NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Selama enam jam lebih aku menyelesaikan tujuh puluh halaman dengan memakai format arial, font 12, spasi single. Sebelum malam makin larut dan kantuk menjadi-jadi, aku harus menjadikannya seratus halaman.

Rasanya gemas kalau melihat hasil akhir yang kukerjakan ini. Tidak ada unsur ketegangan, maupun masalah utama yang aku tulis didalamnya. Isi tulisan hampir sama persis dengan buku yang diberikan kemarin. Ingin aku merubah seluruh jalinan cerita itu, menambahkan konflik agar lebih memikat. Bisa masalah itu datang dari kegagalan meraih cita-cita, atau mungkin dari seorang penggemar yang jatuh cinta, dan berharap sang idola mau menjadi pasangannya.Ya, penggemar seperti Monalisa yang tergila-gila padanya.

Tetapi kurasa itu tidak akan mungkin kulakukan, karena sasaran buku ini hanya untuk di Pemilu nanti. Jadi aku tidak perlu repot memasukkan itu semua. Lagi pula aku tak mau terlalu lama membuang waktu untuk tulisan ini. Makin cepat selesai project ini, lebih cepat aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku.

"Menurutku sangat bagus, kalau kamu mau memasukkan kejadian nyata perselingkuhan sang idola dengan penggemarnya, Kristal!"

"Mana mungkin Pak Ben setuju! Astaga!! Id?..” aku terperanjat mendengar suara menyebalkan itu. “Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kamarku?" tukasku terbata melihat keberadaannya.

"Tenang! Aku janji tidak akan mengganggu pekerjaanmu!" Id berjalan dari satu sudut ke sudut lain, membuat garis lurus. Tangannya terlipat di belakang pinggang, meratapi seisi kamar.

"Id! Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkunjung. Pergilah! Kamu tahu kan aku sedang sibuk!" aku menegapkan badan di atas tempat tidur dengan ekspresi wajahku yang cemberut. Bertolak pinggang, mengusirnya keluar dengan bantal-guling yang kulempar.

"Hei, kamu jangan marah-marah begitu! Hayo lanjutkan lagi pekerjaanmu itu. Isi tulisan kamu dengan semua konflik yang kamu rasakan. Ceritakan semua kehidupan Si Gatot itu dengan kebenaran yang kamu lihat. Masa tidak merasa kalau dia memang selingkuh dari isterinya! Apa kamu melupakan betapa pahitnya ditinggal seorang ayah? Bisa kamu jelaskan mengapa dulu ayahmu pergi begitu!"

"Jangan sok tahu kamu! Kenal saja tidak, sudah mencap kalau dia selingkuh dari isterinya. Harusnya aku yang malah curiga ke kamu. Jangan-jangan kamu itu berniat jahat ke aku? Iyah kan!" tuturku sambil bangkit, beranjak dari tempat tidur.

"Loh kok kamu malah menuding aku? Kenapa kamu tidak percaya kalau Si Gatot itu memang benar selingkuh? Apa kamu tidak sadar, kalau dia itu yang berpapasan dengan kamu kemarin? Menyamar dengan jenggot palsu dan yang memakai jaket overcoat hitam itu?"

"Lalu apa hubungannya dengan Monalisa? Ah, sudahlah Id! Kamu tidak tahu apa-apa tentang pekerjaanku ini."

"Hmm, begini saja. Aku akan pergi selamanya, dan tidak akan pernah mengganggu kamu lagi. Asalkan kamu bisa menebak pertanyaan yang aku berikan. Bagaimana tawaranku, setuju?" dipenghujung perkataannya, dalam hati aku terkekeh puas.

"Akhirnya aku bisa terbebas dari makhluk menyebalkan ini," tambatku dalam hati, "Asal kamu tidak bertanya di luar dari yang aku tahu, aku akan jawab. Apa pertanyaannya?"

"Tidak usah khawatir, aku tidak akan menanyakan hal yang sulit. Pertanyaannya sederhana, siapa lelaki yang kemarin berpapasan dengan kamu?"

Aku menengadahkan kepala, menimbang, berpikir, lantas.., "Jawabannya, tidak tahu. Puas kamu?" tandasku, mendengus kesal.

Kemudian Id membalas, dengan membawa langkahnya memutari tubuhku, sampai berujung duduk di sofa, "Ayolah, Kristal! Masa semudah itu kamu menyerah dan bilang tidak tahu. Kamu pasti bisa jawab pertanyaan itu! Katanya kamu mau jadi penulis best seller! Pertanyaan mudah begitu saja tidak bisa menjawab!"

"Karena memang aku tidak tahu. Lagi pula aku bukan pekerja sensus penduduk! Untuk apa aku harus tahu siapa dia! Tugasku sebatas menuliskan biografi untuknya! Tidak penting dia mau selingkuh dengan perempuan manapun. Itu bukan urusanku!"

Id tertawa lepas, "Haha!! Baru sekarang aku bertemu penulis yang sangat tidak peka dengan lingkungannya. Itu sangat berbahaya, Kristal! Bisa-bisa kalau ada bom kamu pun sama sekali tidak ambil pusing atau lebih parahnya tetangga kamu yang bunuh diri, kamu juga tidak akan mau tahu! Mengenaskan sekali kemajuan penulis saat ini! Hanya mampu meniru tema yang sedang trend," katanya bernada nyinyir.

"Mengenaskan? Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Cara bersikap dan menyikapi persoalan yang berbeda-beda! Memang tidak penting aku tahu harus tahu siapa dia. Terutama yang paling tidak penting lagi kamu masih berada disini, mengganggu pekerjaanku!" semprotku mulai naik pitam. Namun dia tetap santai dan cuek.

"Aku ada disini untuk membantu menyelesaikan masalahmu! Dan benar sekali apa yang kamu katakan tadi! Jalan hidup manusia itu berbeda-beda. Tetapi adalah tugas utama kita untuk saling membantu. Seandainya si Gatot itu benar selingkuh, sementara isterinya sedang hamil. Apakah kamu akan tinggal diam? Bagaimana bila itu semua terjadi sama kamu? Dimana kau tempatkan nuranimu itu?" sejak itu entah mengapa sebabnya, ada keinginan untuk terus mendengarkan setiap ucapannya. Terasa di hipnotis oleh kata-kata yang sebenarnya menurutku itu semua menyesatkan.

"Menurutmu aku harus bagaimana? Membuat biografi dengan semua keadaan yang sebenarnya? Terus ketika kuserahkan hasilnya ke Pak Ben, aku akan terkena omelan. Apa itu yang kamu mau? Kalau sebatas makian, aku sih masih bisa terima. Tetapi bagaimana kalau Monalisa mengadukan aku atas dasar pencemaran nama baik? Apa kamu sanggup membebaskan aku dari tuntutan itu?"

"Kamu kan bisa membuat versi yang berbeda, dan kamu serahkan ke isterinya! Atau kamu kirimkan melalui pos surat. Jadi tidak akan ada yang tahu siapa pengirimnya." sahut Id bersemangat.

"Berdebat dengan kamu itu, tidak akan ada habisnya! Sekarang aku minta kamu keluar!!" aku yang mulai tersulut emosi, lekas mendirikan tubuh Id dari sofa. Namun ketika badannya berdiri tegap, dia justru berbalik arah menghindar, lalu duduk di tempat semula.

Id mengangkat tangan menyerah, "Sabar, Kristal! Aku pasti pergi kok! Aku hanya ingin tahu, apakah kamu berniat menceritakan kisah sesungguhnya ke isteri si Gatot atau tidak?"

Dalam kejengkelan, aku justru berikan senyuman tipis, sambil tanganku meraih handpone yang tak jauh darinya. Setelah berhasil, aku bergegas menuju ke kamar mandi, menghubungi nomor sekuriti gedung.

"Sekuriti! Tolong saya, Pak!!" belum lagi tuntas laporan yang kubuat, tiba-tiba..

Dugh, dugh..

Id menggedor-gedor badan pintu, "Apapun yang kamu kerjakan aku selalu tahu, Kristal!! Tidak perlu kamu hubungi sekuriti untuk mengusir aku keluar!" seru Id dari balik pintu kamar mandi.

Aku terdiam sejenak, perlahan menempelkan daun telinga ke badan pintu. Hening, tak terdengar suara Id. Yang ada hanya samar-samar perkataan dari sekuriti di handpone.

Aku putar knop pintu yang tadinya terkunci rapat. Mengintip, lalu pelan-pelan keluar dari pintu dan memastikan lelaki sial itu sudah pergi menghilang. Setelah tak lagi terlihat, aku tarik nafas dalam-kuhempaskan, lantas kuputuskan untuk kembali menulis. Kalau sampai tidak selesai, bisa-bisa aku yang akan kena denda. Sebagaimana yang tertuang di kontrak kerja.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!