Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Belum Ada Judul
Bab 21
Edward ragu. Aya mulai tidak terkendali bahkan melucuti pakaiannya yang sudah basah menyisakan hanya pakaian dal4m. Tidak ingin memanfaatkan situasi, ingin mendapatkan gadis ini dengan cara yang baik dan terhormat. Si4lan memang si Adit dan Sopo Jarwo.
Keluarga Aya, terutama Wira adalah pria yang kolot dan otoriter. Tidak akan mudah untuknya mendapatkan tempat di keluarga itu. bahkan ia membiarkan kedua anak perempuannya malah merantau. Menyentuh Aya tanpa ikatan semakin menyulitkan mendapatkan restu dari keluarga itu.
Berpikir Edward, batinnya. Isi kepala dan otaknya berusaha mencari jalan keluar mengobati Aya tanpa harus menyentuhnya. Munafik kalau ia tidak tertarik, suguhan ini sayang untuk dilewatkan.
“Sshit,” ump4tnya. Sama saja dengan Adit yang brengs3k kalau Aya sampai jatuh ke dalam pelukannya.
“Om,” teriak Aya karena ia menjauh dari ranjang menuju walk in closet. Menarik laci di mana ia menyimpan obat-obatan. Ada masa ia begitu tertekan dan stress dengan hidupnya sampai ia mendapatkan resep obat penenang serta obat tidur. Mengeluarkan dua butir obat tidur dan satu butir obat penenang.
“Astaga.” Edward menelan saliv4 mendapati Aya sudah polos dan menarik selimut menutupi tubuhnya dengan asal.
“Om, aku kenapa sebin4l ini.”
“Nggak beres.” Gegas memaksa Aya meminum obat tadi, menahan agar ia tidak tergoda dan menjaga agar gadis ini diam. “Ay, sadar!” pekik Edward menepuk wajah Aya agar fokus dan mengabaikan sisa efek obat si4lan itu.
Aya perlahan melemah, obat penenang mulai bereaksi. Deru nafasnya mulai stabil, ia mengeratkan selimut menutupi tubuhnya. Edward mengambilkan pakaian ganti untuk gadis itu dan memakaikannya.
“Are you okey?” tanya Edward menangkup wajah Aya di mana matanya mulai sayu.
“Aku ngantuk ….”
Edward merebahkan tubuh Aya, memposisikan agar nyaman bahkan ikut berbaring dan memeluknya.
“Aku disini, tidurlah. Kamu aman, sayang.” Akhirnya bisa menghela lega mendapati Aya akhirnya tertidur. Memastikan gadis itu baik-baik saja, memeriksa semua tanda vit4lnya. Mengganti selimut yang lembab dan mengeringkan pelan rambut Aya dengan handuk kecil. Ibu jarinya mengusap pipi Aya yang halus dan merona. Tidak bisa membayangkan kalau Aya tidak inisiatif mengirimkan lokasinya, mungkin sekarang dalam dekapan dan berp4cu dengan Adit. Rasanya ingin meledak jika membayangkan hal itu.
Kembali ke mobil untuk mengambil ponsel dan menghubungi Anji.
“Gue udah dapat rekaman. Tinggal lo proses aja,” seru Anji di ujung sana.
“Hm. Biar diurus pengacara. By the way, terima kasih,” tutur Edward mengusap wajah dan menghela lega.
“Terus udah berhasil dong.” Anji terkekeh. “Gimana, berapa kali?”
“Tidak ada. Aya tidur, aku kasih dia obat penenang dan obat tidur.”
“Hah, serius Ward? Padahal ini kesempatan lo dapetin Cahaya. Orangtuanya akan setuju aja, nasi udah jadi bubur.”
Edward kembali menghela nafas. “Aku ingin dapatkan Aya dengan cara terhormat.”
“Iya aja dah. Dasar duda lapuk, tapi nggak mungkin lo nggak teg4ng ‘kan?”
“Aku masih normal.”
Edward mengakhiri percakapan itu karena Anji yang menyebalkan dan sedikit me-sum mulai bicara tidak jelas menyinggung adegan dewasa. Bisa bahaya karena ia teringat lagi bagaimana Aya li4r menggerayangi tubuhnya. Menghubungi pengacara dan menjelaskan singkat masalah yang dihadapi, janji temu untuk proses masalah itu sampai laporan kepolisian.
Ternyata ada panggilan tidak terjawab dari kontak baru juga pesan masuk dari nomor yang sama.
...0813876xxxx...
Dokter Edward, ini Andin
Apa dokter tahu di mana Aya?
***
Edward membuka pintu gerbang rumah, mempersilahkan Andin masuk dengan motornya. Tidak membalas pesan dari Andin, tapi menghubungi balik. Menjelaskan kalau Aya ada bersamanya. Andin sempat emosi menduga Edward mengajak Aya tanpa izin. Sulit untuk menjelaskan via telpon, Edward menunggu kedatangan Andin di rumahnya.
Jam sebelas malam, Andin tiba. Edward mengajaknya masuk.
"Duduk dulu," titahnya menunjuk sofa dan membiarkan pintu depan tidak tertutup agar Andin tidak berpikir negatif.
"Maaf dok, saya tidak mengerti kenapa Aya bisa bersama dokter dan ada di sini. Di mana dia?"
"Andin, tenang dulu," ujar Edward. lalu menjelaskan kronologinya dari awal sampai dengan Aya berakhir tertidur nyaman di ranjang miliknya. tidak ada yang ditutupi termasuk kelakuan Aya di bawah pengaruh obat.
"Ya ampun, Aya, Tuhan masih melindungi kamu." Andin sampai mengusap dad4 dan berkali-kali mengucap syukur. "Dok, terima kasih ya. Kalau tidak ada dokter mungkin adik saya sudah ...." Ia menyusut air matanya. Tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.
"KIta bisa proses masalah ini ke ranah hukum, tapi semua tergantung Aya."
"Bisa saya bertemu Aya?"
Edward membawa Andin ke lantai dua, ke kamarnya.
"Ini sudah malam, baiknya kalian bermalam di sini. Temani Aya, saat bangun nanti kemungkinan ia akan bingung."
Andin mengangguk menatap adiknya terlelap di bawah selimut. pintu kamar sudah ditutup Edward dari luar.
"Aya, mbak setuju kamu dengan Edward. KIta berjuang mendapatkan restu Romo. Mbak janji, akan dampingi kamu."
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣
strategi ......kagak kongser cinta tak ada logikanya agles mo nji.......🤭