NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jika Perlu, Aku Akan Mengambil Hidupmu

📖 BAB 20: Jika Perlu, Aku Akan Mengambil Hidupmu

Mobil melaju kencang menembus jalan gelap pinggir kota.

Mesin meraung, lampu-lampu jalan berkelebat di kaca jendela seperti kilatan ingatan yang tak sempat ditangkap. Di dalam kabin, udara dipenuhi aroma darah, logam, dan ketegangan yang terlalu padat untuk dihirup.

Han memegang setir erat.

“Boleh saya usul sesuatu?”

Tak ada yang menjawab.

“Kita semua turun, pulang masing-masing, pura-pura tidak saling kenal.”

“Tidak,” jawab empat orang bersamaan.

Han mendesah.

“Saya coba.”

Di kursi belakang, Mira bersandar pucat sambil menahan luka tembak di bahu. Xue menekan perban darurat tanpa belas kasihan.

“Sedikit pelan,” geram Mira.

“Kalau sakit berarti masih hidup.”

“Keibuan sekali.”

Qingyan duduk di sisi lain, menatap Xue tanpa berkedip.

Wanita itu benar-benar mirip dengannya.

Namun jika Qingyan adalah api yang ditahan, Xue adalah pisau yang dibiarkan telanjang.

Di depan mereka, Gu Beichen memegang kaset mini itu dengan satu tangan. Tangannya tenang. Terlalu tenang.

Dan justru itu yang berbahaya.

---

“Apa maksudmu menggantikanku?” tanya Qingyan akhirnya.

Xue menoleh.

“Maksudku kalimat yang sangat jelas.”

“Aku minta versi manusia.”

Xue menyeringai tipis.

“Di mata orang-orang yang mencari kita, kau adalah aset utama. Wajah terkenal. Nama yang sedang naik. Semua fokus tertuju padamu.”

“Lalu?”

“Kalau kau hilang dan aku muncul memakai wajah yang cukup mirip... banyak pintu akan terbuka.”

Qingyan merasa darahnya naik.

“Jadi rencanamu mencuri identitasku?”

“Bukan mencuri.”

Xue memiringkan kepala.

“Mengambil bagian yang seharusnya juga milikku.”

---

Beichen berbicara tanpa menoleh.

“Coba saja.”

Dua kata itu datar.

Namun seluruh mobil terasa lebih dingin.

Xue tertawa kecil.

“Aku dengar banyak cerita tentangmu. Ternyata benar, kau punya kepribadian seperti dinding beton.”

“Dan kau terlalu banyak bicara.”

“Aku juga dengar kau suka mengancam orang.”

“Aku tidak suka. Aku efisien.”

Han berdeham.

“Sebagai orang netral, saya rasa kalian semua mengerikan.”

“Diam dan menyetir,” kata Beichen.

“Ya, Tuan.”

---

Qingyan menatap kaset di tangan Beichen.

“Buka sekarang.”

“Tidak.”

“Apa?”

“Kita buka di tempat aman.”

“Kenapa semuanya harus sesuai perintahmu?”

“Karena tadi ada lima orang bersenjata mencoba membunuh kita.”

“Itu bukan argumen.”

“Itu statistik.”

Ia mendecak kesal.

Mira, yang mulai pucat, berkata lirih,

“Dia benar.”

Qingyan menoleh.

“Siapa mereka?”

Mira memejamkan mata sejenak.

“Unit privat. Dulu dipakai untuk membersihkan saksi, peneliti, dan kegagalan proyek.”

“Kegagalan?” suara Qingyan menajam.

Mira membuka mata.

“Kalian disebut begitu kalau tidak sesuai target.”

Xue tersenyum hambar.

“Aku sering dipanggil itu.”

---

Mobil masuk ke area parkir bawah tanah gedung milik Gu Group.

Pintu baja tertutup di belakang mereka.

Puluhan pengawal sudah menunggu.

Han turun duluan.

“Tim medis ke sini! Dan tolong siapkan kopi untuk saya. Tiga liter.”

Mira dibawa ke ruang perawatan.

Xue hendak ikut, tapi dua pengawal menghalangi.

Ia menatap mereka malas.

“Kalau aku mau kabur, kalian sudah pingsan.”

“Dia tetap di sini,” kata Beichen.

Xue menoleh.

“Kau suka memerintah.”

“Dan orang biasanya patuh.”

“Sayang sekali aku bukan biasanya.”

Qingyan memotong.

“Cukup. Kita buka kasetnya sekarang.”

---

Mereka masuk ke ruang konferensi privat di lantai atas.

Lampu redup. Dinding kaca gelap. Sistem keamanan aktif.

Kaset mini dipasang ke alat konversi lama yang entah dari mana Han dapatkan.

“Kenapa kau punya benda seperti ini?” tanya Qingyan.

Han sibuk menyambung kabel.

“Saya pernah punya fase dokumenter.”

“Bohong.”

“Benar. Saya bohong.”

Layar besar menyala.

Gambar bersemut beberapa detik.

Lalu muncul rekaman kamera pengawas tua.

Tanggal di sudut layar:

14 Oktober — 25 tahun lalu

Ruangan sunyi total.

---

Terlihat lorong laboratorium bawah tanah.

Orang-orang berlarian.

Alarm berkedip merah.

Api mulai menjalar dari salah satu sisi gedung.

Suara sirene memenuhi ruangan.

Beberapa pria berseragam mendorong troli berisi kapsul bayi transparan.

Qingyan menahan napas.

Di dalam kapsul itu... bayi-bayi.

Dua belas.

“Ya Tuhan...” bisiknya.

Rekaman bergetar lalu menyorot seorang wanita bergaun putih yang memegang satu kapsul erat.

Elena Qin.

Wajahnya muda, panik, namun tegas.

Ia berteriak pada seseorang di luar frame.

Lalu kamera bergeser.

Gu Zhengyuan muncul.

Lebih muda, namun sorot matanya sama dinginnya dengan Beichen.

Ia memegang pistol.

---

Tak seorang pun bergerak.

Di layar, Elena menyerahkan sebuah map logam kepada Zhengyuan.

Ia berkata sesuatu, tapi suara rusak.

Han memperbesar audio.

Kata-kata pecah terdengar:

“...jika aku gagal... selamatkan... anak itu...”

Gu Zhengyuan mengangguk.

Lalu ledakan mengguncang lorong.

Lampu padam sejenak.

Ketika gambar stabil kembali, dua pria bersenjata masuk.

Mereka menembak ke arah Elena.

Qingyan refleks menggenggam meja.

Beichen diam membatu.

Elena jatuh.

Namun sebelum roboh, ia mendorong kapsul bayi ke arah Zhengyuan.

Zhengyuan menembak balik dan menjatuhkan satu penyerang.

Lalu ia mengambil kapsul itu.

Membawanya pergi.

---

Qingyan menatap layar dengan mata panas.

“Bayi itu... aku?”

“Belum tentu,” kata Xue.

Layar beralih ke sudut lain.

Terlihat Mira muda membuka ruangan lain dan menggendong dua bayi sekaligus.

Satu diselimuti kain biru.

Satu kain putih.

Ia berlari ke arah tangga darurat.

Xue menyandarkan tubuh ke kursi.

“Itu aku dan mungkin kau.”

“Kenapa mungkin?”

“Karena hidupku juga penuh kejutan.”

Rekaman bergetar lagi.

Lalu muncul gambar terakhir.

Seorang pria tua berdiri di ruang observasi atas, menonton semuanya tanpa membantu.

Tongkat hitam di tangannya sangat dikenali.

Qin Taishan.

Ruangan langsung membeku.

---

Madam Qin mungkin kejam.

Armand mungkin licik.

Tapi pria tua itu...

menonton kebakaran seperti sedang menilai investasi.

Di layar, Taishan menoleh ke kamera.

Seolah tahu sedang direkam.

Lalu tersenyum tipis.

Rekaman mati.

Semua orang diam.

Han menelan ludah.

“Baiklah. Itu... sangat tidak sehat.”

Qingyan berdiri perlahan.

Tangannya gemetar.

“Dia melihat semuanya.”

Tak ada yang menjawab.

“Dia melihat anak-anak dibawa lari.”

Masih sunyi.

“Dia melihat Elena ditembak.”

Suara Qingyan pecah oleh marah yang baru lahir.

“Dan dia tidak melakukan apa-apa.”

---

Beichen bangkit.

“Aku akan menanganinya.”

“Tidak.”

Ia menoleh.

Qingyan menatapnya tajam.

“Selama ini semua orang menangani hidupku tanpa izinku.”

“Qingyan.”

“Tidak.”

Ia menunjuk layar hitam.

“Pria itu memutuskan siapa hidup, siapa mati, siapa dijadikan eksperimen.”

Dadanya naik turun.

“Sekarang giliranku memutuskan sesuatu.”

Xue tertawa kecil.

“Akhirnya ada api.”

“Diam.”

“Sekarang kau benar-benar mirip aku.”

---

Ponsel Han berbunyi keras.

Ia melihat layar lalu wajahnya berubah.

“Tuan... ada masalah.”

“Kapan tidak?” kata Beichen.

Han menelan ludah.

“Qin Taishan baru saja mengumumkan konferensi pers darurat.”

“Apa isinya.”

Han menatap Qingyan dengan ragu.

Lalu membaca cepat.

“Beliau menyatakan cucu kandung keluarga Qin, Qin Yue, mengalami gangguan mental akibat trauma masa kecil... dan untuk sementara digantikan oleh perwakilan keluarga yang lebih stabil.”

Ruangan hening.

Qingyan menyipitkan mata.

“Perwakilan siapa?”

Han menoleh perlahan ke Xue.

Xue tersenyum malas.

“Wow.”

Ia mengangkat tangan kecil.

“Kurasa aku baru saja dapat promosi.”

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!