Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pintu baru saja tertutup ketika Bu Direktur masuk lagi. Ia berhenti sebentar begitu melihat Carisa.
“Ris?” panggilnya, nada suaranya langsung berubah. Lebih santai, saat mereka sedang berdua. Karena sebenarnya mereka berteman baik. “Kamu kenapa?”
Carisa masih duduk di sofa, menyandarkan punggungnya. Ia menghembuskan napas pelan sebelum menjawab, “Nggak apa-apa, Nad.”
Nadya yang di luar dikenal tegas sebagai direktur sekarang hanya mengernyit kecil. “Itu jelas bukan ‘nggak apa-apa’.”
Carisa tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke mata. “Cuma capek.”
Nadya melangkah mendekat. “Perempuan tadi siapa?”
Carisa ragu sebentar. “Istrinya Reynanda.”
Nadya langsung diam sesaat. “Oh.”
Nada itu berubah lebih paham sekarang.
“Dia ngomong apa sampai kamu kayak gini?” tanyanya lagi, lebih pelan.
Carisa menggeleng kecil. “Biasa. Hal pribadi.”
“Hal pribadi sampai ke kantor?” Nadya menaikkan alis. “Berani juga.”
Carisa duduk kembali, menyandarkan punggungnya. “Aku juga nggak tahu dia bakal datang.”
Nadya ikut duduk di sisi lain, tidak terlalu dekat. “Terus… kamu oke?”
Carisa tidak langsung jawab. Beberapa detik.
“Masih ok. Meskipun energiku terkuras habis.” katanya akhirnya.
Nadya menatapnya sebentar, lalu menghela napas. “Ris, kalau ini mulai ganggu kerjaan, bilang ya. Jangan dipaksain.”
“Iya.”
“Aku serius,” lanjut Nadya. “Proyek bisa aku alihin kalau perlu.”
Carisa menggeleng. “Nggak usah. Aku masih bisa handle.”
Nadya mengangguk pelan, tapi jelas masih memperhatikan.
“Kalau dia datang lagi… bilang ke aku,” katanya. “Jangan diladenin sendirian.”
Carisa hanya mengangguk. Ada jeda kecil di antara mereka.
Nadya menepuk ringan bahu Carisa. “Kalau mau break sebentar juga nggak apa-apa.”
Carisa menghembuskan napas pelan. “Nanti aja.”
Nadya tidak memaksa. Ia berdiri, merapikan bajunya.
“Ya udah. Kalau butuh apa-apa, bilang.”
“Iya, Nad.”
Carisa tidak langsung menjawab. Nadya masih berdiri di dekat meja, memperhatikannya.
“Nad…”
“Iya?”
Carisa menarik napas panjang, lalu mulai bicara. “Masalahnya bukan cuma tadi.”
Nadya diam, memberi ruang.
“Beberapa waktu lalu… Reynanda nyium aku di tangga darurat,” kata Carisa pelan. "Kejadiannya begitu cepat, aku gak sempat menghindar.”
Nadya mengernyit. “Terus?”
“Ada yang lihat,” lanjut Carisa. “Asisten Yuda. Dia yang kasih tahu ke Yuda.”
Sunyi sejenak.
“Jadi dari situ Yuda marah dan mengira aku ada hubungan dengan Reynanda,” tambahnya.
Nadya menghela napas pelan. “Pantas saja.”
Carisa mengangguk kecil. “Dan tadi… kejadian lagi.”
Nadya menatapnya. “Maksudnya?”
“Di ruangannya,” jawab Carisa. “Dia maksa lagi. Aku sudah nolak… aku bahkan nampar dia.”
Nadya menegakkan tubuh. “Gila.”
“Aku takut kejadian tadi sampai lagi Ke Yuda… Dan pasti cuma potongannya saja,” lanjut Carisa. “Yang bikin aku kelihatan salah.”
“Sekarang jelas kenapa dia meledak,” gumam Nadya.
Carisa tertawa kecil, hambar. “Belum selesai.”
Nadya menatapnya lagi. “Masih ada lagi?”
Carisa mengangguk. “Istri Reynanda yang datang ke sini barusan.”
Nadya terdiam. “Yang tadi itu?”
“Iya,” jawab Carisa. “Dia sepupunya Yuda.”
Nadya langsung menarik napas. “Serius?”
Carisa mengangguk lagi. “Makanya dia bicara seolah aku bukan cuma ganggu rumah tangga dia… tapi juga mempermalukan keluarga mereka.”
Nadya menggeleng pelan. “Ini semakin rumit saja. Mantan pacarmu ternyata istri dari sespupu suamimu.” kata Nadya. "Seperti judul Ftv saja."
Carisa menunduk. “Aku capek, Nad. Serius. Di sini aku seperti penjahatnya.”
Nadya tidak langsung menjawab.
“Aku harus gimana?” tanya Carisa akhirnya. “Aku jelasin pun, dia sudah punya versinya sendiri.”
“Aku harus gimana?” tanya Carisa akhirnya. “Aku jelasin pun, dia sudah punya versinya sendiri.”
Nadya menyilangkan tangan, berpikir sejenak. “Kamu tetap harus jelasin. Jangan biarin kesalahpahaman ini terus berlarut.”
Carisa menatapnya lelah. “Dia nggak mau dengar, Nad.”
“Sekarang memang tidak,” jawab Nadya tenang. “Tapi kamu tetap yang harus datang ke dia duluan.”
Carisa mengernyit. “Aku yang nyamperin?”
“Iya,” kata Nadya. “Jangan nunggu dia. Kalau kamu diam, dia akan pikir kamu nggak punya apa-apa untuk dijelaskan.”
Carisa terdiam.
“Kamu temui dia,” lanjut Nadya. “Bukan buat berdebat. Cuma buat jelasin dari awal yang di tangga darurat, yang tadi di kantor pun kamu harus jujur. Semuanya jangan ada yang di tutupi.”
“Kalau dia tetap emosi?”
“Biarkan,” jawab Nadya. “Yang penting kamu sudah sampaikan. Jangan terpancing, jangan ikut naik.”
Carisa menarik napas panjang.
“Ris,” tambah Nadya, nadanya lebih tegas, “ini rumah tangga kamu. Kamu yang harus pegang kendalinya, bukan nunggu dia reda sendiri tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Carisa menunduk.
“Kalau kamu nggak datang,” lanjut Nadya, “yang ada di kepalanya cuma versi yang dia lihat dan dengar. Dan itu bisa makin jauh dari kenyataan.”
Carisa diem sejenak, sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Oke.”
Setidaknya sekarang jelas dia tidak bisa hanya menunggu.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak