NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Tender yang Menghancurkan Hati

Mereka mengobrol lebih lama, suasana kini jauh lebih santai. Riton bercerita tentang Aksara Digital, tentang mimpinya untuk membangun perusahaan yang tidak hanya menguntungkan tetapi juga memberikan dampak positif. Ekantika mendengarkan, mencatat setiap detail, sesekali memberikan tanggapan empati sebagai Nana. Perasaan bersalah itu terus bergolak di dalam dirinya, namun ia tidak bisa menarik diri dari pesona Riton.

"Nah, ini baru Nana yang aku tahu," Riton tersenyum, mengakhiri ceritanya. "Yang ceria, yang semangat. Jangan sedih-sedih lagi ya."

Ekantika membalas senyumnya, senyum yang terasa hambar di bibirnya. "Iya, Ton. Makasih ya udah mau dengerin aku. Kamu... kamu baik banget."

Riton mengusap rambut Ekantika lagi, kehangatan sentuhannya menembus lapisan kepalsuan Nana. "Udah mau malam nih, Na. Aku harus pulang. Besok ada rapat penting."

"Oh, iya," Ekantika mengangguk, merasakan tusukan kecil di dadanya. Perpisahan selalu terasa berat.

Mereka bangkit dari karpet. Riton menatap sekeliling ruangan sekali lagi, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. "Jaga diri baik-baik ya, Na. Kalau ada Toni lagi, langsung kasih tahu aku."

"Pasti," Ekantika berjanji, suara yang terasa palsu di telinganya sendiri.

Riton melambaikan tangan, lalu keluar dari kamar kos. Ekantika berdiri di ambang pintu, melihat Riton menuruni tangga. Saat Riton menoleh dan melambaikan tangan lagi, Ekantika membalasnya dengan senyum lebar, senyum Nana yang paling ceria.

Setelah Riton menghilang dari pandangannya, Ekantika menutup pintu. Seketika, senyumnya luntur. Rasa hampa dan jijik pada diri sendiri melanda. Ia baru saja melakukan manipulasi emosional terburuk dalam hidupnya, memanfaatkan kebaikan pria yang ia cintai. Kau sungguh mengerikan, Ekantika.

Ia mengeluarkan ponselnya, menelepon Dimas. "Dimas, dia sudah pulang."

"Oke, Bu. Saya segera menjemput Ibu," jawab Dimas, terdengar lega.

Ekantika duduk di kasur, memijat pelipisnya. Keheningan kamar kos itu kini terasa lebih berat dari sebelumnya, dipenuhi oleh gemuruh hati nuraninya yang memberontak. Ia tahu ia tidak bisa terus seperti ini. Tapi bagaimana caranya menghentikan kereta kebohongan ini tanpa menghancurkan segalanya?

*

Di luar Kos Pelangi Tebet, Riton menyalakan mesin motornya. Senyumnya masih terukir tipis, namun matanya memancarkan keraguan. Radio usang? Suara orang mandi dari radio? Rasanya terlalu dipaksakan. Ia kenal Ekantika Asna. Wanita CEO itu, yang begitu dingin dan tegas di kantor, namun juga punya sisi yang cerdas dan detail. Kenapa Nana, yang begitu mirip dengannya, punya begitu banyak cerita yang terasa... agak tidak masuk akal?

Ia menghela napas, otaknya memutar ulang setiap "kebetulan" aneh yang terjadi sejak ia mengenal Nana. Kartu akses Ekantika yang tertinggal, parfum yang familiar, Toni yang sepupunya. Dan sekarang, radio usang dengan sound effect orang mandi.

Riton mengendarai motornya perlahan menyusuri gang sempit. Lampu jalan yang remang-remang menari di atas aspal basah. Saat ia hampir mencapai mulut gang, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir di pinggir jalan, sedikit tersembunyi di balik pohon. Mercedes Benz S-Class. Sebuah mobil yang tidak akan terparkir sembarangan di gang kecil seperti ini.

Jantung Riton berdesir. Ia mengerem motornya, memperlambat laju. Matanya meneliti mobil itu. Kaca gelap. Terlalu mewah untuk daerah ini. Lalu, ia melihat seseorang di kursi pengemudi. Seorang pria paruh baya mengenakan seragam rapi. Supir.

Kenapa ada mobil seperti ini di sini?

Riton secara refleks menengok ke belakang, ke arah gang tempat kos-kosan Nana berada. Lalu ia menatap mobil itu lagi. Ada koneksi yang aneh, yang ia tidak bisa jelaskan.

Tiba-tiba, pintu belakang mobil itu terbuka. Dan dari dalam, Ekantika Asna, CEO Garuda, keluar.

Riton merasakan seluruh dunia berputar. Ia membeku di atas motornya, matanya membelalak tak percaya. Ekantika Asna? Di sini? Sekarang? Wanita itu mengenakan jaket hoodie yang sama dengan yang Nana pakai tadi, dan berjalan cepat menuju arah gang. Ia terlihat... gelisah.

Ekantika berhenti di depan mobil, sedikit mengintip ke arah jalan utama, seolah memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia mengobrol singkat dengan sopirnya, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju perlahan, melewati Riton yang masih mematung.

Riton bisa melihat wajah Ekantika sekilas melalui kaca jendela yang terbuka sedikit. Wajah tanpa riasan tebalnya, rambut yang digerai, persis seperti Nana. Tapi ada kepanikan di matanya, yang sama dengan yang ia lihat di mata Nana saat ia bertanya soal radio tadi.

Ia menatap sopir itu. Sopir itu menoleh, matanya bertemu dengan mata Riton. Ada tatapan terkejut yang cepat ia sembunyikan. Sopir itu tersenyum kaku, lalu dengan sigap mengeluarkan ponselnya, berpura-pura sedang menerima panggilan.

"Iya, Pak. Jemput di sini saja. Penumpang lain sudah menunggu," kata sopir itu, suaranya sedikit lantang, seolah memastikan Riton mendengarnya. Ia melambaikan tangan ke arah jalan, pura-pura menyuruh orang masuk. "Maaf, Mas. Saya ini sopir taksi online. Baru saja mengantar penumpang."

Riton tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, otaknya berputar cepat. Taksi online? Mercedes S-Class? Di gang sempit ini? Alibi itu terlalu lemah. Terlalu dipaksakan.

Saat mobil itu berbelok di ujung gang, Riton mencatat plat nomor mobil itu di ponselnya. F 123 KA. Sebuah plat nomor khusus, yang sangat ia kenal.

Riton menatap layar ponselnya, pada deretan angka dan huruf itu. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena kerinduan, melainkan karena kebenaran yang mulai menamparnya dengan keras.

Itu mobil dinas CEO Garuda.

Ponselnya terasa panas di genggamannya. Otaknya memproses informasi itu dengan kecepatan yang menakutkan, menghubungkan setiap titik yang selama ini terasa aneh. Mobil dinas CEO Garuda, di gang sempit dekat kos-kosan Nana. Sopir yang berbohong tentang taksi online. Wajah Ekantika Asna, tanpa riasan tebalnya, rambut tergerai, dengan tatapan panik yang persis sama dengan yang ia lihat di mata Nana. Parfum familiar yang ia cium di kantor Ekantika. Kartu akses Ekantika yang tertinggal di kafe tempat ia berkencan dengan Nana. Dan kembaran identik Toni. Tidak mungkin semua ini kebetulan.

Sebuah gelombang dingin mengalir di punggung Riton. Bukan kemarahan yang membakar, melainkan rasa dikhianati yang sangat dalam, yang menusuk hingga ke ulu hati. Nana. Ekantika. Dua wanita yang berbeda, namun kini terasa begitu... menyatu. Dan kenyataan itu terasa seperti hantaman palu godam. Apakah Nana adalah Ekantika? Apakah aku sudah dibohongi lagi? Rasa sakit dari masa lalu, dari mantan pacarnya yang manipulatif, kembali menyeruak, terasa segar dan perih. Ia mengepalkan tangan di setang motornya, urat-urat di lengannya menonjol. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi.

*

Beberapa hari kemudian, ketegangan menyelimuti lantai teratas gedung Garuda. Hari itu adalah pengumuman short-list finalis tender Proyek Garuda, sebuah proyek digitalisasi infrastruktur nasional yang bernilai triliunan rupiah. Bagi Garuda, ini adalah prestise. Bagi Aksara Digital, ini adalah kesempatan untuk melompat ke liga yang lebih tinggi. Dan bagi Ekantika, ini adalah medan perang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!