NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Pagi di Vancouver selalu diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti garis pantai, namun di dalam studio kreatif "Lucinda’s Label", suasananya sangat sibuk. Bau kopi espresso yang kuat bercampur dengan aroma kain linen baru dan sampel parfum yang sedang mereka kembangkan.

Lulu duduk tegak di depan meja rias besar, sementara seorang wanita muda dengan gaya quirky—rambut pendek berwarna pirang platina dengan kacamata berbingkai unik—sibuk menempelkan potongan kain sutra ke bahu Lulu menggunakan jarum pentul.

Wanita itu adalah Shella. Dia bukan sekadar desainer yang bekerja untuk Lulu; dia adalah putri dari Bu Sarah, sosok yang menyelamatkan hidup Lulu tujuh tahun lalu. Persahabatan mereka bermula saat Lulu baru saja memulai kuliah di Kanada. Shella, yang saat itu mengambil jurusan Fashion Design, adalah orang pertama yang mengajak Lulu bicara di kantin kampus, tanpa tahu bahwa ibu merekalah yang menjadi jembatan takdir mereka.

"Lu, sumpah, kalau lo pake cutting-an yang ini buat koleksi musim depan, gue jamin semua kritikus fashion di Amerika Utara bakal melongo," ucap Shella sambil menggigit jarum pentul di sudut bibirnya.

"Gue nggak mau mereka cuma melongo, Shell. Gue mau mereka ngerasa kalau tiap helai kain ini punya cerita," jawab Lulu sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

"Gue suka visi lo. Dingin, berkelas, tapi punya kedalaman," Shella terkekeh, lalu mundur selangkah untuk melihat hasil karyanya. "Nyokap gue sering nanya kabar lo, tahu. Beliau bangga banget liat lo sekarang. Dari anak asuh yang pendiam di asrama dulu, sekarang jadi muse sekaligus otak di balik brand yang desainnya lagi gue garap ini."

Lulu tersenyum tipis—senyum tulus yang hanya muncul saat dia bersama Shella atau Sisil. "Kalau bukan karena bantuan Bu Sarah yang nampung gue pas gue baru sampai di Kanada dengan kondisi hancur, gue mungkin nggak akan pernah punya keberanian buat mulai bisnis ini, Shell."

"Yah, gue juga untung ketemu lo. Desain gue yang idealis dan kadang agak aneh ini cuma bisa kelihatan mewah kalau lo yang pake. Body 173 senti lo itu bener-bener berkah buat pola baju gue," Shella kembali sibuk menyesuaikan lingkar pinggang gaun tersebut.

Fokus utama mereka saat ini adalah menyempurnakan koleksi terbaru yang diberi nama "The Silent Storm". Ini adalah proyek yang sangat personal bagi mereka berdua. Shella bekerja siang malam di ruang jahitnya di sudut studio, memastikan setiap jahitan mencerminkan karakter Lulu yang baru: elegan, tak tersentuh, dan sangat kuat.

"Gue mau materialnya cuma pake sutra organik, Shell. Jangan ada kompromi soal kualitas. Merek kita harus berdiri di atas kualitas, bukan cuma sekadar tren sesaat," ucap Lulu tegas, suaranya kini sepenuhnya suara seorang pengusaha.

"Tenang aja, Bos. Gue udah pesen material terbaik dari vendor kita di Prancis. Gue bakal pastiin tiap detilnya flawless. Kita bakal tunjukin ke dunia kalau duet maut anak Bu Sarah dan lo itu nggak main-main," jawab Shella penuh semangat.

Sisil tiba-tiba masuk ke ruangan membawa papan jalan berisi jadwal pemotretan. "Ngomongin soal kualitas, tim fotografer buat kampanye terbaru udah siap di lokasi outdoor besok. Mereka mau ambil konsep di pinggir tebing British Columbia supaya dapet kesan 'dingin' dan 'mahal' dari koleksi kita."

Lulu mengangguk puas. Baginya, merek ini adalah cara dia membuktikan keberadaannya di dunia. Setiap gaun yang diciptakan Shella adalah simbol bahwa dia telah berhasil membangun sesuatu yang megah dari puing-puing masa lalu yang kelam.

"Gue mau koleksi ini jadi yang terbaik yang pernah kita buat, Shell," kata Lulu sambil menyentuh tekstur kain di bahunya. "Gue mau orang tahu kalau nama 'Lucinda' adalah sinonim dari kesempurnaan."

"Siap, Lu! Gue bakal lanjutin jahit detail di bagian belakang. Lo istirahat dulu, biar energi lo maksimal buat photoshoot besok," Shella menepuk bahu Lulu dengan akrab sebelum kembali ke meja jahitnya yang penuh dengan sketsa.

Di studio itu, ketiga wanita tangguh itu terus bekerja selaras. Shella dengan kreativitasnya yang liar, Sisil dengan manajemennya yang rapi, dan Lulu sebagai wajah sekaligus jiwa dari merek mereka. Di bawah langit Kanada yang tenang, mereka sedang membangun sebuah kerajaan kecantikan yang sebentar lagi akan dikenal oleh seluruh dunia.

Lulu menatap tumpukan buku-buku lama yang tersusun rapi di rak studionya. Di antara majalah fashion kelas atas, terselip beberapa buku tebal mengenai hukum kontrak dan strategi pemasaran global. Itu adalah sisa-sisa perjuangannya saat kuliah. Selama empat tahun, Lulu adalah mahasiswa yang paling rajin di jurusannya. Dia tidak pernah ikut pesta kampus; waktunya habis untuk belajar cara membangun struktur perusahaan yang kuat.

"Lo lagi ngeliatin apa, Lu? Masih kangen masa-masa begadang ngerjain tugas makroekonomi?" tanya Shella sambil terkekeh, tangannya masih lincah memotong pola kain.

Lulu menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Gue cuma mikir, kalau dulu gue ambil jurusan Sastra atau Sains murni sesuai hobi gue, mungkin sekarang gue nggak bakal punya ketegasan buat nolak vendor yang mau mainin harga kita, Shell."

"Bener banget. Gue inget pas kuliah dulu, lo satu-satunya anak Manajemen yang penampilannya paling misterius tapi otaknya paling encer kalau urusan analisis pasar," Shella meletakkan guntingnya dan menghampiri Lulu. "Tapi justru itu yang bikin brand kita beda. Lo punya sisi bisnis yang tajam, dan gue punya sisi seni yang liar. Makanya Lucinda’s Label bisa sekuat ini di Kanada."

Lulu mengangguk setuju. Pilihan jurusannya dulu adalah bentuk pertahanan diri. Dia ingin memastikan bahwa ketika dia kembali ke "medan perang", dia tidak hanya membawa kecantikan fisik, tetapi juga kecerdasan finansial yang bisa menghancurkan lawan bisnisnya jika perlu.

"Gue mau kita nambahin satu elemen lagi di koleksi The Silent Storm," ucap Lulu tiba-tiba, matanya kembali fokus pada manekin di depan mereka. "Gue mau ada detail kancing perak dengan inisial 'LE' yang tersembunyi di bagian dalam kerah. Hanya pemilik baju itu yang tahu kalau ada identitas asli di sana."

Shella mematung sejenak, lalu tersenyum lebar. "Lucinda Erin. Gue suka ide itu. Kesannya eksklusif dan... personal. Kayak sebuah rahasia yang cuma diketahui oleh orang-orang terpilih."

"Persis," jawab Lulu singkat.

Sambil Shella kembali bekerja, Lulu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke pegunungan. Dia ingat bagaimana dulu dia kesulitan memahami istilah-istilah bisnis dalam bahasa Inggris saat pertama kali kuliah di usia yang masih sangat muda. Dia harus belajar dua kali lebih keras dari mahasiswa lokal. Namun, rasa sakit dari pengkhianatan Arlan menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis. Setiap kali dia merasa lelah menghafal teori manajemen, dia akan mengingat tawa Reno di depan rumahnya, dan seketika energinya kembali penuh.

Kini, gelar Manajemen Bisnis itu bukan sekadar kertas di dinding asrama lamanya. Gelar itu adalah dasar dari setiap kontrak yang dia tanda tangani, setiap negosiasi yang dia menangkan, dan setiap langkah strategis yang dia ambil untuk membesarkan namanya di British Columbia.

"Shell," panggil Lulu tanpa menoleh. "Setelah koleksi ini rilis, gue mau kita mulai ekspansi ke pasar yang lebih luas. Gue rasa pondasi kita di Kanada udah cukup kuat."

Shella menghentikan mesin jahitnya sejenak, menatap punggung Lulu yang tegak dan anggun. "Gue ikut gimana lo aja, Lu. Ke mana pun 'Cahaya' ini pergi, gue bakal pastiin baju-baju gue yang bakal nerangin jalannya."

Lulu tersenyum, kali ini lebih lebar. Di studio yang hangat itu, di tengah gulungan kain sutra dan sketsa desain, Lulu merasa untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu, dia benar-benar memegang kendali penuh atas bidak catur hidupnya sendiri.

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!