NovelToon NovelToon
DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."



Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.

"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."

Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.

"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."

"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."

Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WARNA KEHIDUPAN TINGGAL SISAH

Malam harinya setelah pulang dari pantai, suasana rumah terasa berbeda. Bukan lagi dingin dan sunyi seperti kuburan, tapi kini terasa hangat, penuh dengan sisa-sisa kebahagiaan yang baru saja mereka ciptakan.

Arsenio terlihat sangat kelelahan setelah perjalanan itu. Begitu sampai di kamar, ia langsung berbaring lemas, napasnya terdengar berat dan matanya sulit untuk tetap terbuka. Tapi senyum di wajahnya... tidak pernah hilang.

Keyla sibuk membereskan barang-barang, lalu segera duduk di tepi ranjang, mengambil tangan dingin suaminya dan menggenggamnya erat-erat di kedua pipinya sendiri.

" Capek ya, Sayang?" tanya Keyla lembut, matanya menatap wajah pucat itu dengan penuh rasa sayang dan rasa bersalah. "Maaf ya udah maksa kamu jalan-jalan jauh."

Arsenio menggeleng pelan, berusaha mengumpulkan sisa tenaga untuk bicara.

"Enggak... itu worth it. Sangat berharga." jawabnya pelan, suaranya serak. "Aku senang bisa lihat kamu tertawa lepas kayak tadi. Itu hadiah terindah yang aku terima akhir-akhir ini."

Keyla tersenyum kecil, lalu ia mengecup punggung tangan itu berkali-kali. "Kalau gitu, besok kita jalan lagi ya? Ke taman bunga? Ke mall? Ke mana aja yang kamu mau!"

Arsenio tertawa kecil, tawanya terdengar renyah namun menyakitkan karena batuk yang menyela.

"Kau ini... tidak tahu lelah ya? Padahal aku saja sudah mau habis tenaganya."

"Aku nggak bakal pernah lelah selama sama kamu. Selamanya juga nggak bakal lelah."

Mendengar kata 'selamanya', senyum Arsenio perlahan memudar. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang jauh.

"Selamanya... itu kata yang berat, Key. Aku berharap aku bisa janji itu sama kamu. Tapi tubuhku ini... rasanya seperti lilin yang mau habis. Nyala apinya makin kecil, makin redup."

Keyla langsung memotong, "Jangan bilang gitu! Lilinnya masih ada kok! Masih panjang sisa minyaknya! Kita isi terus ya biar nggak padam!"

Arsenio menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, sangat lembut, dan sangat sedih.

"Key... dengar aku. Kita sudah menikah. Kita sudah bahagia. Kita sudah punya kenangan yang banyak. Jadi kalau nanti... di BAB 20 nanti, waktuku benar-benar habis... tolong jangan benci waktu. Jangan benci Tuhan. Terima saja bahwa cerita kita memang ditulis seperti ini."

Keyla menunduk, air matanya jatuh membasahi selimut. Ia tahu Arsenio benar. Ia tahu kenyataan itu pahit tapi harus diterima.

" Aku takut..." isak Keyla pelan. "Aku takut banget sendirian di rumah sebesar ini. Tanpa suara kamu. Tanpa sentuhan kamu."

" Aku tidak akan pernah benar-benar pergi." Arsenio mengangkat tangannya yang berat, menyentuh pipi gadis itu pelan. "Aku ada di setiap sudut rumah ini. Aku ada di angin yang masuk lewat jendela. Aku ada di bau buku di perpustakaan. Dan yang paling penting... aku ada di sini."

Tangan Arsenio menunjuk tepat ke dada Keyla, ke jantungnya.

"Selama kamu masih ingat aku, selama kamu masih sayang aku... aku akan tetap hidup di situ. Selamanya."

 

Beberapa hari berikutnya, Arsenio benar-benar menghabiskan waktunya hanya di kamar.

Kekuatannya makin hari makin menyusut. Ia sudah tidak bisa lagi duduk lama. Posisi paling nyaman baginya hanyalah berbaring miring atau telentang dengan bantuan bantal yang tinggi.

Warna hidup di wajahnya perlahan memudar. Kulitnya yang dulu putih kemerahan, kini berubah menjadi pucat pasi seperti kertas, bahkan sedikit kebiruan di sekitar bibir dan kuku.

Tapi matanya... mata itu tetap hidup. Setiap kali Keyla masuk ke kamar, mata itu akan langsung berbinar, mencari gadis itu seolah-olah itu adalah sumber cahayanya satu-satunya.

"Key..." panggilnya pelan setiap kali melihat bayangan istrinya.

"Aku di sini! Aku bawa susu hangat!" seru Keyla ceria, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik topeng kebahagiaan.

Ia duduk di samping ranjang, lalu dengan hati-hati membantu Arsenio minum. Pria itu menelan susu itu dengan susah payah, napasnya tersengal setelahnya.

"Enak..." gumamnya. "Hangat."

"Mau dengerin musik? Atau mau aku bacain buku?" tanya Keyla, tangannya terus mengusap lengan suaminya.

"Bacain cerita dongeng. Cerita yang bahagia. Yang akhirnya mereka hidup bahagia selamanya."

Keyla mengangguk. Ia mengambil buku cerita anak yang entah kenapa ada di kamar itu, lalu mulai membacakan dengan suara yang lembut dan merdu.

Arsenio mendengarkan dengan mata terpejam, tersenyum damai.

Di dalam cerita, pangeran dan putri bisa hidup bahagia selamanya.

Di dalam cerita, tidak ada penyakit, tidak ada kematian.

Sayangnya, hidup mereka bukan dongeng.

Tapi setidaknya... untuk saat ini, mereka bisa berpura-pura.

"Key..."

"Ya?"

"Peluk aku. Pegang tangan aku terus. Jangan lepas ya sampai aku tidur."

"Iya, aku pegang terus."

Keyla memasukkan tangannya ke dalam genggaman tangan dingin itu, mengaitkan jari-jari mereka erat-erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan dan kekuatannya ke tubuh suaminya.

Mereka diam berjam-jam.

Hanya terdengar suara detak jarum jam yang berjalan 'tik... tok... tik... tok...'

Mengingatkan mereka bahwa waktu tidak pernah berhenti.

Waktu terus berjalan.

"Sayang kamu, Keyla..." bisik Arsenio di antara rasa kantuk yang mulai datang.

"Sayang kamu juga, Arsenio Davide. Suamiku."

"Tidur ya..."

"Tidur..."

Malam itu, Keyla tidak tidur.

Ia terus menatap wajah itu, menghafal setiap detail, menyimpan setiap kenangan, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi di bab-bab selanjutnya.

'Aku akan menikmati setiap detik.

Sampai detak jantungmu yang terakhir.

Sampai halaman terakhir buku kita.'

Halo semua semoga suka ya dengan karya terbaru saya

1
M ipan
😭🌹
Nesya
mencintai sampai maut memisahkan nyeseeek bgt euy 😭😭😭😭
meongming
semangat thor💪
M ipan: terima kasih kakak atas dukungan nya❤️
total 1 replies
Nesya
baru baca sinopsis nya udah nyesek duluan membayangin bab2 berikutnya fikx bikin mewek ni novel 😭
M ipan: terima kasih kakak sudah mau mampir
total 1 replies
Zia Zee
😭😭😭😭
M ipan: insakallah kakak, semoga kakak setia di buku saya ya🌹
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!