah, tangannya yang tadi menyentuh Dimas kini gemetar hebat.

"Ya, aku istrinya," kata ku, suara ku rendah dan memiliki gaung yang hanya bisa didengar oleh naluri primitifnya. "Apa kau punya masalah dengan penglihatan mu, Nona? Suami ku sedang sibuk dengan ku. Dan aku rasa... kakak mu tidak akan cocok memakai kemeja pilihan mu."

Aku mengintensifkan tekanan mental itu. Bagi wanita itu, udara di sekitarnya mendadak terasa berat, oksigen seolah menghilang, dan dia merasa seolah-olah bayangan di belakang ku membesar menjadi sosok monster dengan taring raksasa.

"A-aku... maaf... aku salah orang... permisi!"

Wanita itu hampir tersandung kakinya sendiri saat dia lari terbirit-birit meninggalkan toko, meninggalkan kemeja yang dia pegang jatuh begitu saja ke lantai.

Dimas mengerjap, tampak bingung dengan perubahan mendadak itu. "Lho? Kok dia lari ketakutan begitu? Apa aku salah bicara?"

Aku menarik kembali energi ku ke dalam tubuh. Suasana di sekeliling kami kembali normal. Aku tersenyum manis pada Dimas, kembali menjadi istri yang manja. "Mungkin dia baru sadar kalau dia meninggalkan kompor menyala di rumahnya, Sayang."

"Tapi wajahnya pucat sekali tadi, Linda. Kau yakin tidak melakukan apa-apa?"

"Aku hanya menatapnya, Dimas. Apakah aku begitu menakutkan?" aku mengerucutkan bibir, menatapnya dengan mata bulat yang memelas.

Dimas menghela napas, mengusap kepala ku (dan topi ku). "Tidak, kau cantik sekali. Tapi terkadang aku merasa aura di sekitar mu jadi sangat... berat kalau kau sedang kesal."

“Kau tidak tahu saja, Dimas,” batin ku. “Jika aku tidak menahan diri, wanita itu mungkin sudah pingsan di tempat karena serangan jantung.”

Kami melanjutkan belanja. Namun, insting berburu ku sudah terlanjur bangkit. Aku tidak bisa lagi santai. Setiap pria atau wanita yang melirik Dimas lebih dari dua detik akan mendapatkan tatapan "peringatan" dari ku. Mal ini adalah hutan beton, dan suami ku adalah mangsa paling berharga yang harus aku lindungi dari pemulung-pemulung cinta di luar sana.

"Linda, ayo ke toko buku sebentar. Aku ingin cari referensi manajemen terbaru," ajak Dimas.

Di toko buku, suasana lebih tenang. Tapi lagi-lagi, ada gangguan. Seorang SPG yang bertugas di bagian buku impor tersenyum sangat lebar saat melihat Dimas masuk. Dia mulai merapikan pakaiannya dan berjalan mendekat.

“Lagi?” geram ku. “Apakah suami ku ini memakai parfum penarik wanita atau bagaimana?”

Sebelum SPG itu sempat membuka mulut, aku mendahuluinya. Aku berjalan memutari Dimas, lalu berdiri di belakangnya, memeluk lehernya dari belakang. Aku membiarkan ekor ku,.yang masih dalam wujud ilusi namun tetap bisa memberikan sensasi fisik, membelit kaki Dimas dengan kuat di balik celananya.

"Sayang, buku manajemen ini sepertinya bagus," aku menunjuk sebuah buku secara acak, sambil menatap SPG itu dengan tatapan "Jangan-Coba-Coba".

SPG itu segera memutar arah, berpura-pura merapikan rak buku di ujung ruangan yang lain.

"Linda, kau manja sekali hari ini," Dimas tertawa, memegang tangan ku yang melingkar di lehernya. "Biasanya kau malu bermesraan di tempat umum."

"Aku tidak malu. Aku hanya ingin memastikan semua orang tahu kalau kau sudah ada yang punya," jawab ku jujur. "Aku lelah melihat mereka terus-menerus mencoba mendekati mu. Haruskah aku memasang papan tanda 'Sudah Beristri' di jidat mu?"

Dimas membalikkan badannya, memegang pinggang ku. "Kau terlalu posesif, Sayang. Kau tahu aku tidak akan melirik mereka."

"Aku tahu kau tidak melirik. Tapi mereka yang melirik mu! Dan aku tidak suka itu. Rasanya seperti wilayah ku sedang dikencingi oleh kucing liar," aku bicara dengan istilah siluman ku tanpa sadar.

Dimas tertawa terbahak-bahak. "Dikencingi? Ya ampun, Linda. Istilah mu kasar sekali."

"Tapi itu yang aku rasakan!" aku membenamkan wajah ku di dadanya. "Aku ingin kita pulang saja. Aku ingin mengurung mu di apartemen kita, di mana hanya ada aku, kau, dan tidak ada wanita pirang atau SPG genit."

“Aku serius,” batin ku dalam dekapan hangatnya. “Aku ingin melindunginya dari dunia yang serakah ini. Di dunia manusia, mereka menyebutnya posesif. Di dunia ku, ini adalah pertahanan hidup. Dan aku akan melakukan apa saja untuk menjaga harta ku yang paling berharga.”

"Baiklah, baiklah. Kita beli kemejanya dulu, lalu kita pulang, oke?"

Setelah mendapatkan dua kemeja (yang aku pilih sendiri agar tidak terlalu menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis), kami berjalan menuju parkiran. Saat melewati area food court, aku melihat wanita pirang tadi sedang duduk bersama teman-temannya, masih terlihat gemetar sambil memegang segelas air mineral. Dia melihat ku, dan seketika wajahnya kembali pucat pasi. Dia segera menunduk, tidak berani mengangkat kepala sampai kami lewat.

Aku tersenyum kemenangan.

Di dalam mobil, saat Dimas mulai menyalakan mesin, aku melepas topi ku. Telinga cokelat ku langsung menyembul tegak, bergerak-gerak bebas menikmati kebebasan. Aku juga membiarkan ekor ku keluar sepenuhnya, mengembang besar karena rasa puas.

"Hah... akhirnya," aku menghela napas lega. "Mal itu benar-benar menguras energi ku."

"Kau sendiri yang memaksa ikut," goda Dimas sambil mulai menjalankan mobil.

"Tentu saja aku ikut! Kalau tidak, kau mungkin sudah diculik oleh wanita pirang itu untuk menjadi model kemeja 'kakaknya' yang fiktif itu."

Dimas hanya menggelengkan kepala, tersenyum sambil fokus menyetir.

Aku bersandar di kursi, memejamkan mata. Indra penciuman ku kini hanya menangkap aroma Dimas, aroma rumah yang aman. Insting berburu ku perlahan mereda, digantikan oleh rasa kantuk yang nyaman. Namun, di lubuk hati ku yang paling dalam, aku tahu bahwa insting itu akan selalu siap siaga.

“Manusia-manusia itu tidak akan pernah mengerti,” batin terakhir ku sebelum terlelap. “Mereka melihat Dimas sebagai pria biasa yang menarik. Tapi bagi ku, dia adalah jantung hati ku. Dan seorang siluman rubah tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh jantungnya, meski ia harus menakuti seluruh isi mal untuk itu.”

Mobil terus melaju, membawa kami kembali ke sarang kami yang tenang, jauh dari tatapan-tatapan pengganggu. Di sana, di apartemen nomor 404, aku tidak perlu menggunakan sihir untuk menjaga suami ku. Karena di sana, dia sepenuhnya milik ku, tanpa gangguan, tanpa batasan.

Dan besok, mungkin aku akan memintanya membuang semua kemeja yang menurut ku "terlalu bagus" itu. Posesif? Mungkin. Tapi begitulah cara seorang istri rubah mencintai.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!