Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Dendam dari Masa Lalu Arjuna
Hujan baru saja reda di Jakarta, menyisakan aroma tanah basah yang bercampur dengan bau aspal panas dan asap knalpot. Bagi sebagian orang, aroma ini menenangkan. Namun bagi Vittorio Genovese, aroma ini memicu sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam sisa-menera memori tubuh Arjuna—sebuah aroma yang membawa kembali kenangan tentang darah, sabun cuci murahan, dan ketakutan yang mencekik.
Setelah kejadian di pelabuhan, Vittorio tidak bisa tidur. Ia duduk di lantai kamar kostnya, membiarkan jendela terbuka. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah foto lama yang baru saja ia temukan di dalam selipan buku hukum tua milik ibunya. Foto itu memperlihatkan seorang wanita cantik dengan mata yang lelah, sedang menggendong seorang anak laki-laki kecil di depan sebuah rumah sederhana.
Wanita itu adalah Sari, ibu Arjuna. Dan pria yang mengambil foto itu—bayangannya terlihat samar di tanah—memiliki postur yang sangat familiar.
"Hadi Sujatmiko," desis Vittorio.
Tiba-tiba, rasa sakit yang menghujam muncul di belakang kepalanya. Ini bukan sekadar sakit kepala biasa; ini adalah "kebocoran memori". Ketika jiwa Vittorio dan raga Arjuna menyatu semakin dalam, pintu-pintu rahasia yang digembok rapat oleh trauma masa kecil Arjuna mulai terbuka paksa.
Vittorio memejamkan mata, dan tiba-tiba ia tidak lagi berada di kamar kost. Ia berada di dalam sebuah gudang kecil di belakang rumah mewah keluarga Sujatmiko, dua belas tahun yang lalu.
Arjuna kecil, yang baru berusia delapan tahun, sedang meringkuk di pojok ruangan. Ia melihat ibunya, Sari, sedang berlutut di depan Hadi.
"Tolong, Mas Hadi... jangan kirim dia ke sana. Arjuna masih terlalu kecil untuk menjadi bagian dari urusan gelapmu," isak Sari.
Hadi berdiri dengan angkuh, memegang sebuah dokumen dengan logo serigala—lambang Lupi di Mare. "Sari, kau harus paham. Dia bukan sekadar anak. Dia adalah jaminan. Tanpa darah Sujatmiko yang murni di tangan mereka, bisnisku di Italia tidak akan pernah aman. Dia harus ditanamkan 'tanda' itu."
Hadi menyeret Arjuna kecil keluar dari pelukan ibunya. Sari mencoba melawan, namun seorang pria asing bertubuh besar dengan aksen Italia yang kental mendorongnya hingga terjatuh menabrak rak besi.
Arjuna berteriak, namun suaranya diredam oleh tangan kasar yang membekap mulutnya. Ia dibawa ke sebuah ruangan steril di bawah tanah, di mana seorang pria berpakaian dokter sudah menunggu dengan alat bedah yang berkilau. Di sanalah, mikrodit itu ditanamkan di tulang selangkanya—bukan untuk melacak keselamatannya, tapi sebagai "sakelar pemutus" jika suatu saat Arjuna mencoba melarikan diri dari takdir yang sudah disiapkan Hadi.
Memori itu berakhir dengan aroma pembersih lantai rumah sakit yang menyengat dan suara tangis Sari yang perlahan menghilang saat mereka dibuang ke jalanan beberapa bulan kemudian.
Vittorio tersentak bangun, napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi kaos hitamnya. Ia meraba tulang selangkanya. Bekas luka itu terasa panas, seolah-olah dendam yang terkubur di dalamnya sedang mencoba meledak keluar.
"Jadi itu alasan ibumu begitu takut, Arjuna," gumam Vittorio. "Kau bukan dibuang karena kemiskinan. Kau dibuang karena kau adalah 'produk gagal' yang tidak kuat menahan prosedur itu pada awalnya. Mereka pikir kau akan mati, tapi kau bertahan."
Sekarang Vittorio paham mengapa aroma dendam ini begitu pekat. Hadi tidak hanya mengkhianati Arjuna; dia menghancurkan martabat seorang wanita dan menjadikan anaknya sebagai alat tukar nyawa.
Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu terdengar pelan. Vittorio segera menyembunyikan foto itu dan mengatur napasnya kembali menjadi dingin dan terkontrol. "Masuk."
Karin muncul, membawa dua gelas teh hangat. Wajahnya tidak seceria biasanya. Ia seolah bisa merasakan aura gelap yang sedang menyelimuti kamar itu.
"Juna... lu belum tidur?" tanya Karin pelan. Ia duduk di kursi belajar, memberikan satu gelas pada Vittorio. "Mbak Yanti bilang lu denger suara teriakan dari kamar lu tadi. Lu mimpi buruk lagi?"
Vittorio menerima teh itu, merasakan kehangatannya merambat ke jemarinya. "Hanya memori yang menolak untuk tetap terkubur, Karin."
Karin menatap Vittorio dengan tatapan yang dalam, tatapan yang jarang ia tunjukkan. "Lu tau, Juna? Kadang gue ngerasa lu itu kayak orang yang lagi bawa beban seluruh dunia di pundak lu. Gue emang semprul, gue emang berisik, tapi gue nggak buta. Sejak kejadian di pelabuhan, tatapan mata lu... itu bukan tatapan orang yang mau belajar hukum. Itu tatapan orang yang mau ngebakar dunia."
Vittorio menyesap tehnya. "Dunia ini memang perlu dibakar sesekali, Karin. Agar tunas yang baru bisa tumbuh di atas abu yang lama."
"Tapi jangan bakar diri lu juga," Karin meraih tangan Vittorio, meremasnya pelan. "Ibu lu... dia pasti nggak mau liat lu jadi monster kayak ayah lu."
Mendengar kata "Ibu", Vittorio merasakan getaran aneh di dadanya. Itu bukan emosinya, tapi emosi Arjuna yang tersisa. "Ibuku sudah tiada karena pria itu, Karin. Dan sekarang, aroma dendamnya memanggilku untuk menyelesaikan apa yang dia mulai."
Karin terdiam. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan badai yang sedang terbentuk di dalam diri Vittorio. Ia hanya bisa menjadi pelabuhan kecil bagi pria itu sebelum badai itu pecah.
Pagi harinya, Vittorio memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berisiko. Ia tidak pergi ke kampus. Ia pergi ke sebuah pemakaman umum di pinggiran Jakarta, tempat di mana Sari dimakamkan dalam sebuah pusara sederhana tanpa nama keluarga Sujatmiko di nisannya.
Vittorio berdiri di depan makam itu, mengenakan setelan hitam rapi. Di tangannya, ia membawa bunga lili putih—bunga kesukaan ibunya menurut memori Arjuna.
"Aku bukan putramu yang asli, Nyonya Sari," bisik Vittorio pada angin. "Tetapi aku menghuni raga yang kau cintai. Dan aku berjanji padamu, di depan nisanimu ini... setiap air mata yang kau teteskan di gudang itu akan dibayar dengan kerajaan yang dibangun Hadi Sujatmiko. Aku akan menghancurkannya, bukan sebagai Arjuna yang lemah, tapi sebagai Vittorio Genovese yang akan memutus rantai serigala itu selamanya."
Tiba-tiba, suara langkah kaki di atas rumput kering membuatnya waspada. Vittorio tidak berbalik, namun tangannya sudah berada di dekat pinggang, siap mencabut senjatanya.
"Kau memiliki cara yang sangat dramatis untuk menghormati orang mati, Arjuna."
Itu suara Bianca.
Vittorio berbalik perlahan. Bianca berdiri beberapa meter darinya, dikawal oleh dua pria asing yang sama dengan yang ada di pelabuhan semalam. Ia tampak sangat anggun dengan gaun hitam dan kacamata hitam yang menutupi matanya yang tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini, Bianca? Tempat ini terlalu 'murah' untuk orang sepertimu," ucap Vittorio dingin.
Bianca melangkah mendekat, meletakkan karangan bunga mawar merah yang mahal di atas makam Sari—sebuah tindakan yang terasa seperti penghinaan bagi Vittorio. "Ayah mengirimku untuk memberimu peringatan terakhir. Kejadian di pelabuhan semalam... itu sangat mengganggu bisnis kami. Hadi sangat marah."
"Marah?" Vittorio tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat berbahaya. "Sampaikan pada Hadi, kemarahannya hanyalah percikan kecil dibandingkan api yang sedang kubangun di bawah kakinya."
Bianca melepas kacamatanya, memperlihatkan mata yang penuh dengan kebencian dan ambisi. "Kau pikir karena kau punya sedikit otot dan koneksi dengan preman pelabuhan, kau bisa melawan kami? Lupi di Mare bukan hanya tentang senjata, Arjuna. Mereka adalah sistem. Mereka adalah darah yang mengalir di pembuluh nadi ekonomi dunia. Dan kau... kau hanyalah sel kanker yang perlu diangkat."
"Kalau begitu, angkatlah aku," tantang Vittorio. ia melangkah maju, memperpendek jarak dengan Bianca hingga para pengawalnya bersiap menyerang. "Tapi berhati-hatilah. Terkadang saat kau mencoba mengangkat kanker, kau justru menyebabkan pendarahan hebat yang tidak bisa kau hentikan."
Bianca tersenyum tipis. "Ayah ingin kau datang ke makan malam keluarga besok malam. Di rumah besar. Dia ingin kita menyelesaikan ini 'secara kekeluargaan' sebelum Italia memutuskan untuk mengirim tim pembersih yang sesungguhnya."
"Makan malam?" Vittorio menyipitkan mata. "Sebuah jebakan yang sangat klasik."
"Datanglah jika kau punya nyali. Bawa asisten semprulmu itu juga jika kau ingin dia melihat bagaimana pahlawannya hancur," Bianca berbalik dan masuk ke mobil mewahnya, meninggalkan debu yang berterbangan.
Vittorio kembali ke ruko Tiger dengan pikiran yang mendidih. Aroma dendam itu kini semakin nyata. Makan malam di rumah Sujatmiko adalah tempat di mana semua penderitaan Arjuna dimulai, dan di sanalah Vittorio akan mengakhirinya.
"Ghost, kau gila?" Tiger berteriak saat mendengar rencana Vittorio. "Masuk ke rumah Sujatmiko itu sama saja dengan masuk ke mulut buaya! Keamanannya sangat ketat, dan pasti ada sniper di setiap sudut!"
"Aku tahu, Tiger," jawab Vittorio sambil mempelajari denah rumah Sujatmiko di layar monitor. "Itu sebabnya aku tidak akan masuk sebagai penyerang. Aku akan masuk sebagai tamu. Dan sementara mereka fokus padaku di meja makan, kalian akan melakukan apa yang paling kalian kuasai: Sabotase total."
Vittorio menoleh ke arah Karin yang sedang duduk di pojok, tampak pucat mendengar kata "Makan Malam Keluarga".
"Karin," panggil Vittorio.
"J-Juna... gue harus ikut ya? Gue... gue cuma bisa makan kerupuk, gue nggak bisa makan formal sama mafia," suara Karin bergetar.
Vittorio mendekat dan berlutut di depan Karin. Ia memegang kedua tangan gadis itu. "Aku butuh kau di sana, Karin. Bukan untuk bertarung, tapi untuk menjadi mataku. Di rumah itu, ada sebuah brankas rahasia di ruang kerja Hadi. Aku butuh seseorang yang tidak dicurigai untuk menempelkan alat peretas ini di sana."
Vittorio menunjukkan sebuah chip kecil yang tersamar sebagai anting-anting.
"Hanya kau yang bisa bergerak bebas tanpa memicu kecurigaan pengawal karena mereka menganggapmu hanya 'gadis bodoh'. Kau berani melakukannya untukku?"
Karin menelan ludah. Ia menatap mata Vittorio, mencari kepastian. Ia melihat dendam yang membara, tapi ia juga melihat sebuah permohonan tulus. Pria ini telah melindunginya berkali-kali, dan sekarang adalah gilirannya.
"Oke," ucap Karin dengan suara yang lebih mantap. "Gue bakal lakuin. Tapi lu harus janji, Juna... kalau suasana mulai kacau, lu harus tarik gue keluar. Gue nggak mau mati pake baju pesta, itu nggak estetik."
Vittorio tersenyum, kali ini dengan rasa bangga yang nyata. "Aku berjanji. Tidak ada satu peluru pun yang akan menyentuhmu."
Malam itu, aroma dendam di masa lalu Arjuna telah berubah menjadi rencana yang dingin dan terukur. Vittorio Genovese sedang menyiapkan panggung untuk tindakan balas dendam paling spektakuler dalam sejarah duni bawah Jakarta.
Ia kembali menatap foto ibunya satu kali lagi sebelum membakarnya dengan korek api. Abu foto itu terbang keluar jendela, menyatu dengan udara malam.
"Malam ini Arjuna menangis untuk terakhir kalinya," bisik Vittorio saat api melahap sisa-sisa foto itu. "Besok, Vittorio akan tertawa di atas reruntuhan mereka."
Persiapan dimulai. Tiger menyiapkan tim penyerbu cadangan, Maya meretas sistem keamanan satelit rumah Sujatmiko, dan Karin mulai berlatih cara berjalan dengan sepatu hak tinggi sambil membawa alat peretas.
Di balik kemewahan rumah besar Sujatmiko, Hadi tidak menyadari bahwa aroma dendam yang ia ciptakan dua belas tahun lalu kini telah bermutasi menjadi monster yang tidak bisa ia kontrol. Serigala yang ia rantai tidak hanya telah lepas; serigala itu kini telah belajar cara memimpin kawanan.
Besok malam, makan malam keluarga akan disajikan. Dan menu utamanya adalah kehancuran.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍