NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulsasi Baru di Kota Pahlawan

Surabaya tidak pernah benar-benar tidur, dan malam ini, suasananya terasa lebih berat dari biasanya. RSIA tempat Zea istri kedua Malik berjuang di ruang persalinan hanya berjarak beberapa kilometer dari hotel tempat Najwa terbaring lemah. Devan memarkir mobilnya di pelataran rumah sakit dengan ketepatan yang biasa, namun jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak sinkron.

"Dok, kamu nggak papa kalau kita masuk?" tanya Kania ragu. Ia tahu Devan paling menghindari situasi di mana batas antara profesionalisme medis dan drama keluarga menjadi kabur.

"Secara etika profesi, saya tidak memiliki urgensi untuk berada di sini. Namun, secara sosiologis, meninggalkan kamu sendirian di lobi rumah sakit dengan kondisi hamil enam bulan adalah risiko yang lebih besar," jawab Devan sambil melepas sabuk pengamannya. "Ayo. Kita selesaikan observasi ini secepat mungkin."

Lobi rumah sakit itu tampak sunyi. Malik duduk di kursi panjang dengan kepala tertunduk. Saat melihat Devan dan Kania, ia berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

"Zea masih di dalam. Pembukaan lengkap, tapi detak jantung janin mulai tidak stabil," ucap Malik dengan suara bergetar.

Devan menyempitkan matanya. Insting dokter bedahnya langsung aktif. "Bradikardia janin? Apakah sudah ada keputusan untuk *C-Section* darurat?"

"Dokter di dalam masih mencoba induksi alami, tapi saya takut..."

"Malik," sela Devan, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dalam manajemen risiko medis, penundaan adalah musuh utama. Jika dalam lima belas menit tidak ada kemajuan, kamu harus meminta tim medis untuk melakukan tindakan operatif. Jangan biarkan sentimen emosional menghalangi keselamatan klinis."

Kania menyentuh lengan Malik untuk menenangkan. Di tengah ketegangan itu, pintu ruang persalinan terbuka. Seorang perawat keluar dengan tergesa. "Keluarga Ibu Zea? Bayinya sudah lahir, laki-laki. Tapi butuh observasi di NICU karena sempat mengalami asfiksia ringan."

Malik jatuh terduduk. Ia menangis, bukan hanya karena lega, tapi karena beban rasa bersalah yang bertumpuk. Di satu sisi ada Najwa yang terluka di hotel, dan di sisi lain ada anak laki-laki yang baru saja lahir dari wanita yang dianggap perusak kebahagiaan kakaknya.

Kania menatap Malik dengan perasaan campur aduk. Ia teringat Najwa. Bagaimana reaksi kakaknya jika tahu anak yang selalu ia impikan kini hadir lewat wanita lain?

"Dok, apa kita harus kasih tahu Mbak Najwa sekarang?" bisik Kania saat mereka menjauh sejenak dari Malik.

Devan melirik jam tangannya. "Secara hormon, Najwa sedang dalam kondisi *low cortisol* setelah pemberian sedatif ringan tadi. Memberitahunya sekarang bisa memicu lonjakan adrenalin yang berbahaya bagi stabilitas jantungnya. Tunggu sampai besok pagi. Biarkan sistem sarafnya beristirahat."

"Tapi cepat atau lambat dia akan tahu, Dok. Surabaya ini kecil untuk berita sebesar ini."

"Kania, dalam hukum maupun medis, timing adalah segalanya. Kita tidak bisa mengontrol fakta, tapi kita bisa mengontrol bagaimana fakta itu disajikan."

Pukul satu dini hari, Devan dan Kania akhirnya kembali ke rumah mereka di Surabaya Barat. Arlo sudah lama terlelap dalam pengawasan Mbak Siti. Keheningan rumah memberikan kontras yang tajam dengan hiruk-pikuk di rumah sakit.

Kania duduk di tepi ranjang, melepaskan sepatu hak rendahnya dengan susah payah. Kakinya mulai membengkak efek dari terlalu banyak berdiri dan stres seharian.

Tanpa diminta, Devan berlutut di depan Kania. Ia mengambil handuk hangat dan mulai mengompres kaki istrinya. Sebuah tindakan yang sangat tidak "Devan" jika dilihat oleh mahasiswanya, namun menjadi rutinitas penuh kasih di balik pintu kamar mereka.

"Makasih ya, Dok. Hari ini panjang banget," gumam Kania sambil memejamkan mata.

"Istirahatlah. Besok saya akan meminta asisten saya di kampus untuk menghandle kelas pagi. Saya akan menemani kamu ke hotel Najwa sebelum kita memutuskan langkah selanjutnya soal yayasan itu," ujar Devan tanpa mengalihkan fokus dari pijatan lembut di kaki Kania.

"Dokter... apa kita bakal selalu begini? Mengurusi badai orang lain?"

Devan berhenti sejenak, lalu menatap Kania dengan serius. "Kania, hidup bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang belajar menari di bawah hujan dengan payung yang tepat. Payung kita adalah transparansi dan logika. Selama kita tidak membiarkan emosi mereka merembes ke dalam sistem kita, kita akan aman."

Pagi harinya, sebuah keputusan besar diambil. Najwa, setelah mendengar kabar kelahiran anak Malik lewat penjelasan yang sangat hati-hati (dan sedikit klinis) dari Devan, menunjukkan ketegaran yang tak terduga.

"Mungkin benar kata kamu, Kania," ucap Najwa sambil menatap dokumen yayasan di meja hotel. "Anak itu tidak salah. Yang salah adalah bagaimana kita mengelola ekspektasi kita. Aku akan kembali ke Jakarta hari ini. Dan soal yayasan... aku sudah menandatangani surat kuasanya. Kamu bisa mengontrolnya dari Surabaya. Aku ingin kamu punya sesuatu yang bisa kamu banggakan di sini, selain menjadi istri Dokter Devan."

Kania memeluk kakaknya erat. Ada rasa lega yang luar biasa. Beban dari masa lalu Jakarta seolah terangkat sebagian.

Saat mengantar Najwa ke Bandara Juanda, Devan berdiri di samping Kania, memegang tas tangan istrinya. Arlo berlarian kecil mengejar burung merpati di area keberangkatan.

"Sistem sudah kembali stabil?" tanya Devan pelan.

Kania tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Iya, Dok. *Update* terbaru: Semua variabel sudah berada di tempatnya. Mbak Najwa pulang untuk sembuh, Malik punya tanggung jawab baru, dan kita..."

"...dan kita punya kehidupan yang harus dilanjutkan di Surabaya," potong Devan. Ia mencium kening Kania dengan lembut. "Ayo pulang. Saya harus menyiapkan materi ujian untuk para mahasiswa yang kemarin 'beruntung' saya luluskan."

Kania tertawa. Panas Surabaya tidak lagi terasa menyengat. Baginya, suhu di samping Devan selalu tepat. Mereka berjalan menuju parkiran, siap menghadapi bab-bab selanjutnya dari 150 perjalanan hidup mereka yang masih panjang, penuh dengan anomali, namun selalu berakhir dalam sebuah sinkronisasi yang indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!