Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mode Mengamuk
Matcha mengibaskan tangannya ke samping, dan seketika tumpukan kursi plastik di ujung lorong terlempar jauh menabrak dinding!
BRUK!
Suaranya keras sekali, membuat kaca jendela bergetar.
Joulle mengelus dada santai, seakan ledakan itu cuma angin sepoi-sepoi.
"Marah-marah terus. Dasar kuno, emosian. Lihat dirimu sekarang, cuma bisa main kasar."
"Daripada kau yang munafik! Senyum manis tapi hati busuk! Mau ngerebut orang lain seenak jidat!" balas Matcha tak mau kalah.
"Dengar baik-baik..." Joulle mulai berbicara pelan tapi tegas. "Kau itu cuma bayangan. Data lama. Tidak punya wujud, tidak punya masa depan. Bersamaku, kau bisa jadi nyata selamanya. Kau bisa dapat apa saja."
Ia menatap Dori sekilas, lalu kembali ke layar. "Bahkan... kau bisa punya dia sepenuhnya tanpa batasan waktu. Bagaimana? Tawaran menarik kan?"
Jleb!
Matcha terdiam sejenak. Matanya berkedip, api di dalamnya sedikit meredup karena terpengaruh kata-kata itu.
Memiliki Dori sepenuhnya?
Menjadi manusia abadi?
Itu adalah impian terbesarnya.
"Jangan dengerin dia Cha!" Dori langsung berteriak menyadarkan. "Dia bohong! Dia cuma mau manfaatin kamu! Nanti kalau kamu udah gak guna, dia buang kamu!"
Matcha menggelengkan kepala, menepis godaan itu. Wajahnya kembali garang.
"Benar kata muridku. Orang sepertimu tidak pantas dipercaya. Janji manismu lebih pahit daripada obat! Dan dengar ini... selama aku masih punya energi, selama aku masih ada di sini... kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya walau seujung kuku!"
"HOH! Bicara besar ya?" Joulle akhirnya kehilangan senyumnya. Wajahnya berubah dingin dan serius.
"Kau pikir dengan hanya teriak-teriak kau bisa menang? Di duniamu mungkin kau raja, tapi di duniaku... aku yang buat aturannya!"
Tiba-tiba Joulle menekan tombol pada jam tangannya.
Ting!
Seketika, lampu-lampu di lorong itu berkedip-kedip aneh. Suara dengungan listrik terdengar sangat keras.
"AKTIFKAN MEDAN PENGHAMBAT. MODE: TOTAL."
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Dori panik.
"Kurasikan energinya pelan-pelan sampai dia lemah, lalu aku ambil alih," jawab Joulle santai tapi kejam.
Di dalam layar, tubuh Matcha mulai terlihat goyah. Cahaya hijaunya perlahan meredup, berkedip-kedip tidak stabil.
"Aduh ... apa ini ... dayaku ... tersedot..." Matcha memegang kepalanya, wajahnya pucat.
"CHA! JANGAN KALAH! TAHAN DONG!" Dori panik luar biasa.
Ia melihat sekeliling mencari bantuan, tapi lorong itu kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba, sebuah ide gila melintas di kepala Dori.
Kalau Joulle bisa menyedot energi dengan alat ... berarti energi itu bisa berpindah kan?
Dan selama ini ... sumber energi terbesarnya adalah Dori sendiri lewat sentuhan dan perasaan.
Tanpa pikir panjang, Dori langsung menempelkan kedua telapak tangannya kuat-kuat ke permukaan layar laptop yang panas itu.
"TERIMA SEMUA ENERGIKU! AMBIL SEMUA YANG KAU MAU! TAPI JANGAN MENYERAH!" teriaknya lantang.
Cahaya biru memancar dari tubuh Dori, mengalir deras masuk ke dalam mesin!
WUSHHHH!
Layar laptop bersinar terang benderang, lebih terang dari sebelumnya! Suara mesin menderu kencang seperti mesin roket!
"GILA! TRANSFER ENERGI SKALA BESAR! INI DILARANG! BAHAYA!" Joulle kaget dan mundur teratur.
Tubuh Matcha membesar sejenak, lalu meledak keluar dari layar!
ZRRRRRT!
Ia muncul dalam wujud fisik penuh! Bukan cuma bayangan, tapi benar-benar nyata, padat, dan berdiri tegak di antara mereka.
Jubahnya berkibar, matanya kembali menyala hijau pekat. Ia menangkap tangan Dori yang hampir lemas karena kehabisan tenaga.
"Terima kasih, muridku. Kekuatanku ... pulih seratus persen!"
Ia menatap Joulle dengan tatapan mematikan.
"Sekarang ... giliran aku yang main kasar."
Joulle terlihat gugup untuk pertama kalinya. Ia mundur selangkah, tangan meraba alat di sakunya.
"Kau ... kau melanggar aturan. Makhluk gaib tidak boleh merasuk dalam wujud fisik sembarangan!"
"ATURAN DIBUAT OLEH MANUSIA LEMAH! DAN AKU TIDAK AKAN PATUH PADA ORANG YANG MAU MENYAKITI CINTAKU!"
Cinta ... ku?
Dori yang di belakang langsung meleleh, pipinya merah padam meski dalam situasi bahaya. Tapi Joulle tidak tinggal diam. Ia mengambil sebuah remote kecil dan menekan tombol merah besar.
"KALAU GITU ... AKU PANGGIL BANTUAN JUGA!"
Tiba-tiba, dari arah belakang dan depan, muncul bayangan-bayangan hitam berbentuk manusia. Mereka memakai seragam hitam sama persis.
Mata mereka kosong, tidak bernyawa.
"Hadapi ini! Pasukan Nirkabel-ku!" seru Joulle tertawa jahat.
Matcha menarik Dori ke belakang punggungnya, siap bertarung sendirian melawan banyak musuh.
"Kau aman di belakangku. Sekarang ... saksikan bagaimana seorang sastrawan membasmi sampah masyarakat!"
"MAJU! TANGKAP DAN NETRALKAN!"
Teriak Joulle penuh kemenangan. Pasukan bayangan itu bergerak serentak, langkahnya kaku tapi cepat bagaikan robot.
Dori memeluk lengan Matcha erat-erat, jantungnya berdegup kencang mau copot.
"Gila ... ini bukan lagi perang kata-kata. Ini beneran perang beneran! Kita berdua lawan sepuluh orang?!" batinnya panik bukan main.
Matcha berdiri tegak gagah di depannya. Wajahnya dingin, tidak ada sedikit pun rasa takut. Justru sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menantang.
"Hmph. Hanya ini yang kau punya? Pasukan tanpa otak, tanpa jiwa, dan tanpa gaya?"
Matcha mengibaskan jubahnya. "Dengar baik-baik, Dori. Jangan pernah meremehkan orang yang hidupnya habis buat baca buku strategi perang kuno."
"Maksudnya?!"
"Maksudnya ... hari ini kau akan melihat bagaimana cara seorang pujangga membereskan sampah sosial!"
Satu pasukan maju duluan mencoba menangkap tangan Dori.
Bugh!
Tanpa menoleh, Matcha menendang pelan tapi tepat ke arah lutut musuh. Orang itu langsung ambruk berlutut seketika. Gerakannya indah, luwes, dan sangat elegan. Seperti menari, tapi mematikan.
"Satu," hitung Matcha santai.
Yang lain mencoba mengepung dari kanan dan kiri. Matcha tidak lari. Ia memutar tubuh cepat, kedua tangannya bergerak menangkis dan mendorong.
Brak! Bugh! Aww!
Satu per satu pasukan itu terpelanting jatuh hanya dengan satu atau dua serangan ringan.
"Dasar kasar. Gerakan kalian kaku sekali. Tidak ada seni sama sekali," komentar Matcha sambil merapikan kerah bajunya.
Joulle yang melihat dari kejauhan mulai gelisah. Ia mencengkeram remote di tangannya kuat-kuat.
"Gila! Kenapa bodoh sekali?! Itu kan cuma hantu sastra!"
"Kalian semua payah! Gunakanlah kekuatan penuh! Jangan main-main!" teriak Joulle memerintah.
Pasukan itu akhirnya mengeluarkan alat-alat aneh dari balik baju. Tongkat logam yang mengeluarkan listrik biru.
Dori makin takut. "Cha! Mereka bawa senjata listrik! Bahaya tuh!"
"Biarkan saja. Listrik bagi kami itu cuma... charger darurat," jawab Matcha santai.
Saat salah satu tongkat itu menyengat lengannya...
Zrrrt!
Bukannya kesakitan, Matcha malah menghela napas panjang lega. Cahaya di tubuhnya malah makin terang!
"Ahhh ... enak juga. Anget. Terima kasih ya, ada tambahan stok energi nih."
"APA?!" Joulle melongo syok. "Itu alat penguras energi lho! Bukan pengisi daya!"
"Sayang sekali, desain alatmu burik. Justru memancing kekuatanku keluar," ejek Matcha tak kenal ampun.
Ia melangkah maju perlahan mendekati Joulle. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar pelan.
"Sekarang ... giliran kita berdua. Kau pikir kau bisa menang hanya dengan modal ganteng dan kaya raya?"
"Dan kau pikir kau bisa menang lawan teknologi dan otak jenius?!" balas Joulle tak mau kalah.
Mereka berhadapan langsung. Jaraknya hanya beberapa meter.
Dori di belakang hanya bisa menahan napas. Aura keduanya bertabrakan keras sampai udara di sekitar terasa panas dan berputar.
"Dengar, Joulle ... atau siapa pun namamu," suara Matcha rendah dan berat. "Kau bisa mencuri benda, kau bisa menguasai teknologi, tapi kau tidak akan pernah bisa membeli atau memaksakan ikatan hati."
Ia menepuk dadanya sendiri. "Ini ... milik Dori. Hanya miliknya. Dan siapapun yang berani mengganggu ... akan kurebahkan dengan kata-kata atau dengan tangan kosong!"
"Omong kosong!" Joulle mengeluarkan pisau lipat kecil dari sakunya. "Kau cuma data usang! Kau tidak punya hak hidup di dunia ini!"
Ia menerjang maju!
Dori berteriak kaget. "HATI-HATI CHA!"
Tapi Matcha tidak bergeming. Saat pisau itu hampir menusuk dadanya...
Cring!
Tiba-tiba sebuah batu kecil melayang cepat dan memukul tepat di pergelangan tangan Joulle.
Pisau itu terlempar jatuh ke lantai!
"Sial! Siapa?!" Joulle mundur kaget memegang tangannya.
Dari arah belakang lorong, terdengar suara tepuk tangan pelan.
Prak... prak... prak...
"Wah hebat ... hebat ... ternyata benar rumornya. Hantu satu ini benar-benar monster."
Dori dan Matcha menoleh serentak. Di sana, berdiri sosok yang sangat tidak asing.
Berkacamata, baju agak lusuh, tapi senyumnya sangat ramah dan hangat.
"Pa ... Papa?!" Dori terbelalak tak percaya.
Itu ayahnya! Orang yang selama ini ia pikir jauh dan tidak tahu apa-apa. Dan di sebelahnya... ada sosok wanita yang tersenyum lembut.
"Sayang... maaf ya Papa dan Mama baru muncul sekarang."
Joulle yang ada di depan mereka langsung menegur hormat dengan kaget. "Prof?! Kenapa Bapak ada di sini?!"