Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan
...Chapter 3...
Para antek itu mundur selangkah tanpa sadar.
“Karena yang kuakui kekuatannya hanya si nomor satu,” lanjut Huan Zheng, “sedangkan si nomor tiga... ah, dia hanya karakter yang suka meludah dengan segala nyanyiannya.”
Namun sebelum kata-kata itu benar-benar sirna dari telinga para pendengarnya, tubuh Huan Zheng mulai bergetar.
Bukan karena racun, bukan karena luka, melainkan karena getaran yang berasal dari dalam poros kultivasinya.
Perlahan, ujung-ujung jarinya berubah menjadi kabut tipis bercahaya, seperti fajar yang mulai menguap di pagi hari.
“Teleportasi,” gumam seorang kultivator di barisan belakang, “dia sudah meramalkan ini—dia sudah menyiapkan pelarian sejak awal!”
Huan Zheng tersenyum tipis, matanya mulai tertutup.
“Selamat tinggal, kalian yang sok suci,” ucapnya pelan.
Tapi tiba-tiba, suara lain memotong keheningan—suara pria berjubah merah itu, yang selama ini diam, kini melangkah maju dengan lengan terangkat tinggi.
“Bawahanku,” perintahnya, suaranya datar seperti batu nisan, “lafalkan: Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan.”
Serempak, ribuan kultivator mengucapkan tiga frasa itu, dan dunia pun berubah.
Langit di atas Huan Zheng mendadak terbelah menjadi tiga lapisan, tanah di bawahnya berguncang seperti sedang dimuntahkan dari rahim bumi, dan kekuasaan—sesuatu yang tak terlihat tapi terasa seperti tangan raksasa—meremas seluruh tubuhnya dari dalam ke luar.
“Apa—?”
Huan Zheng membuka matanya lebar-lebar.
Bukan karena terkejut, tapi karena ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam seluruh hidupnya: fondasi kultivasinya retak.
Satu per satu, tingkat-tingkat kultivasi yang telah ia bangun selama bertahun-tahun mulai membusuk.
Bukan runtuh, bukan hancur—melainkan membusuk, seperti buah yang tiba-tiba dimakan ulat dari dalam, berubah menjadi hitam dan hampa.
Tingkat Kemanusiaan—puncak segala puncak—mengalami pembusukan permanen.
Ia tak bisa lagi merasakan kekuatan Mahakuasa Dao yang dulu mengalir deras di nadinya.
Angkasa Raya yang dulu ia kuasai seperti telapak tangannya sendiri kini lenyap, meninggalkan hanya rasa hampa yang dingin.
Bujur Surga, tempat ia biasa melompat antardimensi, runtuh menjadi debu di dalam kesadarannya.
“Tidak... ini tidak mungkin...” bisik Huan Zheng, suaranya untuk pertama kalinya mengandung getaran yang mirip ketakutan.
Namun di tengah kehancuran itu, satu cahaya masih tersisa.
Lintang Kemanusiaan.
Batu kecil pemberian dari seseorang yang tak pernah ia duga itu masih berdenyut di dadanya, menjadi satu-satunya pondasi yang tak tersentuh oleh kutukan Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan.
“Lintang Kemanusiaan...” gumamnya, “satu-satunya yang tersisa...”
Ia menghela napas, lalu tertawa kecil—tawa getir yang terasa pahit di lidahnya.
Tapi kegilaan belum berakhir.
Pelafalan itu terus bersenandung.
Ribuan suara naik turun seperti kidung kematian, dan setiap nada membawa getaran baru yang membuat pembusukan semakin meluas.
Huan Zheng bisa merasakannya.
Kegelapan itu mulai merayap dari batas-batas tingkat kultivasinya yang telah mati, mendekati Lintang Kemanusiaan yang masih berdenyut polos di pusat dadanya.
“Sebentar lagi...” ujar pria berjubah merah itu, matanya dingin tanpa ekspresi, “Lintang Kemanusiaanmu akan ikut membusuk. Dan kau akan menjadi manusia biasa—tanpa kekuatan, tanpa perlindungan, tanpa apa pun.”
Dalam sekejap yang terasa seperti setengah keabadian, Huan Zheng mengambil keputusan yang hanya akan diambil oleh orang yang sudah berada di ujung jurang kematian.
Ia menggali seluruh fondasi Lintang-nya—Lintang Bawah, Lintang Umum, Lintang Esa, Supranatural Lintang—dan membakarnya menjadi satu dorongan tunggal untuk melompat lintas semesta.
“Kalian ingin menjadikanku manusia biasa?” teriaknya di tengah kidung Satu Tanah, Dua Langit, Tiga Kekuasaan yang masih bergema.
“Kalian tidak akan pernah melihat hari itu!”
Darah menyembur dari mulutnya, bukan merah lagi melainkan hitam pekat bercampur cahaya emas yang luruh dari fondasi yang ia korbankan.
Tubuhnya mulai menjadi kabut—bukan teleportasi yang indah dan terkendali, melainkan teleportasi yang putus asa, seperti burung yang melepaskan seluruh bulunya demi terbang menjauhi api.
Pria berjubah merah itu mengerutkan kening, lalu berteriak, “Tingkatkan intensitas kidung! Jangan biarkan dia—”
Tapi kata-katanya terputus.
Karena di hadapan mereka, Huan Zheng telah lenyap.
Yang tersisa hanyalah secercah cahaya redup yang melesat menembus lapisan langit yang terbelah, meninggalkan bau anyir darah dan gosong di udara.
“Dia... dia lolos?” bisik seorang kultivator wanita dengan suara gemetar.
Pria berjubah merah itu menggeleng pelan, matanya menyipit ke arah titik di mana cahaya itu menghilang.
“Tidak sepenuhnya. Lintang Kemanusiaannya sudah nyaris membusuk—90 persen. Dia tidak akan bisa menggunakan sebagian besar kekuatannya lagi.”
Di sisi lain semesta, di dunia yang dulu menjadi tempat persembunyian para dewi yang melarikan diri, langit mendadak terbelah tanpa permisi.
Bukan seperti pintu yang terbuka, melainkan seperti kain yang disobek oleh tangan kasar—tepi-tepinya bergerigi dan berasap.
Dari celah itu, sesosok tubuh manusia jatuh.
Bukan melayang, bukan terbang, melainkan terjun bebas seperti batu yang dilemparkan oleh raksasa yang marah.
Tubuh itu—Huan Zheng—dalam keadaan setengah sadar, kesadarannya terombang-ambing antara dunia mimpi dan dunia nyata, antara rasa sakit yang membakar setiap sel saraf dan kehampaan yang dingin seperti kematian itu sendiri.
“Aku... masih hidup?” gumamnya, suaranya hanya berupa getaran di tenggorokan yang kering.
Ia mencoba mengumpulkan Qi, tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan. Lintang Umum, Lintang Esa, Supranatural Lintang—semuanya telah membusuk, hanya menyisakan Lintang Bawah yang berdenyut lemah di dasar dadanya seperti lilin yang hampir padam.
“Sial...” desisnya, lalu tubuhnya menghantam atmosfer bumi itu, terbakar oleh gesekan, sebelum akhirnya meluncur seperti meteor kecil menuju daratan di bawah—tepatnya, ke arah sebuah perkemahan bernama Xuelan.
Di langit senja Perkemahan Xuelan, Ling Xu sedang melesat—baru saja belajar mengendalikan Qi setelah sekian lama hanya merangkak di tanah, dan untuk pertama kalinya ia merasa seperti burung yang lepas dari sangkar.
Rambut putih bercorak warnanya berkibar liar diterjang angin, dan di dadanya, Lintang Kemanusiaan berdenyut dengan riang seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.
“Akhirnya,” bisiknya dengan senyum tipis—senyum paling tulus yang pernah ia ukir dalam tiga tahun terakhir, “setidaknya aku bisa—”
Namun kata-katanya terputus oleh sesuatu yang menghantam tubuhnya dari samping.
Bukan angin, bukan burung, melainkan benda padat yang panas dan berbau darah.
“Apa—?!” pekik Ling Xu sebelum ia merasakan tubuhnya kehilangan keseimbangan, berputar-putar di udara seperti daun kering, lalu menghantam tanah dengan keras—tepat di samping sesosok tubuh pria yang juga jatuh tak jauh darinya.
“Sakit sekali... dasar bodoh!” desis Ling Xu sambil meraba kepalanya yang berdenyut. Ia menoleh, dan di sana, dengan wajah pucat seperti mayat, terbaring Huan Zheng—laki-laki berusia 24 tahun dengan jubah compang-camping, darah hitam di mana-mana, dan napas yang terdengar seperti orang yang sedang tenggelam di udara kering.
“Manusia?” ujar Ling Xu, matanya menyipit tajam.
“Kau manusia?! Berani-beraninya kau menabrakku, dasar biadab—”
Tapi sebelum amarahnya memuncak, Huan Zheng membuka matanya—sepasang mata yang sekarat, dengan urat-urat hitam menjalar dari pelupuk ke bola mata seperti akar pohon yang membusuk.
“Jangan... buang-buang energimu untuk marah,” ucap Huan Zheng, suaranya hanya bisikan yang keluar dari paru-paru yang hancur.
Ia mencoba duduk, gagal, lalu terduduk dengan punggung menyandar batu besar—dan dalam proses itu, Ling Xu bisa melihat sesuatu yang mengerikan.
Kulit Huan Zheng mulai ditumbuhi lumut.
Bukan lumut biasa, melainkan lumut hitam kehijauan yang tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang, merayap dari pergelangan tangan ke lengan, dari leher ke pipi, seperti sedang memakan pemiliknya dari luar ke dalam.
“Apa—apa ini?” tanya Ling Xu, untuk pertama kalinya nada dinginnya bergetar.
Huan Zheng tidak menjawab.
Ia malah menjerit.
Bersambung….