NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kembali ke Bawah Tanah

Perjalanan kembali melalui terowongan bawah tanah terasa lebih cepat.

Mungkin karena mereka sudah mengenal jalannya. Mungkin karena tidak ada lagi misteri yang menanti di cabang-cabang gelap. Atau mungkin karena harapan yang kini mereka bawa—Air Mata Kegelapan dalam botol kristal yang digenggam erat Liu Ruyan, dan fragmen ketiga yang kini menyatu dalam jiwa Xiao Fan.

Cahaya api dari telapak tangan Xiao Fan menari-nari di dinding batu, menciptakan bayangan yang seolah hidup. Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang koridor sempit.

"Guru," suara Liu Ruyan memecah keheningan. "Apa yang akan terjadi setelah adikku sembuh?"

Xiao Fan tidak langsung menjawab. Ia melangkahi genangan air sebelum berkata, "Kita akan melanjutkan perjalanan. Masih ada empat fragmen pedang yang harus dikumpulkan. Dan segelmu yang harus dibuka di Benua Bawah Tanah."

"Dan Xue Lang?"

"Nama itu akan menjadi masa lalu. Begitu kita cukup kuat."

Liu Ruyan mengangguk pelan. Ia menatap botol di tangannya. Cairan di dalamnya berkilauan bahkan dalam kegelapan terowongan—ungu dan emas bercampur, seperti langit senja yang abadi.

"Guru, kau pernah bilang bahwa Air Mata Kegelapan bisa menyembuhkan luka apa pun pada keturunan Raja Kegelapan. Tapi... bagaimana cara menggunakannya? Apa diminum? Dioleskan?"

Xiao Fan berpikir sejenak. "Shang Bo yang akan tahu. Atau tabib tua di Kota Pasir Putih. Mereka pasti punya pengetahuan tentang artefak kuno seperti itu."

Mereka terus berjalan. Melewati persimpangan tempat mereka menemukan ruangan dengan rambut Liu Ruyan. Gadis itu menoleh sejenak ke arah terowongan kanan, tapi tidak berhenti. Kenangan tentang suara ayahnya—Raja Kegelapan—masih terngiang di telinganya. Para Penyegel bukan musuh sejatimu. Waspadalah pada Pengamat Langit.

Siapa mereka? Faksi yang bahkan para Kaisar tak berani usik. Dan mengapa mereka ingin darah Raja Kegelapan punah?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus ditunda. Sekarang, prioritasnya adalah menyelamatkan anak perempuan yang terbaring di Kota Pasir Putih.

---

Setelah setengah hari berjalan, mereka tiba di pintu besi. Ukiran timbangan—simbol Serikat Pedagang—berkilau samar di permukaannya. Xiao Fan mengetuk tiga kali, sesuai kode yang diberikan Shang Bo.

Pintu terbuka. Dua penjaga yang sama membungkuk hormat.

"Tuan, Nona. Penguasa Kota sudah menunggu."

Mereka diantar kembali ke ruangan utama markas Serikat Pedagang. Shang Bo sudah duduk di sana, menyesap teh dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi matanya yang tua berbinar saat melihat botol kristal di tangan Liu Ruyan.

"Kalian berhasil." Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Liu Ruyan meletakkan botol itu di atas meja. "Bagaimana cara menggunakannya?"

Shang Bo mengambil botol itu, mengamatinya dengan kagum. "Air Mata Kegelapan. Aku hanya mendengar legendanya. Tidak pernah menyangka akan melihatnya dengan mata kepala sendiri." Ia mengembalikan botol itu. "Tabib tua kami yang akan menanganinya. Ikut aku."

Mereka meninggalkan ruangan, berjalan melewati koridor lain menuju sayap timur markas. Di sana, di sebuah kamar sederhana, anak perempuan itu terbaring di atas ranjang kayu. Wajahnya masih pucat kelabu. Napasnya pendek-pendek. Tapi dia masih hidup.

Di samping ranjang, seorang wanita tua berjubah cokelat sedang duduk, meracik sesuatu di mangkuk batu. Ia mendongak saat mereka masuk. Matanya—satu buta, satu lagi tajam seperti elang—menatap botol di tangan Liu Ruyan.

"Air Mata Kegelapan," bisiknya, suaranya serak karena usia. "Cepat berikan padaku."

Liu Ruyan menyerahkan botol itu. Tabib tua membukanya dengan hati-hati. Aroma aneh memenuhi ruangan—bukan wangi, bukan busuk. Aroma yang mengingatkan pada hujan pertama setelah kemarau panjang.

Ia meneteskan tiga tetes ke bibir anak itu. Cairan ungu-emas meresap, tidak mengalir ke tenggorokan, tapi langsung diserap kulit.

Lalu ia meneteskan sisanya ke dadanya, tepat di atas jantung.

Ruangan dipenuhi cahaya ungu lembut. Tubuh anak itu melengkung sejenak, lalu kembali rebah. Warna abu-abu di kulitnya perlahan memudar, digantikan rona merah muda yang sehat. Napasnya yang tadinya pendek-pendek kini menjadi dalam dan teratur.

Gadis kecil itu membuka mata.

Matanya hitam—seperti Liu Ruyan sebelum segelnya bereaksi. Ia menatap sekeliling dengan bingung, lalu matanya berhenti pada Liu Ruyan.

"Kakak..." bisiknya. Suaranya lemah, tapi hidup.

Liu Ruyan berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan kecil itu. Air mata mengalir di pipinya. "Kau selamat. Kau akan baik-baik saja."

Anak itu tersenyum lemah. "Aku bermimpi... Kakak datang menyelamatkanku. Dan... kakek bilang terima kasih."

"Kakek?"

"Kakek yang tinggal di dalam darahku. Dia bilang... 'Putriku, akhirnya kau datang.'"

Liu Ruyan terpaku. Itu suara yang sama. Suara Raja Kegelapan. Ternyata anak ini juga mendengarnya.

Xiao Fan yang berdiri di ambang pintu menyaksikan adegan itu dengan diam. Di sampingnya, Shang Bo menghela napas lega.

"Anak itu akan pulih sepenuhnya dalam beberapa hari," kata tabib tua sambil membereskan peralatannya. "Air Mata Kegelapan lebih kuat dari legendanya. Dia tidak hanya menyembuhkan luka fisik, tapi juga membersihkan sisa-sisa racun ritual para Penyegel."

Lao Hei, yang sejak tadi menunggu di luar, masuk dan berlutut di hadapan Liu Ruyan. "Terima kasih, Tuan Putri. Terima kasih telah menyelamatkannya."

Liu Ruyan menggeleng. "Bukan aku. Air Mata itu yang menyelamatkannya."

"Tapi Tuan Putri yang mengambilnya. Mempertaruhkan nyawa." Lao Hei menatapnya dengan mata penuh hormat. "Keturunan pelayan Putri Kegelapan akan selalu mengingat ini."

Malam itu, Xiao Fan berdiri di atap markas Serikat Pedagang, menatap ke arah gerbang kota. Di luar sana, di kegelapan padang pasir, Xue Lang masih menunggu. Ia bisa merasakan aura Serigala Darah itu—sabar, dingin, tidak bergerak.

Dia tidak tahu kita sudah kembali, pikir Xiao Fan. Dia masih mengira kita di dalam kota, atau mungkin sudah mati di gurun.

Itu keuntungan. Mereka bisa merencanakan langkah selanjutnya tanpa tekanan langsung.

"Guru."

Liu Ruyan muncul dari tangga atap. Ia berjalan mendekat, berdiri di samping Xiao Fan. Matanya juga menatap ke arah gerbang.

"Aku ingin membunuhnya," katanya pelan. "Xue Lang. Dia yang menyiksa adikku. Dia yang memburu kita. Aku ingin dia mati."

Xiao Fan menatapnya. "Kau akan mendapat kesempatan itu. Tapi tidak sekarang. Sekarang, prioritas kita adalah mengumpulkan fragmen pedang berikutnya. Dengan kekuatan yang cukup, Xue Lang tidak akan menjadi ancaman lagi."

"Di mana fragmen keempat?"

Xiao Fan mengeluarkan peta dari Shang Bo. "Di sini. Laut Timur. Pulau Kabut Hitam."

Liu Ruyan menatap peta itu. "Kita akan ke sana?"

"Ya. Tapi tidak lewat gerbang depan." Xiao Fan tersenyum tipis. "Shang Bo bilang Serikat Pedagang punya kapal yang berangkat dari pelabuhan rahasia di selatan kota. Xue Lang tidak akan tahu kita sudah pergi, sampai kita sudah jauh di lautan."

Gadis itu mengangguk. Lalu ia menatap Xiao Fan. "Guru. Terima kasih. Untuk semuanya."

Xiao Fan tidak menjawab. Ia hanya menatap langit malam. Di kejauhan, bintang-bintang berkelap-kelip. Dan di bawah bintang-bintang itu, perjalanan baru menanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!